Lievell: Charlotte Mason
Showing posts with label Charlotte Mason. Show all posts
Showing posts with label Charlotte Mason. Show all posts

Wednesday, August 17, 2022

8:40 AM

Kemah Ruang Tengah

Kemah Ruang Tengah

 


Akhir pekan lalu kami bertiga pergi berkemah bersama dengan teman-teman Ruang Tengah.

 

Disclaimer dulu ya…

Sebetulnya rencana berkemah ini sudah lama dirancang oleh grup diskusi mingguan kami di komunitas sebagai kegiatan kebersamaan. Tapi dalam proses merencanakan ini ada suatu hal yang membuat batin kami terguncang cukup hebat. 😉 Kami dihadapkan oleh dua pilihan sehingga membuat grup kecil ini harus memilih antara bertahan di komunitas atau keluar. Sehingga banyak dari kami memutuskan keluar dan sepakat untuk membuat wadah baru yang cukup fleksibel dengan aturan. Wadah ini kami namakan Ruang Tengah, sebagai tempat kami dapat berbagi, belajar serta berkegiatan bersama.

 

Dan dapat dipastikan grup ini dibentuk bukan sebagai grup pemberontak ataupun menjadi saingan dengan organisasi tempat kami bernaung dulu. Kami hanya lah sekumpulan ibu-ibu yang ingin berkumpul di dalam grup yang lebih santai dan bebas. Sehingga ketika kami ingin belajar lebih banyak ataupun berbagi di luar lingkaran ini, kami tidak merasa terbebani dengan embel-embel identitas. Berhubung rencana ini sudah kadung diurus oleh panitia kecil yang terbentuk, dan teman-teman lain juga tidak kalah antusiasnya, ya wuis lah ya, acara berkemah ini tetap dijalankan saja sebagai kegiatan perdana Ruang Tengah. Sekian untuk disclaimernya, pemirsah.😊



Tercetusnya ide berkemah ini sebetulnya dari akhir bulan Juli lalu ketika kami sedang piknik. Kegiatan piknik ini mulai rutin kami jalankan sejak akhir Maret di minggu ke-empat, tapi kami merasa acara mengobrol di piknik selalu aja kurang lama. Maklum deh ya, namanya juga ibu-ibu selalu ada cerita yang perlu dibagi dan didengar. Lalu, tiba-tiba ada yang keceplosan, “Kita kemping aja, yuk!” Nah, kalau sudah ada yang usul kegiatan tapi tidak ada yang menanggapi kan jadinya mubazir ya. Gak pakai lama, langsung deh tunjuk si pencetus ide jadi ketua panitia dan beberapa teman untuk bantu-bantu. Pasti yang jadi ketua panitia nyesel banget ngusulin ide ini. *lirik manis ke ketua panitia ahhh….😘 Memang enak gitu ya kalau punya jabatan, tinggal tunjuk aja 😋😋

 

Awalnya ada 15 keluarga dan 1 teman yang akan bergabung ketika ide ini dilemparkan ke grup. Tapi di tanggal 13-14 Agustus itu hanya tersisa 12 keluarga yang akan ngeriung bersama. Meski begitu tetap saja ini acara yang dinanti-nantikan oleh kami semua. Di hari keberangkatan, kami sepakat bertemu di titik kumpul lebih dulu sebelum akhirnya kami konvoi naik bersama ke lokasi, Hutan Hujan, Sentul.

 

Berhubung lokasinya agak curam ke bawah dan mobil juga tidak bisa lewat, kami diharuskan untuk berjalan sekitar 500 meter dari tempat parkir. Ada yang lucu di sini, begitu kami sampai di lokasi parkiran dan siap-siap untuk berjalan bersama, kami saling memantau barang bawaan teman-teman. Ini pun menjadi bahan bercandaan kami. Ada yang malu karena merasa heboh bawa bed cover, ada pula yang pede jaya bawa kardus mi instan seakan mau pulang kampung (keluarga gue nih!) dan ada juga yang santai aja dengan bawaan seminim mungkin. Namanya juga beda keluarga ya, pasti gaya dan kebutuhannya juga beda.

 

Setelah kami sudah cukup nyaman – sudah pilih-pilih tenda, beberes sebentar di dalam tenda dan mengurus perintilan ini itu – kegiatan kami mulai. Anak-anak kami minta untuk duduk di tikar – tikar yang sama yang biasa kami pakai juga untuk piknik bulanan. 😁 Di sini kami memang memberikan beberapa peraturan di awal yang harus dijalankan selama berkegiatan bersama. Berhubung tempat kemah ini luas, kami mewajibkan anak-anak untuk selalu lapor ke masing-masing orang tua jika mereka mau pergi ke mana pun, bahkan ke toilet sekalipun. Orang tua perlu tahu kemana mereka pergi. Kami juga meminta anak-anak untuk tidak buang sampah sembarangan. Jika melihat ada teman yang membuang sampah, harap ditegur. Atau melihat sampah, tolong diambil dan dibuang ke tempat sampah. Selanjutnya adalah tidak memetik tanaman, kecuali yang sudah jatuh ke tanah. Tentu ini untuk mengajarkan mereka untuk menghargai ciptaan Tuhan juga ya. Meskipun waktu menjelaskan peraturan bersama ini pakai urut dada dan pijat-pijat kening, karena sedikit-sedikit ada aja komen dari mereka, tapi nyatanya mereka menjalankan juga kesepakatan bersama ini loh. Cakeeeppp!! 👍👍

