Lievell: Narasi Buku
Showing posts with label Narasi Buku. Show all posts
Showing posts with label Narasi Buku. Show all posts

Sunday, February 6, 2022

11:12 AM

Ourselves - Diri Kita

Ourselves - Diri Kita

 Seberapa penting sih sebetulnya kita perlu mengenal diri kita sendiri?


Sepertinya gue agak sedikit telat belajar mengenal diri gue sendiri. Dulu, ketika sekolah, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran gue untuk kenalan dengan diri gue. Gue terlalu sibuk untuk tidak terlihat berbeda dengan teman-teman. Sebisa mungkin hidup gue sama dengan mereka. Parameter gue selalu bergantung dari kacamata teman. Sama sekali tidak ada di pikiran untuk melihat lebih jauh siapa diri gue sebenarnya. Begitupun masa kuliah. Meskipun sudah masuk usia dewasa, tapi gue tidak serta merta menjadi matang secara pikiran. Penampilan luar selalu menjadi pusat perhatian gue. Bagaimana gue terlihat menjadi satu hal yang penting banget gue pikirkan. Mengenal diri sendiri dalam bayangan gue saat itu sama halnya terlihat menarik secara fisik.

 

Sampai akhirnya gue punya Fritz. Mungkin ini adalah momen dimana gue mulai belajar untuk tidak lagi melihat penampilan fisik yang menjadi perhatian utama gue. Ada satu kesadaran diri ketika seorang bayi hadir dalam hidup gue dan Ali. Gue merasa harus menjadi versi terbaik dari diri gue demi anak ini. Gue harus bisa menjadi panutan yang bagus buatnya. Nah, di waktu inilah pelan-pelan gue mulai belajar untuk mengenal diri gue. Agak telat sih secara umur, tapi gue percaya tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Eaaa….😆

 

Perjalanan mengenal diri ini ternyata tidak mudah. Beberapa kali gue terbentur, terperosok, jumpalitan, guling-gulingan bahkan sampai koprol. Tapi lagi-lagi, gue percaya kita hadir di dunia ini sebetulnya punya tujuan. Bukan hanya dilahirkan, hidup, menikah, punya anak, lalu menua dan selesai. Dan proses mengenali siapa diri gue sebenarnya ini pun dimulai.

 

Tepatnya ketika gue memutuskan menjalankan Pendidikan Rumah alias homeschooling (HS) buat Fritz. Awalnya gue pikir ini akan jadi perjalanan mendidik anak saja. Bagaimana gue yang notabene seorang guru memilih untuk mengajar anaknya sendiri. That’s it. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi ternyata gue berpikir pendek, sodara-sodara. HS lebih dari itu. HS membawa gue jauh mengenal hidup gue lebih jauh lagi. HS menuntun gue menuju perjalanan spiritual kehidupan gue. Tsaaah, dalam banget ini obrolannya. 😜

 

Berawal dari mencoba mencari tahu dan berkenalan dengan para penggiat homeschool di tahun 2012. Bergerilya mencari informasi lewat teman-teman yang sudah lebih dulu menjalaninya. Berteman satu demi satu dengan mereka, mengenali kebiasaan mereka ber-HS, sampai akhirnya berkumpul bersama dalam satu komunitas kecil bernama Ibu Jari. Di sini gue banyak terbuka secara pikiran dan mata gue melihat kehidupan. Lewat mereka, gue pertama kali belajar mengenal diri gue sendiri dan apa yang gue mau dalam hidup gue. Melihat anak, suami serta arti keluarga dari sisi berbeda.

 

Perjalanan berlanjut di tahun 2015. Persimpangan jalan antara memilih tetap berHS atau mulai sekolah formal. Di sini gue banyak berdiskusi dengan Ali dan juga Fritz, dan akhirnya kami sepakat tetap memilih HS sebagai jalur perjalanan pendidikan buat Fritz. Berkegiatan lah kami di Komunitas Oase di tahun ini. Di sini kami bertemu dengan banyak teman yang baru, meskipun ada juga yang sudah kami kenal di tahun-tahun sebelumnya. Sungguh menyenangkan perjalanan HS bersama komunitas ini. Bukan hanya Fritz yang bertemu dengan teman-teman baru, tapi kami sebagai keluarga pun berkenalan dengan keluarga HS lainnya.


