Lievell: Charlotte Mason
Showing posts with label Charlotte Mason. Show all posts
Showing posts with label Charlotte Mason. Show all posts

Wednesday, August 17, 2022

8:40 AM

Kemah Ruang Tengah

Kemah Ruang Tengah

 


Akhir pekan lalu kami bertiga pergi berkemah bersama dengan teman-teman Ruang Tengah.

 

Disclaimer dulu ya…

Sebetulnya rencana berkemah ini sudah lama dirancang oleh grup diskusi mingguan kami di komunitas sebagai kegiatan kebersamaan. Tapi dalam proses merencanakan ini ada suatu hal yang membuat batin kami terguncang cukup hebat. 😉 Kami dihadapkan oleh dua pilihan sehingga membuat grup kecil ini harus memilih antara bertahan di komunitas atau keluar. Sehingga banyak dari kami memutuskan keluar dan sepakat untuk membuat wadah baru yang cukup fleksibel dengan aturan. Wadah ini kami namakan Ruang Tengah, sebagai tempat kami dapat berbagi, belajar serta berkegiatan bersama.

 

Dan dapat dipastikan grup ini dibentuk bukan sebagai grup pemberontak ataupun menjadi saingan dengan organisasi tempat kami bernaung dulu. Kami hanya lah sekumpulan ibu-ibu yang ingin berkumpul di dalam grup yang lebih santai dan bebas. Sehingga ketika kami ingin belajar lebih banyak ataupun berbagi di luar lingkaran ini, kami tidak merasa terbebani dengan embel-embel identitas. Berhubung rencana ini sudah kadung diurus oleh panitia kecil yang terbentuk, dan teman-teman lain juga tidak kalah antusiasnya, ya wuis lah ya, acara berkemah ini tetap dijalankan saja sebagai kegiatan perdana Ruang Tengah. Sekian untuk disclaimernya, pemirsah.😊



Tercetusnya ide berkemah ini sebetulnya dari akhir bulan Juli lalu ketika kami sedang piknik. Kegiatan piknik ini mulai rutin kami jalankan sejak akhir Maret di minggu ke-empat, tapi kami merasa acara mengobrol di piknik selalu aja kurang lama. Maklum deh ya, namanya juga ibu-ibu selalu ada cerita yang perlu dibagi dan didengar. Lalu, tiba-tiba ada yang keceplosan, “Kita kemping aja, yuk!” Nah, kalau sudah ada yang usul kegiatan tapi tidak ada yang menanggapi kan jadinya mubazir ya. Gak pakai lama, langsung deh tunjuk si pencetus ide jadi ketua panitia dan beberapa teman untuk bantu-bantu. Pasti yang jadi ketua panitia nyesel banget ngusulin ide ini. *lirik manis ke ketua panitia ahhh….😘 Memang enak gitu ya kalau punya jabatan, tinggal tunjuk aja 😋😋

 

Awalnya ada 15 keluarga dan 1 teman yang akan bergabung ketika ide ini dilemparkan ke grup. Tapi di tanggal 13-14 Agustus itu hanya tersisa 12 keluarga yang akan ngeriung bersama. Meski begitu tetap saja ini acara yang dinanti-nantikan oleh kami semua. Di hari keberangkatan, kami sepakat bertemu di titik kumpul lebih dulu sebelum akhirnya kami konvoi naik bersama ke lokasi, Hutan Hujan, Sentul.

 

Berhubung lokasinya agak curam ke bawah dan mobil juga tidak bisa lewat, kami diharuskan untuk berjalan sekitar 500 meter dari tempat parkir. Ada yang lucu di sini, begitu kami sampai di lokasi parkiran dan siap-siap untuk berjalan bersama, kami saling memantau barang bawaan teman-teman. Ini pun menjadi bahan bercandaan kami. Ada yang malu karena merasa heboh bawa bed cover, ada pula yang pede jaya bawa kardus mi instan seakan mau pulang kampung (keluarga gue nih!) dan ada juga yang santai aja dengan bawaan seminim mungkin. Namanya juga beda keluarga ya, pasti gaya dan kebutuhannya juga beda.

 

Setelah kami sudah cukup nyaman – sudah pilih-pilih tenda, beberes sebentar di dalam tenda dan mengurus perintilan ini itu – kegiatan kami mulai. Anak-anak kami minta untuk duduk di tikar – tikar yang sama yang biasa kami pakai juga untuk piknik bulanan. 😁 Di sini kami memang memberikan beberapa peraturan di awal yang harus dijalankan selama berkegiatan bersama. Berhubung tempat kemah ini luas, kami mewajibkan anak-anak untuk selalu lapor ke masing-masing orang tua jika mereka mau pergi ke mana pun, bahkan ke toilet sekalipun. Orang tua perlu tahu kemana mereka pergi. Kami juga meminta anak-anak untuk tidak buang sampah sembarangan. Jika melihat ada teman yang membuang sampah, harap ditegur. Atau melihat sampah, tolong diambil dan dibuang ke tempat sampah. Selanjutnya adalah tidak memetik tanaman, kecuali yang sudah jatuh ke tanah. Tentu ini untuk mengajarkan mereka untuk menghargai ciptaan Tuhan juga ya. Meskipun waktu menjelaskan peraturan bersama ini pakai urut dada dan pijat-pijat kening, karena sedikit-sedikit ada aja komen dari mereka, tapi nyatanya mereka menjalankan juga kesepakatan bersama ini loh. Cakeeeppp!! 👍👍

 

Selesai dengan urusan peraturan bersama yang dilanjut dengan makan siang, kami ajak anak-anak dan orang tua untuk berkegiatan lomba ala-ala 17 Agustusan. Dimulai dengan lomba bawa kelereng dengan sendok. Anak-anak dibagi menjadi 3 grup; balita, usia 6-10 tahun dan remaja. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun juga diminta turun buat hura-hura bergembira juga. Selain lomba kelereng, ada juga lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba pukul air dan yang terakhir lomba makan kerupuk. Hampir semua lomba dimeriahkan oleh anak-anak balita. Mereka lucu deh, semangat ’45 banget begitu diajak ikutan lomba. Serunya lagi, biarpun tidak ada menang atau kalah di perlombaan ini, tapi tidak ada satu pun anak-anak yang komplen karena tidak juara. Hadiahnya pun hanya sekedar snack ringan sederhana kecil-kecilan yang dimakan saat itu kelar. Begitu aja dah bahagia ya. 💕😍

 

Kehebohan lomba-lomba ala 17-an ini bikin anak-anak dan orang tua jadi cepat membaur. Suasana jadi lebih mencair dari sebelumnya. Sehingga untuk menuju kegiatan berikutnya, bermain di sungai, anak-anak juga sudah lebih luwes dari sebelumnya. Nah, sebelum kami jalan menuju ke sungai, kami minta anak-anak untuk berpasangan. Anak yang besar kami minta untuk bertanggung jawab menjaga anak yang lebih kecil. Menariknya, mereka menjadikan tugas berpasangan ini cukup serius. Selama perjalanan menuju ke sungai terlihat anak besar menjaga anak kecil sebaik mungkin. Ada yang digandeng, dirangkul, diajak ngobrol, ditungguin ketika jalannya melambat ataupun dibantu ketika bertemu jalan yang susah untuk ditempuh. Hangat sekali melihat sisi lain dari anak-anak ini deh.

 


Sampai lah kami di sungai, anak-anak sudah tidak sabar ingin main. Dan tugas menjaga anak-anak pun dikembalikan ke orang tua masing-masing. Bukan hanya anak-anak yang seru dan heboh sendiri bertemu dengan air sungai, orang tua juga gak kalah senang. Sungai memang punya daya tarik sendiri ya. Puas banget lah ini anak-anak main di air, dari yang kecil sampai yang gede. Semua hepi!

 

Tapi berhubung mendung dah mulai bergelayut di atas kita, saatnya cepat-cepat harus segera kembali ke tenda. Seperti yang sudah diberitahukan oleh orang-orang setempat di sana, hampir setiap sore sekitar pukul 4 pasti akan turun hujan. Maka dari itu lokasinya dinamakan Hutan Hujan. Bisa begitu ya. Pasti mba Rara rajin mantau ke sini nih buat mastiin setiap jam 4 hujan. 😂😂

 

Syukurlah ketika hujan akhirnya turun kami sudah cukup nyaman di tenda masing-masing. Beruntungnya juga hujan turun cukup ringan. Gue dan Ali sih merasa senang banget bisa santai-santai di dalam tenda sambil melihat pemandangan di depan kami. Sawah hijau yang dibasahi hujan rintik, dengan pemandangan latar hutan pinus dan angin sejuk semilir menerpa kami. Kapan lagi coba menikmati suasanan hening dan syahdu kaya gitu. Meanwhile, anak lanang kami asyik kumpul sama teman abegehnya di tenda lain.

 

Hujan berhenti sekitar pukul 6 sore, tepat makan malam disajikan di resto. Kami menikmati makan malam kami di sana sambil menyatukan meja untuk lebih seru ngobrolnya. Udara tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat kami mengenakan sweater atau jaket. Anak-anak juga seru sendiri. Sedangkan bapak-bapak ada yang memilih sendiri menikmati makan malamnya ataupun mengobrol berdua atau bertiga bersama.