 

Selesai dengan urusan peraturan bersama yang dilanjut dengan makan siang, kami ajak anak-anak dan orang tua untuk berkegiatan lomba ala-ala 17 Agustusan. Dimulai dengan lomba bawa kelereng dengan sendok. Anak-anak dibagi menjadi 3 grup; balita, usia 6-10 tahun dan remaja. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun juga diminta turun buat hura-hura bergembira juga. Selain lomba kelereng, ada juga lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba pukul air dan yang terakhir lomba makan kerupuk. Hampir semua lomba dimeriahkan oleh anak-anak balita. Mereka lucu deh, semangat ’45 banget begitu diajak ikutan lomba. Serunya lagi, biarpun tidak ada menang atau kalah di perlombaan ini, tapi tidak ada satu pun anak-anak yang komplen karena tidak juara. Hadiahnya pun hanya sekedar snack ringan sederhana kecil-kecilan yang dimakan saat itu kelar. Begitu aja dah bahagia ya. 💕😍

 

Kehebohan lomba-lomba ala 17-an ini bikin anak-anak dan orang tua jadi cepat membaur. Suasana jadi lebih mencair dari sebelumnya. Sehingga untuk menuju kegiatan berikutnya, bermain di sungai, anak-anak juga sudah lebih luwes dari sebelumnya. Nah, sebelum kami jalan menuju ke sungai, kami minta anak-anak untuk berpasangan. Anak yang besar kami minta untuk bertanggung jawab menjaga anak yang lebih kecil. Menariknya, mereka menjadikan tugas berpasangan ini cukup serius. Selama perjalanan menuju ke sungai terlihat anak besar menjaga anak kecil sebaik mungkin. Ada yang digandeng, dirangkul, diajak ngobrol, ditungguin ketika jalannya melambat ataupun dibantu ketika bertemu jalan yang susah untuk ditempuh. Hangat sekali melihat sisi lain dari anak-anak ini deh.

 


Sampai lah kami di sungai, anak-anak sudah tidak sabar ingin main. Dan tugas menjaga anak-anak pun dikembalikan ke orang tua masing-masing. Bukan hanya anak-anak yang seru dan heboh sendiri bertemu dengan air sungai, orang tua juga gak kalah senang. Sungai memang punya daya tarik sendiri ya. Puas banget lah ini anak-anak main di air, dari yang kecil sampai yang gede. Semua hepi!

 

Tapi berhubung mendung dah mulai bergelayut di atas kita, saatnya cepat-cepat harus segera kembali ke tenda. Seperti yang sudah diberitahukan oleh orang-orang setempat di sana, hampir setiap sore sekitar pukul 4 pasti akan turun hujan. Maka dari itu lokasinya dinamakan Hutan Hujan. Bisa begitu ya. Pasti mba Rara rajin mantau ke sini nih buat mastiin setiap jam 4 hujan. 😂😂

 

Syukurlah ketika hujan akhirnya turun kami sudah cukup nyaman di tenda masing-masing. Beruntungnya juga hujan turun cukup ringan. Gue dan Ali sih merasa senang banget bisa santai-santai di dalam tenda sambil melihat pemandangan di depan kami. Sawah hijau yang dibasahi hujan rintik, dengan pemandangan latar hutan pinus dan angin sejuk semilir menerpa kami. Kapan lagi coba menikmati suasanan hening dan syahdu kaya gitu. Meanwhile, anak lanang kami asyik kumpul sama teman abegehnya di tenda lain.

 

Hujan berhenti sekitar pukul 6 sore, tepat makan malam disajikan di resto. Kami menikmati makan malam kami di sana sambil menyatukan meja untuk lebih seru ngobrolnya. Udara tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat kami mengenakan sweater atau jaket. Anak-anak juga seru sendiri. Sedangkan bapak-bapak ada yang memilih sendiri menikmati makan malamnya ataupun mengobrol berdua atau bertiga bersama.

 

Selepas makan malam, kami kembali ke tenda. Sambil menunggu api unggun dinyalakan oleh pengurus di sana, kami lanjut mengobrol. Sedangkan anak-anak sudah tidak sabar ingin segera panggang marshamallow. Heboh banget ketika mereka bisa mewujudkan keinginan mereka. Padahal kalau lihat api unggunnya sih meresahkan banget. Tapi untung ada salah satu dari ibu-ibu bisa debus #eh. Kesannya sih marshmallow-nya dipanggang, kenyataannya hanya disodorin bentar demi kepuasaan pemirsah. Judulnya yang penting anak senang! 😁😁

 

Selesai dengan kehebohan anak-anak dan marshmallow, acara mengobrol pun berganti menjadi nyanyi-nyanyi dengan gitar. Sayangnya pemain gitarnya ini gak bisa mewujudkan lagu favorit gue nih, Kangen-nya Dewa dan Kita-nya Sheila on 7. Padahal seru tuh lagunya. Tapi digantikan dengan lagu Sempurna-nya Andra n The Backbone. Wuiih, mantap laaah ini, meski suara ya apa adanya aja lah.

