Lievell: Cerita Ethep
Showing posts with label Cerita Ethep. Show all posts
Showing posts with label Cerita Ethep. Show all posts

Sunday, May 7, 2023

1:45 PM

Benarkah Kista?

Benarkah Kista?

Masih ingat dengan episode gue bolak balik ke rumah sakit bulan Januari kemarin? Ternyata masih ada cerita sambungannya setelah itu.


Kembali ke situasi gue harus balik dirawat inap di rumah sakit yang sama. Dokter yang menangani gue saat itu minta gue untuk diperiksa lebih lanjut lewat pemeriksaan USG Abdomen (perut). Pagi itu gue dibawa ke ruangan USG untuk diperiksa oleh dokter yang bersangkutan. Setelah periksa bagian perut dan dinyatakan tidak ada tanda-tanda penyebab sakit gue, dokter juga memeriksa bagian rahim. Nah ini gue sendiri gak jelas, apakah prosedur USG perut juga mengikutsertakan bagian rahim. Dan pada saat itu dokter bilang kalau ada tiga bulatan kecil di ovarium bagian kanan. Dokter bilang ini kista. Sontak gue terdiam. Tapi karena saat itu gue hanya fokus ke sakit yang gue rasakan, urusan kandungan ini gue singkirkan dulu sesaat. Meski gak dipungkiri sih terselip pikiran aneh-aneh.

 

Selepas dari rumah sakit dan selesai dengan urusan beberapa kali bolak balik kontrol dokter, gue memutuskan untuk balik menerapkan gaya hidup yang lebih sehat lagi. Kali ini gue merasa sudah waktunya lebih ketat lagi membatasi asupan gue. Mulai lah gue dengan mengurangi makanan yang mengandung terigu, yang digoreng dan dairy product. Berusaha makan makanan yang tidak banyak pengolahannya – real food. Makan mie dan roti sebisa mungkin dihindari. Hampir setiap hari masak dan mengurangi jauh urusan jajan. Balik rutin melakukan IF (Intermittent Fasting), 14-16 jam berpuasa. Pokoknya soal makanan ini cukup ketat dijalankan selama sebulan setelah keluar dari rumah sakit.

 

Masalah tidur juga menjadi konsentrasi, gue selalu mengusahakan untuk tidur dengan durasi 7-8 jam setiap harinya. Tidur dari jam 10-11 malam dan bangun sekitar jam 5-6 pagi. Selain itu, gue juga mulai merutinkan olahraga. Sebisa mungkin melakukan olahraga 3-4 kali dalam seminggu, dengan konsentrasi di penguatan otot lebih banyak.

 

Selain berusaha dengan semuanya, ada hal lain yang sangat mengganggu gue selama sebulan itu. Pikiran. Pikiran-pikiran liar tentang kista ini ke mana-mana. Sampai akhirnya gue merasa butuh bantuan untuk mengurainya. Lewat seorang teman yang berprofesi psikolog gue mencurahkan segala perasaan dan pikiran liar itu. Bolak balik gue berjuang untuk mengatasi segala ketakutan yang mendominasi pikiran. Bersyukur kakak psikolog ini baik hati, mau meladeni segala kegundah gulana gue. Pelan-pelan gue semakin bisa mengatasinya.

 

 

Kenapa sih gak ke dokter kandungan aja biar lebih pasti?

 

Pertama, karena gue takut! Jujurly, gue merasa belum kuat menerima hasil yang akan dibacakan oleh dokter. Memang..the sooner the better. Tapi ternyata mental gue belum sekuat itu. Gue merasa butuh waktu untuk mempersiapkan hati dengan mengasah logika dulu. Lah belum apa-apa aja pikiran sudah berkeliaran ini, sampai butuh bantuan profesional untuk mengatasinya. Jangan sampai logika dikuasai emosi kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Ini jadi hal penting sih buat gue. Biarin deh kalau sampai dibilang lebay. Yang tahu apa yang gue rasakan hanya diri gue sendiri. Yang tahu bagaimana bisa mengendalikan pikiran kan juga gue sendiri.

 

Ditambah lagi dengan keadaan secara berturut-turut selama dua bulan itu. Desember operasi wasir, Januari sakit DBD – masuk rumah sakit berulang. Rasanya masih belum lepas dari rasa gak sukanya bertemu dokter dan rumah sakit. Benar-benar butuh kekuatan bulan untuk mengatasi perasaan-perasaan itu semua.๐Ÿ˜๐Ÿ˜Tentunya juga sambil melihat ke tubuh gue sendiri, apa yang terjadi setelah gue melakukan perubahan hidup sehat.


 

        Gue memang pernah didiagnosa PCOs oleh dokter kandungan pada waktu gue merencanakan kehamilan 15 tahun lalu. Gue dan Bapak Ali memang memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk tahu lebih lanjut apa yang terjadi di kami, meski kami baru 6 bulan menikah ya. Dari situ gue jadi paham kenapa selama ini menstruasi gue tidak berjarak sebulan sekali, tapi bisa dua sampai tiga bulan sekali. Salah satu penyebabnya karena sel telur gue banyak yang kecil-kecil – tanda PCOs. Dan juga karena gue mudah stress – ini gue tahu belakangan. ๐Ÿ˜


Karena gue teringat dengan diagnosa dokter kandungan itu, gue mulai mencari-cari info soal PCOs lebih dalam lagi. Ketemu lah dengan satu buku yang ditulis oleh dua orang dokter, dr. Gita Pratama, Sp.OG(K), MRepSc dan dr. Anton Tanjung. Isi bukunya sederhana aja sih, mengenalkan tentang PCOs, gejala-gejalanya dan cara mengatasinya. Pastinya diet makanan, tidur cukup dan olahraga serta mengatasi stress itu sendiri ternyata berpengaruh banget. Tapi kenapa gue tetap beli buku sederhana ini, yang semua infonya bisa gue dapetin mudah dengan gugling, adalah murni karena covernya yang berwarna ungu pastel!! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ *gak penting banget emang

 

Sebulan sudah melatih kebiasaan gaya hidup baru, melatih pikiran juga mengumpulkan info. Sekarang tiba saatnya menunggu datangnya menstruasi setelah terakhir itu tanggal 22 Januari, pas Imlek, pas juga pulang dari RS yang pertama kali. Akhirnya tanggal 9 Maret gue datang bulan juga. Ada rasa senang mendapati menstruasi gue muncul. Tapi sayangnya hanya berlangsung sehari, besoknya langsung blass hilang total. Panik pastinya. Sutrisno alias stress melanda. Apalagi kalau bukan si pikiran bawah sadar yang gangguin gue. Nah itu dia kenapa tadi gue bilang pikiran ini mampu membuat menstruasi tersendat.

 

Sambil menunggu menstruasi ke-tiga, gue coba lebih rileks kali ini. Gak yang total-total amat diet makanannya, tapi tetap dalam kadar wajar. Sudah berani makan mie dan roti, tinggal diatur aja ritmenya. Meski kadang masih sayang sama tubuhnya yang sudah cukup lumayan bersih dari terigu. Pikiran juga sudah mulai bisa diatasi, gak ada lagi pikiran-pikiran liar yang mengganggu. Kalau mulai datang, gue sudah bisa mengendalikannya.


Nah sambil menunggu ini, gue mulai punya keberanian diri untuk mencari dokter kandungan yang akan gue sambangi. Ini juga salah satu PR. Saking sudah lamanya gue gak pernah ke dokter kandungan, no idea gue akan ke dokter kandungan siapa. Tapi tiba-tiba aja gue mendapat pencerahan dari teman kuliah, Lia namanya. Kebetulan gue lihat sosmednya, langsung gue tanya-tanya dan gue dapat lah petunjuk akan ke dokter siapa. Gue akan cek ke Dokter Gahrani Chen, Sp.OG di RS Family, Pluit Mas.

 

Tiba saatnya gue periksa setelah menstruasi ketiga yang datangnya tanggal 25 April, tepat di ultah gue. Gue mendaftarkan diri di tanggal 4 Mei jam 10 pagi. Menurut info yang gue dapet dari Lia, pasiennya banyak jadi gue harus datang lebih pagi. Dapat lah gue giliran nomor 2. Tapi semakin dekat dengan giliran gue, tangan semakin dingin, jantung mulai berdegup sedikit lebih kencang. Gue pun mengatur nafas yang masuk dan keluar. Gue mulai panik! ๐Ÿ˜‚

 

Begitu sampai waktunya giliran gue, dokter menyatakan rahim gue bersih. What?! BERSIH. Tidak ada tanda-tanda PCOs ataupun kista di dalamnya. Menurut dokter, tidak semua PCOs durasi datang mens nya lama. Tapi juga tidak semua orang yang mensnya teratur tidak PCOs. Jadi bisa kemungkinan memang jarak datang menstruasi gue itu panjang, tidak sebulan seperti kebanyakan. Dan besar kemungkinan dikarenakan pikiran yang mengganggu.

 

Apakah gue lega?


Cukup lega, meski dari hasil foto USG masih ada ditemukan bulatan di ovarium. Tapi jumlahnya bukan tiga, melainkan hanya dua. Posisinya bukan di kanan, melainkan di kiri. Besar kemungkinan itu adalah sel telur, menurut dokter. Jadi, sudah bisa legakah gue saat ini? Gue aminkan dulu bahwa rahim gue baik-baik saja saat ini. Dan gue masih akan tetap menjalankan kebiasaan gaya hidup yang baru. Kalau bisa sih untuk selamanya. 

