Lievell

Monday, October 16, 2017

4:01 PM

Matematika, Siapa Takut?

Matematika, Siapa Takut?

September lalu, De Kaplongan mendapat kesempatan belajar Matematika bersama CikGu Siti Andriani.

Awalnya udah hepi banget karena anak-anak bakalan diajarin nih sama pakar Matematika. Ealaah, ternyata mimpi mau nongkrong syantik sambil ngemil ayam goreng pun pupus. Anak-anak malah bebas merdeka, emak-emaknya yang kedapetan disuruh belajar.

Tak apa lah...
Kan emang udah tugas emaknya (plus babehnya juga) yang bertanggung jawab buat ngajarin anak-anak ini.

Yuks mulai!


Kalau ditanya apa sih tujuan belajar Matematika?
Hmm, yakin deh udah males duluan sebelum mikir jawabannya. Matematika kan emang paling momok banget ya sepanjang karir sekolah dari jaman SD sampe lulus SMA. Kalau bisa mah ya numpang liwat aja gitu, gak usah sampe pinter banget.

Nah, justru ini nih yang akhirnya bikin pola pikir gue berubah tentang Matematika.

Dalam pertemuan pertama dari 3x pertemuan, kami banyak diajak untuk membuka mata tentang Matematika.

Kalau menurut Mba Andri ini yaa...
"Setiap orang lahir sebagai Math Person, karena kita dibekali akal untuk memproses segala sesuatu. Syaratnya hanya mau."

Math Person adalah orang yang bisa menghadapi sesuatu untuk di eksplorasi secara logis untuk menyelesaikan suatu masalah.

Matematika itu erat kaitannya dengan hubungan ke diri sendiri, dan perjalanan Matematika di masing-masing orang itu berbeda. Makdarit, orang tua diajak untuk bisa memahami anaknya masing-masing dan diajak untuk mengenal Matematika secara konsisten, ya setidaknya diberikan soal tidak lebih dari 10 menit setiap harinya.

Sebentar dan konsisten, itu kuncinya. Malah lebih baik lagi kalau tidak ada embel-embel judul "belajar Matematika" waktu ngajarin ke anaknya, jadi kaya ngobrol aja gitu.

Jadi tujuan belajar Matematika ini dibagi 4, dimulai dari yang mendasar sampai yang terdalam dan harusnya bisa mencakup semuanya ini.

1. Kalkulasi
Yup, hal paling mendasar ya untuk hitung2an. Belajar kenal angka dan simbol-simbol dalam Matematika.

2. Aplikasi
Dipakai dalam hitung dagangan jualan, meskipun ujung2nya ya pake kalkulator juga sih. Selain itu ya banyak diaplikasiin dalam hal lain seperti menghitung berat badan #eh berat suatu benda dan sebagainya.

3. Inspirasi
Menjadi inspirasi bagi beberapa para ilmuwan untuk mengembangkan rumus-rumus yang dah ada untuk penyambung mata rantai dalam bidang lain. Tapi sayangnya banyak berhenti sampai disini.

4. Spiritual.
Puncak logika tertinggi. Diharapkan dengan belajar Matematika bisa sampai ke tahap ini. Percaya gak percaya, apa yang ada di sekitar kita sangat berkaitan erat dengan Matematika. Alam, benda-benda dan bangunan bersejarah, dan banyak hal lainnya kalau diteliti lebih lanjut adalah Matematika. Seruu yaaa.


Pertemuan kedua dan ketiga, kami lebih banyak belajar tentang teknis.

Kalau menurut Mba Andri, belajar Matematika ini ada 2 syaratnya:
1. Prasyarat
Prasyarat yang dimaksud disini adalah tentang rantai Matematika. Jadi kalau ada kendala dalam belajar, artinya ada rantai yang belum kuat dan paham dari si anak.

Misalnya waktu mau belajar angka 5, anak sudah harus paham dulu 1 sampai 4. Baru si anak bisa untuk maju belajar angka 5. Tapi kalau belum paham betul, mundur dan mantapkan dulu rantainya.

Prasyarat ini harus dipenuhi, sehingga rantai Matematikanya kuat untuk maju ke tahap selanjutnya

2. Ide atau Kreativitas
Ide adalah kombinasi dari berbagai hal. Ide ini yang harus banyak dilatih. Caranya ya dengan banyak memberikan "masalah" ke anak. Dari situ, anak akan mencari tahu bagaimana caranya nyelesaiin masalahnya. Inilah yang disebut dengan pengalaman, dan tiap orang punya pengalaman yang gak sama.

Begitu juga ketika anak diberikan model soal A, biarin anak menentukan sendiri dengan cara apa soal itu diselesaikan. Tujuannya gak lain gak bukan untuk melatih logika setiap anak.