 

Malam semakin larut, satu persatu teman-teman sudah masuk ke tenda. Meninggalkan beberapa orang yang masih pengen mengobrol bersama. Tentu dong Pop Mie gak boleh ketinggalan, soalnya udara makin dingin. Memang ya, setiap kemping itu wajib banget makan mie instan. 😁 Dan sekitar pukul 12 malam kami memutuskan untuk masuk tenda masing-masing dan tewas.

 

Keesokan harinya…


Buat gue yang susah tidur di tempat baru, malam itu gue cukup bisa tidur meski sempat kebangun beberapa kali. Dan berhubung pagi-pagi juga sudah ada yang bangun, gue pun jadi ikut terbangun – masih tidur-tidur ayam sih. Beberapa sudah ada yang bikin kopi, mie instan dan panggang roti. Pada rajin-rajin banget sih ya. Sedangkan gue sehabis ambil satu roti yang sudah dipanggang teman-teman, lebih memilih untuk duduk menyendiri aja sambil nyeruput kopi buatan bapak Ali, menikmati pemandangan di depan gue. Ah… bengong itu emang enak.

 

Selesai makan pagi, kami memutuskan untuk nature walk. Tapi sebelum mulai berjalan, kami meminta anak-anak untuk olahraga sebentar. Kembali anak-anak diminta untuk berpasangan yang sama seperti kemarin. Perjalanan pun dimulai. Kami memasuki hutan pinus, yang ternyata di dalamnya cukup licin dan berlumpur karena hujan kemarin. Entah berapa lama kami berjalan, tapi perjalanannya itu cukup jauh dan makan waktu. Hebatnya, selama itu anak-anak menikmatinya. Hampir tidak ada yang merengek capek atau kelelahan. Selain itu, sepanjang perjalanan ini beberapa orang tua sering melemparkan jokes lucu yang bikin ngakak berjamaah.

 

Sampai juga kami di Gua Garunggang. Cukup menarik tempatnya karena banyak bebatuan, yang menurut penduduk setempat seperti Grand Canyon versi mini. Alami, tidak dibentuk atau dipahat. Berhubung sudah berjalan entah berapa lama tadi, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Beberapa anak remaja dan bapak-bapak memutuskan untuk turun ke gua-nya. Karena penasaran, Si Boy juga ikutan turun. Guanya itu menurun ke bawah, licin dan terjal.

 

Sepertinya waktu sudah semakin siang dan kami perlu kembali ke tenda. Ternyata perjalanan yang harus ditempuh tidak ada jalan lain selain kembali ke jalan yang kami tempuh tadi. Sontak beberapa dari kami langsung merasa lemas tak berdaya. 😂 Tapi kita masih di Indonesia kan ya, tentu selalu ada penyelamat di kala susah seperti ini. Andalan kita semua, Mamang Ojek! 👏


Menggoda sekali kehadiran mereka di sana, meski biaya yang harus dibayar juga gak kira-kira – 50 ribu. Tapi namanya juga ibu-ibu, gak nawar gak afdol kan ya. Ditawar jadi 40 ribu dan Mamang Ojek pun setuju. Dan gue menjadi salah satu yang memilih jalan pintas ini bersama ibu-ibu lain yang sudah melambaikan bendera putih ke kamera.

 

Ini dia kenapa harga ojek begitu mahal di situ. Dengan rute yang aduhai luar biasa macam roller coaster gitu, si Mamang harus punya skill yang jago banget. Baru mulai duduk aja di kursi penumpang, si Mamang sudah mengeluarkan keahliannya untuk bisa membawa kami lewati turunan terjal yang licin. Mana gue pede jaya banget ajak salah satu anak teman yang umurnya 5 tahun – namanya Nana.

 

Di awal Nana sudah tampak gelagat ketakutan. Gue coba meyakinkan ini akan baik-baik saja, jadi gue bilang ke Nana untuk tenang saja, kita pasti bisa lewati ini. Anak ini pun manggut-manggut dan nurut ketika gue minta dia untuk peluk si Mamang. Tidak hanya peluk, tapi gue minta juga untuk menaruh kakinya di paha si Mamang. Dan Nana pun cukup tenang setelah gue afirmasikan seperti itu, bahkan bisa sambil bersenandung. 😂

 

Sementara gue sendiri… ya gitu lah…

Berkali-kali meyakinkan diri gue untuk percaya ke si Mamang. Asli, sungguh susah, sodara-sodaraaaa. Bayangkan jalanan yang ditempuh itu seringkali hanya berjarak beberapa senti dari jurang. Terjal dan licin, dengan roda motor yang sebentar-sebentar terpeleset berjalan di tanah bekas hujan. Motor yang dipakai juga kurang mumpuni, motor matic aja gitu, dengan penumpang yang gak imbang beratnya dengan yang nyetir.😂😂Mana si Mamang berkali-kali bilang, “Peluk aja saya, Bu. Peluk.” Halaaaah – maksudnya biar aman, tapi gue gak merasa begitu. *lap keringet* Sampai akhirnya dia kesel juga kali ya sama gue. Ngomel-ngomel dong ke gue, “Tenang, Bu. Ibu tenang dong. Kalau ibu gak tenang saya juga susah ini” karena gue bentar-bentar minta turun dari motor. 😂😂