 

Satu pesan sponsor hidup yang perlu dipegang. Memang harus selalu perlu mencari second opinion untuk soal kesehatan. Jangan langsung percaya plek-plek apa kata dokter. Apalagi dokter yang menyatakan bukan dokter yang bersangkutan. Malah menambah beban pikiran aja. Bikin hidup jadi jungkir balik gak karuan. Tapiiii....gue jadi belajar banyak deh dari soal perkistaan ini... Apalagi kalau bukan jadi lebih sayang sama tubuh sendiri. ๐Ÿฅฐ๐Ÿซฐ


Monday, April 24, 2023

6:11 PM

Si-Cap!

Si-Cap!


Sampai juga di umur 40 tahun. Hahaha.
๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Sesuatu banget yah bisa sampai di usia kepala 4 tahun ini. Sesuatu yang sebetulnya ingin dihindari tapi tak mampu terhindari selain diterima. 


Sudah pasti banyak hal menarik yang dilewati dalam perjalanan hidup untuk sampai di usia saat ini. Tulisan yang gue tulis kali ini, tepat sehari sebelum hari ulang tahun, hanya lah sebagai pengingat untuk melihat ke belakang sejenak, bagian dari refleksi hidup atas apa yang sudah terjadi di kehidupan gue sampai hari ini. Mari mulai dari yang paling dekat terasa belakangan ini.

 

KESEHATAN

Bagian ini paling terasa di gue. Meski gue sudah mulai pelan-pelan mengubah gaya hidup sejak di awal umur 30 tahunan, tapi memang menjaga konsistensi itu syulitnya minta ampun. Seringkali berusaha tawar menawar dengan tubuh di 10 tahun terakhir ini. Sampai gue dipertemukan dengan situasi “aku terjatuh dan (rasanya) tak bisa bangkit lagi” – bolak balik dirawat di rumah sakit beberapa bulan lalu (wasir dan DBD berulang). Ini menjadi momen yang menyadarkan gue untuk berhenti memanipulasi tubuh gue sendiri. Apalagi sebetulnya tubuh sudah mengirimkan sinyal untuk gue AWARE dengan kesehatan gue. Tapi ya seperti biasa, gue ABAI!!

 

Dan setelah rangkaian sakit itu, gue bertekad untuk mengubah gaya hidup gue untuk lebih ketat lagi berjalan di jalur tujuan hidup gue.

 

TIDUR

 

Gue manusia yang sulit tidur. Gue bukan tipe orang yang pelor – nempel molor di mana aja dan kapan aja. Gue termasuk tipe yang nyaman dengan kasur gue sendiri, bantal dan guling milik pribadi, di posisi bagian kanan kasur, lampu gelap, keadaan sunyi dan kedua cowok-cowok di rumah ini juga sudah berada di posisi tidur masing-masing. Jadi kalau salah satu itu tidak sesuai, nah…tidur gue gak pulas. Iya, seribet itu tidur buat gue. Apalagi kalau lagi ada masalah, gue pasti akan lebih susah tidur. Pikiran bermain ke mana-mana. Tidur juga jadi gak nyenyak. Salah satu kenapa gue sakit berulang kemarin adalah karena sulit tidur. Kualitas tidur berkurang, tentu berimbas ke kesehatan.

 

Sebisa mungkin gue tidur cukup, selama 6-8 jam dalam sehari. Jam tidur gue dimulai dari jam 10 – maksimal jam 11 malam lah, bangun pagi sebelum jam 6. Kebiasaan bangun pagi ini terbentuk dari gue kecil. Tubuh gue seperti ada sinyal alarm yang akan bangun sebelum jam 6 pagi. Ini sebetulnya kebiasaan baik. Cuma jadi perkara kalau gue lagi butuh tidur lebih lama, misalnya karena begadang. Si tubuh tetap akan bangun sebelum jam 6. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Karena masalah tidur ini PR tersendiri buat gue, dan punya resiko besar kalau kurang tidur, gue coba belajar mengelolanya. Pertama, gue latih pikiran gue. Menjelang tidur sebisa mungkin gue merelaks-kan diri dari pikiran yang berat. Kalau memang masih berat, gue coba dengan menulis – bukan mengetik di laptop atau di hape. Konon katanya menulis dengan pulpen jauh lebih efektif untuk mengeluarkan pikiran. Kedua, meditasi atau hening. Selama 10 menit gue akan duduk di atas kasur dengan kaki bersila dan tulang punggung tegak. Menyadari nafas yang keluar dan masuk. Ini ternyata sangat membantu gue untuk lebih tenang. Begitu dah tenang pikirannya, gue jadi bisa tidur lebih pulas. Segitu efeknya meditasi buat gue sebelum tidur itu.


BERGERAK

 

Menjelang umur 40 tahun, tema untuk lebih banyak bergerak ini jadi perhatian gue. Ketika gue kurang bergerak, gue akan mengalami sulit tidur di malam harinya. Meskipun gue dah coba tulis diari atau meditasi sebelum tidur, tapi karena hari itu tenaga gue gak terpakai maksimal, gue jadi sulit tidur. Gue seperti dipaksa untuk lebih banyak bergerak, harus dihabiskan energinya. Jadi nih ya gue dilarang keras untuk terlalu nyantai di rumah, leyeh-leyeh seharian di depan TV atau asik goleran di kasur main hape aja. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Nah, gue sampai di satu kesimpulan. Supaya tidur gue optimal, gue butuh banyak bergerak. Bergerak seperti apa yang diperlukan? 

 

OLAHRAGA

 

Gue termasuk yang dipaparkan olahraga dari kecil oleh bokap. Karena bokap itu cinta banget bulutangkis, gue pun kena paparan atmosfer itu sejak kecil. Bisa dibilang ini satu-satunya olahraga yang masih melekat di gue. Biarpun gue dah lama gak berolahraga ini, tapi begitu gue pegang raket, semua memori gerakan di bulutangkis pasti muncul begitu aja. Gue bisa langsung bergerak seperti gue melakukannya dulu waktu kecil. Hebat ya kekuatan memori otot itu.

 

Pelajaran olahraga juga jadi pelajaran yang paling gue suka waktu sekolah dan satu-satunya yang gue mahir. Tubuh gue mudah banget memahami segala teknik di olahraga, basket, voli, sepak bola, dan semua olahraga yang butuh diambil nilainya waktu sekolah dulu, gue pasti bisa kuasai. Tubuh gue pun cukup lentur untuk melakukan rolling depan, kayang, sikap lilin, koprol sampai split. Sampai sekarang gue masih bisa split loh!! ๐Ÿ˜Ž *cieeee

 

Sayangnya setelah tahun sekolah berakhir, gue mulai jauh dengan yang namanya berolahraga. Sempat masih melanjutkan ikut kelas aerobik dekat rumah dulu waktu kuliah, tapi begitu mulai masuk dunia kerja, lalu berkeluarga dan punya bayi, bikin gue jadi makin males olahraga. Baru sekitar awal umur 30an gue mulai kembali mikir untuk olahraga lagi. Jalan pagi dan yoga jadi pilihan gue saat itu. Alasannya sederhana, gue bisa lakukan sendiri di rumah. Oiya, gue ini bukan tipe yang olahraga butuh teman atau pergi ke tempat olahraga. Gue bisa banget olahraga sendiri, dengan waktu yang gue bisa tetapkan sendiri dan belajar sendiri lewat media YouTube. Sayangnya konsistensi tetap jadi PR nomor 1. Susah banget mendisiplinkan diri untuk olahraga ini.

 

Tapi karena situasi kejeduk kemarin itu, gue jadi sadar untuk kembali di jalan yang benar. Selain dua olahraga tadi, gue menambah ilmu dengan belajar tentang otot. Ternyata masuk di usia 40 tahun ini, kekuatan otot manusia berkurang setiap tahunnya. Jadi saat ini gue menambah latihan otot supaya otot gue nanti tidak lemah waktu menua. Belum banyak perubahan sih di tubuh gue, meski gue dah latihan otot hampir 3 bulan belakangan ini. Gue percaya sih, latihan otot ini bukan hanya latihan yang perlu dilatih setahun dua tahun, tapi benar-benar sepanjang hidup. Demi apa, demi otot kawat tulang besi. Halah!! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

 

MAKANAN

 

Sengaja gue tulis paling akhir karena memang ini jadi salah satu kelemahan terbesar gue. Hal yang paling sering bikin gue terjatuh ke lubang kenistaan berkali-kali. ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹Semua makanan buat gue gak ada yang namanya gak enak. Semua makanan itu ENAK semua! Apalagi kalau dibeliin gratis. Ini bakalan enak banget pastinya, meskipun itu cuma sebungkus nasi Padang. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Sayangnya, makanan juga menjadi hantu yang terus membayang-bayangi gue. Salah satunya adalah mie. Lagi-lagi mie. Gue paling susah menolak segala macam masakan yang berjudul mie. Gue yakin siapapun pasti susah menolak mie, karena mie itu enak pake banget. Ya gak sih. Setuju kan?