Proses berpikir anak tidak sama dengan orang tua. Bagi mereka simbol-simbol dalam Matematika adalah baru buat dunia mereka. Ini jadi tugas kita untuk menerangkan maknanya ke mereka.

Menjumlah, artinya bergerak maju dari satu posisi.
Menjumlah, artinya sesudah atau setelah.

Contoh:
"Aku punya 5 mainan, lalu si A kasih 1 mainan ke kamu. Jadi sekarang mainan kamu ada berapa?"
Penjelasannya, "setelah 5 berapa?"

Pada waktu menjelaskan, gunakan benda yang sama untuk konstruksi. Warna atau benda yang berbeda tidak bisa dijumlah karena dianggap sebagai komponen yang berbeda.

Contoh lagi:
2 apel dan 3 anggur.
Kedua benda ini tidak bisa dijumlah, karena bukan benda yang serupa meskipun sama-sama buah.
Tidak bisa disebutkan 5 anggur, karena pada kenyataannya tidak ada 5 anggur, meskipun 2 + 3 = 5.

Dalam menjumlah, berikan informasi yang tepat. Dari situ anak akan belajar kalau menjumlah harus dengan benda yang sama. Selalu aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Lagi, diingatkan kembali...
Anak belajar proses bukan hasil.

Konsisten itu perlu banget.
Ada baiknya anak diberikan soal sedikit, tapi setiap hari dan tidak lebih dari 10 menit.
Tujuannya supaya anak gak cepat bosan dan tetap punya keinginan belajar setiap harinya.
Memberi kepercayaan kepada anak itu penting supaya anak pun menikmati setiap soal yang diberikan.

Mulailah dengan penjumlahan 1.
Pastikan anak paham dulu, balik ke rantai Matematika tadi.
Setelah itu, maju ke penambahan 5 jari.

Contoh:
3 + 2
- Berangkat dari angka 3, bukan dihitung dari awal lagi. Kalau perlu gunakan konstruksi, memakai media untuk menghitung. Konsep menghitung disini adalah menambah dari kondisi tertentu.
"Setelah 3, lalu..."

- Visualkan angka. Hindari menggunakan cara angka besar di kepala, angka kecil di jari. Arahkan anak untuk tetap melihat ke angka saja, bukan fokus ke kepala. Tujuannya untuk melatih dan membiasakan anak untuk memproses dengan otak kiri. Yang pada akhirnya anak akan terbiasa untuk tidak memakai jari lagi dalam penambahan.

Ketika anak mengerjakan soal, jangan interupsi anak salah atau benar. Berikan penguatan kalau anak bisa sendiri. Ada juga soal-soal yang tidak perlu dijelaskan ketika anak sudah bisa sendiri menyelesaikan soalnya. Biarkan mereka memproses sendiri cara berpikirinya.

Kadang ada momen dimana anak 'blank' dalam menghitung. Yang biasanya bisa tiba-tiba berhenti dan tidak dapat menghitung dengan benar. Berhenti dan biarkan anak bermain dulu sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.

Orang tua lah yang paling tahu anaknya seperti apa. Lihat ritme anak, apakah ia sudah siap dengan materi yang baru atau tidak ketika dirasa anak sudah mulai bosan dengan materi yang itu-itu aja. Selain itu juga perlu dilihat, tipe seperti apa anaknya. Jadi bisa disesuaikan dengan cara apa anaknya belajar. Semua cara benar, semua metode baik. Tinggal disesuaikan dengan tipe anaknya saja.

Matematika ini adalah hal baru buat mereka, semua dianggap rumit bagi mereka. Jadi sebaiknya hindari menjudges anak. Bangun logika anak dengan berikan soal berbeda tahapan. Cukup ajarkan polanya. Usahakan jangan diterangi dulu cara pemecahannya, supaya terlihat kreativitas anaknya dalam menjawab soal-soal.

Ingat, apapun yang terdekat, bisa dijadikan bahan pembelajaran Matematika.

Jadi....
Belajar Matematika....
siapa takut!! ^_^


Friday, September 15, 2017

7:52 AM

Kenapa sih?

Kenapa sih?
Kenapa sih gue sering tulis dan posting di sosmed tentang pendidikan, parenting dan edukasi diri sendiri sekarang ini?

Karena gue merasa, gue bukan orang baik untuk diri gue sendiri. Makdarit...maka dari itu...gue merasa sangat bertanggung jawab untuk 'benerin' diri gue sendiri dulu, baru bisa menjadi orang tua yang baik buat si Boy. 

Pernah gak sadari kalau hidup kita sekarang ini penuh dengan ketakutan, kegalauan, resah, banyak masalah dan jadinya sering marah-marah, parahnya lagi jadi suka bersinggungan dengan orang-orang sekitar?
Ya kalau ada yang gak seperti itu artinya udah keren banget penguasaan dirinya. Bravo!!