 

Aseli sih ini horor banget. Salah perhitungan dikit aja, ban motor tahu-tahu meleset, kelar udah hidup gue dan Nana di tangan si Mamang. Entah berapa kali gue berdoa selama perjalanan demi keselamatan hidup gue dan Nana – anak orang iniiii. 😂😂 Begitu akhirnya sampai di depan tenda kaki gue langsung lemes. Tapi tetep gue bayar dengan harga awal. Perjuangannya memahami ibu-ibu panikan kaya gue ini PR yaa, Mang.

 

Apa kabar, Nana? Dia turun dengan senyum sumringah aja sambil menenteng botol Teh Pucuk di tangan. Kebahagiaan anak memang utama yaaaa, no matter what happen with the parents yang udah jungkir balik. 😂😂😂 Setidaknya selamat sampai bawah aja itu Puji Tuhan, syukur alhamdulilah. Benar-benar keputusan terburuk yang gue ambil dah ah. Apalagi sesaat setelah itu ada suara anak-anak yang terdengar dari kejauhan. “Apakah gue lagi berhalusinasikah ini?”

 

Tidaaaaak. Itu benar suara anak-anak yang memilih jalan untuk turun. Mereka bahagia, kita – para ibu yang memilih jalan pintas pakai ojek – masgyul! Tahu begini mending jalan kaki aja bareng mereka, yang ternyata mereka menemukan jalan pintas yang lebih cepat. Asyeeeem!!!

 

Begitulah acara berkemah kami kemarin. Penuh dengan cerita seru yang akan dikenang suatu hari nanti. Setelah berfoto bersama, kami bersama-sama berjalan kembali menuju ke lapangan parkir. Meski rasanya enggan ya untuk berpisah, tapi kami percaya akan ada momen-momen lagi di kemudian hari.

 

PS: Beberapa ada yang memilih naik ojek untuk membawa barang-barangnya ke lapangan parkir. Keluarga Nana salah satunya. Gak ada tuh rasa ketakutan dari Nana, malah dia duduk di depan Mang Ojek sambil tertawa bergembira saat motornya melewati gue yang terengah-engah di jalan menanjak. Cukup tante Ethep aja yang trauma ya, Na!!😂😂😂

Sunday, February 6, 2022

11:12 AM

Ourselves - Diri Kita

Ourselves - Diri Kita

 Seberapa penting sih sebetulnya kita perlu mengenal diri kita sendiri?


Sepertinya gue agak sedikit telat belajar mengenal diri gue sendiri. Dulu, ketika sekolah, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran gue untuk kenalan dengan diri gue. Gue terlalu sibuk untuk tidak terlihat berbeda dengan teman-teman. Sebisa mungkin hidup gue sama dengan mereka. Parameter gue selalu bergantung dari kacamata teman. Sama sekali tidak ada di pikiran untuk melihat lebih jauh siapa diri gue sebenarnya. Begitupun masa kuliah. Meskipun sudah masuk usia dewasa, tapi gue tidak serta merta menjadi matang secara pikiran. Penampilan luar selalu menjadi pusat perhatian gue. Bagaimana gue terlihat menjadi satu hal yang penting banget gue pikirkan. Mengenal diri sendiri dalam bayangan gue saat itu sama halnya terlihat menarik secara fisik.

 

Sampai akhirnya gue punya Fritz. Mungkin ini adalah momen dimana gue mulai belajar untuk tidak lagi melihat penampilan fisik yang menjadi perhatian utama gue. Ada satu kesadaran diri ketika seorang bayi hadir dalam hidup gue dan Ali. Gue merasa harus menjadi versi terbaik dari diri gue demi anak ini. Gue harus bisa menjadi panutan yang bagus buatnya. Nah, di waktu inilah pelan-pelan gue mulai belajar untuk mengenal diri gue. Agak telat sih secara umur, tapi gue percaya tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Eaaa….😆

 

Perjalanan mengenal diri ini ternyata tidak mudah. Beberapa kali gue terbentur, terperosok, jumpalitan, guling-gulingan bahkan sampai koprol. Tapi lagi-lagi, gue percaya kita hadir di dunia ini sebetulnya punya tujuan. Bukan hanya dilahirkan, hidup, menikah, punya anak, lalu menua dan selesai. Dan proses mengenali siapa diri gue sebenarnya ini pun dimulai.