Gue pernah sampai di tahap sakit seperti ditusuk-tusuk perutnya, buang air besar berkali-kali dalam sehari tidak ada bentuknya selain cairan warna kuning, muntah berkali-kali yang juga sampai tidak ada isinya, ulu hati yang perih kesakitan, tidur seharian di kasur menahan semua sakit itu karena saking rakusnya gue sama makanan bernama MIE ini. Bikin gue tobat? Gak juga. Tapi karena sudah saking seringnya gue merasakan itu, gue jadi mulai mikir. Gue gak mau mati sia-sia hanya karena gue gak bisa menahan nafsu makan doang. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

 

Selain mie, gue juga punya kelemahan lainnya. Gue ikut lidah bokap yang suka makan makanan yang rasanya manis. Tapi dari situ gue belajar dari pengalaman bokap yang kena diabetes dan berujung stroke selama 14 tahun. Gue gak mau meneruskan warisan dari beliau dengan ikutan sakit yang sama. Untungnya untuk hal satu ini gue bisa banget menahan diri. Gue gak terlalu terbuai dengan makanan atau minuman yang manis-manis gitu sih. Mungkin ini karena tingkat kemanisan gue udah tinggi jadi emang gak butuh doping manis yang banyak. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Makanan lainnya yang gue suka juga adalah masakan dengan rasa asam dan pedas. Keduanya ini melemahkan diri gue. Suka gak sadar diri kalau sudah makan dua ini mendadak perut jadi sakit melilit atau pantatnya panas setelah buang air besar. Makanan pedas ini jadi salah satu penyebab kenapa gue sampai keluar wasir. Karena gue sering alami konstipasi gara-gara gak bisa tahan diri untuk makan sambel. Padahal, ya ampun, makan sambel juga sekedar cocol dikit-dikit aja. Tapi ternyata emang perut gue gak bisa berdamai dengan pedas. Imbas lainnya, gigi gue juga jadi sering bermasalah karena konsumsi makanan yang asem. 


Ditambah lagi, selama gue melihat reaksi tubuh gue sendiri, ternyata gue tidak cocok makan terigu. Hal yang paling dirasa adalah eksim yang ada di kaki jadi sulit sembuh. Semakin sering mengkonsumsi terigu, maka eksim jadi terasa gatal. Kalau dah gatal kan bawaannya jadi mau garuk-garuk. Borokan deh kaki gue. Kan sebel liatnya. Efek lainnya konstipasi, gue jadi susah buang air besar. Belum lagi keseringan makan terigu bikin berat badan gue cepat banget naik. Sebel banget loh liat timbangan kalau habis makan mie semangkok. Langsung nambah 1 kilo besoknya. Damn! ๐Ÿฅด

 

Makanan ini jadi seperti dua mata pedang buat tubuh gue. Gue suka makan, tapi di saat yang bersamaan, gue juga perlu bijaksana dengan apa yang gue makan. Waktu masuk mulut sih memang rasanya enak-enak aja, tapi kalau sudah lewat dari tenggorokan jadinya beban berat buat perut sampai ke pembuangan tubuh gue, buat apa juga gue makan?


Gue gak mau sakit terus-terusan untuk suatu hal yang sama hanya karena gue tidak bisa mengontrol apa yang masuk ke dalam mulut gue. Gue belajar untuk lebih ketat lagi dari sebelumnya. Meskipun gue sudah mengubah pola makan gue beberapa tahun terakhir ini, tapi ternyata gue masih belum cukup konsisten jalaninnya. Masih sering bolong, masih sering coba tawar-tawaran, sering pula jadi manipulasi ke diri sendiri hanya demi kepuasan mulut sesaat.

 

Saat ini gue sedang melatih diri gue untuk mengurangi banyak konsumsi makanan mengandung terigu, gorengan dan dairy product. Sebisa mungkin gue makan makanan yang real food, gue banyakin makan sayur dan buah dan menghindari processed food, macam makanan kaleng, nugget, sosis dan kawan-kawannya yang menggoda jiwa itu. 


Kalau dulu merasa iri dengan orang yang sering banget makan di restoran, saat ini gue tidak merasa iri lagi. Justru gue lebih merasa bangga kalau gue bisa masak setiap hari untuk dimakan oleh kami bertiga.  Apalagi kalau yang makan di rumah sampai nambah berkali-kali. Padahal menunya sederhana aja. Sekadar tumisan, kuah-kuahan atau yang dipanggang. Beuh, jadi terasa nikmat mana yang kau dustakan, kan! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

 

Di akhir tulisan ini gue mau bilang.

 

Terima kasih untuk perjalanan hidup yang menempa gue sampai hari ini. Gue banyak belajar dari situ. Gue jadi sadar bahwa gue ini memang lemah dengan segala nikmat kehidupan. Tapi di sisi lain, gue jadi sadar juga bahwa semua kenikmatan itu sifatnya fana. Hanya untuk sesaat, tapi tidak untuk waktu yang panjang. Apa yang sudah gue sadari selama 10 tahun terakhir ini ternyata memang belum sepenuhnya gue jalani. Hanya sekedar sadar, tapi belum menjadi gaya hidup. Masih lemah dengan hasrat diri. Masih kurang kuat melawan nafsu.

 

Dan gue mau bilang ke diri gue sendiri. Sehat itu butuh diusahakan. Gue tahu untuk mencapai tujuan itu memang tidak mudah. Semua butuh proses. Butuh waktu untuk melatih semua kebiasaan itu supaya menjadi gaya hidup. Pasti akan ada masa merasa capek, males dan putus asa ketika melatih kebiasaan baru itu, but that’s okay. Ketika memang butuh rehat, silahkan menepi sejenak. Tapi, jangan pernah merasa bersalah ketika semua itu terjadi. Apalagi merasa gagal dalam melakukannya.

 

Hanya satu yang perlu diingat, kita tahu ke arah mana tujuan hidup kita.

Monday, January 30, 2023

6:34 PM

Sakit di Hari Imlek

Sakit di Hari Imlek

Siapa sih yang ingin terkapar tidak berdaya, hanya tiduran di atas kasur tanpa bisa melakukan apa-apa? Lemas. Lunglai. Hanya meringkuk di balik selimut. Berdiri tak sanggup, jalan pun sangat pelan jika tidak ingin terjatuh. Begitu juga dengan makan, mengunyah saja tidak mampu. Gue yakin tidak ada seorang pun yang mau. Tapi itu lah yang gue rasakan selama gue sakit selama 2 minggu terakhir ini.

 

Senin, 16 Januari 2023

Dua minggu lalu, sekitar jam 3 sore, tiba-tiba badan gue gak enak. Memang sejak pagi gue merasakan badan yang kurang fit. Gue tahu gue kecapekan dari minggu lalu. Tepatnya pas akhir pekan kemarin, kami sekeluarga menghabiskan hari Minggu seharian di luar. Belum cukup istirahat, hari Senin sudah digenjot lagi dengan aktivitas seperti biasa.

 

Masih berpikir, “Ah paling nanti tidur pagian aja pulang dari les-in, besok juga sembuh.” Tapi ternyata hari Senin itu tidak berpihak sama gue. Entah kenapa jalanan di h-6 Imlek di daerah Jembatan Tiga dan daerah pecinan di sekitarnya (sampai ke Mangga Dua sekalipun ya ini) luar biasa macetnya.

 

Keluar dari komplek rumah anak les hampir jam 8 malam. Biasanya macet sudah terurai jam segitu, ini belum. Pelan-pelan gue merambat bersama dengan mobil lainnya, yang tentu sudah tidak jelas arahnya. Semua ingin cepat-cepat keluar dari macet laknat ini. Biasanya hanya butuh kurang dari 20 menit, kali ini membutuhkan 1 jam untuk bisa sampai ke pintu tol. Itu pun sudah melewati jalur pintas, jalan belakang Mall Emporium Pluit. Kemacetan tidak berhenti di situ, sepanjang tol dari Pluit menuju ke Kelapa Gading pun merambat – lancar – merambat – lancar. Berulang berkali-kali. Turun dari tol juga begitu. Dan akhirnya sampai juga di gerbang apartemen, yang tentunya parkiran sudah penuh sampai ke depan gerbang. Bersyukurnya ada Bapak Ali yang sudah menunggu di depan gerbang dan ada seorang petugas yang kebetulan gue kenal. Gue minta satu lot parkiran untuk Mister POO dan dicarikan oleh si petugas tersebut, ada. Ah, ternyata masih ada keberuntungan gue malam itu. Mencari lot parkir di jam 9 malam sama saja seperti nyari jarum dalam jerami.

 

Menghadapi macet dengan badan sumeng itu beneran gak enak banget. Untung aja sebelum melakukan perjalanan gue sengaja menegak 1 butir Panadol untuk jaga-jaga. Tapi sepanjang perjalanan gue tetep merasa kedinginan, jadi gue membalut badan dengan syal cokelat tebal yang memang selalu gue taruh di mobil. Mobil juga berjalan tanpa AC, sesekali gue nyalakan kalau dirasa udah mulai engap. Perjuangan banget untuk sampai rumah hari itu. Setelah mandi air hangat, gue langsung masuk ke dalam selimut dan tidur.

 

Hari Selasa, kebetulan di hari ini tidak ada kegiatan keluar jadi bisa istirahat agak total di rumah. Kondisi badan masih bolak balik demam dan kepala agak berat di bagian belakang. Hari Rabu sebetulnya sudah mulai agak membaik, siap untuk kerja. Tapi ternyata jalanan masih belum bersahabat, malah semakin parah macetnya di daerah situ. Akhirnya hari Rabu itu sekitar jam 4 sore gue dah sampai di rumah. Mulai di hari ini lah gue merasa demamnya semakin lebih sering di malam hari. Hari Kamis demam juga semakin sering bolak balik naik turun. Kepala semakin terasa berat dari sebelumnya. Nafas juga semakin panas. Ditambah lagi beberapa kali gue merasa mual. Kondisi badan semakin gak karu-karuan.

