Lievell: Drama Korea
Showing posts with label Drama Korea. Show all posts
Showing posts with label Drama Korea. Show all posts

Sunday, September 27, 2020

4:36 PM

Tua itu Pasti

Tua itu Pasti


Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang gandrung juga dengan Drama Korea (drakor) menyodorkan satu judul yang menurutnya bagus dan dijamin gue pasti suka. Awalnya gue kurang tertarik dengan anjuran si kawan ini yang mengajukan “Dear My Friends” sebagai drakor yang wajib gue tonton. Sampai akhirnya di obrolan kami yang kesekian kalinya, dia menanyakan , “Lo dah nonton blom drakor yang gue bilang waktu itu?!” Jreeeeng!

 

Sebetulnya apa sih yang menarik dari kawanan nenek-nenek yang sudah berteman sejak usia sekolah ini sampai jadi drakor yang menurut si kawan ini wajib gue tonton? Akhirnya gue pun penasaran dan gue sempatkan waktu beberapa hari lalu untuk menontonnya.

 

Drakor satu ini berkisah tentang 5 nenek yang sudah bersahabat sejak usia sekolah. Mereka adalah Hee Ja, Joong A, Nan Hee, Young Won dan Choong Nam yang berumur kisaran 70 tahunan. Ini adalah kisah mereka berlima yang berjalan mengarungi waktu yang sudah tidak muda lagi dengan segala permasalahan hidupnya dan berharap kisah mereka ini dituliskan dalam satu buku oleh anaknya Nan Hee yang bernama Park Wan. Dia memang seorang penulis dan ibunya kepingin sekali kisah hidup teman-temannya ini bisa jadi memori untuk mereka sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Tentunya tidak mudah untuk si ibu membujuk anaknya yang merasa akan bosan sekali harus mengintil kemana para nenek ini berkegiatan. Lucunya, tanpa ia sadari ia sudah masuk ke dalam permasalahan hidup mereka dan selalu terkait dalam setiap kisahnya mereka.

 

Cerita di dalam drakor ini memang berkisah tentang persahabatan mereka berlima, tapi porsi lebih banyak berkisah tentang kehidupan Nan Hee dan keluarga, Joong A dan keluarga serta Hee Ja dan keluarga. Sisanya diikut sertakan tapi tidak begitu banyak porsinya. Seperti Young Won yang adalah seorang aktris yang mengidap kanker payudara stadium awal. Ia adalah teman yang baik yang selalu menolong kawan-kawannya ketika mereka membutuhkannya, meskipun di awal ia diceritakan mengetahui hubungan gelap antara suami Nan Hee dengan temannya tapi tidak memberitahukan Nan Hee sebagai sahabatnya. Mereka bermusuhan lama tetapi akhirnya hubungan mereka membaik di cerita ini.

 

Peran pembantu lainnya, Choong Nam adalah nenek yang hidupnya melajang sampai tua dan sibuk menghidupi saudara, keponakan dan cucu yang membutuhkan uangnya. Ia ceritanya seorang yang kaya dan periang, suka sekali melucu nenek ini dengan suara yang serak-serak basah. “Di antara kalian yang paling menderita sakit itu aku. Tahu kenapa? Karena aku yang paling diberikan kesehatan yang baik dan umur yang panjang.”  Lucunya lagi, si nenek satu ini masih sekolah dong. Dia belum lulus SMA dan hobinya nyontek PR temennya karena ia terlalu sibuk mengurusi teman-teman tuanya. Ampun deh, kocak banget!