 

Tepatnya ketika gue memutuskan menjalankan Pendidikan Rumah alias homeschooling (HS) buat Fritz. Awalnya gue pikir ini akan jadi perjalanan mendidik anak saja. Bagaimana gue yang notabene seorang guru memilih untuk mengajar anaknya sendiri. That’s it. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi ternyata gue berpikir pendek, sodara-sodara. HS lebih dari itu. HS membawa gue jauh mengenal hidup gue lebih jauh lagi. HS menuntun gue menuju perjalanan spiritual kehidupan gue. Tsaaah, dalam banget ini obrolannya. 😜

 

Berawal dari mencoba mencari tahu dan berkenalan dengan para penggiat homeschool di tahun 2012. Bergerilya mencari informasi lewat teman-teman yang sudah lebih dulu menjalaninya. Berteman satu demi satu dengan mereka, mengenali kebiasaan mereka ber-HS, sampai akhirnya berkumpul bersama dalam satu komunitas kecil bernama Ibu Jari. Di sini gue banyak terbuka secara pikiran dan mata gue melihat kehidupan. Lewat mereka, gue pertama kali belajar mengenal diri gue sendiri dan apa yang gue mau dalam hidup gue. Melihat anak, suami serta arti keluarga dari sisi berbeda.

 

Perjalanan berlanjut di tahun 2015. Persimpangan jalan antara memilih tetap berHS atau mulai sekolah formal. Di sini gue banyak berdiskusi dengan Ali dan juga Fritz, dan akhirnya kami sepakat tetap memilih HS sebagai jalur perjalanan pendidikan buat Fritz. Berkegiatan lah kami di Komunitas Oase di tahun ini. Di sini kami bertemu dengan banyak teman yang baru, meskipun ada juga yang sudah kami kenal di tahun-tahun sebelumnya. Sungguh menyenangkan perjalanan HS bersama komunitas ini. Bukan hanya Fritz yang bertemu dengan teman-teman baru, tapi kami sebagai keluarga pun berkenalan dengan keluarga HS lainnya.


Tanpa disadari, pertemanan keluarga ini akhirnya mengerucut di akhir tahun 2016. Beberapa keluarga memilih untuk berkegiatan bersama di Kaplongan. Sehingga kami sepakat memilih nama DeKaplongan sebagai nama grup kecil kami ini. Dalam perjalanannya kami banyak berproses bersama dalam mengenal diri kami masing-masing. Seringkali kami meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang spiritual dalam kehidupan, tentu disamping belajar hal-hal lainnya yang masih terkait dengan HS. Menarik sekali sebetulnya mempelajari tentang hal spiritual ini, sehingga mengenal diri gue semakin jelas saja dari obrolan-obrolan yang sering kami lakukan di meja (makan) oval itu.

 

Apalagi dalam perjalanan mengenal diri ini gue banyak ngobrol bareng dengan Lia. Bukan Milea yang biasa dipanggil Lia sama Dilan ya. Lia, emaknya Mas Abi dan Nduk Anin, istrinya Bapak Aji Wijaya. Begitu banyak yang sering gue bahas bareng Lia, meskipun lebih banyak debatnya karena gak cocok pemikirannya sih. Tapi emang Lia itu sayang banget ya sama gue, sampai-sampai rela direcokin terus sama gue. I love you, Liaaaaa. 💗💗 Dan dari obrolan-obrolan yang sering kita lalui, gue semakin belajar lebih dalam lagi mengenal diri gue sendiri.

 

Jalan untuk mengenal diri pun semakin terbuka lebar. Awalnya mungkin hanya satu jalan utama, tapi semakin ke sini semakin banyak jalan-jalan yang dibukakan untuk mempelajari diri ini. 5 tahun terakhir ini gue memilih metode Charlotte Mason untuk pendidikan rumah Fritz. Dan lewat CM pula-lah gue semakin merasa proses mengenali diri menjadi lebih dalam lagi. Bukan lagi lewat bertanya dan curhat dengan teman, tapi lewat buku serta hasil dari diskusi dan refleksi dengan diri sendiri yang membuat gue semakin kenal siapa diri gue sebenarnya.

 

Kalau dari tadi gue terus bilang mengenal diri sendiri, lantas yang baca pasti bingung. Sebenarnya gue selama ini amnesia apa gimana sih sampai gak kenal sama diri gue sendiri? Padahal kan jelas ya mengenal diri sendiri itu mudah. Hmm. Coba deh jabarkan secara panjang lebar siapa diri kita, apa maunya dalam hidup kita, dan sudah berbuat apa saja dalam kehidupan ini? Percaya, itu tidak mudah. Ada hal-hal dimana yang selama ini mungkin kita tidak pernah tahu kedalaman pikiran, perasaan serta sifat dan sikap yang kita punya. Apalagi dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah ini perlu disadari, dicari serta digali untuk membuat hidup kita semakin berarti.