Tanpa disadari, pertemanan keluarga ini akhirnya mengerucut di akhir tahun 2016. Beberapa keluarga memilih untuk berkegiatan bersama di Kaplongan. Sehingga kami sepakat memilih nama DeKaplongan sebagai nama grup kecil kami ini. Dalam perjalanannya kami banyak berproses bersama dalam mengenal diri kami masing-masing. Seringkali kami meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang spiritual dalam kehidupan, tentu disamping belajar hal-hal lainnya yang masih terkait dengan HS. Menarik sekali sebetulnya mempelajari tentang hal spiritual ini, sehingga mengenal diri gue semakin jelas saja dari obrolan-obrolan yang sering kami lakukan di meja (makan) oval itu.

 

Apalagi dalam perjalanan mengenal diri ini gue banyak ngobrol bareng dengan Lia. Bukan Milea yang biasa dipanggil Lia sama Dilan ya. Lia, emaknya Mas Abi dan Nduk Anin, istrinya Bapak Aji Wijaya. Begitu banyak yang sering gue bahas bareng Lia, meskipun lebih banyak debatnya karena gak cocok pemikirannya sih. Tapi emang Lia itu sayang banget ya sama gue, sampai-sampai rela direcokin terus sama gue. I love you, Liaaaaa. 💗💗 Dan dari obrolan-obrolan yang sering kita lalui, gue semakin belajar lebih dalam lagi mengenal diri gue sendiri.

 

Jalan untuk mengenal diri pun semakin terbuka lebar. Awalnya mungkin hanya satu jalan utama, tapi semakin ke sini semakin banyak jalan-jalan yang dibukakan untuk mempelajari diri ini. 5 tahun terakhir ini gue memilih metode Charlotte Mason untuk pendidikan rumah Fritz. Dan lewat CM pula-lah gue semakin merasa proses mengenali diri menjadi lebih dalam lagi. Bukan lagi lewat bertanya dan curhat dengan teman, tapi lewat buku serta hasil dari diskusi dan refleksi dengan diri sendiri yang membuat gue semakin kenal siapa diri gue sebenarnya.

 

Kalau dari tadi gue terus bilang mengenal diri sendiri, lantas yang baca pasti bingung. Sebenarnya gue selama ini amnesia apa gimana sih sampai gak kenal sama diri gue sendiri? Padahal kan jelas ya mengenal diri sendiri itu mudah. Hmm. Coba deh jabarkan secara panjang lebar siapa diri kita, apa maunya dalam hidup kita, dan sudah berbuat apa saja dalam kehidupan ini? Percaya, itu tidak mudah. Ada hal-hal dimana yang selama ini mungkin kita tidak pernah tahu kedalaman pikiran, perasaan serta sifat dan sikap yang kita punya. Apalagi dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah ini perlu disadari, dicari serta digali untuk membuat hidup kita semakin berarti.

 

Gue pun semakin percaya, ketika kita mencari, semesta pun akan menyediakannya. Begitu seperti halnya ketika gue merasa perlu belajar untuk kenal dengan diri gue sendiri, paham siapa gue dan bagaimana memperlakukan diri gue, serta jujur dengan pribadi gue, Tuhan pun memberikan jalannya lewat orang-orang yang dikirimNya. Entah bagaimana caranya, mereka hadir untuk memberikan gue banyak pelajaran dalam hidup. 💕

Tuesday, January 25, 2022

2:53 PM

Ourselves - Panca Indera

Ourselves - Panca Indera


Kebetulan sedang membahas tentang panca indera, rasanya jadi tepat banget kalau di edisi tulisan kali ini gue berbagi cerita pengalaman pribadi aja. Tepat seminggu yang lalu, akhir minggu kedua di Januari, gue mengalami sakit di pencernaan yang cukup hebat. Ini bukan pertama kalinya gue menderita sakit seperti ini. Rasanya kalau diingat-ingat lagi sudah dari usia sekolah gue selalu bermasalah dengan pencernaan. Dan seperti orang bebal, gue kerap kali mengulang kesalahan yang serupa.