 

Nan Hee adalah seorang ibu tunggal yang diselingkuhi oleh suaminya 30 tahun lalu. Sejak itu ia tidak pernah menikah lagi dan memilih hidup berdua dengan anaknya, Park Wan, dari hasil usaha restoran kecil-kecilannya. Nan Hee juga masih memiliki keluarga lengkap. Ada ibu yang sudah berumur hampir 90 tahun dan seorang ayah yang usianya tentu gak berbeda jauh dari Ibu. Ini lucu deh, si Ayah ini di usia tuanya selalu mengintil kemana ibunya berjalan, berbalik dengan ketika mereka masih muda dimana si Ibu yang dulunya selalu mengikuti Ayah kemanapun karena si Ayah hobi selingkuh. Justru di usia tuanya, si Ayah jadi sibuk mengikuti kemanapun Ibu berjalan, matanya pun tidak pernah lepas dari si Ibu sambil terus membawa tabung oksigen yang terhubung dengan hidungnya dan juga gantungan huruf-huruf Hangul untuk dipelajari si Ayah. Ayahnya dikisahkan tidak bisa membaca sampai usia senja itu tapi masih punya semangat untuk belajar.  Jadi suka ada adegan kocak-kocak berantem standar ala kakek nenek gitu.

 

Nan Hee juga memiliki seorang adik yang umurnya jauh sekali dengannya, malah bisa dibilang hampir seumur anaknya yang sudah memasuki umur 40 tahun. Adiknya ini memiliki satu kaki yang lumpuh dan harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Nan Hee ini merasa memiliki tanggung jawab berat, ia merasa harus menghidupi keluarganya. Padahal sebetulnya keluarga mereka mempunyai lahan perkebunan yang luas. Eh iya, yang bikin tercengang, si Ibu yang berusia 90 tahunan itu kalau mau berpergian kemana-mana naik ATV dong. Keren banget yak!! :D

 

Hubungan Nan Hee dan anaknya, Park Wan, sering banget berantem sebetulnya. Mereka hidup terpisah dan saling mengunjungi satu sama lainnya. Biasanya sih lebih banyak Nan Hee yang suka mengunjungi anaknya sambil membawakan stok-stok makanan untuk anaknya. Si Ibu yang sudah tahu kode password nomor pintu si anak suka main seenaknya aja datang tanpa berkabar dulu ke Park Wan. Sedangkan Park Wan merasa bĂȘte karena merasa tidak memiliki privasi, apalagi ia takut ketahuan ibunya kalau ia merokok. Ia takut ibunya melihat bungkus-bungkus rokok di tong sampah rumahnya. Beberapa kali ia harus mengganti kode password rumahnya dan ini malah bikin si Ibu jadi bĂȘte juga, ujung-ujungnya berantem. Ya gitu deh ya hubungan ibu dan anak perempuannya. Kalau dekat bau ,menjauh justru wangi. Ketika sudah cukup lama menjauh, begitu ketemu justru berantem. Adegan-adegan berantem ibu dan anak ini agak mirip-mirip dengan kisah gue juga dengan nyokap. Hahahah.

 

Park Wan sendiri adalah seorang penulis yang bekerja di kantor milik mantan pacar pertamanya yang masih cinta sama Park Wan tapi si cowok itu sebetulnya sudah berkeluarga. Ada sempat salah paham si Ibu karena merasa anaknya ini sudah merusak rumah tangga orang. Wah habis deh Park Wan digebukin ibunya. Ibunya tidak mau kalau anaknya berakhir menjadi pelakor seperti yang terjadi dengan kisah hidup ibunya yang diselingkuhi. Paham banget ini rasanya jadi si ibu.

 

Park Wan memiliki seorang mantan pacar yang gantengnya amit-amit, duh, gue demen banget sama (satu-satunya yang ganteng dan muda di sini) cowo ini. Sayangnya si mantan pacar ini, Yeon Ha, lumpuh kedua kakinya dan terpaksa harus memakai kursi roda. Yeon Ha tinggal di Slovenia, tempat mereka pernah menjalin kasih dan terpaksa Park Wan meninggalkan Yeon Ha karena lumpuh. Ini agak egois ya dilihatnya. Kenapa Park Wan dengan tega meninggalkan Yeon Ha setelah lumpuh?