 

Gue pun semakin percaya, ketika kita mencari, semesta pun akan menyediakannya. Begitu seperti halnya ketika gue merasa perlu belajar untuk kenal dengan diri gue sendiri, paham siapa gue dan bagaimana memperlakukan diri gue, serta jujur dengan pribadi gue, Tuhan pun memberikan jalannya lewat orang-orang yang dikirimNya. Entah bagaimana caranya, mereka hadir untuk memberikan gue banyak pelajaran dalam hidup. 💕

Tuesday, January 25, 2022

2:53 PM

Ourselves - Panca Indera

Ourselves - Panca Indera


Kebetulan sedang membahas tentang panca indera, rasanya jadi tepat banget kalau di edisi tulisan kali ini gue berbagi cerita pengalaman pribadi aja. Tepat seminggu yang lalu, akhir minggu kedua di Januari, gue mengalami sakit di pencernaan yang cukup hebat. Ini bukan pertama kalinya gue menderita sakit seperti ini. Rasanya kalau diingat-ingat lagi sudah dari usia sekolah gue selalu bermasalah dengan pencernaan. Dan seperti orang bebal, gue kerap kali mengulang kesalahan yang serupa.


Kelemahan gue yang paling utama adalah tidak bisa melihat makanan enak. Masalah yang lainnya lagi adalah semua makanan selalu enak buat gue. Jadi bisa dibayangkan betapa lemahnya pengendalian diri gue ketika melihat ada makanan di depan mata. Apalagi kalau judulnya gratis! 😎😎 Jadi ingat jaman kuliah dulu. Gue punya prinsip, kalau ada makanan yang gratis kenapa harus beli. Geng kuliah gue hafal banget kebiasaan gue ini nih karena gue sering banget malak makanan mereka ataupun minta dijajanin sama mereka. Baiknya mereka punya teman kaya gue. #eh kebalik yak…

 

Kembali ke cerita sakit yang gue rasain (sukurin lo!) eh rasakan. Akhir minggu itu gue banyak mengkonsumsi gluten yang tanpa disadari memicu pencernaan gue. Mendadak perut gue sakit gak ketulungan di dini hari. Seperti ada demo besar-besaran di dalam perut. Sontak para pendemo itu minta keluar dari perut dalam rupa muntah dan diare. Dan di hari Senin pagi itu gue sudah 4x muntah ditambah 1x diare tanpa bentuk selain cairan kuning. Lemas tak berdaya rasanya dengan perut yang bergejolak kawula muda – macam Prambors FM ya. 😂 Ditambah dengan bunyi geluduk kecil-kecil di dalam perut, sama persis dengan cuaca di hari itu yang ditemani oleh geluduk dan hujan.

 


Iya, gue ini termasuk yang tidak kuat dengan gluten. Padahal gue cinta mati sama mie! Pernah ada pengalaman tepar tak berdaya juga karena mie. Satu waktu gue mengkonsumsi mie sekitar 4-5 kali dalam seminggu dan tentu setelah itu perut meronta-ronta kesakitan. Sama seperti rasa sakit yang terakhir gue derita. Segitu gagalnya gue menahan nafsu melihat mie. Tapi sejak itu gue agak kapok. Seperti dalam pertemanan yang kurang sehat, mie ini membawa pengaruh buruk dalam hidup gue. Jadi gue terapkan peraturan untuk mie ini. Kami tetap berteman, tapi perlu jaga jarak. Cukup makan mie seminggu sekali aja. Supaya hasrat makan mie tetap terpenuhi dalam porsi sewajarnya, tidak barbar seperti sebelumnya. Dan berhasil dong! Yaaaayy.

 

Permasalahan mie sudah bisa dikendalikan, meskipun harus melewati rasa sakit yang luar biasa dulu. Nah untuk sakit yang gue alami seminggu yang lalu sebetulnya hasil dari pengalaman yang serupa juga. Ternyata perut gue bukan hanya bermasalah dengan mie, tapi beberapa gluten mulai bereaksi yang sama ketika dikonsumsi berdekatan waktunya. Sehingga pengalaman sakit kemarin mengajak gue untuk belajar lagi untuk lebih mengendalikan mulut.

 

Begitulah ketika mulut sudah menjadi tuan untuk diri kita. Dan sejujurnya gue pun gak bisa menjanjikan gue tidak lagi jatuh ke dalam lubang yang sama, karena perkara makanan ini memang momok besar banget buat diri gue. Tapi setidaknya dengan prinsip CM untuk tetap berada di tengah-tengah penting banget gue terapkan dalam urusan perglutenan dan pencernaan ini. Supaya tidak ada lagi kasus-kasus demo besar di dalam perut hamba...😂😂

 


Sunday, December 26, 2021

9:49 AM

Ourselves - Kesucian

Ourselves - Kesucian

 

Ada yang bilang, mendidik anak di zaman ini jauh lebih sulit ketimbang orang tua kita dulu. Ada pula yang berujar, zaman dulu orang tua hanya khawatir menjaga anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya. Kenapa begitu coba? Ya karena zaman disinyalir sudah berganti arahnya. Semakin banyak anak laki-laki yang tidak lagi menyukai lawan jenis, melainkan sesama jenis sekarang ini. Sehingga membuat orang tua lebih khawatir menjaga anak laki-lakinya ketimbang anak perempuan. Apakah benar bahwa tantangan di setiap zaman itu selalu berbeda?