 

Selepas makan malam, kami kembali ke tenda. Sambil menunggu api unggun dinyalakan oleh pengurus di sana, kami lanjut mengobrol. Sedangkan anak-anak sudah tidak sabar ingin segera panggang marshamallow. Heboh banget ketika mereka bisa mewujudkan keinginan mereka. Padahal kalau lihat api unggunnya sih meresahkan banget. Tapi untung ada salah satu dari ibu-ibu bisa debus #eh. Kesannya sih marshmallow-nya dipanggang, kenyataannya hanya disodorin bentar demi kepuasaan pemirsah. Judulnya yang penting anak senang! 😁😁

 

Selesai dengan kehebohan anak-anak dan marshmallow, acara mengobrol pun berganti menjadi nyanyi-nyanyi dengan gitar. Sayangnya pemain gitarnya ini gak bisa mewujudkan lagu favorit gue nih, Kangen-nya Dewa dan Kita-nya Sheila on 7. Padahal seru tuh lagunya. Tapi digantikan dengan lagu Sempurna-nya Andra n The Backbone. Wuiih, mantap laaah ini, meski suara ya apa adanya aja lah.

 

Malam semakin larut, satu persatu teman-teman sudah masuk ke tenda. Meninggalkan beberapa orang yang masih pengen mengobrol bersama. Tentu dong Pop Mie gak boleh ketinggalan, soalnya udara makin dingin. Memang ya, setiap kemping itu wajib banget makan mie instan. 😁 Dan sekitar pukul 12 malam kami memutuskan untuk masuk tenda masing-masing dan tewas.

 

Keesokan harinya…


Buat gue yang susah tidur di tempat baru, malam itu gue cukup bisa tidur meski sempat kebangun beberapa kali. Dan berhubung pagi-pagi juga sudah ada yang bangun, gue pun jadi ikut terbangun – masih tidur-tidur ayam sih. Beberapa sudah ada yang bikin kopi, mie instan dan panggang roti. Pada rajin-rajin banget sih ya. Sedangkan gue sehabis ambil satu roti yang sudah dipanggang teman-teman, lebih memilih untuk duduk menyendiri aja sambil nyeruput kopi buatan bapak Ali, menikmati pemandangan di depan gue. Ah… bengong itu emang enak.

 

Selesai makan pagi, kami memutuskan untuk nature walk. Tapi sebelum mulai berjalan, kami meminta anak-anak untuk olahraga sebentar. Kembali anak-anak diminta untuk berpasangan yang sama seperti kemarin. Perjalanan pun dimulai. Kami memasuki hutan pinus, yang ternyata di dalamnya cukup licin dan berlumpur karena hujan kemarin. Entah berapa lama kami berjalan, tapi perjalanannya itu cukup jauh dan makan waktu. Hebatnya, selama itu anak-anak menikmatinya. Hampir tidak ada yang merengek capek atau kelelahan. Selain itu, sepanjang perjalanan ini beberapa orang tua sering melemparkan jokes lucu yang bikin ngakak berjamaah.

 

Sampai juga kami di Gua Garunggang. Cukup menarik tempatnya karena banyak bebatuan, yang menurut penduduk setempat seperti Grand Canyon versi mini. Alami, tidak dibentuk atau dipahat. Berhubung sudah berjalan entah berapa lama tadi, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Beberapa anak remaja dan bapak-bapak memutuskan untuk turun ke gua-nya. Karena penasaran, Si Boy juga ikutan turun. Guanya itu menurun ke bawah, licin dan terjal.

 

Sepertinya waktu sudah semakin siang dan kami perlu kembali ke tenda. Ternyata perjalanan yang harus ditempuh tidak ada jalan lain selain kembali ke jalan yang kami tempuh tadi. Sontak beberapa dari kami langsung merasa lemas tak berdaya. 😂 Tapi kita masih di Indonesia kan ya, tentu selalu ada penyelamat di kala susah seperti ini. Andalan kita semua, Mamang Ojek! 👏


Menggoda sekali kehadiran mereka di sana, meski biaya yang harus dibayar juga gak kira-kira – 50 ribu. Tapi namanya juga ibu-ibu, gak nawar gak afdol kan ya. Ditawar jadi 40 ribu dan Mamang Ojek pun setuju. Dan gue menjadi salah satu yang memilih jalan pintas ini bersama ibu-ibu lain yang sudah melambaikan bendera putih ke kamera.

 

Ini dia kenapa harga ojek begitu mahal di situ. Dengan rute yang aduhai luar biasa macam roller coaster gitu, si Mamang harus punya skill yang jago banget. Baru mulai duduk aja di kursi penumpang, si Mamang sudah mengeluarkan keahliannya untuk bisa membawa kami lewati turunan terjal yang licin. Mana gue pede jaya banget ajak salah satu anak teman yang umurnya 5 tahun – namanya Nana.

 

Di awal Nana sudah tampak gelagat ketakutan. Gue coba meyakinkan ini akan baik-baik saja, jadi gue bilang ke Nana untuk tenang saja, kita pasti bisa lewati ini. Anak ini pun manggut-manggut dan nurut ketika gue minta dia untuk peluk si Mamang. Tidak hanya peluk, tapi gue minta juga untuk menaruh kakinya di paha si Mamang. Dan Nana pun cukup tenang setelah gue afirmasikan seperti itu, bahkan bisa sambil bersenandung. 😂

 

Sementara gue sendiri… ya gitu lah…

Berkali-kali meyakinkan diri gue untuk percaya ke si Mamang. Asli, sungguh susah, sodara-sodaraaaa. Bayangkan jalanan yang ditempuh itu seringkali hanya berjarak beberapa senti dari jurang. Terjal dan licin, dengan roda motor yang sebentar-sebentar terpeleset berjalan di tanah bekas hujan. Motor yang dipakai juga kurang mumpuni, motor matic aja gitu, dengan penumpang yang gak imbang beratnya dengan yang nyetir.😂😂Mana si Mamang berkali-kali bilang, “Peluk aja saya, Bu. Peluk.” Halaaaah – maksudnya biar aman, tapi gue gak merasa begitu. *lap keringet* Sampai akhirnya dia kesel juga kali ya sama gue. Ngomel-ngomel dong ke gue, “Tenang, Bu. Ibu tenang dong. Kalau ibu gak tenang saya juga susah ini” karena gue bentar-bentar minta turun dari motor. 😂😂

 

Aseli sih ini horor banget. Salah perhitungan dikit aja, ban motor tahu-tahu meleset, kelar udah hidup gue dan Nana di tangan si Mamang. Entah berapa kali gue berdoa selama perjalanan demi keselamatan hidup gue dan Nana – anak orang iniiii. 😂😂 Begitu akhirnya sampai di depan tenda kaki gue langsung lemes. Tapi tetep gue bayar dengan harga awal. Perjuangannya memahami ibu-ibu panikan kaya gue ini PR yaa, Mang.

 

Apa kabar, Nana? Dia turun dengan senyum sumringah aja sambil menenteng botol Teh Pucuk di tangan. Kebahagiaan anak memang utama yaaaa, no matter what happen with the parents yang udah jungkir balik. 😂😂😂 Setidaknya selamat sampai bawah aja itu Puji Tuhan, syukur alhamdulilah. Benar-benar keputusan terburuk yang gue ambil dah ah. Apalagi sesaat setelah itu ada suara anak-anak yang terdengar dari kejauhan. “Apakah gue lagi berhalusinasikah ini?”

 

Tidaaaaak. Itu benar suara anak-anak yang memilih jalan untuk turun. Mereka bahagia, kita – para ibu yang memilih jalan pintas pakai ojek – masgyul! Tahu begini mending jalan kaki aja bareng mereka, yang ternyata mereka menemukan jalan pintas yang lebih cepat. Asyeeeem!!!

 

Begitulah acara berkemah kami kemarin. Penuh dengan cerita seru yang akan dikenang suatu hari nanti. Setelah berfoto bersama, kami bersama-sama berjalan kembali menuju ke lapangan parkir. Meski rasanya enggan ya untuk berpisah, tapi kami percaya akan ada momen-momen lagi di kemudian hari.

 

PS: Beberapa ada yang memilih naik ojek untuk membawa barang-barangnya ke lapangan parkir. Keluarga Nana salah satunya. Gak ada tuh rasa ketakutan dari Nana, malah dia duduk di depan Mang Ojek sambil tertawa bergembira saat motornya melewati gue yang terengah-engah di jalan menanjak. Cukup tante Ethep aja yang trauma ya, Na!!😂😂😂

Sunday, February 6, 2022

11:12 AM

Ourselves - Diri Kita

Ourselves - Diri Kita

 Seberapa penting sih sebetulnya kita perlu mengenal diri kita sendiri?