 

Hari Jumat akhirnya gue putuskan untuk ajak Ali ke klinik depan apartemen, tapi gue merasa kurang puas dengan hasilnya. Akhirnya gue putuskan untuk dirawat aja di Rumah Sakit. Sampai di RS gue langsung diambil darah untuk tahu gue sakit apa. Gue menduga gue ini sakit typhus, tapi ternyata hasilnya negatif. Begitu juga dengan DBD, negatif. Dan dokter mendiagnosa saat itu sakit gue: infeksi bakteri. Gue diberikan obat penurun panas, antibiotik dan juga obat mual. Hari itu juga gue sudah normal kembali, meski kepala masih menyisakan sakit.

 

Hari Sabtu, sehari sebelum Imlek. Gue merasa ada harapan untuk bisa Imlek. Pagi itu gue sudah segar. Gue bahkan diperbolehkan mandi sendiri. Namun, selesai mandi gue dapati ruam merah di sepanjang lengan kiri dan sedikit ruam-ruam merah di bagian lengan dalam bagian atas tangan kanan, perut dan paha. Dokter yang sebelumnya sudah datang, kembali datang tergopoh-gopoh sambil memeriksa kondisi ruam-ruam merah gue. Saat itu juga dokter ambil kesimpulan gue alergi obat dan menghentikan semua obat. Lalu mulai mengobservasi kondisi gue seharian itu.

 

Tentu saja gue yang mulai membaik akhirnya drop lagi. Badan mulai demam lagi, tapi tidak ada obat yang boleh masuk. Meski gue bilang gue tidak ada pernah riwayat alergi obat dan ruam-ruam merah sudah menghilang, tetap dokter memutuskan untuk berhentikan obat. Dokter minta cek darah lagi untuk tahu hasil yang lebih spesifik hari itu.

 

Mau gak mau gue harus terima kondisi tahun ini tidak ada Imlek buat keluarga kami. Jangan ditanya rasanya deh. Saat itu gue hanya ingin tahu sebetulnya gue kenapa. Hasil lab yang terbaru mengatakan gue terkena DBD. Jujur selama ini gue tahunya DBD itu hanya bisa terkena sekali seumur hidup. Nyatanya, DBD itu bisa sampai 4x dengan virus yang berbeda dari DBD sebelumnya, dan dengan gejala yang juga tidak kalah lebih hebat dari sebelumnya. Cakep!!

 

Saat itu gue hanya bisa melongo. Dokter bilang kondisi gue juga sebenarnya agak membingungkan. Kemarin tidak terdeteksi karena hari Jumat itu gue masuk hari ke 5, makanya hasil darahnya DBD gue sudah negatif. Setelah diperiksa yang lebih mendalam, cek IgG dan IgM ternyata memang ada virus DBD di gue. Trombosit gue juga menurun di hasil cek lab kedua ini. Untuk IgG dan IgM bisa dicek sendiri di gugel ya. Hasil gue saat itu IgG: positif, IgM: negatif. Artinya virusnya sudah lewat dari rentang waktu 7-21 hari. Jadi sebetulnya DBD gue sudah lewat.

 

Hari Minggu, gue cek darah lagi tapi trombosit sudah naik. Karena dokter beranggapan DBD sudah lewat juga, trombosit sudah naik (meski belum batas normal), dokter mengijinkan gue pulang. Bukan main senengnya sih. Meski gue sendiri juga gak yakin sama kondisi badan gue saat itu ya, gue pulang masih kondisi belum fit banget memang.

 

Senin pagi, 23 Januari 2023, pukul 2 dini hari. Gue demam lagi. Dan setelahnya gue kembali bolak balik demam naik turun. Ketika suhu gue turun, gue banjir keringet. Tapi gak lama kemudian badan mulai deman lagi sampai harus pakai kaos kaki, celana panjang, sweater, sarung tangan dan masuk ke dalam selimut yang ditutup sampai seluruh tubuh. Begitu terus berulang kali. Seperti kembali ke awal sakitnya. Belum lagi perut rasanya sebentar perih sebentar hilang, seperti sakit maag.

 

Selasa malam gue minta kembali dibawa ke rumah sakit yang sama, Gading Pluit. Banyak yang tanya, kenapa gak cari second opinion? Ini pendapat gue pribadi, kalau ada yang tidak setuju silakan. Gue gak mencari setuju dari orang lain. Dengan gue pergi ke dokter lain dan rumah sakit lain, mungkin masalah gue bisa selesai. Dengan begitu juga akhirnya kita dengan gampang mengecap kalau dokter itu gak bagus, gue aja gak sembuh sama dia. Rumah sakit itu jelek, gue di sana gak sembuh. Ya karena kita kabur dan gak balik ke dokter itu. Justru dokter itu perlu tahu masalahnya kalau pasiennya ini belum sembuh dan butuh pertolongannya untuk disembuhkan. Dokter juga perlu belajar dari sakit pasiennya toh.

 

Amazingly, dokter yang merawat gue sebelumnya datang tengah malam itu juga setelah gue sudah ada di ruangan. Memang waktu di UGD, ada pasien lain yang butuh beliau juga. Jadi kedatangannya sih gak spesifik untuk gue doang ya, tapi gue hargai kedatangannya di jam 12 malam itu. Gue menganggap itu satu bentuk tanggung jawab beliau terhadap pasiennya. Respect, Doc!

 

Rabu pagi di rumah sakit, sendiri. Kebetulan Bapak Ali ada kerjaan yang harus banget dikerjakan, jadi malam itu dia putuskan untuk gak nemenin gue di RS. Konsepnya gini, kalau sudah nemenin di RS sudah tidak bisa keluar masuk. Bisa sih, asal tiap masuk ke ruangan dicolok antigen terus dan bayar 100rebu. Mana kuat lah kantong hamba ya. Dan gue berhasil dong melewati malam ke pagi tanpa Bapak Ali. Satu prestasi yang luar biasa buat makhluk manja macam gue ini.

 

Rabu pagi ini juga gue diminta USG sama dokter. Hasilnya bagus semuanya. Tidak ada batu di empedu, pankreas, limpa, liver, ginjal pun juga baik-baik aja menurut pengamatan dokter USG. Namun begitu diperiksa bagian rahim, ada 3 kista di ovarium yang menurutnya perlu ke obgyn. Ah, lemes deh untuk yang satu ini. Tapi mari kita singkirkan sejenak untuk hal ini, fokus dengan sakit yang ada dulu.

 

Dokter pun semakin bingung dengan kondisi gue. Memang dari hasil cek darah, SGOT dan SGPT gue meningkat. SGOT: 42; SGPT: 55. Harusnya kurang dari angka 31. Ini jadi concern dokter. Apalagi gue sempat muntah 3x pagi itu. Dan dokter memutuskan untuk rawat bersama dengan dokter internis lainnya. Namanya Dokter S. Kalau dari penjelasan Dokter S, apa yang terjadi sama gue saat itu adalah bagian dari virus DBD yang menyerang ke liver. Memang angkanya tidak terlalu tinggi, tapi tetap menjadi masalah di tubuh gue. Beliau memberikan satu suplemen untuk liver, semoga dengan suplemen itu mampu membuat liver gue membaik dan bisa dilawan dengan banyak makan. Karena menurut dokter untuk melawan virus ya dengan makan.

 

Hari Rabu menjadi hari di mana gue akhirnya lega dengan hasil diagnosa dokter. Gue jadi lebih semangat untuk makan. Sayangnya gue bukan Bapak Ali, yang mau sakit kaya apa makan tetap lahap. Saat itu gue hanya bisa masuk segala jenis minuman: jus-jusan dan air putih hangat dan makanannya pun hanya buah yang rasanya segar menurut mulut gue. Begitu diminta makan karbo dan lauk, rasanya susah banget untuk ngunyah dan terasa mual sesudahnya. Ternyata gue ada masa gak kepengen makan juga ya.

 

Karena rasa semangat untuk sembuh, hari Kamis gue sudah lebih segar. Demam sudah jauh berkurang, meski mual masih datang sesekali dan kepala masih juga terasa berat. Suster pun menyarankan gue untuk mandi dan bersih-bersih. Mendapat kesempatan ini, gue langsung mandi, keramas, sikat gigi dan BAB. Setelah itu rasanya segar banget. Suster juga bilang sudah boleh jalan-jalan di dalam ruangan kalau bosen tiduran aja di kasur. Ah, rasanya semakin senang bisa mendapat privilese seperti ini.

 

Hari Jumat kondisi badan semakin membaik lagi. Pusing di kepala sudah sedikit hilang dari kemarin, meski masih mengganggu. Demam sudah tidak ada dari sejak Rabu malam. Badan pun sudah terasa seperti sudah balik normal. Sebelumnya tuh rasanya susah banget dijelaskan, amburadul! Dan Dokter S pun bilang kalau hasil cek darah hari itu SGOT dan SGPTnya menurun, gue sudah boleh pulang. Hasilnya…..menurun!