Sepertinya apa pun zamannya, enak zamanku toh. #eh 😂😂


Jadi ingat slogan itu ya. Tapi apa pula itu eranya, setiap orang tua pasti selalu mempunyai tantangannnya tersendiri ya dalam mendidik anaknya. Andil orang tua cukup besar memang dalam mendampingi anak bertumbuh. Tentu ini sudah menjadi tugas seumur hidup ketika orang tua sudah memutuskan memiliki anak dalam kehidupan berkeluarganya. Bukan tugas mudah memang, karena memang banyak sekali orang tua yang pelan-pelan mundur dari jabatannya ini.


Entah ini karena orang tua terlampau sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga minim komunikasi yang terjadi diantara anak dan orang tua. Ataupun orang tua yang kurang hangat terhadap anak, sehingga anak hanya menerima didikan satu arah. Perintah orang tua seperti mandat yang tidak dapat diganggu gugat keputusannya. Sehingga anak hanya pasif menerima tanpa dapat mengemukakan pendapatnya. Karena hal-hal seperti ini, akhirnya anak tumbuh dengan mencari informasi sendiri yang mereka dapat dari pihak luar. Dan tidak sedikit anak yang salah tafsir atas informasi yang didapat itu.


Seiring bertambahnya umur, tentu semakin banyak hal yang mulai menjadi pertanyaan di dirinya. Menemaninya bertumbuh menjadi kunci jawabannya. Bukan lagi perintah satu arah yang dibutuhnya, melainkan orang tua yang siap menjadi tempat diskusinya. Orang tua yang luwes dalam bertukar pikiran. Serta orang tua yang siap meluangkan waktu untuk sekedar mendengar curhatannya.


Pernah satu waktu si Boy terlihat galau. Begitu kutanya ada apa, dia pun bercerita tentang apa yang dirasa. Ternyata eh ternyata, anak ini sedang mengalami perasaan suka terhadap lawan jenisnya. Menurut pengakuannya, dia sempat resah maju mundur untuk cerita, karena ada rasa takut dimarahi. Lucunya, rasa galau ini terjadi menjelang tidur malam setelah dia menyatakan perasaannya itu. Pantes aja dia bangun pagi-pagi dan terlihat gelagatnya aneh, duduk kok nempelin emaknya terus kaya perangko. Ternyata ada yang galau semalaman, dan galau gak bisa tidur malam itu gak enak ye, Boy. 😁😁


Begitu ekspresi yang kuberikan kepadanya biasa saja, bahwa aku terima apa perasaannya, apa yang dia ungkapkan terhadap temannya, anak ini pun langsung dengan gamblang bercerita. Ceritanya pun mendetil sekali. Ada perasaan senang ketika dia mampu mempercayakan cerita tentang perasaannya kepada orang tuanya. Iya, bapaknya juga duduk mendengar saat itu, dan kami tidak memberikan ekspresi apa pun selain mendengar ceritanya. Tentu emaknya sambil senyum-senyum dong. Hihihi…


Beda dengan reaksi yang aku dapat waktu bercerita dengan orang tuaku dulu ketika aku mempunyai perasaan terhadap seorang laki-laki. Penghakiman dalam rupa omelan, dampratan, cemooh sampai tidak luput dari hukuman pukul, sabetan kemoceng sampai tamparan pernah kuterima karena ini. Sungguh bukan hal yang enak yang aku rasakan di saat itu, tapi tidak ada jalan lain menurutku. Sehingga membuatku merasa harus menutup rapat-rapat rahasia perasaanku dan apa saja yang aku lakukan dengannya.


Pernah satu saat di waktu usia SMP, aku mau pergi ke mall bersama pacar monyetku itu, aku harus diam-diam bilang mau belajar bersama, dengan tas berisi pakaian bagus. Yang entah bagaiamana nenekku yang menjagaku saat itu tahu rencanaku. Sontak tasku diambil dan dikeluarkan isinya, mana sebelumnya aku sempat dilempari mainan pistol-pistolan besi milik adikku. Wah, kalau saja saat dilempari itu aku tidak jago berkelit, kelar dah kaki gue. Bonyok! Jangan sedih, ceritanya tidak berhenti di situ. Sepulang Mami dari kantor, nenekku itu cerita ulah bandelku. Bukan lagi omelan yang didapat, melainkan tamparan tanpa ampun dari Mamiku. Sejak itu, tidak ada lagi cerita yang aku bisa ceritakan ke orang tuaku.


Bisa dibayangkan dampak dari anak yang tumbuh dengan ketakutan untuk bercerita terhadap orang tuanya. Tidak merasa dipercaya oleh orang tua itu sungguh tidak enak. Harus kucing-kucingan, terus berbohong dari satu hal ke hal lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya, benar-benar tidak enak. Apalagi kalau akhirnya ketahuan dan sudah dapat ditebak apa yang diterima anak di hari penghakiman itu. Kalau sudah begini, jelas kemana arah tujuan anak ini bertumbuh kan ya. Sehingga pemahaman menjaga kesucian bukan lagi karena anak paham, melainkan sebagai bentuk pemberontakan anak terhadap orang tua.


Friday, December 24, 2021

4:05 PM

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

 

Children are born person.