Sepertinya gue agak sedikit telat belajar mengenal diri gue sendiri. Dulu, ketika sekolah, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran gue untuk kenalan dengan diri gue. Gue terlalu sibuk untuk tidak terlihat berbeda dengan teman-teman. Sebisa mungkin hidup gue sama dengan mereka. Parameter gue selalu bergantung dari kacamata teman. Sama sekali tidak ada di pikiran untuk melihat lebih jauh siapa diri gue sebenarnya. Begitupun masa kuliah. Meskipun sudah masuk usia dewasa, tapi gue tidak serta merta menjadi matang secara pikiran. Penampilan luar selalu menjadi pusat perhatian gue. Bagaimana gue terlihat menjadi satu hal yang penting banget gue pikirkan. Mengenal diri sendiri dalam bayangan gue saat itu sama halnya terlihat menarik secara fisik.

 

Sampai akhirnya gue punya Fritz. Mungkin ini adalah momen dimana gue mulai belajar untuk tidak lagi melihat penampilan fisik yang menjadi perhatian utama gue. Ada satu kesadaran diri ketika seorang bayi hadir dalam hidup gue dan Ali. Gue merasa harus menjadi versi terbaik dari diri gue demi anak ini. Gue harus bisa menjadi panutan yang bagus buatnya. Nah, di waktu inilah pelan-pelan gue mulai belajar untuk mengenal diri gue. Agak telat sih secara umur, tapi gue percaya tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Eaaa….😆

 

Perjalanan mengenal diri ini ternyata tidak mudah. Beberapa kali gue terbentur, terperosok, jumpalitan, guling-gulingan bahkan sampai koprol. Tapi lagi-lagi, gue percaya kita hadir di dunia ini sebetulnya punya tujuan. Bukan hanya dilahirkan, hidup, menikah, punya anak, lalu menua dan selesai. Dan proses mengenali siapa diri gue sebenarnya ini pun dimulai.

 

Tepatnya ketika gue memutuskan menjalankan Pendidikan Rumah alias homeschooling (HS) buat Fritz. Awalnya gue pikir ini akan jadi perjalanan mendidik anak saja. Bagaimana gue yang notabene seorang guru memilih untuk mengajar anaknya sendiri. That’s it. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi ternyata gue berpikir pendek, sodara-sodara. HS lebih dari itu. HS membawa gue jauh mengenal hidup gue lebih jauh lagi. HS menuntun gue menuju perjalanan spiritual kehidupan gue. Tsaaah, dalam banget ini obrolannya. 😜

 

Berawal dari mencoba mencari tahu dan berkenalan dengan para penggiat homeschool di tahun 2012. Bergerilya mencari informasi lewat teman-teman yang sudah lebih dulu menjalaninya. Berteman satu demi satu dengan mereka, mengenali kebiasaan mereka ber-HS, sampai akhirnya berkumpul bersama dalam satu komunitas kecil bernama Ibu Jari. Di sini gue banyak terbuka secara pikiran dan mata gue melihat kehidupan. Lewat mereka, gue pertama kali belajar mengenal diri gue sendiri dan apa yang gue mau dalam hidup gue. Melihat anak, suami serta arti keluarga dari sisi berbeda.

 

Perjalanan berlanjut di tahun 2015. Persimpangan jalan antara memilih tetap berHS atau mulai sekolah formal. Di sini gue banyak berdiskusi dengan Ali dan juga Fritz, dan akhirnya kami sepakat tetap memilih HS sebagai jalur perjalanan pendidikan buat Fritz. Berkegiatan lah kami di Komunitas Oase di tahun ini. Di sini kami bertemu dengan banyak teman yang baru, meskipun ada juga yang sudah kami kenal di tahun-tahun sebelumnya. Sungguh menyenangkan perjalanan HS bersama komunitas ini. Bukan hanya Fritz yang bertemu dengan teman-teman baru, tapi kami sebagai keluarga pun berkenalan dengan keluarga HS lainnya.


Tanpa disadari, pertemanan keluarga ini akhirnya mengerucut di akhir tahun 2016. Beberapa keluarga memilih untuk berkegiatan bersama di Kaplongan. Sehingga kami sepakat memilih nama DeKaplongan sebagai nama grup kecil kami ini. Dalam perjalanannya kami banyak berproses bersama dalam mengenal diri kami masing-masing. Seringkali kami meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang spiritual dalam kehidupan, tentu disamping belajar hal-hal lainnya yang masih terkait dengan HS. Menarik sekali sebetulnya mempelajari tentang hal spiritual ini, sehingga mengenal diri gue semakin jelas saja dari obrolan-obrolan yang sering kami lakukan di meja (makan) oval itu.

 

Apalagi dalam perjalanan mengenal diri ini gue banyak ngobrol bareng dengan Lia. Bukan Milea yang biasa dipanggil Lia sama Dilan ya. Lia, emaknya Mas Abi dan Nduk Anin, istrinya Bapak Aji Wijaya. Begitu banyak yang sering gue bahas bareng Lia, meskipun lebih banyak debatnya karena gak cocok pemikirannya sih. Tapi emang Lia itu sayang banget ya sama gue, sampai-sampai rela direcokin terus sama gue. I love you, Liaaaaa. 💗💗 Dan dari obrolan-obrolan yang sering kita lalui, gue semakin belajar lebih dalam lagi mengenal diri gue sendiri.

 

Jalan untuk mengenal diri pun semakin terbuka lebar. Awalnya mungkin hanya satu jalan utama, tapi semakin ke sini semakin banyak jalan-jalan yang dibukakan untuk mempelajari diri ini. 5 tahun terakhir ini gue memilih metode Charlotte Mason untuk pendidikan rumah Fritz. Dan lewat CM pula-lah gue semakin merasa proses mengenali diri menjadi lebih dalam lagi. Bukan lagi lewat bertanya dan curhat dengan teman, tapi lewat buku serta hasil dari diskusi dan refleksi dengan diri sendiri yang membuat gue semakin kenal siapa diri gue sebenarnya.

 

Kalau dari tadi gue terus bilang mengenal diri sendiri, lantas yang baca pasti bingung. Sebenarnya gue selama ini amnesia apa gimana sih sampai gak kenal sama diri gue sendiri? Padahal kan jelas ya mengenal diri sendiri itu mudah. Hmm. Coba deh jabarkan secara panjang lebar siapa diri kita, apa maunya dalam hidup kita, dan sudah berbuat apa saja dalam kehidupan ini? Percaya, itu tidak mudah. Ada hal-hal dimana yang selama ini mungkin kita tidak pernah tahu kedalaman pikiran, perasaan serta sifat dan sikap yang kita punya. Apalagi dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah ini perlu disadari, dicari serta digali untuk membuat hidup kita semakin berarti.

 

Gue pun semakin percaya, ketika kita mencari, semesta pun akan menyediakannya. Begitu seperti halnya ketika gue merasa perlu belajar untuk kenal dengan diri gue sendiri, paham siapa gue dan bagaimana memperlakukan diri gue, serta jujur dengan pribadi gue, Tuhan pun memberikan jalannya lewat orang-orang yang dikirimNya. Entah bagaimana caranya, mereka hadir untuk memberikan gue banyak pelajaran dalam hidup. 💕

Tuesday, January 25, 2022

2:53 PM

Ourselves - Panca Indera

Ourselves - Panca Indera


Kebetulan sedang membahas tentang panca indera, rasanya jadi tepat banget kalau di edisi tulisan kali ini gue berbagi cerita pengalaman pribadi aja. Tepat seminggu yang lalu, akhir minggu kedua di Januari, gue mengalami sakit di pencernaan yang cukup hebat. Ini bukan pertama kalinya gue menderita sakit seperti ini. Rasanya kalau diingat-ingat lagi sudah dari usia sekolah gue selalu bermasalah dengan pencernaan. Dan seperti orang bebal, gue kerap kali mengulang kesalahan yang serupa.


Kelemahan gue yang paling utama adalah tidak bisa melihat makanan enak. Masalah yang lainnya lagi adalah semua makanan selalu enak buat gue. Jadi bisa dibayangkan betapa lemahnya pengendalian diri gue ketika melihat ada makanan di depan mata. Apalagi kalau judulnya gratis! 😎😎 Jadi ingat jaman kuliah dulu. Gue punya prinsip, kalau ada makanan yang gratis kenapa harus beli. Geng kuliah gue hafal banget kebiasaan gue ini nih karena gue sering banget malak makanan mereka ataupun minta dijajanin sama mereka. Baiknya mereka punya teman kaya gue. #eh kebalik yak…

 

Kembali ke cerita sakit yang gue rasain (sukurin lo!) eh rasakan. Akhir minggu itu gue banyak mengkonsumsi gluten yang tanpa disadari memicu pencernaan gue. Mendadak perut gue sakit gak ketulungan di dini hari. Seperti ada demo besar-besaran di dalam perut. Sontak para pendemo itu minta keluar dari perut dalam rupa muntah dan diare. Dan di hari Senin pagi itu gue sudah 4x muntah ditambah 1x diare tanpa bentuk selain cairan kuning. Lemas tak berdaya rasanya dengan perut yang bergejolak kawula muda – macam Prambors FM ya. 😂 Ditambah dengan bunyi geluduk kecil-kecil di dalam perut, sama persis dengan cuaca di hari itu yang ditemani oleh geluduk dan hujan.