Kelemahan gue yang paling utama adalah tidak bisa melihat makanan enak. Masalah yang lainnya lagi adalah semua makanan selalu enak buat gue. Jadi bisa dibayangkan betapa lemahnya pengendalian diri gue ketika melihat ada makanan di depan mata. Apalagi kalau judulnya gratis! 😎😎 Jadi ingat jaman kuliah dulu. Gue punya prinsip, kalau ada makanan yang gratis kenapa harus beli. Geng kuliah gue hafal banget kebiasaan gue ini nih karena gue sering banget malak makanan mereka ataupun minta dijajanin sama mereka. Baiknya mereka punya teman kaya gue. #eh kebalik yak…

 

Kembali ke cerita sakit yang gue rasain (sukurin lo!) eh rasakan. Akhir minggu itu gue banyak mengkonsumsi gluten yang tanpa disadari memicu pencernaan gue. Mendadak perut gue sakit gak ketulungan di dini hari. Seperti ada demo besar-besaran di dalam perut. Sontak para pendemo itu minta keluar dari perut dalam rupa muntah dan diare. Dan di hari Senin pagi itu gue sudah 4x muntah ditambah 1x diare tanpa bentuk selain cairan kuning. Lemas tak berdaya rasanya dengan perut yang bergejolak kawula muda – macam Prambors FM ya. 😂 Ditambah dengan bunyi geluduk kecil-kecil di dalam perut, sama persis dengan cuaca di hari itu yang ditemani oleh geluduk dan hujan.

 


Iya, gue ini termasuk yang tidak kuat dengan gluten. Padahal gue cinta mati sama mie! Pernah ada pengalaman tepar tak berdaya juga karena mie. Satu waktu gue mengkonsumsi mie sekitar 4-5 kali dalam seminggu dan tentu setelah itu perut meronta-ronta kesakitan. Sama seperti rasa sakit yang terakhir gue derita. Segitu gagalnya gue menahan nafsu melihat mie. Tapi sejak itu gue agak kapok. Seperti dalam pertemanan yang kurang sehat, mie ini membawa pengaruh buruk dalam hidup gue. Jadi gue terapkan peraturan untuk mie ini. Kami tetap berteman, tapi perlu jaga jarak. Cukup makan mie seminggu sekali aja. Supaya hasrat makan mie tetap terpenuhi dalam porsi sewajarnya, tidak barbar seperti sebelumnya. Dan berhasil dong! Yaaaayy.

 

Permasalahan mie sudah bisa dikendalikan, meskipun harus melewati rasa sakit yang luar biasa dulu. Nah untuk sakit yang gue alami seminggu yang lalu sebetulnya hasil dari pengalaman yang serupa juga. Ternyata perut gue bukan hanya bermasalah dengan mie, tapi beberapa gluten mulai bereaksi yang sama ketika dikonsumsi berdekatan waktunya. Sehingga pengalaman sakit kemarin mengajak gue untuk belajar lagi untuk lebih mengendalikan mulut.

 

Begitulah ketika mulut sudah menjadi tuan untuk diri kita. Dan sejujurnya gue pun gak bisa menjanjikan gue tidak lagi jatuh ke dalam lubang yang sama, karena perkara makanan ini memang momok besar banget buat diri gue. Tapi setidaknya dengan prinsip CM untuk tetap berada di tengah-tengah penting banget gue terapkan dalam urusan perglutenan dan pencernaan ini. Supaya tidak ada lagi kasus-kasus demo besar di dalam perut hamba...😂😂

 


Sunday, December 26, 2021

9:49 AM

Ourselves - Kesucian

Ourselves - Kesucian

 

Ada yang bilang, mendidik anak di zaman ini jauh lebih sulit ketimbang orang tua kita dulu. Ada pula yang berujar, zaman dulu orang tua hanya khawatir menjaga anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya. Kenapa begitu coba? Ya karena zaman disinyalir sudah berganti arahnya. Semakin banyak anak laki-laki yang tidak lagi menyukai lawan jenis, melainkan sesama jenis sekarang ini. Sehingga membuat orang tua lebih khawatir menjaga anak laki-lakinya ketimbang anak perempuan. Apakah benar bahwa tantangan di setiap zaman itu selalu berbeda?