 

Jumat malam jam 9, gue sudah di apartemen. Ada rasa was-was, apakah gue akan kembali demam seperti waktu itu? Nyatanya, gue bisa tidur nyenyak banget malam itu dan bangun tanpa ada rasa demam sama sekali. Ah….Puji Tuhan, gue sudah baik. Pelan-pelan membaik. Saat ini yang paling terasa memang sakit di kepala yang pelan banget hilangnya. Ditambah masih gampang lelah ketika harus berdiri agak lama dikit. Masih belum terlalu kuat. Tapi ini pun juga pelan-pelan menuju baik.

 


Semoga ini adalah rentetan pelajaran terakhir di tahun Macan. Biarlah tahun Kelinci menjadi awal yang baik untuk gue. Banyak hal yang harus diperbaiki dari kebiasaan-kebiasaan gue. Selama ini gue pikir cukup, ternyata belum. Apalagi umur akan semakin bertambah, tentu melatih kebiasaan baru juga semakin PR. Harus lebih disiplin dan konsisten lagi. Bukan lagi hanya sekedar rencana, tapi sudah harus dijalankan. Tidak ada satupun orang yang suka dengan sakit. Apalagi dua minggu sakit yang menguras emosi dan energi. Biarlah ini menjadi pelajaran berharga bahwa menjaga imunitas itu memang harus dan perlu.

Wednesday, January 4, 2023

2:24 PM

Operasi Wasir

Operasi Wasir
Di pertengahan bulan Desember kemarin gue mendapat kejutan besar. Gue harus menerima kenyataan bahwa ada daging keluar dari anus gue. Jujur gue merasakan ketakutan yang sangat besar ketika gue meraba benjolan itu. Sempat terlintas sesuatu yang parah terjadi sama gue. Di tengah kekalutan itu gue masih sempat minta Ali untuk mengambil foto di area tumbuh daging tersebut. Ini bukan karena tidak percaya dengan apa yang gue lihat dengan kaca, tapi gue butuh melihatnya lebih jelas – alias di-zoom! ๐Ÿ‘€

 

Kalau menurut Ali ini adalah wasir. Setelah akhirnya memberanikan diri untuk mengeceknya dan juga mencari info, dugaan gue juga wasir. Saat itu juga gue mencari tahu lebih banyak lagi untuk langkah selanjutnya. Gue mulai dengan mencoba memberi kompres ice gel di bagian anus, katanya sih bisa membuatnya mengecil. Sambil gue bertanya ke seorang teman yang gue kenal pernah mengalami hal serupa. Menurutnya gue bisa dengan mencoba membeli obat yang dimasukkan lewat dubur, Faktu Sup namanya. Ditambah dengan obat minum, Veridin, jika tidak mengecil. Keduanya ini adalah obat yang sering dipakai olehnya ketika serangan wasir datang.

 

Apa yang dirasakan di awal?

 

Saat itu gue sedang berkegiatan acara tutup tahun untuk para lansia bersama dengan teman-teman Komunitas Sahabat. Sama sekali tidak ada sesuatu yang mengganjal selain rasa panas di area anus.

 

Kalau boleh menduga-duga, ada beberapa hal yang sedikit cocok dengan info yang gue dapatkan. Jongkok, ada saat di mana gue berjongkok ketika berbicara dengan seorang Oma. Kurang minum, selama acara berlangsung selama 2-3 jam itu gue hanya minum satu botol ukuran mini minuman mineral kemasan. Asli, ini kecil banget. Tahu kan botol Cleo ukuran anak-anak, segitu lah gue hanya minum. Kecocokan yang paling mungkin adalah yang ketiga ini, ketika gue mengangkat sebuah wadah beling ukuran jumbo untuk kerupuk. Sempat ragu ketika mau mengangkatnya, tapi karena gue tidak menemukan siapapun saat itu, akhirnya gue memutuskan membawanya sendiri. Pada waktu mengangkatnya gue ingat ada hentakan “ugh” yang keluar dari mulut gue, menandakan memang ini berat. Tapi siapa yang tahu kapan wasir ini muncul ke permukaan, hanya dia dan Tuhan yang tahu – macam babang Bajaj kapan dia mau belok gitu atau macam ibu-ibu naik motor sen ke kiri tapi malah belok ke kanan. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Besoknya gue langsung mencari obat yang diinfokan teman itu. Syukurlah setelah 3 apotek di apartemen ini gue datangi, dapat juga obatnya. Perkara selanjutnya adalah seberapa sanggup gue memasukkan obat itu ke dubur gue sendiri tanpa bantuan Bapak Ali. Lagi ya, kalau kondisi sudah mendesak apa juga bisa dilakukan kan ya. Dengan semangat ’45 – eh gak gitu juga sih ๐Ÿ˜ Pokoknya dengan kekuatan bulan ala Sailormoon, gue berhasil memasukkan obat itu ke dubur gue. Aww. Apalagi catatan dari teman gue itu harus sambil dimasukkan ke dalam dagingnya itu.

 

Percobaan pertama memang hanya berhasil memberanikan diri memasukkan obat ke dubur tapi gak berani dorong si Mas Wasir ini ke dalam. Ya hitungannya mah gatot ngobatin. Lanjut di malam hari, gue mencoba lagi di kesempatan kedua ini. Berhasil, wasirnya masuk ke dalam dan anus gue terlihat seperti sedia kala. Tapi kesenangan memang bukan milik gue saat itu. 10 menit kemudian, eh doi muncul lagi pelan tapi pasti ke permukaan di tengah kepitan pantat gue. Dan ini berlangsung selama dua hari, masukkin, keluar lagi, umpetin lagi, eh dia cilukba lagi. Frustrasi aku tuuuu. ๐Ÿ˜“

 

Sampai saatnya gue harus kerja di hari ketiga, yaitu hari Rabu. Dengan mengajak Mas Boy, gue memberanikan diri menyetir dan ngelesin 3 anak. Sepulang dari situ, bukannya membaik tapi wasir gue muncul daging tambahan, padahal gue gak rekues ini loh. Emang beli daging di pasar, buk! Rasanya tambah sakit dan kali ini mulai berdarah. Mungkin karena terlalu lama dalam posisi duduk, Mas Wasir jadi tertekan hidupnya.

 

Di hari ketiga, karena merasa sudah mulai tidak ada perubahan dengan wasir ini, gue memutuskan untuk konsultasi dengan seorang dokter kenalan. Berhubung juga di hari kedua gue mencari obat minum gak ketemu-ketemu, gue dapat referensi obat baru dari dokter kenalan ini. Pengganti obat Veridin yang semakin sudah ditemui adalah Ardium. Bukan, dia bukan nama cowo ganteng ya, gaessss. Nama obat minum untuk bantu mengecilkan wasir.

 

Masih di hari ketiga, bukannya semakin membaik kondisinya, gue justru harus memakai pembalut untuk menahan darah yang keluar dari wasir ini. Semakin malam semakin parah, gue pun sulit tidur. Di tengah gue gak bisa tidur ini gue putuskan mencari info lagi. Dan sepertinya gue sudah harus mengambil keputusan untuk ke UGD, melanjutkan pengobatan wasir ke tangan yang berwajib. Gue bangunkan Bapak Ali untuk antarkan gue dan pamit ke Mas Boy kalau gue perlu tindak lanjut.

 

Jam 2 pagi, gue ditemani kesayangan gue ini, Bapak Ali, sudah berada di UGD RS Gading Pluit. Dengan bantuan Dokter Li, yang sempat gue debatkan sama Ali – “cowo atau cewe sih dokternya?!” – wasir gue diperiksa. Huhuhu. Rasanya beneran gak nyaman banget harus buka celana depan orang lain. Setelah diminta menceritakan kronologi oleh dokter Li yang berperawakan tomboy ini, akhirnya gue dan Ali putuskan untuk rawat inap karena ada kecenderungan harus diangkat dengan tindakan operasi. Berhubung gue juga sudah mencari info dan tahu harus mencari dokter siapa, gue pun minta ke dokter Li, dokter jaga ini untuk mengatur operasi bedah Mas Wasir dengan Dokter Barlian Sutedja. Dokter yang sama yang pernah mengoperasi batu empedu Babang Ali.

 

Paginya, hari Kamis, gue sudah berada di ruang kamar. Gue diminta untuk sarapan dan berpuasa. Hari itu juga gue sudah dijadwalkan operasi jam 2 siang. Jadi lah sarapan yang dimakan menjadi makanan terakhir gue, karena setelah jam 7.30 gue diminta tidak makan dan minum apapun. Meski kamar cukup nyaman, tapi perut dan pantat sama sekali gak aman. Duduk gak tenang, tidur pun harus miring. Perut juga sering minta dielus-elus. Bolak balik curhat sama suster, “Lapar, Sus” sampai “Ya ampun, Sus, saya LAPAAAARRRR” – loh jadi pengen makan orang! 

 

Ditambah hati juga agak khawatir dengan operasi. Segala macam yang berhubungan dengan operasi itu memang bikin tegang deh. Ketegangan semakin menjadi karena waktu sudah mendekati pukul 2 siang. Lalu pelan-pelan menuju jam 3. Sampai jam 3.30 sore, semakin tidak ada tanda-tanda gue akan dibawa ke ruang operasi. Bukan lagi tegang yang terjadi, melainkan bingung dengan jadwal operasi yang tertunda itu. Setelah mencari tahu ternyata Dokter sibuk dengan antrian operasi.