 


Iya, gue ini termasuk yang tidak kuat dengan gluten. Padahal gue cinta mati sama mie! Pernah ada pengalaman tepar tak berdaya juga karena mie. Satu waktu gue mengkonsumsi mie sekitar 4-5 kali dalam seminggu dan tentu setelah itu perut meronta-ronta kesakitan. Sama seperti rasa sakit yang terakhir gue derita. Segitu gagalnya gue menahan nafsu melihat mie. Tapi sejak itu gue agak kapok. Seperti dalam pertemanan yang kurang sehat, mie ini membawa pengaruh buruk dalam hidup gue. Jadi gue terapkan peraturan untuk mie ini. Kami tetap berteman, tapi perlu jaga jarak. Cukup makan mie seminggu sekali aja. Supaya hasrat makan mie tetap terpenuhi dalam porsi sewajarnya, tidak barbar seperti sebelumnya. Dan berhasil dong! Yaaaayy.

 

Permasalahan mie sudah bisa dikendalikan, meskipun harus melewati rasa sakit yang luar biasa dulu. Nah untuk sakit yang gue alami seminggu yang lalu sebetulnya hasil dari pengalaman yang serupa juga. Ternyata perut gue bukan hanya bermasalah dengan mie, tapi beberapa gluten mulai bereaksi yang sama ketika dikonsumsi berdekatan waktunya. Sehingga pengalaman sakit kemarin mengajak gue untuk belajar lagi untuk lebih mengendalikan mulut.

 

Begitulah ketika mulut sudah menjadi tuan untuk diri kita. Dan sejujurnya gue pun gak bisa menjanjikan gue tidak lagi jatuh ke dalam lubang yang sama, karena perkara makanan ini memang momok besar banget buat diri gue. Tapi setidaknya dengan prinsip CM untuk tetap berada di tengah-tengah penting banget gue terapkan dalam urusan perglutenan dan pencernaan ini. Supaya tidak ada lagi kasus-kasus demo besar di dalam perut hamba...😂😂

 


Sunday, December 26, 2021

9:49 AM

Ourselves - Kesucian

Ourselves - Kesucian

 

Ada yang bilang, mendidik anak di zaman ini jauh lebih sulit ketimbang orang tua kita dulu. Ada pula yang berujar, zaman dulu orang tua hanya khawatir menjaga anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya. Kenapa begitu coba? Ya karena zaman disinyalir sudah berganti arahnya. Semakin banyak anak laki-laki yang tidak lagi menyukai lawan jenis, melainkan sesama jenis sekarang ini. Sehingga membuat orang tua lebih khawatir menjaga anak laki-lakinya ketimbang anak perempuan. Apakah benar bahwa tantangan di setiap zaman itu selalu berbeda?


Sepertinya apa pun zamannya, enak zamanku toh. #eh 😂😂


Jadi ingat slogan itu ya. Tapi apa pula itu eranya, setiap orang tua pasti selalu mempunyai tantangannnya tersendiri ya dalam mendidik anaknya. Andil orang tua cukup besar memang dalam mendampingi anak bertumbuh. Tentu ini sudah menjadi tugas seumur hidup ketika orang tua sudah memutuskan memiliki anak dalam kehidupan berkeluarganya. Bukan tugas mudah memang, karena memang banyak sekali orang tua yang pelan-pelan mundur dari jabatannya ini.


Entah ini karena orang tua terlampau sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga minim komunikasi yang terjadi diantara anak dan orang tua. Ataupun orang tua yang kurang hangat terhadap anak, sehingga anak hanya menerima didikan satu arah. Perintah orang tua seperti mandat yang tidak dapat diganggu gugat keputusannya. Sehingga anak hanya pasif menerima tanpa dapat mengemukakan pendapatnya. Karena hal-hal seperti ini, akhirnya anak tumbuh dengan mencari informasi sendiri yang mereka dapat dari pihak luar. Dan tidak sedikit anak yang salah tafsir atas informasi yang didapat itu.


Seiring bertambahnya umur, tentu semakin banyak hal yang mulai menjadi pertanyaan di dirinya. Menemaninya bertumbuh menjadi kunci jawabannya. Bukan lagi perintah satu arah yang dibutuhnya, melainkan orang tua yang siap menjadi tempat diskusinya. Orang tua yang luwes dalam bertukar pikiran. Serta orang tua yang siap meluangkan waktu untuk sekedar mendengar curhatannya.


Pernah satu waktu si Boy terlihat galau. Begitu kutanya ada apa, dia pun bercerita tentang apa yang dirasa. Ternyata eh ternyata, anak ini sedang mengalami perasaan suka terhadap lawan jenisnya. Menurut pengakuannya, dia sempat resah maju mundur untuk cerita, karena ada rasa takut dimarahi. Lucunya, rasa galau ini terjadi menjelang tidur malam setelah dia menyatakan perasaannya itu. Pantes aja dia bangun pagi-pagi dan terlihat gelagatnya aneh, duduk kok nempelin emaknya terus kaya perangko. Ternyata ada yang galau semalaman, dan galau gak bisa tidur malam itu gak enak ye, Boy. 😁😁


Begitu ekspresi yang kuberikan kepadanya biasa saja, bahwa aku terima apa perasaannya, apa yang dia ungkapkan terhadap temannya, anak ini pun langsung dengan gamblang bercerita. Ceritanya pun mendetil sekali. Ada perasaan senang ketika dia mampu mempercayakan cerita tentang perasaannya kepada orang tuanya. Iya, bapaknya juga duduk mendengar saat itu, dan kami tidak memberikan ekspresi apa pun selain mendengar ceritanya. Tentu emaknya sambil senyum-senyum dong. Hihihi…


Beda dengan reaksi yang aku dapat waktu bercerita dengan orang tuaku dulu ketika aku mempunyai perasaan terhadap seorang laki-laki. Penghakiman dalam rupa omelan, dampratan, cemooh sampai tidak luput dari hukuman pukul, sabetan kemoceng sampai tamparan pernah kuterima karena ini. Sungguh bukan hal yang enak yang aku rasakan di saat itu, tapi tidak ada jalan lain menurutku. Sehingga membuatku merasa harus menutup rapat-rapat rahasia perasaanku dan apa saja yang aku lakukan dengannya.


Pernah satu saat di waktu usia SMP, aku mau pergi ke mall bersama pacar monyetku itu, aku harus diam-diam bilang mau belajar bersama, dengan tas berisi pakaian bagus. Yang entah bagaiamana nenekku yang menjagaku saat itu tahu rencanaku. Sontak tasku diambil dan dikeluarkan isinya, mana sebelumnya aku sempat dilempari mainan pistol-pistolan besi milik adikku. Wah, kalau saja saat dilempari itu aku tidak jago berkelit, kelar dah kaki gue. Bonyok! Jangan sedih, ceritanya tidak berhenti di situ. Sepulang Mami dari kantor, nenekku itu cerita ulah bandelku. Bukan lagi omelan yang didapat, melainkan tamparan tanpa ampun dari Mamiku. Sejak itu, tidak ada lagi cerita yang aku bisa ceritakan ke orang tuaku.


Bisa dibayangkan dampak dari anak yang tumbuh dengan ketakutan untuk bercerita terhadap orang tuanya. Tidak merasa dipercaya oleh orang tua itu sungguh tidak enak. Harus kucing-kucingan, terus berbohong dari satu hal ke hal lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya, benar-benar tidak enak. Apalagi kalau akhirnya ketahuan dan sudah dapat ditebak apa yang diterima anak di hari penghakiman itu. Kalau sudah begini, jelas kemana arah tujuan anak ini bertumbuh kan ya. Sehingga pemahaman menjaga kesucian bukan lagi karena anak paham, melainkan sebagai bentuk pemberontakan anak terhadap orang tua.


Friday, December 24, 2021

4:05 PM

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

 

Children are born person.

 

Menjadi butir pertama yang diusung oleh ibu Charlotte Mason di dalam pemikirannya. Dijelaskan olehnya bahwa sesungguhnya anak terlahir sebagai pribadi yang utuh. Artinya, mereka bukanlah lembaran kertas putih kosong yang butuh ditulisi dengan tinta hitam ataupun dihias dengan crayon warna warni oleh orang tuanya. Tapi mereka sudah terlahir dengan budi yang terinstall sempurna di dalam dirinya.