 

Menjadi butir pertama yang diusung oleh ibu Charlotte Mason di dalam pemikirannya. Dijelaskan olehnya bahwa sesungguhnya anak terlahir sebagai pribadi yang utuh. Artinya, mereka bukanlah lembaran kertas putih kosong yang butuh ditulisi dengan tinta hitam ataupun dihias dengan crayon warna warni oleh orang tuanya. Tapi mereka sudah terlahir dengan budi yang terinstall sempurna di dalam dirinya.

 

Lihat saja seorang anak kecil ketika melihat kebiasan orang tuanya. Tanpa diajari anak kecil itu mempelajari apa yang sering dilakukan oleh orang tuanya ini, yang lambat laun akan ditiru olehnya. Contohnya ketika anak sering melihat orang tuanya tenggelam dalam pemakaian gadget. Tanpa perlu dibekali pengajaran bagaimana menjalankan perangkat canggih itu, dengan sering melihatnya saja dia mampu mengoperasikannya dan ujung-ujungnya ikut kecanduan seperti orang tuanya. Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan lain, seperti mengupil di tempat umum, coba? Apa gak kurang gampang untuk dicontoh oleh anak-anak? 😅

 

Dengan pemikiran bahwa anak adalah lembaran kosong ini, orang tua melihat kecenderungan anak perlu dibekali dengan banyak stimuli sebagai amunisi untuk masa depannya. Merasa kurang sibuk, terlalu santai hidup sang anak, mulailah mereka diikutkan dengan banyak kegiatan ini itu. Dengan asumsi, semakin banyak kegiatan yang diberikan anak usia dini, anak akan menjadi cepat pintar. Apalagi belakangan ini semakin banyak aktivitas yang dikemas secara menarik. Dibuat seasyik mungkin supaya anak tertarik mengikutnya. Digeretlah anak kesana kemari untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tanpa menilik lagi, apakah anaknya suka atau tidak. Jadilah banyak orang tua yang judulnya merasa sayang. Mumpung masih kecil dan anaknya mau dijejali dengan banyak hal, kenapa tidak? Kalau sudah besar mungkin beda lagi ceritanya, ya kan. -- Eh, eh, jangan sedih, gue sendiri juga pernah di masa-masa tidak pernah mau ketinggalan kegiatan ini itu kok, Jengsis… 😋😋

 

Satu waktu, pasti ada kalanya anak akan sampai di satu titik kejenuhan dengan semua agenda yang dibuat oleh orang tua. Mereka mulai mogok belajar, malas-malasan, yang sebetulnya ini sudah menjadi pertanda bentuk kelelahnnya jiwa anak. Alih-alih menyadari tanda ini, orang tua justru merasa anak butuh keseimbangan aktivitas lainnya. Ditambahkannya lagi kegiatan yang mungkin lebih menyenangkan dari sebelumnya. Nah, kalau sudah begini jatuhnya jadi ambisi orang tua bukan sih?

 

Seperti yang dibilang oleh Plato, “Dusta dalam Jiwa”. Jangan-jangan beginilah pendidikan terbaik yang diyakini oleh orang tua selama ini, sudah keliru dari awalnya. Orang tua tidak menyadari dampak dari terlalu banyak paparan yang diberikan untuk diri anak akan berpengaruh dalam karakter dan perilaku mereka. Padahal seharusnya, kedua hal ini terbangun dari dalam diri anak, bukan di luar dari dirinya.

 

Anak itu sebetulnya pembelajar mandiri. Dengan sendirinya anak mempunyai kemampuan mencerna makanannya sendiri kok, tanpa perlu bantuan pihak luar untuk mengunyahkan untuk mereka. Sama seperti tubuh yang butuh asupan terbaik, begitu juga budi yang butuh diberikan nutrisi. Jadi bukan kegiatan se-hompimpa alaeyum gambreng yang dibutuhkan oleh anak, melainkan jamuan nutrisi ide yang sebetulnya diperlukan anak dalam pendidikannya, yang dapat menyentuh jiwanya jika anak sudah meminatinya. Karena anak terlahir sebagai pribadi utuh itulah, maka sejak lahir ke dunia anak sebetulnya sudah memulai pendidikannya. Urusan orang tua ya tinggal menyediakan anak-anak sajian budi yang tercukupi kualitas dan kuantitasnya. Keduanya sama-sama penting, karena budi yang sudah tertanam di dalam diri anak itu harus selalu dibuat bekerja untuk mencerna makanannya sendiri agar fungsinya tidak menjadi gagal.

 

Pasti ujung-ujungnya selalu kembalinya ke laptop, eh ke buku. Kenapa sih harus buku? Ya menurut ngana, apakah materi belajar yang sudah dikunyahkan oleh orang lain mampu melekat lama dalam benak anak? Bukankah anak itu sudah terlahir sebagai pribadi utuh yang sanggup mencerna asupan dengan nutrisi baik? Jadi apalagi kalau bukan buku, yang ditulis dari pemikiran seseorang, yang menjadi jawabannya. Pikiran bertemu pikiran ini yang mampu memantik jiwa dan hasrat anak dalam belajar. Sehingga rasa kenyangnya pun jadi lebih paripurna.