Gue sendiri adalah orang yang merasa semakin tua kok masalah semakin banyak. Bener sih kalau orang bilang, "ya iyalah, namanya juga hidup masalah ya pasti selalu ada." Tapi kok setiap masalah berasanya bukannya kelar, tapi malah jadi bergulung menjadi bola salju yang siap menggelinding dan mejretin kita. Alias, kalau gak diselesaikan masalahnya, ya masalah akan jadi tambah besar....besar...dan besar...lalu menimpa kita dan menjadikan kita merasa yang paling tertindas lah, paling merasa menderita lah. Ujung-ujungnya frustasi.

Ughh....jangan ditanya berapa kali dalam hidup ini gue merasa frustasi menghadapi masalah. Bisanya ngeluh, marah-marah, nangis dan ujung-ujungnya jadi dendam. Dendam sama masalah yang ada.

Nah karena sering seperti inilah, gue merasa yang salah sepertinya bukan orang di luar gue deh. Justru gue merasa yang salah adalah diri gue sendiri. Jadi yang perlu diperbaiki ya diri gue sendiri. 

Mulailah perjalanan gue dari level yang paling bawah. Level dimana kondisi diri gue sudah sampai tengkurep, lemas tak berdaya, gak tau mau ngapain lagi. Kondisi paling terparah sepanjang hidup. 

Pernah gak merasakan hanya punya uang tinggal 100 ribu dalam kondisi sudah berkeluarga dan hutang dimana-mana?
Kami pernah!

Ini yang kami sebut adalah kondisi paling terparah sepanjang hidup berkeluarga kami. Dimana uang ditangan hanya tinggal 100 ribu dan kami gak tau harus kerjain apa. Otaknya buntu untuk mikir. Sedangkan hutang dimana-mana. Hutang dengan saudara, hutang dengan bank, hutang dengan semua pihak yang baik hatinya. Banyaak deh. Dan jangan ditanya berapa kali kami didatangin debt collector yang tau-tau nongol di depan rumah disaat kami mau antar si Boy les. Jadi ya cuma bisa ngintip dari dalam rumah dan nungguin si debt collector pergi. Hihihi....main kucing-kucingan.

Jangan ditanya pula bagaimana kondisi psikologis gue dengan si Mas Bro, yayank gue atu-atunya itu. Bisanya cuma ngeluh, nangis gak karuan, marah-marah, ngajakin doi berantem. Dimana saban kali berantem sama doi, si Boy kerjanya tutup kuping. Huhuhu....bad parents banget ini iiih. 

Ternyata, pelajarannya datang dari situ. 

Level pertama yang harus gue lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masalah yang ada. Terima apa yang terjadi saat itu. Sadari kalau memang masalah ada. Terima dan sadari bukan berarti hanya di mulut aja loh, tapi bener-bener sampai ke alam bawah sadar bahwa ya benar saya menerima kondisi saya saat ini. Gak iri dengan rumput sebelah yang lebih hijau. Kalau bagian nerima sudah selesai, biasanya jalan pelan-pelan akan terbuka.

Level pertama kelar, saatnya berdamai dengan si Mas Bro. Ternyata kerukunan dalam rumah tangga itu sangat...sangattt diperlukan. Selama ini kerjanya kompleeeen terus, marah-marah terus, ngegerendeng teruuus minta si Mas Bro berubah. Oalaaah, ternyata yaaa yang harus berubah tuh ya gue!! Hellowww...selama ini gue kemana ajaaa...#jedotindirisendiri. 

Mulai lah level kedua...memperbaiki hubungan dengan yayank gue sehidup semati ini....Mulai bisa nerima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dulu kan hanya nerima kelebihan berat badannya aja yaaa....sekarang sudah bisa nerima segala kekurangannya. Kekurangan yang ternyata dilihat dari kacamata kita loh. 

Sudah kompak, sudah terima, sudah sering berpelukan ketimbang berantem...pelan-pelan jalan terbuka...

Pengalaman pegang uang hanya 100ribu gak dialami sekali dua kali loh, seriiing! Hahahaha
Dan hebatnya, mujizat selalu ada. Tiba-tiba aja datang gak terduga. Tau-tau dapet project 100 paket untuk baby new born yang minta dibikinin dalam 1 minggu harus kelar. Tau-tau dapet project dekorasiin rumah temen karena baru pindahan. Yang artinya bisa ke pasar untuk seminggu ke depan. 
Oalaaahh.....pertolonganNya tidak pernah terlambat.

Masalah-masalah ya selalu datang, setiap selesai dengan satu masalah yang ada, pasti akan datang masalah baru. Biasanya adalah masalah dimana kita sebenarnya bermasalah dengan karakter kita dan diminta untuk menyadari dan mau berubah untuk menjadi karakter yang lebih baik dari diri kita sendiri. Kalau datang masalah yang sama, artinya ya belum kelar dengan masalah sebelumnya dan karakter kita belum banyak berubah.