 

Lihat saja seorang anak kecil ketika melihat kebiasan orang tuanya. Tanpa diajari anak kecil itu mempelajari apa yang sering dilakukan oleh orang tuanya ini, yang lambat laun akan ditiru olehnya. Contohnya ketika anak sering melihat orang tuanya tenggelam dalam pemakaian gadget. Tanpa perlu dibekali pengajaran bagaimana menjalankan perangkat canggih itu, dengan sering melihatnya saja dia mampu mengoperasikannya dan ujung-ujungnya ikut kecanduan seperti orang tuanya. Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan lain, seperti mengupil di tempat umum, coba? Apa gak kurang gampang untuk dicontoh oleh anak-anak? 😅

 

Dengan pemikiran bahwa anak adalah lembaran kosong ini, orang tua melihat kecenderungan anak perlu dibekali dengan banyak stimuli sebagai amunisi untuk masa depannya. Merasa kurang sibuk, terlalu santai hidup sang anak, mulailah mereka diikutkan dengan banyak kegiatan ini itu. Dengan asumsi, semakin banyak kegiatan yang diberikan anak usia dini, anak akan menjadi cepat pintar. Apalagi belakangan ini semakin banyak aktivitas yang dikemas secara menarik. Dibuat seasyik mungkin supaya anak tertarik mengikutnya. Digeretlah anak kesana kemari untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tanpa menilik lagi, apakah anaknya suka atau tidak. Jadilah banyak orang tua yang judulnya merasa sayang. Mumpung masih kecil dan anaknya mau dijejali dengan banyak hal, kenapa tidak? Kalau sudah besar mungkin beda lagi ceritanya, ya kan. -- Eh, eh, jangan sedih, gue sendiri juga pernah di masa-masa tidak pernah mau ketinggalan kegiatan ini itu kok, Jengsis… 😋😋

 

Satu waktu, pasti ada kalanya anak akan sampai di satu titik kejenuhan dengan semua agenda yang dibuat oleh orang tua. Mereka mulai mogok belajar, malas-malasan, yang sebetulnya ini sudah menjadi pertanda bentuk kelelahnnya jiwa anak. Alih-alih menyadari tanda ini, orang tua justru merasa anak butuh keseimbangan aktivitas lainnya. Ditambahkannya lagi kegiatan yang mungkin lebih menyenangkan dari sebelumnya. Nah, kalau sudah begini jatuhnya jadi ambisi orang tua bukan sih?

 

Seperti yang dibilang oleh Plato, “Dusta dalam Jiwa”. Jangan-jangan beginilah pendidikan terbaik yang diyakini oleh orang tua selama ini, sudah keliru dari awalnya. Orang tua tidak menyadari dampak dari terlalu banyak paparan yang diberikan untuk diri anak akan berpengaruh dalam karakter dan perilaku mereka. Padahal seharusnya, kedua hal ini terbangun dari dalam diri anak, bukan di luar dari dirinya.

 

Anak itu sebetulnya pembelajar mandiri. Dengan sendirinya anak mempunyai kemampuan mencerna makanannya sendiri kok, tanpa perlu bantuan pihak luar untuk mengunyahkan untuk mereka. Sama seperti tubuh yang butuh asupan terbaik, begitu juga budi yang butuh diberikan nutrisi. Jadi bukan kegiatan se-hompimpa alaeyum gambreng yang dibutuhkan oleh anak, melainkan jamuan nutrisi ide yang sebetulnya diperlukan anak dalam pendidikannya, yang dapat menyentuh jiwanya jika anak sudah meminatinya. Karena anak terlahir sebagai pribadi utuh itulah, maka sejak lahir ke dunia anak sebetulnya sudah memulai pendidikannya. Urusan orang tua ya tinggal menyediakan anak-anak sajian budi yang tercukupi kualitas dan kuantitasnya. Keduanya sama-sama penting, karena budi yang sudah tertanam di dalam diri anak itu harus selalu dibuat bekerja untuk mencerna makanannya sendiri agar fungsinya tidak menjadi gagal.

 

Pasti ujung-ujungnya selalu kembalinya ke laptop, eh ke buku. Kenapa sih harus buku? Ya menurut ngana, apakah materi belajar yang sudah dikunyahkan oleh orang lain mampu melekat lama dalam benak anak? Bukankah anak itu sudah terlahir sebagai pribadi utuh yang sanggup mencerna asupan dengan nutrisi baik? Jadi apalagi kalau bukan buku, yang ditulis dari pemikiran seseorang, yang menjadi jawabannya. Pikiran bertemu pikiran ini yang mampu memantik jiwa dan hasrat anak dalam belajar. Sehingga rasa kenyangnya pun jadi lebih paripurna. 

Wednesday, December 15, 2021

9:49 PM

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat


Bergerak itu naluri alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Lihat saja anak kecil yang suka bergerak ke sana kemari, yang kadang membuat orang tuanya menggelengkan kepala dan berujar, “Tidak ada habis-habisnya tenaga anak ini.” Justru begitulah yang sebaiknya terjadi pada anak-anak. Mereka harus dan perlu untuk bergerak. Energi yang terus ada stoknya setiap harinya perlu untuk dikeluarkan. Dan akan lebih banyak hal yang bermanfaat lagi jika anak-anak ini mengeluarkan energinya dengan diajak bergerak ke alam bebas.

 

Namun sayangnya, semakin bertambahnya umur dan menjadi manusia dewasa, bergerak ini tidak lagi menjadi kewajiban yang perlu dilakukan. Slogan “mager” ataupun “kaum rebahan” menjadi sering digaungkan seakan itu sesuatu yang memang benar untuk dijalankan. Padahal sebetulnya, ada kegelisahan dalam diri jika tubuh tidak digerakkan. Tubuh akan merasa tidak nyaman karena ada energi yang tidak keluar dari dalam tubuh. Aliran darah pun tidak mengalirkan oksigen dengan baik. Dan kebiasaan ini jika terus dijalankan, tentu saja akan mendatangkan malapetaka di kemudian hari.

 

Selain tubuh yang tidak nyaman, pikiran pun terganggu. Apalagi jika bukan karena ada oksigen yang mampet mengalir ke otak. Sehingga membuat pikiran ikutan mogok untuk diajak berpikir. Jika sudah begini, jangankan diajak untuk bergerak, diajak mikir berat pun ogah. Kegelisahan dalam diri pun akan menjadi-jadi, ya itu, karena ada kebutuhan bergerak yang kurang dilakukan.

 

Ada yang kurang aktif bergerak, namun ada juga yang senang sekali menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dalam kesehariannya. Bahkan terlalu aktif, sampai-sampai tidak ada waktu untuk menghela nafas saking sibuknya. Seperti yang terjadi dengan anak-anak yang sering kebablasan dalam bermain, sehingga ingin bermain terus-terusan. Lupa waktu. Selain itu banyak juga orang tua yang gatal melihat anaknya seakan tidak ada kegiatan yang dikerjakan. Anaknya diikutkan berbagai aktivitas ini dan itu, yang lantas lupa menilik kembali sebenarnya apa tujuan utama dalam beraktivitas itu? Jangan heran saat ini banyak sekali anak-anak yang tumbuh tanpa inisiatif mencari kegiatan untuk menyibukkan dirinya sendiri. Dan semakin banyak juga anak-anak, maupun orang dewasa, yang tidak tahan dengan satu kegiatan untuk jangka waktu yang lama.

 

Apakah ini juga menjadi masalah? Tentu ini bisa mendatangkan masalah tersendiri jika menjadi aktif sudah merugikan diri sendiri. Apalagi ketika menjalankan banyak kegiatan ini itu kebablasan hanya untuk memuaskan ambisi semata. Belum lagi jika ada terselip niat untuk menyombongkan diri karena ingin dianggap hebat dan merasa butuh dipuji. Ini sudah menjadi tanda-tanda kegelisahan aktif bergerak yang sudah mendadak ngelunjak menjadi tuan bagi diri kita.

 

Setelah hari-hari yang melelahkan, tubuh pasti memberikan sinyal agar ia diberikan waktu untuk istirahat. Diam dan rehat menjadi pilihan yang bijaksana dalam menanggapinya. Jangan juga menjadi merasa bersalah karena membiarkan tubuh beristirahat. Berikan waktu lah meski sejenak. Namun di samping itu, jangan juga menjadikan istirahat ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Lalu membiarkan nalar untuk merasionalisasikan segala macam alasan. Nalar kan suka begitu, seringnya mengajak pikiran untuk tawar menawar agar dibenarkan.

 

Ah, susahnya hidup ya. Terlalu aktif, terasa salah. Menjadi malas pun juga salah. Lantas, apa sih sebetulnya yang perlu dilakukan?

 

Kenali diri sendiri menjadi kunci jawabannya. Peka akan kebutuhan tubuh. Jika memang dirasa tubuh sudah terlalu aktif, boleh lah untuk membiarkannya beristirahat. Tentu ketika rehat pun tidak ada rasa menyesal karena memberikan tubuh kesenangan sementara. Tetapi perlu diingat juga, energi di dalam tubuh itu stoknya selalu baru setiap hari dan butuh untuk dibakar, dengan cara digerakkan. Bukan terbuai dengan kemalasan sebagai kaum rebahan tadi.

 

Selain itu, diperlukan juga refleksi diri. Terus menerus bertanya kepada diri sendiri, apakah ini yang kubutuhkan? Apakah hari ini aku sudah cukup bergerak? Apakah hari ini terlalu aktif? Apakah kegiatan ini untuk diriku? Apa yang dicari dari ini? Untuk kepuasaan diriku? Untuk dianggap hebat? Ingin dipuji? Dan berbagai pertanyaan yang hanya mampu dijawab jujur oleh diri sendiri. 


Friday, November 5, 2021

8:41 PM

Ourselves - Rasa Lapar dan Haus

Ourselves - Rasa Lapar dan Haus


Selayaknya pemerintahan dalam suatu negara, Pemerintah di dalam Kerajaan Jiwa Manusia juga mempunyai tugas yang diemban oleh masing-masing pejabatnya. Pejabat pertama yang akan dibahas adalah pejabat yang tidak mempunyai jabatan tinggi namun mempunyai peran yang sangat besar dalam pemerintahan. Mereka ini yang membuat roda pemerintahan dapat berjalan baik, ataupun menjadi buruk. Mereka adalah Ajun Komisaris Tubuh.