 

Operasi Dimulai

 

Gue baru dapat giliran dibawa ke ruang operasi sekitar pukul 6 malam. Ketika gue dibawa ke ruang operasi, rasa takut mulai menyelimuti. Gue sempat ditemani oleh seorang perawat, yang dari penampakannya saja terlihat dia sudah senior di bidangnya. Gue sengaja mengajaknya mengobrol supaya lebih tenang. Sambil mempersiapkan gue di meja operasi, beliau banyak cerita ke gue. Ibu Perawat ini ternyata sudah hampir 30 tahun berada di ruang operasi. Dan sedikit bocoran darinya, Dokter Barlian ini hobinya operasi. Hari itu saja lebih dari 10 operasi yang dijalankan. Ckckck. Hobi kok operasi sih, Dok. Tapi hobinya menguntungkan banget sih, Dok. #eh ๐Ÿ˜š

 

Tangan gue sudah dibentangkan kanan kiri. Tubuh gue juga sudah tidak memakai apapun selain selembar selimut. Rambut juga sudah ditutup dengan harnet, penutup rambut. Ya, sudah waktunya ini, pikir gue. Lalu tiba-tiba gue ditinggal sendirian. Ibu Perawat itu entah pergi ke mana meninggalkan gue begitu aja. Pikiran gue masih positif, mungkin dia hendak panggil dokter untuk datang. Semenit berlalu. 5 menit berlalu. Sambil menunggu gue mencoba melepaskan ketegangan dengan meditasi. Mengatur nafas masuk dan keluar dengan menatap ke langit-langit ruang operasi. Sampai menit ke 15 tidak ada tanda-tanda gue akan dioperasi. Adegan film horor mulai masuk ke dalam pikiran gue. Pikiran jelek mulai merasuki gue, jangan-jangan…

 

Siapapun yang lewat akan gue panggil, begitu ujar gue dalam batin. Udah mulai gak wajar waktu menunggunya ini dan kondisi gue mulai kedinginan karena sehelai selimut itu. Jadi begitu ada, entah lah siapa dia lewat di depan ruang operasi, gue segera panggil. Dia mematikan AC di ruangan itu supaya gue gak kedinginan. Dan selang beberapa menit kemudian satu persatu perawat mulai datang mempersiapkan alat-alat. Lalu dokter anastesi mendatangi gue dan mengajak ngobrol sebentar sebelum akhirnya gue pingsan di tangannya. Dalam hitungan detik gue sudah melayang dan lenyap karena obat bius.

 

Setelah Operasi

 

“Nah itu dia si dokter,” begitu gue tersadar dari bius total. Samar-samar gue melihat satu sosok orang tua yang berpakaian hijau dengan tutup kepala juga berwarna hijau sedang menulis sesuatu di meja. Begitu tersadar, gue bisa merasakan dingin di sisi luar lengan kiri gue, dilanjut dengan tubuh yang mulai menggigil kedinginan. Sontak gue mengerang, “Dingin, Sus” dan dalam sekejap badan gue sudah hangat dengan alat pemanas. Persis seperti yang gue rasakan setelah operasi Caesar kurang lebih 14 tahun lalu. Kedinginan dan diberikan alat pemanas.

 

“Sus…Suster, saya rasanya mau pipis.” Tidak lama alat pipis diletakkan di bawah pantat gue. Tapi tidak bisa pipis.

 

“Suster…Suster….saya gak jadi pipis. Saya mau kentut aja.” Lalu kata suster sambil mengambil alat pipis keluar dari selimut gue, “Ya kentut aja, Bu.”

 

“Sus…Suster….Suster… saya gak bisa kentut. Saya mau BAB.” Didekati dan dijawab suster, “Belum bisa ya, Bu.”

 

“Suster…Suster… Susterrrr…Susterrrrrr…..saya laparrrrr.” Tidak ada satu pun yang menghampiri, hanya orang yang hilir mudik entah ngapain di depan gue. Males kayanya ngeladenin orang bawel yang kelaparan habis operasi. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Operasi Mas Wasir selesai pukul 9.30 malam. Malam itu yang gue rasakan adalah lapar dan ngantuk. Tapi sekitar jam 11 malam gue diminta untuk makan. Makannya juga hanya boleh bubur yang lembut dulu, supaya perutnya tidak kaget. Tapi rasanya jadi gak lapar lagi karena rasa sakit bekas operasi di dubur benar-benar bikin gue tidak nyaman. Apalagi di tengah-tengah itu ada kasa yang disumbatkan, semakin bikin gue susah bergerak. Duduk biasa tentu tidak enak, jadi pilihannya hanya bisa tiduran menyamping sambil mengunyah pelan-pelan bubur yang masuk ke perut. Hanya beberapa suap aja sih akhirnya bisa masuk ke mulut, setelah itu gue putuskan untuk tidur.

 

Sekitar pukul 2 pagi gue terbangun karena obat biusnya sudah habis. Rasa yang mendominasi saat itu seperti ingin BAB tapi tahu tidak ada yang bisa dikeluarkan. Dubur terasa seperti ada yang menyedot. Perih tapi tidak perih sekali, cekit-cekit aja sih. Dan ini bikin gue salah tingkah. Sebentar-sebentar gue putar badan menyamping ke kiri, tertidur sebentar. Lalu terbangun dan menyuap makanan sedikit. Entah kenapa ya otak rasanya henghong alias error, kenapa sama sekali tidak berpikir untuk minta suster datang memberi pain killer ke gue. Sampai jam 5 pagi gue semakin tidak tahan, akhirnya gue memencet tombol memanggil suster. Begitu pain killer sudah disuntikkan masuk lewat infus, gak pakai lama gue langsung tidur terlelap.

 

Hari Jumat pagi itu rasanya hidup kok enak banget ya. Bisa tidur-tiduran santai di kasur sambil main hape tanpa was-was lagi dengan anus. Apalagi makanan di hari itu rasanya kok enak banget, gak perlu masak tinggal makan. Di tambah gue bisa bolak balik istirahat tanpa digubris sama apapun. Sampai akhirnya sekitar pukul 12.30 dokter Barlian datang mengunjungi gue. Kedatangan beliau di sini untuk mengecek hasil operasinya dan meminta suster menarik kasa yang disumpalkan ke dalam dubur setelah operasi semalam.

 

“Tarik nafas ya, Bu.” Aba-aba dari suster. Gue menarik nafas sepanjang yang gue mampu.

 

“Tahan, Bu. Saya tarik ya.” Sreeeet. Sreeeeeeeeeeeeeeeettttt. Ampun, apaan itu panjang bener yang ditarik dari dalam anus. Mata gue rasanya sampai mendelik sambil disertai erangan panjang. Aaaaggghhhh.

 

“Waduh, Bu, darahnya keluar 1 liter!!” komen spontan Dokter Barlian sok-sok panik gitu. Haizzzz….. bercanda doski.

 

Setelah diperiksa tidak ada kendala berarti, Dokter pun menyatakan gue boleh pulang. Tapi sebelum beliau keluar dari ruangan, gue minta foto dulu. Sambil gue ceritakan kalau bulan April lalu Bapak Ali yang dioperasi tapi di penghujung tahun malah sekarang giliran gue.

 

“Ibu iri ya sama suaminya.” Pengen nyubit si dokter gak sih denger komennya.

 

Proses pulang dari rumah sakit mulus-mulus aja. Patut disyukuri hampir seluruh biaya rumah sakit terbayarkan oleh asuransi, hanya ada 1 obat yang tidak berhasil ter-cover. Malam itu pun gue sudah berada di apartemen lagi. Seenak-enaknya rumah sakit, kelas VVIP pula {cieee…cieeee, asuransinya apa sih *mulaisombong}, tapi tetap lebih enak apartemen gue meski mungil begini. Kan bisa peyuk-peyukkan sama Mas Boy.

 


Pasca Operasi

 

Setelah pulang dari RS itu gue sudah bisa menjalani hari seperti biasa. Hari Minggu sudah Natal, gue pun rasanya kuat mengikuti rangkaian acara di hari itu. Mulai dari misa Natal di gereja, pergi acara makan siang keluarga sampai sore gue datang mengunjungi tante-tante dari pihak bokap. Cukup fit, meski seorang tante sempat mengingatkan setelah operasi seharusnya tidak banyak berkegiatan di luar.

 

Hari Selasa gue perlu ke Dokter Barlian lagi untuk kontrol. Tanpa disangka-sangka pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter adalah mengecek bagian dalam dubur dengan mencolokkan jari ke anus gue. Wadaw. Jangan kau tanya rasanya kaya apa ya. Sungguh pedih, gaes! Rasa perih di dalam itu lebih menyakitkan daripada sayatan pisau di luar. Halah. ๐Ÿ˜‚

 

Memang itu lah yang terjadi. Operasi wasir ini memang cepat sembuh kalau dilihat dari luar. Tapi kenyataannya ada proses penyembuhan di dalam anus yang tidak bisa segera sembuh seperti penampakan luar. Setelah hari Selasa kontrol dengan dokter, obat gue pun mulai habis, tetapi panas di bagian dalam anus masih ada. Di tambah gue terserang sakit maag hebat karena makan yang tidak teratur. Kesalahan gue kemarin adalah tidak memperhatikan asupan yang baik paska operasi. Gue makan sekenanya, bahkan banyak nyemil yang macem-macem. Sehingga menyebabkan maag gue terluka dan gue jadi sering bolak balik ke toilet untuk BAB. Panasnya anus akibat operasi saja belum beres, ditambah sering nongkrong di toilet karena sakit maag akut, benar-benar bikin gue meriang panas dingin menerima kenyataan hidup di akhir tahun 2022.