Sepertinya apa pun zamannya, enak zamanku toh. #eh 😂😂


Jadi ingat slogan itu ya. Tapi apa pula itu eranya, setiap orang tua pasti selalu mempunyai tantangannnya tersendiri ya dalam mendidik anaknya. Andil orang tua cukup besar memang dalam mendampingi anak bertumbuh. Tentu ini sudah menjadi tugas seumur hidup ketika orang tua sudah memutuskan memiliki anak dalam kehidupan berkeluarganya. Bukan tugas mudah memang, karena memang banyak sekali orang tua yang pelan-pelan mundur dari jabatannya ini.


Entah ini karena orang tua terlampau sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga minim komunikasi yang terjadi diantara anak dan orang tua. Ataupun orang tua yang kurang hangat terhadap anak, sehingga anak hanya menerima didikan satu arah. Perintah orang tua seperti mandat yang tidak dapat diganggu gugat keputusannya. Sehingga anak hanya pasif menerima tanpa dapat mengemukakan pendapatnya. Karena hal-hal seperti ini, akhirnya anak tumbuh dengan mencari informasi sendiri yang mereka dapat dari pihak luar. Dan tidak sedikit anak yang salah tafsir atas informasi yang didapat itu.


Seiring bertambahnya umur, tentu semakin banyak hal yang mulai menjadi pertanyaan di dirinya. Menemaninya bertumbuh menjadi kunci jawabannya. Bukan lagi perintah satu arah yang dibutuhnya, melainkan orang tua yang siap menjadi tempat diskusinya. Orang tua yang luwes dalam bertukar pikiran. Serta orang tua yang siap meluangkan waktu untuk sekedar mendengar curhatannya.


Pernah satu waktu si Boy terlihat galau. Begitu kutanya ada apa, dia pun bercerita tentang apa yang dirasa. Ternyata eh ternyata, anak ini sedang mengalami perasaan suka terhadap lawan jenisnya. Menurut pengakuannya, dia sempat resah maju mundur untuk cerita, karena ada rasa takut dimarahi. Lucunya, rasa galau ini terjadi menjelang tidur malam setelah dia menyatakan perasaannya itu. Pantes aja dia bangun pagi-pagi dan terlihat gelagatnya aneh, duduk kok nempelin emaknya terus kaya perangko. Ternyata ada yang galau semalaman, dan galau gak bisa tidur malam itu gak enak ye, Boy. 😁😁


Begitu ekspresi yang kuberikan kepadanya biasa saja, bahwa aku terima apa perasaannya, apa yang dia ungkapkan terhadap temannya, anak ini pun langsung dengan gamblang bercerita. Ceritanya pun mendetil sekali. Ada perasaan senang ketika dia mampu mempercayakan cerita tentang perasaannya kepada orang tuanya. Iya, bapaknya juga duduk mendengar saat itu, dan kami tidak memberikan ekspresi apa pun selain mendengar ceritanya. Tentu emaknya sambil senyum-senyum dong. Hihihi…


Beda dengan reaksi yang aku dapat waktu bercerita dengan orang tuaku dulu ketika aku mempunyai perasaan terhadap seorang laki-laki. Penghakiman dalam rupa omelan, dampratan, cemooh sampai tidak luput dari hukuman pukul, sabetan kemoceng sampai tamparan pernah kuterima karena ini. Sungguh bukan hal yang enak yang aku rasakan di saat itu, tapi tidak ada jalan lain menurutku. Sehingga membuatku merasa harus menutup rapat-rapat rahasia perasaanku dan apa saja yang aku lakukan dengannya.