 

Sebetulnya tugas mereka adalah membuat Negeri menjadi sejahtera. Andai saja mereka bisa mengurus pekerjaannya masing-masing tanpa harus kepo dengan pejabat lainnya, tentu Negeri Jiwa Manusia akan selalu damai dan tentram. Sayangnya, mereka ini berlomba-lomba ingin meyakinkan Perdana Menteri bahwa mereka lah yang membawa kebahagiaan dalam Jiwa Manusia. Masalah akan semakin pelik jika salah satu pejabat mendapatkan apa yang diinginkan. Maka Negeri Jiwa Manusia pun menjadi kacau.

 

Ajun Komisaris Tubuh: Rasa Lapar


 

Rasa lapar itu netral karena setiap manusia pasti mengalaminya. Ketika perut terasa lapar, ia pasti menagih untuk minta diisi dengan sesuatu yang mengenyangkan. Jika sesuatu yang mengenyangkan itu adalah makanan yang memang memiliki gizi yang baik, maka rasa lapar bisa dibilang sudah tertangani. Masalah akan muncul jika rasa lapar ini diberi sesuatu yang manis-manis – seperti gue (uueeekkk 😜), misalnya, seperti kue, cokelat, permen ataupun minuman kekinian yang manis itu. Rasa lapar tidak akan pernah menjadi kenyang karena yang terjadi adalah tubuh merasa ketagihan dengan segala yang manis. Jika ini terus dilakukan, tidak segera dihentikan, maka perut tidak akan pernah mendeteksi rasa lapar lagi. Justru yang datang adalah bahaya Kerakusan.

 

Setelah rasa lapar ‘ngelunjak’ menjadi Kerakusan, ia pun mulai minta yang macam-macam. Mencari segala cara untuk mengempani rasa lapar yang tidak kunjung usai. Tubuh menjadi ketagihan dengan sesuatu yang manis. Kerakusan pun mulai mencoba untuk meyakinkan Perdana Menteri (Kehendak), kalau yang dibutuhkan oleh tubuh adalah sesuatu yang manis-manis ini. Pada akhirnya Kerakusan pun sukses menguasai Perdana Menteri. Segala pikiran hanya berpaku pada “aku harus makan apa lagi nih?”

 

Tanpa disadari juga, ketika Kerakusan sudah menjadi tuan atas diri kita, penyakit sudah menunggu di depan mata. Penyakit yang sudah ditumpuk akibat mengasupi diri dengan sesuatu yang minim nutrisi. Tetapi akan berbeda jika rasa lapar ini bisa menjadi tuan untuk dirinya sendiri. Dengan kesadaran penuh, ia tahu apa yang harus diasup ke dalam tubuh. Maka Jiwa Manusia pun akan menjadi baik-baik saja. Karena sebenarnya tubuh manusia itu tidak membutuhkan lemak, melainkan otot.

 

Bicara soal Kerakusan, gue sendiri pun sering sekali terjatuh dalam lubang nista ini. Berkali-kali bahkan. Memang benar, ketika mulut sudah kenal dengan yang manis-manis – duh, padahal gue kurang manis apa coba ya, masih juga mau makan manis, heran! 😂, rasanya memang gak ada yang namanya kenyang. Perut seakan terus bersuara, nagih minta diisi lagi dan lagi. Entah sampai kapan kenyangnya.

 

Tetapi ketika gue dengan kesadaran penuh memilih untuk berhenti mengkonsumsi makanan yang manis, perut pun tidak lagi bergejolak macam-macam, menagih seperti tukang kredit untuk diisi. Dengan kata lain, masalah Kerakusan ini sebetulnya dapat dihentikan, jika kita, sang pemilik Jiwa Manusia, mampu mengendalikan nafsu. Tentu ini masih jadi latihan yang tidak pernah usai ya. Karena gue sendiri aja masih terus berkutat bolak balik di urusan mulut ini. Iya, gue ngakuuuuu!! 😋😝

 

Rasa lapar ini juga bisa diibaratkan seperti informasi yang ada di sekitar kita. Saat ini informasi mudah sekali didapatkan. Segala gosip artis, selebgram ini itu, info tentang restoran atau tempat jalan-jalan yang lagi hype atau kekinian, semua berseliweran dimana-mana. Apalagi akses untuk mendapatkan informasi itu begitu sangat mudah. Dalam hitungan detik, jari menggeser atas bawah, semua informasi langsung terpampang di layar dengan sempurna. Tapi, apakah benar kita memerlukan semua informasi seperti itu? Sebutuh itukah kita untuk mengikuti semua yang sedang kekinian? Bukankah hal semacam ini juga bentuk lain dari Kerakusan akibat terlalu banyak informasi yang ‘manis’ bagi Jiwa Manusia?

 

Ajun Komisaris Tubuh: Rasa Haus

 

Sebagian besar tubuh kita terdiri dari air. Mau tidak mau, kita wajib memberikan asupan air bagi tubuh supaya tidak kekurangan. Namun sayangnya seringkali kita lupa dan tanpa disadari tubuh menjadi dehidrasi.

 

Belakangan ini air sudah bertransformasi menjadi minuman yang bermacam-macam. Minuman manis, bersoda, berwarna, bahkan yang lagi kekinian saat ini adalah minuman yang dicampur dengan bahan beraneka ragam. Minuman-minuman ini seakan menjadi pelipur dahaga di saat panas ataupun sekadar teman untuk bercerita atau menunggu.

 

Ada yang lebih menggoda iman ketimbang minuman ‘fancy’ di atas. Minuman berakohol. Banyak orang mencobanya dan tidak bisa keluar dari pusaran minuman memabukkan ini. Seringkali minuman ini dijadikan tameng yang kuat sebagai pelindung diri dari masalah. Sehingga orang memilih jalan terus kembali mengkonsumsinya ketimbang mencari jalan keluar dari masalahnya. Miris memang ketika orang sudah menjadikan minuman alkohol ini sebagai penolongnya.

 

Memang tidak diragukan lagi betapa minuman dengan perasa yang unik-unik ini mampu menggoda kita. Dan tanpa disadari minuman ini sudah menjadi pengganti air yang sesungguhnya kita perlukan, yaitu air mineral. Padahal semua tahu, air mineral merupakan satu-satunya pelipur dahaga yang paling diperlukan oleh tubuh. Tapi kenapa sedikit yang menyadari ini?

 

Entah karena air mineral ini dianggap kurang enak rasanya dibanding minuman perasa lainnya sehingga tidak menjadi pilihan utama orang-orang untuk meminumnya. Ataupun air mineral ini dianggap sudah terlalu umum dan mudah untuk didapat sehingga jadi menyepelekannya. Apapun itu alasannya, memang sebaiknya tubuh hanya diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Dan juga sesuatu yang memang diperlukan bagi tubuh. Bukan sekadar jadi ajang pemuasaan nafsu semata saja.

 

*ngomong sama diri sendiri! 😋😋

Wednesday, October 20, 2021

2:50 PM

Ourselves - Pemerintah Jiwa Manusia

Ourselves - Pemerintah Jiwa Manusia

 



Setiap dari kita merupakan Kerajaan Jiwa Manusia yang terlahir dengan kekayaan warisan yang besar. Banyak hal yang mampu kita gapai, sebut saja seperti kebaikan, kebesaran, kebijaksanaan, kepahlawanan dan pengetahuan. Namun sayangnya, banyak orang hidup tanpa menggalinya. Seolah tidak ada bayangan, betapa dalam dan besarnya kekayaan jiwa manusia itu. Lalu akhirnya hidup dengan merasa selalu kurang, tidak pernah cukup, kecewa terhadap banyak hal dan mempunyai pola pikir yang picik dan sempit. Sayang ya sebetulnya kalau akhirnya kita harus hidup seperti itu tanpa mengenali lebih jauh lagi siapa diri kita ini.