 

Puji syukur, hari pertama di tahun 2023 keadaan gue berangsur membaik. Gue menerapkan dengan ketat makan dari masakan rumah aja dengan banyak serat, sayur dan buah, serta tidak mengkonsumsi gluten, gula atau pun processed food selama proses penyembuhan ini. Pelan tapi pasti kondisi gue mulai pulih. Perut sudah tidak bergejolak macam lagi disko-an. Tidak perlu wajib lapor ke toilet selang sejam sekali. Begitu juga dengan kondisi dalam anus yang tidak lagi terlalu panas seperti sebelumnya. Ya, semoga semakin hari semakin lebih fit deh ya.

 

Satu pelajaran hidup yang telah berhasil dilewati lagi. Terima kasih atas penyertaanMu. ๐Ÿ˜‡


Wednesday, August 17, 2022

8:40 AM

Kemah Ruang Tengah

Kemah Ruang Tengah

 


Akhir pekan lalu kami bertiga pergi berkemah bersama dengan teman-teman Ruang Tengah.

 

Disclaimer dulu ya…

Sebetulnya rencana berkemah ini sudah lama dirancang oleh grup diskusi mingguan kami di komunitas sebagai kegiatan kebersamaan. Tapi dalam proses merencanakan ini ada suatu hal yang membuat batin kami terguncang cukup hebat. ๐Ÿ˜‰ Kami dihadapkan oleh dua pilihan sehingga membuat grup kecil ini harus memilih antara bertahan di komunitas atau keluar. Sehingga banyak dari kami memutuskan keluar dan sepakat untuk membuat wadah baru yang cukup fleksibel dengan aturan. Wadah ini kami namakan Ruang Tengah, sebagai tempat kami dapat berbagi, belajar serta berkegiatan bersama.

 

Dan dapat dipastikan grup ini dibentuk bukan sebagai grup pemberontak ataupun menjadi saingan dengan organisasi tempat kami bernaung dulu. Kami hanya lah sekumpulan ibu-ibu yang ingin berkumpul di dalam grup yang lebih santai dan bebas. Sehingga ketika kami ingin belajar lebih banyak ataupun berbagi di luar lingkaran ini, kami tidak merasa terbebani dengan embel-embel identitas. Berhubung rencana ini sudah kadung diurus oleh panitia kecil yang terbentuk, dan teman-teman lain juga tidak kalah antusiasnya, ya wuis lah ya, acara berkemah ini tetap dijalankan saja sebagai kegiatan perdana Ruang Tengah. Sekian untuk disclaimernya, pemirsah.๐Ÿ˜Š



Tercetusnya ide berkemah ini sebetulnya dari akhir bulan Juli lalu ketika kami sedang piknik. Kegiatan piknik ini mulai rutin kami jalankan sejak akhir Maret di minggu ke-empat, tapi kami merasa acara mengobrol di piknik selalu aja kurang lama. Maklum deh ya, namanya juga ibu-ibu selalu ada cerita yang perlu dibagi dan didengar. Lalu, tiba-tiba ada yang keceplosan, “Kita kemping aja, yuk!” Nah, kalau sudah ada yang usul kegiatan tapi tidak ada yang menanggapi kan jadinya mubazir ya. Gak pakai lama, langsung deh tunjuk si pencetus ide jadi ketua panitia dan beberapa teman untuk bantu-bantu. Pasti yang jadi ketua panitia nyesel banget ngusulin ide ini. *lirik manis ke ketua panitia ahhh….๐Ÿ˜˜ Memang enak gitu ya kalau punya jabatan, tinggal tunjuk aja ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹

 

Awalnya ada 15 keluarga dan 1 teman yang akan bergabung ketika ide ini dilemparkan ke grup. Tapi di tanggal 13-14 Agustus itu hanya tersisa 12 keluarga yang akan ngeriung bersama. Meski begitu tetap saja ini acara yang dinanti-nantikan oleh kami semua. Di hari keberangkatan, kami sepakat bertemu di titik kumpul lebih dulu sebelum akhirnya kami konvoi naik bersama ke lokasi, Hutan Hujan, Sentul.

 

Berhubung lokasinya agak curam ke bawah dan mobil juga tidak bisa lewat, kami diharuskan untuk berjalan sekitar 500 meter dari tempat parkir. Ada yang lucu di sini, begitu kami sampai di lokasi parkiran dan siap-siap untuk berjalan bersama, kami saling memantau barang bawaan teman-teman. Ini pun menjadi bahan bercandaan kami. Ada yang malu karena merasa heboh bawa bed cover, ada pula yang pede jaya bawa kardus mi instan seakan mau pulang kampung (keluarga gue nih!) dan ada juga yang santai aja dengan bawaan seminim mungkin. Namanya juga beda keluarga ya, pasti gaya dan kebutuhannya juga beda.

 

Setelah kami sudah cukup nyaman – sudah pilih-pilih tenda, beberes sebentar di dalam tenda dan mengurus perintilan ini itu – kegiatan kami mulai. Anak-anak kami minta untuk duduk di tikar – tikar yang sama yang biasa kami pakai juga untuk piknik bulanan. ๐Ÿ˜ Di sini kami memang memberikan beberapa peraturan di awal yang harus dijalankan selama berkegiatan bersama. Berhubung tempat kemah ini luas, kami mewajibkan anak-anak untuk selalu lapor ke masing-masing orang tua jika mereka mau pergi ke mana pun, bahkan ke toilet sekalipun. Orang tua perlu tahu kemana mereka pergi. Kami juga meminta anak-anak untuk tidak buang sampah sembarangan. Jika melihat ada teman yang membuang sampah, harap ditegur. Atau melihat sampah, tolong diambil dan dibuang ke tempat sampah. Selanjutnya adalah tidak memetik tanaman, kecuali yang sudah jatuh ke tanah. Tentu ini untuk mengajarkan mereka untuk menghargai ciptaan Tuhan juga ya. Meskipun waktu menjelaskan peraturan bersama ini pakai urut dada dan pijat-pijat kening, karena sedikit-sedikit ada aja komen dari mereka, tapi nyatanya mereka menjalankan juga kesepakatan bersama ini loh. Cakeeeppp!! ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

 

Selesai dengan urusan peraturan bersama yang dilanjut dengan makan siang, kami ajak anak-anak dan orang tua untuk berkegiatan lomba ala-ala 17 Agustusan. Dimulai dengan lomba bawa kelereng dengan sendok. Anak-anak dibagi menjadi 3 grup; balita, usia 6-10 tahun dan remaja. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun juga diminta turun buat hura-hura bergembira juga. Selain lomba kelereng, ada juga lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba pukul air dan yang terakhir lomba makan kerupuk. Hampir semua lomba dimeriahkan oleh anak-anak balita. Mereka lucu deh, semangat ’45 banget begitu diajak ikutan lomba. Serunya lagi, biarpun tidak ada menang atau kalah di perlombaan ini, tapi tidak ada satu pun anak-anak yang komplen karena tidak juara. Hadiahnya pun hanya sekedar snack ringan sederhana kecil-kecilan yang dimakan saat itu kelar. Begitu aja dah bahagia ya. ๐Ÿ’•๐Ÿ˜

 

Kehebohan lomba-lomba ala 17-an ini bikin anak-anak dan orang tua jadi cepat membaur. Suasana jadi lebih mencair dari sebelumnya. Sehingga untuk menuju kegiatan berikutnya, bermain di sungai, anak-anak juga sudah lebih luwes dari sebelumnya. Nah, sebelum kami jalan menuju ke sungai, kami minta anak-anak untuk berpasangan. Anak yang besar kami minta untuk bertanggung jawab menjaga anak yang lebih kecil. Menariknya, mereka menjadikan tugas berpasangan ini cukup serius. Selama perjalanan menuju ke sungai terlihat anak besar menjaga anak kecil sebaik mungkin. Ada yang digandeng, dirangkul, diajak ngobrol, ditungguin ketika jalannya melambat ataupun dibantu ketika bertemu jalan yang susah untuk ditempuh. Hangat sekali melihat sisi lain dari anak-anak ini deh.

 


Sampai lah kami di sungai, anak-anak sudah tidak sabar ingin main. Dan tugas menjaga anak-anak pun dikembalikan ke orang tua masing-masing. Bukan hanya anak-anak yang seru dan heboh sendiri bertemu dengan air sungai, orang tua juga gak kalah senang. Sungai memang punya daya tarik sendiri ya. Puas banget lah ini anak-anak main di air, dari yang kecil sampai yang gede. Semua hepi!

 

Tapi berhubung mendung dah mulai bergelayut di atas kita, saatnya cepat-cepat harus segera kembali ke tenda. Seperti yang sudah diberitahukan oleh orang-orang setempat di sana, hampir setiap sore sekitar pukul 4 pasti akan turun hujan. Maka dari itu lokasinya dinamakan Hutan Hujan. Bisa begitu ya. Pasti mba Rara rajin mantau ke sini nih buat mastiin setiap jam 4 hujan. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Syukurlah ketika hujan akhirnya turun kami sudah cukup nyaman di tenda masing-masing. Beruntungnya juga hujan turun cukup ringan. Gue dan Ali sih merasa senang banget bisa santai-santai di dalam tenda sambil melihat pemandangan di depan kami. Sawah hijau yang dibasahi hujan rintik, dengan pemandangan latar hutan pinus dan angin sejuk semilir menerpa kami. Kapan lagi coba menikmati suasanan hening dan syahdu kaya gitu. Meanwhile, anak lanang kami asyik kumpul sama teman abegehnya di tenda lain.