 

Ajaran Ibu itu begitu kuat dan mengakar hebat di benak anak ya. Nan Hee selalu bilang ke Park Wan untuk tidak menikah dengan seorang pria lumpuh seperti pamannya Park Wan karena menyusahkan. Jadi begitu Yeon Ha lumpuh, tanpa pikir panjang Park Wan pun meninggalkan Yeon Ha dan kembali ke Korea. Hubungan cinta ini jadinya ribet sendiri. Mereka berdua masih saling sayang, tapi karena ajaran ibu untuk tidak menikahi seorang pria lumpuh terus terngiang-ngiang di Park Wan alhasil membuat mereka berdua jadi (kadang)saling menyiksa satu sama lain dengan kata-kata. Nyesek sih ini!

 

Karakter nenek kedua adalah Hee Ja. Ia adalah nenek yang melankolis dan memiliki tanda-tanda demensia di awal cerita. Suaminya meninggal di dalam lemari baju dalam keadaan tertidur, rumornyaa karena pintunya ditahan dengan sendok oleh Hee Ja sehingga suaminya tidak bisa keluar dari lemari baju dan mati lemas kurang oksigen. Jadilah ia hidup menjanda dan tidak ada anaknya yang mau menampungnya. Ia pun hidup sendirian di rumahnya yang cukup besar. Hanya satu anaknya yang mau mengurusnya, Bong Yi, tapi ini pun tidak tinggal serumah dengan Hee Ja.

 

Ada satu waktu ketika Hee Ja mau mengganti lampu bohlam yang mati. Pelan-pelan ia naik ke atas kursi, membuka lampu bohlam yang mati lalu turun dari kursi. Ia mengambil lampu bohlam yang baru dan pasang sarung tangan supaya tidak kesetrum waktu memasang bohlam yang baru. Waktu nonton ini gue tahan nafas takut terjadi sesuatu dalam adegannya, dan ternyata doski berhasil menggantinya sampai kembali turun ke lantai dong. Eh, pas jalan mundur sedikit tiba-tiba kakinya terkilir dan tanpa disangka lampu bohlam yang ia pasang juga pecah. Haiya, bisaan aja ini adegannya dibikin kaget pemirsah.

 

Karena tangan dan kakinya berdarah, Hee Ja mencoba menelpon anaknya, Bong Yi, untuk datang ke rumah membantunya. Bong Yi marah karena ia lagi sibuk di bengkel dan dari semalam belum tidur, ia pun minta ibunya menelpon ambulans saja. Mungkin karena ada rasa iba atau sayang dengan ibunya, meski dia menolak di awal tapi tiba-tiba dia sudah datang ke rumah ibunya dan menolong ibunya yang tidak berdaya di lantai dengan darah dimana-mana. Setelah beres, Bong Yi tidur di lantai dan disusul oleh ibunya yang ikut tiduran di lantai sambil dipeluk Bong Yi. Bong Yi pun bilang, “Dulu sewaktu aku kecil, Ibu suka memelukku sampai aku tertidur di sini.” Whoaaaah, gue mewek dong. (pas nulis ini pun mata gue ngembeng :P)

 

Dalam kisahnya ini, ada seorang kakek yang merupakan cinta pertamanya Hee Ja yang kembali hadir. Ia seorang pengacara dan masih segar bugar banget karena hidupnya sehat. Si Kakek ini, Seong Jae, suka mengikuti Hee Ja kemana-mana. Awalnya dari gereja, setiap Hee Ja ke gereja pasti ada si Kakek ini. Lalu lama-lama mulai PDKT lagi sampai sempet ngajakin jalan-jalan pakai strategi nginep dan kamarnya hanya bisa satu yang ditempati. Bisaan banget emang nih kakek.  Lucunya si Kakek ini dicerita sini adalah playboy. Ampun dijeeee, udah tuwir tapi masih suka tebar pesona ke dua nenek, Hee Ja dan Choong Nam. Ini banyak adegan lucu juga di percintaan segitiga mereka. Bikin ngakak. Yang lucunya tentunya si nenek Choong Nam dengan suara serak-serak basahnya dan ekspresi muka yang datar aja.