 

Lewat buku Ourselves ini, kita diajak mengetahui lebih jauh lagi tentang diri kita. Setelah kemarin sempat dibahas tentang bahaya-bahaya yang terjadi didalam Kerajaan Jiwa Manusia, sekarang dibaginya lah tubuh manusia seperti selayaknya suatu pemerintahan. Ibu Charlotte Mason ini beneran seru banget ya bisa-bisanya mengibaratkan tubuh menjadi seperti itu. Begini kira-kira:

 

  • Ajun Komisaris Tubuh = Hasrat atau Nafsu
  • Pejabat Urusan Pendapatan dan Penerimaan Negara = Keinginan
  • Pejabat Perbendaharaan Negara = Kasih Sayang
  • Sekretaris Luar Negeri = Intelektual; dengan rekannya Kepala Bidang Eksplorasi (Imajinasi) dan Kepala Bidang Seni (Rasa Estetika)
  • Jaksa Agung = Nalar
  • Ketua Mahkamah Agung = Nurani
  • Perdana Menteri = Kehendak

Tentunya diatas ini semua ada Raja

 

Nah, para pejabat ini dianggap duduk di setingkat Majelis gitu. Tugasnya ya mengatur urusan-urusan sesuai dengan tanggung jawabnya. Majelis ini pun terbagi lagi menjadi 4; Majelis Tubuh, Hati, Akal Budi dan Jiwa. Dan tentunya itu semua akan dijelaskan satu persatu nanti. Bakalan seru deh ini. Tungguin kelanjutannya yaaaa

Friday, October 8, 2021

8:05 PM

Philosophy Education - Akal Budi dan Filsafat Pendidikan

Philosophy Education - Akal Budi dan Filsafat Pendidikan


Manusia adalah makhluk spiritual. Bukan saja tubuhnya yang perlu diberikan nutrisi yang terbaik, akal budinya pun juga. Namun sayangnya, pendidikan yang dianut saat ini adalah pendidikan yang berpusat hanya pada kebugaran fisik. Ataupun pendidikan yang sekadar melatih manusia untuk mampu memiliki satu atau dua kemampuan untuk bertahan hidup. Kurikulum utilitarian ini seakan menjadi tolak awal kejatuhan moral bagi anak-anak didiknya.


Kita membutuhkan pendidikan yang mampu memelihara akal budi kita, tentunya selain dua hal di atas tadi – kebugaran fisik dan pelatihan kejuruan. Ya, kita memerlukan filsafat pendidikan. Suatu pendidikan yang mampu menyuburkan pikiran kita, mengembangkan kepribadian dan juga  pribadi yang berkualitas.

 

Beberapa hal yang menjadi tolak ukur supaya pendidikan filsafat itu menjadi efektif untuk diterapkan:

  •  Bukan tugas guru sebagai  pemikul tanggung jawab dalam pendidikan. Justru anak yang menggarap sendiri tugas bacaannya.
  • Guru hanya sedikit menjelaskan, tidak merangkumkan dan juga tidak memperluas apapun dalam pendidikan.
  • Anak diperkenalkan dengan prinsip sekali baca. Lalu, bacaan itu harus diuji dengan cara narasi ataupun menulis esai. Tentu tidak ada remidi dalam ujian.
  • Buku yang diberikan adalah buku yang terbaik. Buku yang tidak dipenggal atau dipersingkat, begitu juga bukan buku yang dibaca berdasarkan suka atau tidak suka. Biasanya buku bacaan ini akan dipakai selama 2-3 tahun dalam pendidikannya. Buku tebal yang berisi ratusan atau bahkan ribuan halaman.
  • Anak akan membaca banyak buku dalam mata pelajaran yang berbeda-beda, tapi anak tidak akan kebingungan kok.
  • Belajar demi kesenangan. Kesenangan yang datang bukan karena hasil dari guru yang mengunyahkan dengan cara yang dibuat semenarik mungkin ataupun dirangkumkan sampai anak tidak perlu usaha selain menelannya bulat-bulat. Tetapi murni dari buku yang menyenangkan dan menawan yang dbaca oleh anak.
  • Buku yang diberikan harus berkualitas sastrawi.
  • Secara mengejutkan, anak akan fokus dengan sukarela dan efektif ketika menggunakan sistem ini. Tidak perlu lagi nilai, hadiah, rangking, hukuman, pujian ataupun bujukan untuk menarik perhatian mereka dalam belajar.
  • Pelajaran seperti Matematika dan Tata Bahasa dibutuhkan disiplin yang tinggi. Nah, disinilah kemampuan guru diperlukan untuk membantu anak. Tentu kebiasaan memperhatikan dari anak juga masih tetap diperlukan ya.
  • Pelajaran tidak perlu diselingi dengan sesuatu yang remeh temeh untuk menarik perhatian anak.

 

Dengan gaya pendidikan seperti ini dapat dipastikan anak-anak dari kalangan kelas manapun mampu mendapat pendidikan yang terbaik. Namun tetap saja akan banyak yang yang tidak percaya dan berkata, “Masa sih belajar hanya dari baca buku saja?” Apalagi dunia saat ini sudah semakin maju dan berkembang. Teknologi sudah jauh kemana-mana. Rasanya sangat tidak relevan ya dengan situasi saat ini. Bisa jadi anak kita yang terdidik paling belakang. Hmm….mungkin kita bisa buktikan nanti di diskusi berikut, berikut dan berikutnya....ditungguin aja yaaaaa. :)

 

Wednesday, October 6, 2021

8:48 AM

Ourselves - Bahaya Bahaya Jiwa Manusia

Ourselves - Bahaya Bahaya Jiwa Manusia

 

Negeri jiwa manusia memang indah, dan akan selalu indah. Tetapi, ada kalanya negeri ini sesekali dirudung mara bahaya. Namun, negeri ini mempunyai kemampuan untuk lolos dari bahaya yang mengancamnya. Apakah bahaya-bahaya yang selalu mengancam ketenteraman negeri jiwa manusia?

 

Bahaya Kemalasan

 

Hal yang paling umum terjadi adalah epidemi kemalasan. Layaknya suatu virus, kemalasan ini cepat sekali menyebar sampai ke seluruh negeri jiwa manusia. Seperti petani yang urung membajak dan menaruh benih, atau seperti buah-buahan yang jatuh dari pohonnya karena lupa dipetik, bahkan sampai membusuk. Seolah-olah kita ini malas untuk mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Melupakan potensi atau talenta yang sudah Tuhan berikan untuk digali lebih dalam lagi, hanya karena kita diliputi rasa malas yang besar.

 

Selain itu, kemalasan ini juga diibaratkan seperti kapal-kapal yang menganggur di pelabuhan karena tidak ada orang yang menginginkan sesuatu pun dari luar negeri. Seolah ini menjelaskan kita ini terlalu malas untuk bergerak, terlalu malas melihat kemampuan kita dan menjadi berguna bagi orang lain. Sehingga orang lain pun enggan untuk melihat kemampuan kita karena dianggap tidak mampu.

 

Membiarkan diri terlalu lama terlena dengan bermalas-malasan dan berleha-leha, maka tidak heran ini akan membentuk satu kebiasaan dalam hidup. Anggap saja seperti asupan bagi tubuh. Seringkali kita mengabaikan tubuh yang perlu diberikan nutrisi, hanya diberikan makanan seadaanya. Berlindung di balik kesibukan ataupun nanti-nanti lagi. Lupa kalau umur semakin bertambah, lupa kalau sesuatu yang ditumpuk akan menjadi timbunan yang tinggi dan sewaktu-waktu dapat meledak. Ya, semuanya dimulai dari rasa malas yang menaungi kehidupan kita.

 

Bahaya Api

 

Api ini mempunyai potensi untuk bisa menjadi penerang dalam kegelapan, tetapi di sisi lain api bisa juga menyebabkan satu kebakaran besar yang meluas. Api ini diibaratkan seperti hasrat dalam diri manusia yang mampu menguasai jiwa. Namun seringkali kita mencobai hasrat diri ini. Seperti hasrat untuk mencari promo diskonan makanan dengan harga miring. Promo akan selalu ada jika mencarinya. Tapi bagaimana kita mampu mengendalikan diri untuk tidak terjebak berulang kali dalam lubang promo diskonan itu. Nah, di situlah PRnya! – ini gue, iyaa, ini gue!! :D

 

Maka pepatah, “Janganlah bermain-main dengan api” itu menjadi benar untuk diingat ya. Perlu hati-hati dalam menggunakan hasrat ini. Apakah kita yang mengendalikan atau kita yang dikendalikan oleh hasrat?


Bahaya Wabah, Banjir dan Kelaparan

 

Dalam hidup, seringkali kita bertemu dengan masalah yang tidak disangka-sangka. Seperti suatu negeri yang mendadak dilanda musibah. Tentu saja datangnya tiba-tiba dan dalam sekejab membuat satu negeri menjadi pontang-panting menghadapinya. Tidak jarang musibah ini memporak-porandakan negeri itu dan membuat pemerintahnya pusing tujuh keliling. Ya, seperti kita yang bertemu dengan suatu musibah tanpa diduga. Sudah sebisa mungkin kita berhati-hati dalam mengendarai mobil, tapi bisa saja kecelakaan itu terjadi. Memang bukan sesuatu yang kita mau, tapi itu sudah terjadi. Lantas, apa yang mampu kita lakukan?

 

Ujian dalam hidup itu kerap sekali menjadi satu pemikiran tersendiri. Memang ada hal-hal di luar kuasa kita sebagai umat manusia yang tidak mampu kita kelola dengan akal pikiran kita. Ini menjadi satu pengingat bagi kita untuk tidak menjadi sombong dan lebih rendah hati, pengingat untuk terus memperbaiki dan meng-upgrade diri. Bisa juga menjadi inspirasi untuk hidup. Dan bisa juga menjadi alat untuk kita bertransformasi menuju manusia yang lebih baik lagi.

 

“Kenapa harus aku yang mengalaminya, bukan orang lain?” – karena orang lain bukan lo, Tong. Tuhan mau kasih pelajaran hidup aja buat lo, biar lo gak jadi manusia super sendirian. Paham ora, son!