Pernah satu saat di waktu usia SMP, aku mau pergi ke mall bersama pacar monyetku itu, aku harus diam-diam bilang mau belajar bersama, dengan tas berisi pakaian bagus. Yang entah bagaiamana nenekku yang menjagaku saat itu tahu rencanaku. Sontak tasku diambil dan dikeluarkan isinya, mana sebelumnya aku sempat dilempari mainan pistol-pistolan besi milik adikku. Wah, kalau saja saat dilempari itu aku tidak jago berkelit, kelar dah kaki gue. Bonyok! Jangan sedih, ceritanya tidak berhenti di situ. Sepulang Mami dari kantor, nenekku itu cerita ulah bandelku. Bukan lagi omelan yang didapat, melainkan tamparan tanpa ampun dari Mamiku. Sejak itu, tidak ada lagi cerita yang aku bisa ceritakan ke orang tuaku.


Bisa dibayangkan dampak dari anak yang tumbuh dengan ketakutan untuk bercerita terhadap orang tuanya. Tidak merasa dipercaya oleh orang tua itu sungguh tidak enak. Harus kucing-kucingan, terus berbohong dari satu hal ke hal lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya, benar-benar tidak enak. Apalagi kalau akhirnya ketahuan dan sudah dapat ditebak apa yang diterima anak di hari penghakiman itu. Kalau sudah begini, jelas kemana arah tujuan anak ini bertumbuh kan ya. Sehingga pemahaman menjaga kesucian bukan lagi karena anak paham, melainkan sebagai bentuk pemberontakan anak terhadap orang tua.


Friday, December 24, 2021

4:05 PM

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

 

Children are born person.

 

Menjadi butir pertama yang diusung oleh ibu Charlotte Mason di dalam pemikirannya. Dijelaskan olehnya bahwa sesungguhnya anak terlahir sebagai pribadi yang utuh. Artinya, mereka bukanlah lembaran kertas putih kosong yang butuh ditulisi dengan tinta hitam ataupun dihias dengan crayon warna warni oleh orang tuanya. Tapi mereka sudah terlahir dengan budi yang terinstall sempurna di dalam dirinya.

 

Lihat saja seorang anak kecil ketika melihat kebiasan orang tuanya. Tanpa diajari anak kecil itu mempelajari apa yang sering dilakukan oleh orang tuanya ini, yang lambat laun akan ditiru olehnya. Contohnya ketika anak sering melihat orang tuanya tenggelam dalam pemakaian gadget. Tanpa perlu dibekali pengajaran bagaimana menjalankan perangkat canggih itu, dengan sering melihatnya saja dia mampu mengoperasikannya dan ujung-ujungnya ikut kecanduan seperti orang tuanya. Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan lain, seperti mengupil di tempat umum, coba? Apa gak kurang gampang untuk dicontoh oleh anak-anak? 😅

 

Dengan pemikiran bahwa anak adalah lembaran kosong ini, orang tua melihat kecenderungan anak perlu dibekali dengan banyak stimuli sebagai amunisi untuk masa depannya. Merasa kurang sibuk, terlalu santai hidup sang anak, mulailah mereka diikutkan dengan banyak kegiatan ini itu. Dengan asumsi, semakin banyak kegiatan yang diberikan anak usia dini, anak akan menjadi cepat pintar. Apalagi belakangan ini semakin banyak aktivitas yang dikemas secara menarik. Dibuat seasyik mungkin supaya anak tertarik mengikutnya. Digeretlah anak kesana kemari untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tanpa menilik lagi, apakah anaknya suka atau tidak. Jadilah banyak orang tua yang judulnya merasa sayang. Mumpung masih kecil dan anaknya mau dijejali dengan banyak hal, kenapa tidak? Kalau sudah besar mungkin beda lagi ceritanya, ya kan. -- Eh, eh, jangan sedih, gue sendiri juga pernah di masa-masa tidak pernah mau ketinggalan kegiatan ini itu kok, Jengsis… 😋😋

 

Satu waktu, pasti ada kalanya anak akan sampai di satu titik kejenuhan dengan semua agenda yang dibuat oleh orang tua. Mereka mulai mogok belajar, malas-malasan, yang sebetulnya ini sudah menjadi pertanda bentuk kelelahnnya jiwa anak. Alih-alih menyadari tanda ini, orang tua justru merasa anak butuh keseimbangan aktivitas lainnya. Ditambahkannya lagi kegiatan yang mungkin lebih menyenangkan dari sebelumnya. Nah, kalau sudah begini jatuhnya jadi ambisi orang tua bukan sih?