Pernah juga ada di masa karakter gue dibentuk melalui pertemanan yang sudah terjalin beberapa waktu. Bisa banget di setiap geng, komunitas ataupun kelompok gue bersinggungan dengan orang-orang di dalamnya. Disini gue banyak belajar banget untuk bisa menyadari karakter jelek gue yang sudah seharusnya dirubah. Ini sangat dibutuhkan kelegowoan hati untuk mau dibentuk karakter kita oleh alam yang diwujudkan dari orang-orang sekitar. 

Meskipun sampai sekarang, dan mungkin akan seterusnya, gue masih harus banyak diasah oleh alam dalam berkarakter di pertemanan. Tapi gue yakin, semakin kesini gue bisa jauh lebih baik. Semakin menyadari, semakin bisa tulus dan iklas untuk menerima masalah yang ada dan siap untuk mengucap maaf untuk sesuatu yang mungkin gak salah. Tapi setidaknya kelegaan sudah ada di dalam hati.

Bener banget gue memilih jalur Homeschooling saat ini. Ternyata bukan hanya anak aja yang perlu belajar. Biangnya juga! :D

Homeschooling ini justru pembelajaran orang tua untuk gak mikir orang tua yang paling benar, orang tua yang paling tahu segalanya. Orang tua yang perlu belajar. Dan ternyata benar, belajar itu bukan hanya dari sekolah aja dan bukan berhenti setelah selesai kita lulus kuliah, selesai ketika melahirkan. Justru setelah melahirkan ini lah, pembelajaran menjadi orang tua dimulai dan gak akan selesai sampai maut datang. Dan HS pulalah yang banyak merubah gue menjadi orang tua yang mau belajar. Belajar untuk mendengar diri sendiri, belajar menjadi teman hidup yang bener buat Mas Bro, dan pastinya terus menjadi orang tua yang baik buat Mas Boy. 

Inilah kenapa saat ini gue sangat concern banget dengan ketiga hal tadi. Edukasi diri sendiri, Parenting dan Pendidikan. Tanpa ada kesadaran dari diri sendiri, gue gak akan bisa menjadi orang tua yang baik. Ini aja kadang masih bablas dan masih banyak belajar dari kanan kiri atas bawah depan belakang dengan orang-orang yang lebih humble dan lebih bisa menguasai diri. Bersyukur aja semakin kesini jalan itu semakin dilapangkan oleh semesta. Banyak jalan dengan diketemukan dengna orang-orang humble yang siap membagi ilmunya ke kami.

Puji Tuhan, masalah pelan-pelan selesai. Hutang-hutang sudah dapat dibayarkan. Hubungan kami bertiga jauh lebih baik ketimbang dulu. Hubungan dengan keluarga juga jauh lebih baik. Sebisa mungkin kami menjaga diri dalam berbicara dan berperilaku dalam berhubungan dengan teman atau sahabat. Dan yang pastinya menerima kondisi kami saat ini. 

Terima kasih untuk segala hal yang terjadi...

Saturday, September 9, 2017

7:43 PM

5 hari di Semarang

5 hari di Semarang

Rapat Nasional
Perserikatan Homeschooler Indonesia
17 - 21 Agustus 2017


Libur panjang di hari Kemerdekaan Indonesia kali ini, gue dan Mas Boy berkesempatan ngebolang ke daerah Semarang. Ini kali pertamanya buat gue pergi ke luar kota berdua aja sama si Boy, dan ini kali pertamanya juga naik kereta ekonomi keluar kota. Untungnya aja ada Mak Anet yang mau dirempongin sama gue. Padahal yaa, harusnya gue yang dirempongin sama doi karena lagi hamil besar, ini malah gue yang rempongin doi. Hihihihi.


Dengan gembolan kanan kiri depan belakang, kami sampai di Stasiun Senen sore itu. Dalam bayangan, stasiun Senen ini menyeramkan, penuh asap rokok, desak2an, rebutan kursi dan segala yang gak asik yang suka ditonton di tipi kalau jelang Lebaran. Eh nyatanya, jauuuuh banget. Antrian rapi, regulasi teratur, penumpang gak desak-desakan. Seneng juga yaa kalau ternyata transportasi umum sekarang udah cakep banget.


Perjalanan kami dimulai dari Jakarta menuju Semarang, estimasi waktu 6,5 jam perjalanan. Kursi yang agak tegak buat kami susah untuk bobo-bobo cantik. Akhirnya kami mengisi waktu dengan ngobrol bareng, cemal cemil bareng dan makan malam bareng. Tapi baru setengah perjalanan si Boy mulai komplen bosen. Harusnya sih perjalanan ngebolang kali ini ada Domi juga yang ikut, tapi karena doi harus tanding futsal akhirnya terpaksa batal ikut. Jadilah si Boy colak colek emaknya buat ngajakin main. Main suit kampung udah, suit internasional udah, main segala permaian jari-jari pun juga udah, tetep aja yaa rasanya lamaaaa beuuut gak sampe-sampe. Dan berakhir dengan bobo manis di bahu emaknya setengah jam sebelum kereta sampai di Semarang jam 10an malam.