 

Hujan berhenti sekitar pukul 6 sore, tepat makan malam disajikan di resto. Kami menikmati makan malam kami di sana sambil menyatukan meja untuk lebih seru ngobrolnya. Udara tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat kami mengenakan sweater atau jaket. Anak-anak juga seru sendiri. Sedangkan bapak-bapak ada yang memilih sendiri menikmati makan malamnya ataupun mengobrol berdua atau bertiga bersama.

 

Selepas makan malam, kami kembali ke tenda. Sambil menunggu api unggun dinyalakan oleh pengurus di sana, kami lanjut mengobrol. Sedangkan anak-anak sudah tidak sabar ingin segera panggang marshamallow. Heboh banget ketika mereka bisa mewujudkan keinginan mereka. Padahal kalau lihat api unggunnya sih meresahkan banget. Tapi untung ada salah satu dari ibu-ibu bisa debus #eh. Kesannya sih marshmallow-nya dipanggang, kenyataannya hanya disodorin bentar demi kepuasaan pemirsah. Judulnya yang penting anak senang! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

 

Selesai dengan kehebohan anak-anak dan marshmallow, acara mengobrol pun berganti menjadi nyanyi-nyanyi dengan gitar. Sayangnya pemain gitarnya ini gak bisa mewujudkan lagu favorit gue nih, Kangen-nya Dewa dan Kita-nya Sheila on 7. Padahal seru tuh lagunya. Tapi digantikan dengan lagu Sempurna-nya Andra n The Backbone. Wuiih, mantap laaah ini, meski suara ya apa adanya aja lah.

 

Malam semakin larut, satu persatu teman-teman sudah masuk ke tenda. Meninggalkan beberapa orang yang masih pengen mengobrol bersama. Tentu dong Pop Mie gak boleh ketinggalan, soalnya udara makin dingin. Memang ya, setiap kemping itu wajib banget makan mie instan. ๐Ÿ˜ Dan sekitar pukul 12 malam kami memutuskan untuk masuk tenda masing-masing dan tewas.

 

Keesokan harinya…


Buat gue yang susah tidur di tempat baru, malam itu gue cukup bisa tidur meski sempat kebangun beberapa kali. Dan berhubung pagi-pagi juga sudah ada yang bangun, gue pun jadi ikut terbangun – masih tidur-tidur ayam sih. Beberapa sudah ada yang bikin kopi, mie instan dan panggang roti. Pada rajin-rajin banget sih ya. Sedangkan gue sehabis ambil satu roti yang sudah dipanggang teman-teman, lebih memilih untuk duduk menyendiri aja sambil nyeruput kopi buatan bapak Ali, menikmati pemandangan di depan gue. Ah… bengong itu emang enak.

 

Selesai makan pagi, kami memutuskan untuk nature walk. Tapi sebelum mulai berjalan, kami meminta anak-anak untuk olahraga sebentar. Kembali anak-anak diminta untuk berpasangan yang sama seperti kemarin. Perjalanan pun dimulai. Kami memasuki hutan pinus, yang ternyata di dalamnya cukup licin dan berlumpur karena hujan kemarin. Entah berapa lama kami berjalan, tapi perjalanannya itu cukup jauh dan makan waktu. Hebatnya, selama itu anak-anak menikmatinya. Hampir tidak ada yang merengek capek atau kelelahan. Selain itu, sepanjang perjalanan ini beberapa orang tua sering melemparkan jokes lucu yang bikin ngakak berjamaah.

 

Sampai juga kami di Gua Garunggang. Cukup menarik tempatnya karena banyak bebatuan, yang menurut penduduk setempat seperti Grand Canyon versi mini. Alami, tidak dibentuk atau dipahat. Berhubung sudah berjalan entah berapa lama tadi, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Beberapa anak remaja dan bapak-bapak memutuskan untuk turun ke gua-nya. Karena penasaran, Si Boy juga ikutan turun. Guanya itu menurun ke bawah, licin dan terjal.

 

Sepertinya waktu sudah semakin siang dan kami perlu kembali ke tenda. Ternyata perjalanan yang harus ditempuh tidak ada jalan lain selain kembali ke jalan yang kami tempuh tadi. Sontak beberapa dari kami langsung merasa lemas tak berdaya. ๐Ÿ˜‚ Tapi kita masih di Indonesia kan ya, tentu selalu ada penyelamat di kala susah seperti ini. Andalan kita semua, Mamang Ojek! ๐Ÿ‘


Menggoda sekali kehadiran mereka di sana, meski biaya yang harus dibayar juga gak kira-kira – 50 ribu. Tapi namanya juga ibu-ibu, gak nawar gak afdol kan ya. Ditawar jadi 40 ribu dan Mamang Ojek pun setuju. Dan gue menjadi salah satu yang memilih jalan pintas ini bersama ibu-ibu lain yang sudah melambaikan bendera putih ke kamera.

 

Ini dia kenapa harga ojek begitu mahal di situ. Dengan rute yang aduhai luar biasa macam roller coaster gitu, si Mamang harus punya skill yang jago banget. Baru mulai duduk aja di kursi penumpang, si Mamang sudah mengeluarkan keahliannya untuk bisa membawa kami lewati turunan terjal yang licin. Mana gue pede jaya banget ajak salah satu anak teman yang umurnya 5 tahun – namanya Nana.

 

Di awal Nana sudah tampak gelagat ketakutan. Gue coba meyakinkan ini akan baik-baik saja, jadi gue bilang ke Nana untuk tenang saja, kita pasti bisa lewati ini. Anak ini pun manggut-manggut dan nurut ketika gue minta dia untuk peluk si Mamang. Tidak hanya peluk, tapi gue minta juga untuk menaruh kakinya di paha si Mamang. Dan Nana pun cukup tenang setelah gue afirmasikan seperti itu, bahkan bisa sambil bersenandung. ๐Ÿ˜‚

 

Sementara gue sendiri… ya gitu lah…

Berkali-kali meyakinkan diri gue untuk percaya ke si Mamang. Asli, sungguh susah, sodara-sodaraaaa. Bayangkan jalanan yang ditempuh itu seringkali hanya berjarak beberapa senti dari jurang. Terjal dan licin, dengan roda motor yang sebentar-sebentar terpeleset berjalan di tanah bekas hujan. Motor yang dipakai juga kurang mumpuni, motor matic aja gitu, dengan penumpang yang gak imbang beratnya dengan yang nyetir.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚Mana si Mamang berkali-kali bilang, “Peluk aja saya, Bu. Peluk.” Halaaaah – maksudnya biar aman, tapi gue gak merasa begitu. *lap keringet* Sampai akhirnya dia kesel juga kali ya sama gue. Ngomel-ngomel dong ke gue, “Tenang, Bu. Ibu tenang dong. Kalau ibu gak tenang saya juga susah ini” karena gue bentar-bentar minta turun dari motor. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

 

Aseli sih ini horor banget. Salah perhitungan dikit aja, ban motor tahu-tahu meleset, kelar udah hidup gue dan Nana di tangan si Mamang. Entah berapa kali gue berdoa selama perjalanan demi keselamatan hidup gue dan Nana – anak orang iniiii. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Begitu akhirnya sampai di depan tenda kaki gue langsung lemes. Tapi tetep gue bayar dengan harga awal. Perjuangannya memahami ibu-ibu panikan kaya gue ini PR yaa, Mang.

 

Apa kabar, Nana? Dia turun dengan senyum sumringah aja sambil menenteng botol Teh Pucuk di tangan. Kebahagiaan anak memang utama yaaaa, no matter what happen with the parents yang udah jungkir balik. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Setidaknya selamat sampai bawah aja itu Puji Tuhan, syukur alhamdulilah. Benar-benar keputusan terburuk yang gue ambil dah ah. Apalagi sesaat setelah itu ada suara anak-anak yang terdengar dari kejauhan. “Apakah gue lagi berhalusinasikah ini?”

 

Tidaaaaak. Itu benar suara anak-anak yang memilih jalan untuk turun. Mereka bahagia, kita – para ibu yang memilih jalan pintas pakai ojek – masgyul! Tahu begini mending jalan kaki aja bareng mereka, yang ternyata mereka menemukan jalan pintas yang lebih cepat. Asyeeeem!!!

 

Begitulah acara berkemah kami kemarin. Penuh dengan cerita seru yang akan dikenang suatu hari nanti. Setelah berfoto bersama, kami bersama-sama berjalan kembali menuju ke lapangan parkir. Meski rasanya enggan ya untuk berpisah, tapi kami percaya akan ada momen-momen lagi di kemudian hari.

 

PS: Beberapa ada yang memilih naik ojek untuk membawa barang-barangnya ke lapangan parkir. Keluarga Nana salah satunya. Gak ada tuh rasa ketakutan dari Nana, malah dia duduk di depan Mang Ojek sambil tertawa bergembira saat motornya melewati gue yang terengah-engah di jalan menanjak. Cukup tante Ethep aja yang trauma ya, Na!!๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