Wah, rasanya kangen banget nulis di sini. Udah debuan kali ya. Hihihi. 😋
Rasanya dah lama banget jari-jari gue gak ketak-ketik. Gue
kangen denger suara itu di laptop gue. Ah..
Gue kangen juga menuangkan isi pikiran gue ke dalam tulisan.
Serius, otak mulai tumpul nih. Perbendaharaan kata gue pelan-pelan mulai banyak
yang menghilang setelah lama gak dipakai buat nulis.
Dan hari ini gue bersyukur punya waktu buat nulis dikit.
Hobi yang udah lama banget gak gue lakukan. Jujurly, gue agak kagok nih. Butuh
waktu banget buat merangkai kata demi kata sampai jadi kalimat. Entah dah
berapa kali tulisan pembuka ini direvisi sampai akhirnya seperti ini. 😁😁
Semoga tulisan gue masih enak buat dibaca ya.
Gue tuh pengen cerita tentang perjalanan si Boy yang
akhirnya bersekolah juga. Banyak banget ceritanya. Gue coba ceritakan satu
persatu ya. Semoga masih bisa relate, karena waktu nulis ini gue sambil inget
pelan-pelan dari pengalaman dan obrolan gue sama si Boy selama dia menjalani
hari-harinya di sekolah.
So, let’s go!
Hari pertama si Boy dimulai dengan menjalani masa pengenalan
lingkungan sekolah. Kalau di sekolah lain namanya MPLS, tetapi di Gonz namanya agak
beda – MIG. Di awal ini semua anak-anak kelas 10 diminta pakai seragam sekolah
asal mereka. Karena si Boy anak HS (homeschooler) mana adalah seragam-seragaman
ya, jadilah dia si paling beda sendiri. Hari itu dia pakai polo shirt putih, celana
hitam dan sepatu converse badutnya yang warna warni itu. 😂
MIG ini berlangsung dari Senin sampai Jumat. Sebetulnya di hari Sabtu, anak-anak sudah diminta datang sih ke sekolah untuk perkenalan. Namanya Pra-MIG. Di hari ini mereka sudah setengah harian sendiri aja. Ada pembagian kelompok dan what to do list gitu. Salah satunya dari hal yang perlu dibawa adalah mereka diwajibkan untuk bawa bekal dari rumah. Seneng deh gue ini jadi hal yang diharuskan sama sekolah. Karena tanpa diminta pun memang akan gue bawain bekal sih tiap hari.
Selain soal bekal, si anak-anak kelas 10 ini juga diminta untuk naik transum (transportasi
umum), yang untungnya gak diharuskan dari rumah. Mereka diminta datang dengan
menggunakan transum dalam jarak radius 1 km dari sekolah. Nah, itung sendiri
deh tuh ya. Soalnya kalau sampai ketauan nih gak naik transum, kelar sih.
Siap-siap kena hukuman. Seru ya!
*sekarang gue jadi tau, panitianya (kakak-kakak kelas)
beneran mantau mereka loh. Mereka menyamar di spot-spot tertentu. Ada yang
pura-pura nunggu angkot. Ada yang pakai seragam pramuka SMP. Ada yang gayanya
mau padel. Sampai ada yang piyamaan juga. Terniat banget sih ini. 😁
Selama seminggu ini acaranya mayan padat sih. Selain mereka diajak kenalan sama sekolah baru sampai ke sudut-sudut sekolah, mereka juga diajarin bagaimana menyanyikan lagu mars sekolah dengan sikap sempurna. Secara ya, mars Gonz paling sering banget berkumandang. Default modenya adalah berdiri tegak dengan tangan kanan mengepal di dada, menyanyikannya pun dengan lantang – gak menye-menye apalagi teriak-teriakan macam lagi konser. Kaya tau ya sekolah mana yang begitu. #eh.