 

Berpindah ke karakter nenek ketiga di cerita ini, Joong A. Nenek satu ini menikah dengan seorang suami yang ampun pelitnya gak ketulungan. Nonton TV dengan lampu menyala aja diomelin karena dianggap pemborosan. Belum lagi suaminya ini, Seok Gyun, hobinya menyuruh-nyuruh layaknya bos dengan bawahannya dan semua serba dilayani. Sampai satu ketika Joong A gak tahan lagi dan milih bercerai dengan suaminya. Cerai tanpa surat, alias kabur aja gitu dan tinggal di satu rumah kecil. Suaminya  tadinya merasa masih di atas angin, masih berpikir kalau istrinya tidak akan mungkin meninggalkan dia sendirian. Suaminya masih suka marah-marah dan menelpon istrinya untuk pulang ataupun minta anak dan teman-teman Joong A datang untuk masak dan beberes rumah. Teman-temannya mau ya bantuin, kalau gue sih ogah! Hahaha.

 

Akhirnya, si kakek ini tersadar akan sikapnya. Dia pelan-pelan belajar untuk masak nasi, masak untuk dirinya, cuci piring sampai cuci baju sendiri. Di kulkasnya ada kertas yang tulisannya “Menjadi Suami yang Baik”, yang sengaja diletakkan di situ oleh Choong Nam. Nenek satu ini idola gue banget deh. :D Akhirnya si kakek sifatnya dan sikapnya berubah, jadi lebih mandiri dan jadi lebih perhatian ke istrinya seperti kertas yang ditempel itu, meskipun kadang masih ada juga kelakuan ajaibnya. Ya namanya udah menua, tentu gak segampang membalikkan telapak tangan ya untuk berubah.

 

Kisah dari Joong A lainnya adalah ketika ia mengetahui anaknya yang pertama menjadi korban KDRT suaminya yang merupakan seorang profesor di universitas terkenal. Joong A merasa nyesek melihat anaknya yang mukanya biru-biru akibat digebukin dan tangan yang diperban karena patah. Padahal bisa dibilang Joong A ini rutin mengunjungi rumah anaknya dan selalu melihat si anak ini tidur di kasur sambil membelakangi Joong A, sampai-sampai Joong A sebel dan bilang dia anak pemalas karena keenakan sebagai istri hanya tiduran terus. Padahal, si anak lagi menutupi muka dan badannya yang lebam-lebam karena kelakukan suaminya. Ia takut dengan ancaman suaminya kalau sampai ibunya tahu.

 

Gue sedih banget dengan adegan ini. Gue seperti larut dengan perasaan ibu yang akhirnya tahu kalau anaknya digebukin orang sampai patah tulang. Menyayat hati banget. Syukurnya si anak ini tidak menaruh dendam dengan ibunya, Joong A, yang kadang suka kasar secara verbal mengomeli si anak yang dianggap manja ataupun tidak mengangkat telepon ketika si anak minta bantuan ibunya. Huhuhu. Untungnya si anak tersadar untuk kabur dari rumahnya dan pergi jauh sampai ke Amerika untuk kehidupan lebih baik.

 

Diantara kelima kawan ini, Joong A dan Hee Ja adalah kawan paling akrab. Mereka saling sayang satu sama lain dan saling support. Pernah di satu episode, karena Joong A sebel dengan suaminya, ia kabur tengah malam dengan Hee Ja dengan mengendarai mobil suaminya. Dua nenek ini berpergian bersama mengunjungi Ibu dari Joong A yang sudah berada di panti jompo yang jauh dari perkotaan. Dalam perjalanan tanpa disangka, Joong A menabrak seseorang. Hee Ja yang berada di kursi penumpang ikut merasa bersalah karena ia mengatakan rem berada di sebelah kanan sehingga mobil bukannya berhenti malah melaju lebih cepat. Keduanya ketakutan dan meminta Park Wan (salah satunya adegan ini yang ia turut dibawa-bawa oleh dua nenek ini untuk menolong mereka) untuk menjemput mereka karena Joong A merasa tidak mampu menyetir pulang. Dua nenek ini ketakutan setengah mati berhari-hari. Lalu ada satu momen dimana mereka akhirnya tersadar bahwa mereka harus menyerahkan diri ke polisi untuk perbuatan mereka. Ya ampun, di sini gue melihat betapa sahabat tuh bisa sampai segitunya saling sayang dan saling bergandengan tangan untuk mengakui perbuatan mereka. Syukurnya bukan orang yang mereka tabrak malam itu, melainkan rusa yang tiba-tiba lewat. Ini aja udah bikin polisi shock begitu dua nenek ini ngaku nabrak orang. Hihihi.