 

Bahaya Perselisihan

 

Perselisihan dalam hidup bukan hanya terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Namun seringkali terjadi perdebatan sengit dalam diri manusia itu sendiri. Tiga piranti yang bernama Nalar, Kehendak dan Pikiran inilah yang seringkali membuat persaingan menjadi tidak sehat di dalam diri. Masing-masing mempunyai kadar keras kepala yang tidak sedikit. Mau menang akan pendapatnya.

 

Sebut saja ketika Kehendak (si hasrat tinggi) ingin sekali dipuaskan dengan makan bakmi. Wah, siapa sih yang mampu menolak rasa enak dan lezatnya semangkuk bakmi ayam dengan isian yang melimpah ditemani pangsit rebus, bakso dan juga sayur-sayuran yang menggoda iman. Belum lagi makannya pakai sambal dan kulit pangsit goreng yang kriuk-kriuk itu. Nalar, si piranti netral, turut mendukung maksud si Kehendak. Mencoba membenarkan maksud Kehendak untuk membiarkan tubuh dimasuki oleh bakmi ayam. Pikiran juga tidak mau kalah berdebat, ia terus melancarkan logika. Lagi-lagi Nalar juga turut membenarkan, Nalar ini pribadi ganda kayanya. Gak punya pendirian dia. Pikiran pun bilang, makan bakmi itu hanya enak di mulut. Tapi ketika sudah masuk ke dalam pencernaan, perutmu akan bergejolak. Meronta-ronta akibat kandungan tepung dalam mie, perih karena cabai yang tidak diterima oleh pencernaan. Lantas, siapakah yang menang? – please jangan ditanyakan ke aku, kalian sudah bisa menebaknya…. :P

 

Bahaya Kegelapan

 

Kadang merasa hidup kita tertutup oleh kabut yang tebal dan tidak menemukan sinar untuk memandu kita keluar dari kegelapan. Depresi. Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan ketika kita merasa tidak mampu keluar dari permasalahan hidup yang sedang melanda kita. Seolah seperti tidak ada lagi harapan untuk kita hidup lebih lama lagi di dunia. Cahaya pun sirna.

 

Sejatinya dalam setiap cobaan hidup yang datang menghampiri, selalu ada hal yang mampu dilihat dari sisi baiknya. Meskipun kita harus berdarah-darah berjalan melewatinya, tapi harapan itu selalu ada. Cahaya akan muncul jika kita mencarinya. Jadi, jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuan orang lain untuk mengulurkan tangan. Bisa saja bantuan itu memang datang dariNya dalam wujud manusia lain. Kita perlu percaya ini, karena hidup tidak selamanya gelap.

 

Ada tertulis, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” – Matius 7:7

 

Tidak ada hidup yang tidak bahagia di Negeri Jiwa Manusia. Kuncinya adalah keseimbangan. Bagaimana pun juga, hidup harus-wajib-mesti-kudu seimbang dalam segala aspek kehidupan.

Wednesday, September 29, 2021

2:44 PM

Ourselves - Negeri Jiwa Manusia

Ourselves - Negeri Jiwa Manusia


Ketika tubuh manusia diibaratkan seperti suatu negeri di dalamnya. Negeri yang mempunyai tanah yang sangat subur. Ada yang sudah tergarap dengan baik sehingga kita dapat menikmati ladang dan perkebunan dengan hasil panennya yang bagus. Tetapi ada juga tanah yang masih ditumbuhi tanaman liar yang sama sekali belum tersentuh oleh siapa pun, sehingga membutuhkan orang lain untuk mengelolanya. Di dasar tanahnya pun juga masih banyak harta karun yang melimpah ruah, siap untuk ditambang dan dikelola dengan baik oleh sang pemilik tubuh.

 

Negeri ini sangat sibuk. Kotanya pun juga sangat ramai. Banyak pabrik-pabrik yang menghasilkan banyak barang untuk kebutuhan sehari-hari warganya. Maka tak heran jika aliran-aliran sungainya selalu dilewati oleh kapal-kapal yang hilir mudik dari satu kota ke kota lainnya untuk berdagang.

 

Negeri ini juga sangat menyenangkan. Memiliki gedung-gedung bagus dan indah. Seringkali lukisan-lukisan dari para pelukis terkenal dipamerkan di galeri gedung ini. Kadang juga para musisi-musisi besar dan hebat juga menggelar sajian musik indah di sana. Tentunya ini dapat dinikmati oleh warga di seluruh negeri.

 

Meskipun negeri ini cukup sibuk dan ramai, tapi tidak terlalu padat. Masih ada ruang untuk warganya menikmati taman untuk bertemu, bersukaria, menari maupun menyanyi. Anak-anak pun mempunyai taman untuk bermain, sehingga gelak tawa mereka dapat terdengar dimana-mana.

 

Negeri ini juga mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku yang ditulis oleh para penulis hebat. Semua orang mempunyai akses penuh untuk menikmati buku-buku tersebut. Seakan-akan para penulis itu datang menghampiri dan duduk di sebelahnya  saat orang-orang itu membaca bukunya.

 

Di negeri ini terdapat juga gereja-gereja yang selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin datang sesukanya untuk berbicara kepada Tuhan. Meskipun sebetulnya Dia sering berjalan dan memberi nasihat pada orang-orang di seluruh negeri .

 

Satu hal yang utama, negeri ini mempunyai gunung-gunung yang menawan untuk didaki. Orang-orang dapat menghirup udara di pegunungan itu. Sambil mendaki, orang-orang juga dapat melihat serta mengumpulkan bunga-bunga indah. Tentu ada rasa lelah dalam pendakian ini, tapi semuanya terbayar lunas. Kita dapat melihat pemandangan indah ke seluruh negeri ketika kita sudah sampai di puncaknya.

 


Ketika membaca perumpamaan seperti ini tentu dapat dirasakan bahwa memang jiwa manusia itu sungguh indah ya. Seolah ibu CM ini ingin bicara bahwa setiap manusia itu terlahir dengan potensi besar di dalam dirinya, selayaknya suatu negeri dengan segala potensi di dalamnya. Tentu saja potensi itu ada yang sudah dapat ditemukan dan dikelola sendiri oleh sang pemilik jiwa. Tapi ada juga yang masih belum,  mungkin, karena menunggu kesempatan atau menunggu orang lain untuk membantu menemukannya. Namun, apapun itu, memang kita perlu meyakini setiap potensi itu perlu sekali untuk dicari dan dikelola sebaik-baiknya.

 

Begitu membicarakan tentang sungai dan kota yang sibuk dan ramai, seolah CM ingin menjelaskan pikiran kita juga tidak kalah sibuknya seperti itu. Seringkali pikiran ini melompat dengan cepat dari satu hal ke hal lain. Belum selesai dengan satu pikiran, pikiran lain sudah menyusul.

 

Pikiran menjadi bertambah sibuk ketika perasaan (emosi) ikut nimbrung di dalamnya. Misalkan saja ketika harus mengambil satu keputusan. Betapa sibuknya logika dan perasaan berbicara di dalam pikiran. Ada saja dua hal yang bertentangan untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih di setiap keputusan. Kebayang lah ya betapa logika dan emosi seolah sedang berdebat, berdiskusi, teriak-teriakkan di dalam pikiran. Sehingga, kedua hal ini seperti diibaratkan menjadi sungai dan kota-kota yang sering hilir mudik di negeri jiwa manusia itu.

 

Hal kedua adalah tentang perpustakaan dan taman bermain. Kedua hal yang sangat perlu untuk perkembangan akal budi seseorang. Ada kalanya akal budi ini harus diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Asupan ide dari buku-buku bermutu yang ditulis oleh para penulis hebat. Seolah penulis-penulis itu datang dan berbicara langsung kepada kita, dalam rupa buku tentunya. Sehingga membuat akal budi terpantik dan terpatri, seperti halnya suatu perpustakaan di jiwa manusia.

 

Namun hidup itu harus seimbang. Akal budi memang perlu diasup dengan sesuatu yang baik, tapi ada kalanya hidup perlu dijalani sedikit santai. Menikmati kesenangan-kesenangan semisal pergi ke bioskop untuk menikmati film, mendengarkan musi dan juga jalan-jalan ke taman bertemu dengan orang lain untuk berbagi cerita tidaklah salah juga kok.

 

Terakhir, ketika Ibu CM membicarakan tentang gereja dan gunung. Ini seperti yang terjadi di kehidupan kita. Tidak ada kehidupan yang lurus tanpa jalan berbatu dan kerikil tajam kan. Ada kalanya hidup kita terasa berat dengan segala ujian kehidupan, selayaknya kita sedang mendaki ke puncak gunung. Dalam perjalanan mendaki ini, sering kali kita merasa lelah, capek dan menyerah. Tapi Dia tidak pernah lelah untuk mendukung kita. Ia ada dimana-mana. Ia selalu siap sedia untuk diajak bicara, diskusi dan juga menjadi tempat bersandar ketika jiwa terasa lelah. Dan, begitu kita sampai di puncak, terbayar sudah segala jatuh bangunnya kita menghadapi segala ujian kehidupan tadi.


Seperti itulah jiwa manusia yang diibaratkan selayaknya suatu negeri yang indah.