Di hari lain, mereka dikenalkan dengan berbagai aktivitas di sekolah. Gonz itu punya banyak banget komunitas dan eskul yang bisa diikuti sama anak-anak baru ini. Masing-masing pun saling menampilkan yang terseru dari kegiatan mereka. Keren-keren sih pastinya. Karena mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menarik anggota baru demi regenerasi komunitas ataupun eskul mereka.
Dari yang gue tau, ada beberapa yang jadi favorit. Seperti misalnya Tari Saman. Performance mereka bagus banget karena latihannya serius kali. Serius dalam arti sesungguhnya ya. Mereka tuh kalau tampil kompak dan rapi banget. Gak heran menang terus kalau ikut kejuaraan. Dan yang paling gue takjub dari anak-anak Tari Saman itu, mereka bisa hafal gerakannya. Ini 15 menit sendiri loh mereka nari dan menyelaraskan satu dengan yang lainnya. Ih, jagoan sih!
Favorit berikutnya adalah Surga (Suara Gonzaga) dan GBBO (Gonzaga Big Band Orchestra). Dua ini sering duet bareng, secara Surga adalah choir kebanggaan Gonz dan GBBO juga orchestra sekolah terkeren yang gue tau. Maklum ye, gue kan baru pernah sekolahin anak sekali doang nih, jadi agak subjektif, gak ada pembanding. Wkwkwkwkwkw. Tapi asli sih, mereka tuh kalau dah perform, merinding banget lihatnya. Mereka wajib ada di acara-acara besarnya Gonz. Peminatnya pun banyak banget. Kabarnya sih, mereka ini kontrak mati alias dari awal masuk sekolah sampai lulus-lulusan akan terus berada di dua eskul ini. Syulit cuy buat keluar.
Selain itu ada Phoenix (cheerleaders), Foxy (modern dance), Sinezaga (sinema Gonzaga), media Gonz, Radio, fotografi, bulutangkis, minisoccer, pingpong sampai softball juga ada. Buat gue yang dulu di sekolah eskulnya cuma 1-2 doang, lihat Gonz bertaburan kegiatan gini sih pengen banget ikutan. Cuma sayangnya setiap anak hanya dibolehkan ikut 1 kegiatan eskul aja. Ada cerita lucu dari salah satu temannya. Karena setiap anak wajib ikut 1 eksul, dia pilih ping pong. Kenapa? Karena eskul ping pong adalah eskul yang peminatnya sedikit sekali. Hanya berdua kalau gak salah. Temannya si Boy dan 1 kakak kelas. 😀 Ada-ada aja emang yee.
Si Boy sendiri karena berhasil masuk dari seleksi basket, otomatis dia diwajibkan untuk ikut eskul basket. Dia itu berharap banget bisa masuk tim DBL. Sebetulnya dia pun sudah diajak latihan sebelum sekolah berlangsung, sekitar bulan Februari 2024. Tapi karena kemampuan teman-teman basketnya banyak yang lebih jago dari dia, harapan dia buat masuk tim inti ya tifissss. Setiap main ataupun diajak tanding jadinya cuma camat doang – cadangan mati, yang duduk di bangku cadangan buat isi kuota (1 tim harus ada 12 orang) 😂
Tau gak kenapa anak-anak wajib mengambil minimal satu aktivitas
di sekolah?
Gonz itu gak mau banget kalau anak-anaknya itu hanya kejar prestasi akademiknya doang. Maunya seimbang dengan prestasi humanioranya. Makanya setiap anak itu diminta aktif berkegiatan di sekolah, entah ikut kepanitiaan ataupun kejuaraan selain di bidang akademik. Semua pasti didukung sekolah banget. Meskipun ujungnya capek luar biasa banget ya kalau anak-anak jadi panitia untuk acara-acara di Gonz. Tapi semuanya terbayar kok. Leadership anak-anak terlatih banget. Dan biasanya di akhir tahun ajaran selalu ada apresiasi bagi setiap anak yang achieve. Mereka bisa mendapat apresiasi di salah satu bidang, prestasi atau humaniora. Ataupun di keduanya. Itu pun ada tingkatannya, dimulai dari Cum Laude, Magma Cum Laude sampai Summa Cum Laude. Inilah kenapa anak-anak jadi senang banget berkegiatan. Bukan sekedar angka aja yang diperoleh, tapi banyak hal lain yang dipelajari.