Begitu sampai Semarang, kami langsung ke venue untuk rapat PHI besok paginya. Kami menginap di Achteruis Guest House. Tempatnya cukup nyaman untuk menginap.


Paginya kami bangun cukup pagi dan memilih untuk jalan kaki menikmati Kota Tua. Kebetulan sekali kami menginap di daerah itu. Banyak sekali bangunan-bangunan tua yang cakep-cakep. Jepret sana sini. Berasa kaya di Kota Tua Jakarta. Dan berakhir di warung kecil menikmati soto ayam yang endessss dan murah banget. Untuk dua porsi soto ayam, 3 gorengan, 2 teh manis hangat dihargai 18rebu doang!! Wuiiiihhh.... Dimana si Boy menikmati nasi goreng Pak Karmin yang harganya 13rebu. Hahahahha....lebih dari makan emaknya dan si tante Anet.


Tujuan utama kami ke Semarang ini adalah mengikuti Rapat Nasional Perserikatan Homeschooler Indonesia, yang mana pesertanya adalah koordinator-koordinator simpul dari berbagai wilayah di beberapa daerah di Indonesia dan juga Tim Inti. Kebetulan yang gak disengaja, gue termasuk salah satu koorsim daerah Jakarta Barat. Jadilah gue berada di Semarang bareng dengan 25 orang lainnya dari penjuru wilayah ini untuk mengikuti rapat selama 3 hari ke depan.

Di rapat hari pertama, kami diajak untuk saling mengenalkan diri, dan menceritakan kenapa kami memilih homeschool dan apa motivasi kami memilih homeschool. Jadilah di hari pertama ini kami banyak curcol tentang perjalanan HS kami. Lalu dilanjut oleh Yvonne, sang fasilitator, untuk melihat lebih dalam visi dan misi kami dalam menjalankan HS kami. Kami diajak untuk menyelam lebih jauh untuk menganalisis semua kendala dan diskriminasi yang dialami oleh HSers.

Rapat berakhir cukup malam, kepala rasanya sudah berasap di hari pertama. Hihihhi. Macam pejabat DPR aja ini rapat seharian. :P


Rapat di hari kedua lebih seru lagi. Kami diajak untuk membongkar paradigma dalam melihat problem sosial yang dihadapi dalam perjalanan HS masing-masing. Paradigma seperti apa yang kami pegang. Liberalkah? Konservatifkah? atau Kritis?

Rapatpun sempat memanas karena adu pendapat dalam menentukan visi. Rapat yang harusnya ditutup pukul 6 sore dan dilanjutkan jalan-jalan bersama terpaksa batal, karena masih belum ketemu titik terang visi seperti apa yang kami mau. Jadilah kami jalan-jalan singkat aja dengan makan malam di Nasi Goreng Gongso Pak Karmin dekat hotel. Rapat pun dilanjutkan kembali dan selesai pukul 10 malam.


Hari ketiga, kami banyak membahas Anggaran Dasar dan Rencana Program Kerja PHI selama 4 tahun ke depan. Rapat di hari ketiga ini selesai setelah makan siang.

Lalu kemana si Boy selama sepanjang rapat 3 hari berturut-turut?


Justru doi dan anak-anak lainnya lah yang paling menikmati ngebolang di Semarang ini. Mereka tour ke Kota Tua, perpustakaan, museum dan Simpang Lima. Bahagia luar biasa mereka ini menikmati jalan-jalan bersama ditemani sama Tante Nuni, ibunya Kiran. Bikin iri ajaa, rasanya pingin ikutan!! :D


Setelah selesai rapat di hari ketiga, rombongan gue-Mas Boy, Anet dan keluarga Kiran pindah lokasi menginap ke daerah rumah kakak Ellen. Dan malam itu kami diajak jalan-jalan ke Klenteng Tay Kak Sie dan Warung Semawis. Di klenteng, kami banyak tour gratis dari Kak Ellen yang memang lagi mempelajari semua hal yang berhubungan dengan klenteng ini. Salut lah pokoknya sama beliau. Hebat banget deh ihh. *lope-lope-lope*


Kalau di Warung Semawis sih gak lain gak bukan ya kami makan-makan aja. Menikmati liburan di hari terakhir dengan kulineran sambil ngobrol singkat tentang kurikulum Charlotte Mason. Sayang, waktunya sangat terbatas banget, kami ngobrol gak tuntas karena udah kemaleman banget. Dan besok paginya kami sudah harus sampai di stasiun Tawang pukul 7 pagi.


Dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Jakarta, gue banyak ngbrl sama Anet sambil melihat hamparan padi, laut dan gunung. Rasanya hati adem, mata terbuka dan pastinya pulang dengan semangat 45 untuk menjalani homeschool kami.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan 5 hari kami di Semarang.



Tuesday, August 29, 2017

5:32 PM

Rumah di Atas Tanah

Rumah di Atas Tanah


Puji Tuhan!
Sekian lama mimpi punya rumah, akhirnya bisa juga terwujud juga.

Meskipun ukurannya kecil...
Meskipun lokasinya kata orang-orang tua jaman dulu kalau rumah jauh itu dibilang tempat jin buang anak..
Biarin deh....
Yang penting sekarang kami sudah punya rumah.
Rumah di atas tanah.
Rumah milik sendiri.
Rumah impian.

Kalau boleh cerita sedikit di sini bagaimana kisah kami sampai akhirnya punya rumah...

Berawal dari 2013, kami berkeinginan kuat sekali mau punya rumah sendiri. Pingin ngerasain tinggal bertiga aja ngejalanin kegiatan kami dari rumah sendiri. Maklum yaa, kami ini nomaden bertahun-tahun. 

Dari awal merit tinggal di planet lain aka Bekasi..
Trus punya si Boy pindah ke rumah orang tua di Cengkareng
Si Boy kira-kira 2,5 tahun sempet ngerasain tinggal di apartemen Gading
Sebelum akhirnya apartemen itu dijual ke keluarga suami untuk DP rumah yang lokasinya masih dekat dengan rumah orang tua.

Nah disinilah kacrutnya....

Kami tergoda dengan iming-iming developer yang memberikan penawaran 60x cicilan ke developer. Apalagi saat itu rumahnya terbilang cukup miring harganya untuk daerah situ. Jadilah kami sepakat beli rumah itu.

Beberapa bulan kemudian kami sudah deal dan sudah menjalankan kewajiban kami...
Loh kok gak ada juga pergerakan dari developer untuk bangun perumahan itu.
Rasanya kok sama aja ya dari sejak kami beli. 
Hanya sebagian rumah yang sudah dibangun, masih ada yang tampak batu batanya, ada yang sudah disemen sebagian, ada juga yang baru tiang-tiang pancang.
Tukang gak kelihatan ada yang kerja,
Mobil-mobil pengangkut tanah juga gak keliatan,
Rumput-rumput juga masih tinggi, belum ada yang dibabat sama sekali
Semacam kota mati tanpa penghuni gini wilayahnya.

Mulailah kami curiga.
Mulai tanya-tanya dengan orang-orang sekitar komplek situ
Tapi semua jawabannya gak meyakinkan, bikin hati makin kecut aja.

Sampai ada satu waktu, entah gimana caranya, semua pembeli rumah komplek itu tiba-tiba berkumpul di salah satu rumah contoh.
Oalaaah, ternyata memang sudah jalanNya kalau ada yang gak beres ya dengan developer ini

Singkat cerita, ketahuan lah kalau ternyata emang developer ini nakal. Sangat..sangat tidak bertanggung jawab. Beberapa kali para calon penghuni ini minta ketemu dengan ownernya, mau nanya baik-baik kenapa rumah-rumah kami gak dibangun. Berkali-kali juga si owner mangkir, dengan seribu alesan kampretnya.

Sampai di satu titik, gue dan Ali minta uang kami kembali. Dikasih lah kami dengan 3 giro. Seneng dong, karena usaha kami berhasil, dapat giro. Artinya uang kami bisa kembali.
Giro pertama keluar, yang langsung kami jadikan DP untuk rumah yang mungil diatas tadi. 
Giro kedua, jreng...sampai di bank, dinyatakan uang dari developer kurang untuk bayar kami. Lapor ke pihak developer, uang kami hanya ditransfer setengahnya dari jumlah giro kedua.
Giro ketiga...jreng...jreeeng....BODONG!!!

Lemes banget waktu kejadian ini. 
Dan sampai tulisan ini ditulis, uang kami masih ada di pihak developer dan kami masih terus mengusahakan uang kami kembali.
Semoga aja masih ada jalanNya yaaa

Setelah tau kalau kami tidak bisa terima uang kami, pikiran langsung ke cicilan rumah yang barusan kami DP. OMG, gimana cara bayarnya niih.
Tuhan memang sayang sama kami.
Dia banyak mengirimkan malaikat-malaikat yang menyodorkan tangan untuk kami
Selalu ada jalan yang Dia berikan sampai akhirnya selesai juga cicilan rumah kami ini.

Rumah impian kami, rumah masa depan kami...
Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu setiap saat!




Monday, August 28, 2017

12:44 PM

Kok Homeschooling?

Kok Homeschooling?

Eaaa....
Biasanya reaksi orang pertama kali kalau ketemu akan berucap gitu. Hihihi

Trus pasti ada lanjutan pertanyaanya..
"Kenapa?"
"Sosialisasinya gimana?"
"Ujiannya gimana?"
dan seterusnya...
dan seterusnyaaa...
dan....sampai bosan saya ditanya begitu.