 

Seperti yang dibilang oleh Plato, “Dusta dalam Jiwa”. Jangan-jangan beginilah pendidikan terbaik yang diyakini oleh orang tua selama ini, sudah keliru dari awalnya. Orang tua tidak menyadari dampak dari terlalu banyak paparan yang diberikan untuk diri anak akan berpengaruh dalam karakter dan perilaku mereka. Padahal seharusnya, kedua hal ini terbangun dari dalam diri anak, bukan di luar dari dirinya.

 

Anak itu sebetulnya pembelajar mandiri. Dengan sendirinya anak mempunyai kemampuan mencerna makanannya sendiri kok, tanpa perlu bantuan pihak luar untuk mengunyahkan untuk mereka. Sama seperti tubuh yang butuh asupan terbaik, begitu juga budi yang butuh diberikan nutrisi. Jadi bukan kegiatan se-hompimpa alaeyum gambreng yang dibutuhkan oleh anak, melainkan jamuan nutrisi ide yang sebetulnya diperlukan anak dalam pendidikannya, yang dapat menyentuh jiwanya jika anak sudah meminatinya. Karena anak terlahir sebagai pribadi utuh itulah, maka sejak lahir ke dunia anak sebetulnya sudah memulai pendidikannya. Urusan orang tua ya tinggal menyediakan anak-anak sajian budi yang tercukupi kualitas dan kuantitasnya. Keduanya sama-sama penting, karena budi yang sudah tertanam di dalam diri anak itu harus selalu dibuat bekerja untuk mencerna makanannya sendiri agar fungsinya tidak menjadi gagal.

 

Pasti ujung-ujungnya selalu kembalinya ke laptop, eh ke buku. Kenapa sih harus buku? Ya menurut ngana, apakah materi belajar yang sudah dikunyahkan oleh orang lain mampu melekat lama dalam benak anak? Bukankah anak itu sudah terlahir sebagai pribadi utuh yang sanggup mencerna asupan dengan nutrisi baik? Jadi apalagi kalau bukan buku, yang ditulis dari pemikiran seseorang, yang menjadi jawabannya. Pikiran bertemu pikiran ini yang mampu memantik jiwa dan hasrat anak dalam belajar. Sehingga rasa kenyangnya pun jadi lebih paripurna. 

Wednesday, December 15, 2021

9:49 PM

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat


Bergerak itu naluri alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Lihat saja anak kecil yang suka bergerak ke sana kemari, yang kadang membuat orang tuanya menggelengkan kepala dan berujar, “Tidak ada habis-habisnya tenaga anak ini.” Justru begitulah yang sebaiknya terjadi pada anak-anak. Mereka harus dan perlu untuk bergerak. Energi yang terus ada stoknya setiap harinya perlu untuk dikeluarkan. Dan akan lebih banyak hal yang bermanfaat lagi jika anak-anak ini mengeluarkan energinya dengan diajak bergerak ke alam bebas.

 

Namun sayangnya, semakin bertambahnya umur dan menjadi manusia dewasa, bergerak ini tidak lagi menjadi kewajiban yang perlu dilakukan. Slogan “mager” ataupun “kaum rebahan” menjadi sering digaungkan seakan itu sesuatu yang memang benar untuk dijalankan. Padahal sebetulnya, ada kegelisahan dalam diri jika tubuh tidak digerakkan. Tubuh akan merasa tidak nyaman karena ada energi yang tidak keluar dari dalam tubuh. Aliran darah pun tidak mengalirkan oksigen dengan baik. Dan kebiasaan ini jika terus dijalankan, tentu saja akan mendatangkan malapetaka di kemudian hari.