 

Tentu adegan puncaknya lebih banyak mengoyak hati dan air mata. Hee Ja diceritakan mengalami demensia akut. Ia mendadak hilang setelah ia pulang dari gereja. Sebelumnya ia sering keluar pagi-pagi buta, sekitar jam 2 pagi, untuk berjalan ke gereja dan berdoa di sana sambil menangis, lalu pulang ke rumah dan tidur. Begitu pagi, ia sama sekali tidak tersadar apa yang dia lakukan setiap pagi-pagi buta itu. Dan ketika demensianya semakin parah, ia sudah berjalan jauh menuju rumah pertama dengan suaminya yang terletak di satu desa yang  jauh. Ia berjalan berhari-hari tanpa makan, tanpa alas kaki dan dengan bantal di belakang seperti sedang menggendong anak. Ternyata diingatannya saat itu, ia sedang membawa anak sulungnya yang sudah meninggal akibat sakit parah.

 

Semua sahabatnya mencarinya, bahkan si pengacara pun meminta kenalan polisi yang bisa membantunya lewat CCTV di jalan. Sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Hee Ja yang berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju rumah pertamanya dengan sang suaminya dulu. Begitu ditemukan, reaksinya adalah marah dengan Joong A karena tidak mau membantunya ke rumah sakit sampai anaknya meninggal di gendongan Hee Ja. Sampai-sampai Hee Ja menolak melihat wajah Joong A berhari-hari, tapi Joong A dengan sabarnya menunggu sampai akhirnya Hee Ja tersadar sendiri alias kembali ke pikiran sadarnya saat ini dan malu dengan perbuatannya. Tetap dong dimaafkan oleh Joong A, si sahabat karibnya. Waah, ini syedih gak ketulungan nontonnya.

 

Di tempat yang berbeda, Nan Hee yang sebetulnya mau mengantar ibunya berobat ke rumah sakit justru mendapati kalau ia sudah sampai di stadium akhir kanker hati. Park Wan yang akhirnya mengetahui hal ini langsung menemani hari-hari ibunya. Meskipun kadang ibu anak ini bertengkar, tetap saja ikatan batin itu kuat ya. Rasa sayang diantaranya pun tidak akan bisa bohong, meskipun Park Wan dan Nan Hee bukan orang yang terbuka satu sama lainnya. Jelas terlihat dari gesture, mereka saling menyayangi. Ibunya tentu takut setengah mati, begitupun dengan Park Wan. Ah, ini pun udah sampai mewek berkali-kali yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari si Boy. :D

 

Sungguh drakor yang menurut gue layak untuk ditonton dan dijadikan refleksi hidup. Saat ini gue berterima kasih sekali dengan kawan gue yang satu itu yang memaksa gue untuk menonton ini. Susah untuk disebutkan satu-satu moral apa yang terkandung di dalam tontonan ini, pastinya semua realita kehidupan jelas digambarkan dalam drakor satu ini. Tua itu pasti, tinggal bagaimana kita berbaik hati menerima kenyataan hidup yang akan disajikan oleh Tuhan Maha Pengasih untuk kita di masa tua nanti.