Begini loh, sodara-sodara terkasih, setanah air, se Indonesia Raya...

Kami memlih jalur homeschooling awalnya karena ketidak puasan emaknya yang pernah jadi guru di preschool ini. Bayarannya mihil cuma untuk paling lama 3 jam aja di sekolah. Trus yang diajarin ya nempel-nempel, belajar alfabet, belajar ngitung, nyanyi-nyanyi, makan bersama di kelas, belajar ke wc sendiri yang mana gituan kan bisa diajarin di rumah, gak perlu sekolah juga udah tugas wajib mesti harus bisa diajarin sama emaknya.

Sehubungan abis melahirkan gak mau balik lagi kerja, ceritanya mau urus sendiri aja si baby Boy ini tanpa bantuan ncus ataupun mbak. Jadilah gue memutuskan di rumah aja, ngurusin semua keperluan si unyil atu-atunya ini.


Iseng punya iseng, saking gak ada kerjaannya nih, tiap malem kerjaannya begadang. Ngapain? Lah ya gak punya kerjaan yaa iseng aja browsing ini itu. Lagi iseng-iseng browsing, entah gimana deh yaa, tau-tau udah kejeblos di beberapa blog homeschooling luar. Satu kata untuk para pejuang homeschooler luar negeri ini...RAJIN!! Hampir tiap hari mereka posting apa yang dikerjain mereka sama anak-anak mereka. Anaknya bahkan ada yang 4 atau 5 orang booo. WOW!!

Jadilah gue tiap malam nongkrong di depan komputer, belum punya laptop eikeh pada jaman dinosaurus itu yaa. Kerjaannya gak lain gak bukan, bacain satu-satu semua postingan emak-emak HS itu dan terkagum-kagum.

Dari alasan nyekolahin anak mahal, gak punya duit sampai gak mau kerja di sekolahan lagi dengan alasan jadi ninggalin anak dan ogah pake ncus dan mbak itu lah, gue mulai terinspirasi untuk mencoba ngajarin si Boy yang baru aja 1,5 tahun ini.

Awalnya sih ya sekadar mengisi tahun-tahun sebelum masuk TK. Biar gak kalah gitu sama anak-anak yang di sekolahin, kelakukan emaknya jaman dinosaurus itu. Anak gue juga belajar yang percissss kaya yang diajarin di sekolah. Ajarin alfabet, angka, bentuk, warna, nempel ini itu, main dengan alat-alat rumah, bacain buku, belajar gimana ke pipis, pupup sendiri sampai belajar mandi. Saat itu sih kepikirannya baru sekadar main-main aja gak serius. Seru-seruan sendiri deh yaaa. Alat-alat yang dipakai dari sekitar aja, yang gak khusus beli. Bahan-bahan belajarnya juga banyak yang free dari internet, hasi dari browsing2 itu. Modalnya minim banget deh ketimbang nyekolahin waktu itu.

Nah, karena gak dimasukkin sekolah itu yaaa, kepikiran juga nih tentang sosialisasinya. Untungnya aja emaknya bawel binti cerewet yang punya beberapa kumpulan yang bisa dijadiin sarana sosialisasi si Boy kala itu.


Ada kumpulan ibu-ibu yang melahirkan di bulan kelahiran yang sama, dipertemukan dalam satu wadah. Kami bikin arisan tiap dua bulan sekali. Jadilah si Boy bisa kumpul bocah, walaupun yaaa tiap abis ngumpul pasti pulangnya nangis. Entah karena diisengin atau karena rebutan mainan trus kalah, mewek aja lah pokoknya kalau pulang. Tapi emaknya gak gentar, pokoknya tetep kumpul! :D
Alasannya ya supaya si Boy belajar untuk struggling menghadapi teman-teman beraneka sifat dan karakter, disamping sosialisasi tentunya ya.

Ada juga ketemu satu wadah komunitas yang ternyata di dalamnya adalah teman-teman jaman kuliah yang dulunya juga gabung dalam satu wadah komunitas yang sama. Merasa terpanggil, akhirnya diajaklah si Boy dan babehnya juga untuk ikut bergabung. Selain sebagai sarana sosialisasi si Boy, komunitas ini juga banyak mengajarkan arti berbagi ke orang yang kurang mampu dan juga menghargai mereka. Jadi si Boy juga belajar untuk main bareng, duduk bareng, makan bareng, bergandengan sama-sama dengan mereka tanpa membedakan ataupun risih karena situasi dan kondisi lapangan. Syukurlah sampai sekarang kami masih aktif dalam pelayanan dengan komunitas ini.