 

Selain tubuh yang tidak nyaman, pikiran pun terganggu. Apalagi jika bukan karena ada oksigen yang mampet mengalir ke otak. Sehingga membuat pikiran ikutan mogok untuk diajak berpikir. Jika sudah begini, jangankan diajak untuk bergerak, diajak mikir berat pun ogah. Kegelisahan dalam diri pun akan menjadi-jadi, ya itu, karena ada kebutuhan bergerak yang kurang dilakukan.

 

Ada yang kurang aktif bergerak, namun ada juga yang senang sekali menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dalam kesehariannya. Bahkan terlalu aktif, sampai-sampai tidak ada waktu untuk menghela nafas saking sibuknya. Seperti yang terjadi dengan anak-anak yang sering kebablasan dalam bermain, sehingga ingin bermain terus-terusan. Lupa waktu. Selain itu banyak juga orang tua yang gatal melihat anaknya seakan tidak ada kegiatan yang dikerjakan. Anaknya diikutkan berbagai aktivitas ini dan itu, yang lantas lupa menilik kembali sebenarnya apa tujuan utama dalam beraktivitas itu? Jangan heran saat ini banyak sekali anak-anak yang tumbuh tanpa inisiatif mencari kegiatan untuk menyibukkan dirinya sendiri. Dan semakin banyak juga anak-anak, maupun orang dewasa, yang tidak tahan dengan satu kegiatan untuk jangka waktu yang lama.

 

Apakah ini juga menjadi masalah? Tentu ini bisa mendatangkan masalah tersendiri jika menjadi aktif sudah merugikan diri sendiri. Apalagi ketika menjalankan banyak kegiatan ini itu kebablasan hanya untuk memuaskan ambisi semata. Belum lagi jika ada terselip niat untuk menyombongkan diri karena ingin dianggap hebat dan merasa butuh dipuji. Ini sudah menjadi tanda-tanda kegelisahan aktif bergerak yang sudah mendadak ngelunjak menjadi tuan bagi diri kita.

 

Setelah hari-hari yang melelahkan, tubuh pasti memberikan sinyal agar ia diberikan waktu untuk istirahat. Diam dan rehat menjadi pilihan yang bijaksana dalam menanggapinya. Jangan juga menjadi merasa bersalah karena membiarkan tubuh beristirahat. Berikan waktu lah meski sejenak. Namun di samping itu, jangan juga menjadikan istirahat ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Lalu membiarkan nalar untuk merasionalisasikan segala macam alasan. Nalar kan suka begitu, seringnya mengajak pikiran untuk tawar menawar agar dibenarkan.

 

Ah, susahnya hidup ya. Terlalu aktif, terasa salah. Menjadi malas pun juga salah. Lantas, apa sih sebetulnya yang perlu dilakukan?

 

Kenali diri sendiri menjadi kunci jawabannya. Peka akan kebutuhan tubuh. Jika memang dirasa tubuh sudah terlalu aktif, boleh lah untuk membiarkannya beristirahat. Tentu ketika rehat pun tidak ada rasa menyesal karena memberikan tubuh kesenangan sementara. Tetapi perlu diingat juga, energi di dalam tubuh itu stoknya selalu baru setiap hari dan butuh untuk dibakar, dengan cara digerakkan. Bukan terbuai dengan kemalasan sebagai kaum rebahan tadi.

 

Selain itu, diperlukan juga refleksi diri. Terus menerus bertanya kepada diri sendiri, apakah ini yang kubutuhkan? Apakah hari ini aku sudah cukup bergerak? Apakah hari ini terlalu aktif? Apakah kegiatan ini untuk diriku? Apa yang dicari dari ini? Untuk kepuasaan diriku? Untuk dianggap hebat? Ingin dipuji? Dan berbagai pertanyaan yang hanya mampu dijawab jujur oleh diri sendiri.