Monday, July 27, 2020

10:01 PM

Reply 1988, Nostalgia Masa Kecil

Reply 1988, Nostalgia Masa Kecil

Sekelar menonton drama Korea berjudul Reply 1988 mendadak banyak perasaan campur aduk bergelut di hati. Drama yang berbalut komedi dengan alur tema keluarga dan persahabatan di era 80an akhir ini mampu sekali membuat gue terbawa perasaan yang mendalam dan yang paling dirasa adalah rasa kangen dengan kehidupan masa kecil gue. Benar-benar sukses membangkitkan nostalgia.

 

Alkisah cerita ini berawal dari 5 anak kecil yang tinggal bertetangga satu dengan yang lainnya dalam satu gang yang bernama Ssangmundong. Dikarenakan mereka sering bermain bersama, otomatis persahabatan pun terjalin diantara mereka berlima. Mulai dari kecil sampai akhirnya perjalanan drakor ini dimulai ketika mereka sudah masuk di usia 18 tahun atau setara kelas 2 SMA (sepertinya umur mereka boros yee, umur segitu belum kelar sekolah :D). Adalah Sung Deok-sun, Sung Sun-woo, Kim Jung-hwan, Ryu Dong-ryong dan Choi Taek nama-nama 5 sekawan yang tinggal bersama dengan keluarga mereka masing-masing di gang tersebut.

 

Mereka sering sekali berkumpul bersama di rumahnya Choi Taek atau biasa suka dipanggil dengan sebutan Taek-ki. Ia merupakan pendatang terakhir di gang itu dan ibunya sudah meninggal sejak ia kecil. Ia pemain Baduk yang sudah go international dan ia memutuskan tidak sekolah karena profesinya ini. Karena ia sering kali bertanding di luar negeri, momen kepulangan dia sekelar dari bertanding pasti ditunggu oleh teman-temannya. Dering telepon berantai di antara rumah mereka pasti berbunyi saling memberi kabar dan dalam sekejab mereka sudah berada di kamar Taek-ki. Kegiatan mereka selama kumpul ini, selain menanyakan menang atau kalah dalam pertandingannya, mereka biasanya nonton film sambil nyemil atau makan ramen kuah dalam satu panci yang dimakan rame-rame dan diakhiri dengan menginap bersama.

 

Momen-momen kocak banyak terjadi selama mereka kumpul bareng ini. Ada satu momen dimana Taek-ki kalah bertanding. Dimana semua orang berusaha menghiburnya dengan tidak menanyakan apapun tentang kekalahannya ataupun berusaha memberikan ini itu supaya dia tidak larut dalam kekalahannya. Eh begitu teman-temannya ini masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Taek-ki sedang duduk termenung di depan papan Baduknya, gak ada kata manis ataupun menghibur, yang ada justru dibego-begoin (dikatain bego) kenapa harus sedih gara-gara kalah gitu doang. Namanya juga permainan pasti ada menang ada kalah, ya diterima aja. Lo mau teriak dan mengumpat sialan, bangsat, kampret juga gak papa kali biar hati lo lega, ya habis itu berjuang lagi. Kira-kira begitulah mereka ngomong, dan memang itu yang diperlukan sama Taek-ki. Begitu dia mengumpat, dia merasa lega dan justru malah bisa ketawa lepas. Apalagi mengumpatnya itu pake diajarin dulu dan dikata-katain dulu, kurang kasar, kurang kenceng, kurang..kurang. Sampai akhirnya dia lega setelah teriak-teriak kaya gitu. Nah, habis itu pasti ada aja kelakuan dari dua temen ajaibnya, yaitu si Deok-sun dan Dong-ryong, yang biasanya langsung mulai dengan joget-joget gak jelas ala 80an gitu, yang pasti sontak ini bikin ketiga temen-temennya ngakak gak berenti melihat mereka. Atau kebiasaan kentut sebelum tidur dari si Dong-ryong yang bikin emosi jiwa dan biasanya berakhir digebukin rame-rame. Bau, man!