Menjelang umur TK, sempet sih bbrp kali coba trial di sekolah. Tapi tiap abis trial gak ada satupun yang nyangkut di hati. Dan si Boy tiap abis trial juga pasti mewek. Heran deh yaa, ini anak demen banget mewek. Hatinya lembut kaya tahu, dibalik palanya yang plontos tanpa rambut itu. Hahahaha.

Jadilah kami putuskan lanjut aja sampai kelar usia TK.


Sempet bingung sih, duh, usia TK berarti harus belajar baca nih, belajar tambah-tambahan, belajar beberapa bahasa nih kalau memang nantinya mau masuk sekolah. Mulai deh cari-cari worksheet untuk belajar si Boy. Belajarnya udah mulai agak diseriusin dikit, walaupun masih ada main-mainnya juga.

Gimana caranya ngajarin anak baca?
Mudah banget ternyata yaa, bu ebuuu....
Ajak aja anak-anak baca buku tiap malem. Buku yang sedikit tulisan banyak gambar. Tapi sambil baca, sambil ditunjuk tulisannya. Bacanya ya biasa aja, gak usah pake disepel-sepel kaya anak SD baru baca gitu yaa. Ini ketauan emaknya yang gak bisa baca malah. Oopps. :P

Tujuannya supaya anak terbiasa aja melihat kata-kata. Mereka mensortir dan mengingat kata dalam cerita yang diceritakan. Apalagi kalau ceritanya mereka suka, bisa tiap malam buku ceritanya itu-itu aja. Semakin sering dibacakan cerita, anak akan semakin cepat membaca. Terbukti di anak gue!! :D

Jadi gak usah ya anak-anak dilesin baca. Cukup ambil waktu sebentar di malam hari sebelum bobo. Selain ngajarin anak baca, ini juga jadi bonding time sama mereka. Dicoba deh...kalau gak berhasil, kesalahan bukan di saya, salah di emaknya yang pasti bolong-bolong nemenin bacanya. Wkwkwkwkkw.

Usia TK ini kami lebih banyak ngajakin Fritz gak melulu belajar kaya jaman usia pra TK. Di usia ini kami banyak ajak dia jalan. Kenal dunia luar. Mulai dikenalin sama les-lesan. Lebih seru eksplorasinya. Mungkin karena saking serunya belajar kami ini yaaa, si Boy pun nolak masuk sekolah. Wew...

Perjuangan kami dimulai usia SD ini.
Keputusan kami untuk gak masuk ke dalam institusi sekolah ini lah yang buat sebagian keluarga dan teman-teman menjadi angkat alis, dahi mengkerut, tangan dilipat ke depan, trus sambil ngomong... "Heran deh, anak gak dimasukin sekolah. Jadi apaan ntar gede!" Hahahahaha...

Kami sadar sesadar-sadarnya ini keputusan luar biasa yaa gak memasukkan anak ke sekolah. Tapi justru itulah saking kami sadarnya, kami memutuskan gak sekolah tapi homeskul aja.


Lah semakin kesini, semakin seru homeskul ini. Begitu banyak sarana yang kami bisa jadikan media belajar untuk si Boy, dan sarana itu ada di sekitar kita. Belum lagi ternyata kami punya banyaaak temen-temen seperjuangan HS.

Sosialisasi udah gak perlu dikhawatirkan lagi. Dimanapun kita berada dan dengan siapa kita bergaul, itu udah jadi sosialisasi buat kami. Entah ngbrl sama orang lebih tua, anak yang lebih kecil dari usia si Boy ataupun yang diatasnya, itu sudah sosialisasi buat kami.

Soal legalitas homeskul, syukurlah pintu-pintu itupun dibukakan untuk kami para homeskuler. Nanti deh diceritain di postingan berikutnya.

Ohiyaa, mau cerita lagi..
Ternyata yaaa, dengan homeskul ini gak cuma anak yang banyak belajar. Justru orang tua banyak belajar dari anak, gimana jadi orang tua yang baik buat mereka. Bersyukur entah kesekian kalinya yaaa, kami banyak dipertemukan dengan orang-orang yang banyak membukakan pintu untuk kami belajar dan gak berhenti belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dan terutama menjadi role model yang baik untuk si Boy.


Menjadi orang tua, bukan berarti kita tahu segalanya. Justru karena banyak gak taunya itulah, kami perlu belajar menjadi orang tua. Menjadi salah itu wajar, makanya diperlukan guru kehidupan yang mengkoreksi perilaku kita. Siapa guru kehidupan kita? Anak kita sendiri.

Sekian dan terima kasih
Mana tepuk tangannyaaaaa??
:P

Sekadar info aja sih...
Kalau mau liat kegiatan si Boy dari awal homeskul sampai usia menjelang SD, bisa mampir ke blognya di fritzlievell.blogspot.co.id yaa
Atau bisa juga mampir ke facebook emaknya: Stephanie Marvella
Emaknya rajin posting kegiatan-kegiatan si Boy.