Oke, balik ke kegiatan MIG lagi. Selama 5 hari itu sih, dari
yang gue liat, si Boy antara enjoy gak enjoy ya. Ya namanya baru pertama kali
sekolah, dia masih belajar adaptasi juga kali ya dengan yang namanya sekolah
dan rutinitas. Dari yang biasa bangun siang tiap hari, sekarang harus bangun
jam 5 pagi. Mandi, siap-siap, lalu jam 5.40an dah cabut diantar bapaknya. Dari
yang terbiasa santai, ini semuanya ada jadwalnya. Kalau dibilang capek, dah
pasti sih. Sampai rumah bisa antara jam 5-6 an sore. Ini sih yang paling
didumelin sampai hari ini, kenapa sih sekolahnya jauh banget dari rumah. Ya
bijimaneeee, kan udah konsekuensi atas pilihan yang dia pilih yak. 😓
Sebetulnya kalau dilihat dari kegiatan anak-anak ini, bisa
dilihat juga dari YouTube sih day by day MIG angkatan 38 ini, seru juga loh.
Acaranya mereka padat banget. Ada pensinya juga di hari-hari terakhir gitu.
Tiap kelompok harus pentasin sesuatu, lalu dinilai sama panitia. Kelompoknya si
Boy bikin drama lagu Sherina itu loh – “dia pikir…dia yang paling hebat.” Si
Boy sendiri kan bukan anak drama banget, dia milihnya jadi peran pembantu.
Role-nya dia cuma ikut tawuran doang. Rusuh banget dah. :P Dan yang gokilnya
kelompoknya juara 3 dong, diantara beberapa kelompok yang juga menampilkan
drama Sherina kaya gitu. Wkwkwkwkwk.😂😂
Oiya, gue lupa cerita tentang Kakak Angelus yang mendampingi
kelompok. Jadi anak-anak kelas 10 ini dibagi ke belasan kelompok gitu, di mana
setiap kelompoknya itu ada sekitar 16 anak dengan didampingi 8 kakak kelas yang
dipanggil dengan Angelus. Posisi mereka di kelompok tersebut memang sengaja
dipetakan oleh guru-guru untuk menjadi pendamping yang lokasi rumah tinggalnya
berdekatan dengan anggota kelompok.
Salah satu Angelus di kelompok si Boy itu rumahnya di
Sunter. Namanya Danu, dia 2 angkatan di atas si Boy. Aseli, dia baik banget
sih. Danu ini sempat menawarkan untuk berangkat bersama selama MIG berlangsung
itu. Padahal Danu sendiri biasanya naik mobil dengan supir, dan ini dia mau
menemani si Boy untuk naik kendaraan umum bersama. Tapi ditolak dengan baik sih
sama si Boy, selain karena dia gak mau menyusahkan Danu, kebetulan dia itu
diantar sama Bapak Ali sampai Kuningan, baru dia lanjut sendiri naik TransJakarta
(TJ) sampai Pejaten. Jadi cukup aman dan gak menyusahkan orang lain, menurut si
Boy.
*Kebaikan Danu, sebagai kakak Angelus dan kakak kelas yang
mengayomi, ke si Boy ini berlangsung sampai dia lulus sekolah loh. Beberapa
kali suka nebengin dan diantar sampai ke apartemen. Terharu aku..
Ini baru seminggu pertama di sekolah, tapi rasanya sudah
terlalu banyak yang diceritakan ya. Next cerita apa lagi ya…