 

Persahabatan ini yang mengingatkan gue dengan teman-teman di masa kecil gue. Cerita gue gak beda jauh dari kisah di Reply 1988 ini. Gue besar di satu komplek dan bersekolah dari SD sampai lulus SMA di sekolah komplek juga. Otomatis teman-teman gue selama 12 tahun ya 4L, Lo Lagi Lo Lagi, dengan pertambahan teman hanya sedikit sekali di setiap jenjang pendidikan. Karena inilah kami cukup mengenal satu sama lain. Kami saling tahu dimana rumah si itu, si ini, si ana, si anu berikut juga kenal dengan orang tuanya masing-masing. Ketika telepon sudah masuk di komplek kami, kami pun saling menghafal nomor telepon dalam sekali pencet untuk sekadar tanya PR, tanya lo ada di rumah apa gak, ataupun ngobrol di telepon yang bikin emak babeh gue suka teriak karena tagihan telepon bengkak. Tak jarang juga kami saling bermain berjam-jam di rumah teman, entah sekadar mengobrol, nonton film, sampai makan siang ataupun nyemil sore di sana. Sering juga kegiatan kami setiap sore naik sepeda bersama keliling komplek, pernah juga ada masa main roller blade bareng, berenang bersama di kolam renang komplek atau bahkan jalan pagi bersama di kala libur sekolah yang berujung dengan makan bakmi.

 

Bertambahnya umur, persahabatan kelima kawan dari Ssangmundong ini mulai menunjukkan saling suka satu sama lain. Ada kisah cinta segitiga diantara mereka berlima, dimana Deok-sun, si satu-satunya perempuan di geng mereka yang mempunyai kelakuan ajaib yang rasanya urat malunya udah putus dari kapan tau itu, merasa GR dengan Sun-woo. Deok-sun merasa Sun-woo naksir dia. Setiap kali Sun-woo mampir ke rumah, kelakuan si Deok-sun mirip cacing kepanasan. Pernah dia kabur masuk kamar, begitu keluar kamar dia sudah berdandan menor hanya karena Sun-woo mampir ke rumahnya untuk minjem apa gitu. Gilingan memang Deok-sun, bikin ngakak abis. Eh ternyata seringnya Sun-woo mampir itu hanya untuk melihat kakaknya Deok-sun, Kak Bo-ra lewat minjem ini itu dari Deok-sun. Hancur sudah hatinya Deok-sun, sampai mewek karena merasa ditolak dan kesel kenapa Sun-woo naksir kakaknya.

 

Di lain sisi, ternyata ada Jung-hwan dan Choi Taek yang diam-diam naksir Deok-sun yang tentunya Deok-sun ini sama sekali gak sadar dong. Jung-hwan si cowok cool yang irit bicara ini sebetulnya sudah beberapa kali kasih sinyal ke Deok-sun, semisal jagain Deok-sun ketika di bus lagi padat banget supaya Deok-sun gak terjungkal kanan kiri depan belakang, belum lagi Jung-hwan yang diam-diam nungguin Deok-sun sepulang sekolah sambil bawa payung karena sedang hujan, dan berbagai macam sweet small things PDKT ala-ala gitu. Menyenangkan sih lihat momen-momen PDKTnya si Jung-hwan ini. Hihihi.

 

Beda lagi dengan Choi Taek. Taek-ki ini bisa dibilang hanya pintar main Baduk aja, untuk hal lain bisa dibilang terbelakang banget. Makan pakai sumpit aja kesusahan, sampai-sampai Dong-ryong suka gemes liat Taek-ki gak bisa-bisa ambil daging atau mie dengan sumpit. Biasanya Deok-sun langsung ambil garpu atau sendok begitu melihat situasi ini. Tidak bisa ikat tali sepatu. Pernah sampai ditolong oleh Jung-hwan dan Taek-ki memilih tidak membuka-buka lagi tali sepatu yang dibantu Jung-hwan itu. Belum lagi pernah diomelin Deok-sun habis-habisan karena kepolosannya Taek-ki yang minjemin duit ke siapa aja yang minta.

 

Dasar emang cinta itu buta ya. Meskipun Taek-ki mempunyai IQ 139, tapi dia sering banget dikerjain oleh Deok-sun yang hanya memiliki IQ 99. Ini kocak deh. Ada satu momen dimana mereka ditinggalin di pantai oleh teman-temannya. Deok-sun meminta dompet Taek-ki dan dilihatnya Taek-ki membawa uang yang banyak, lalu Deok-sun bilang akan mentraktir Taek-ki dan Taek-ki iya-iya aja. Duit duitnya siapa cobaaa. Dodol emang. Selama nunggu ini, Deok-sun membeli snack ringan semacam Cheetos dan menawarkan Taek-ki. Ketika Taek-ki membuka mulutnya siap disuapin Deok-sun, bukan snack yang masuk mulut melainkan jari Deok-sun. Berkali-kali dikerjain kaya gini tapi gak pinter-pinter juga si Taek-ki, dia tetep mangap dan berakhir dengan jari Deok-sun yang masuk. Haizz, ini ngakak abis.

 

Mungkin karena care-nya Deok-sun ke Taek-ki yang bikin Taek-ki jadi suka dengan Deok-sun ya. Momen banget ketika Deok-sun harus nemenin Taek-ki bertanding ke Cina. Deok-sun terkaget-kaget ketika tahu kalau Taek-ki sebelum bertanding bisa sampai gak keluar dari kamar dan gak makan. Belum lagi dia cukup shock melihat Taek-ki ternyata merokok untuk menghilangkan stressnya sebelum bertanding. Melihat ini dan sudah dikasih tau oleh bokapnya Taek-ki, Deok-sun sudah menyiapkan segala keperluan Taek-ki selama bertanding. Biar Deok-sun dodol sedodol-nya ya, dia paham juga gimana mengurus Taek-ki. Dia bawa matras penghangat dari rumahnya – ini bikin Bo-ra emosi karena dia jadi kedinginan menggigil karena matrasnya penghangatnya dibawa si Deok-sun :D :D, dan ditaruh di bawah sprei tempat tidur Taek-ki di hotel karena pas musim dingin di Cina. Deok-sun juga menyiapkan pakaiannya Taek-ki untuk bertanding, dia taruh di mana Taek-ki bisa lihat – sampai hal kaya gini aja juga Taek-ki gak bisa, doeng banget ini orang emang ye. Sampai beliin makanan dan bikinin telur ceplok di dapur hotel buat Taek-ki makan. Kalau gak ada Deok-sun kelar udah hidupnya Taek-ki kali ya. Ampun deh.

 

Hal-hal semacam ini, cinta-cintaan monyet, juga terjadi di area komplek gue semasa gue SMP-SMA. Cerita si ini lagi PDKT ke si itu, lalu pacaran, putus dan PDKT dengan siapa lagi, udah menjadi cerita yang hilir mudik di telinga kami. Kadang merasa komplek gue tinggal ini mirip kisahnya Beverly Hills 90210, halah! Saking segitu banyaknya kisah romantis picisan ala-ala anak abegeh saat itu yang bertebaran di seantero komplek. Lucu kalau diingat. Komplek itu saksi bisu banget mengenang cerita cinta monyet kami semua.

 

Selain kisah persahabatan kelima kawan tadi, yang gak kalah seru adalah kisah masing-masing keluarga dan antar tetangga di gang Ssangmundong. Masing-masing mempunyai kisah tersendiri yang gak kalah kocak dan mengharu biru. Beberapa kali gue nangis mengingat kisah-kisah keluarga mereka mirip dengan kisah keluarga gue sendiri. Ya setiap keluarga pasti punya kisahnya masing-masing dan melalui drama ini setidaknya ada irisan yang sama dan terelasi dengan keluarga kita sendiri.

 

Seperti ketika Bo-ra mau belajar hukum dan harus masuk asrama. Ibu dan kedua adiknya mengantar Bo-ra dengan sedih di depan rumah, sedangkan Ayahnya memilih sok cuek dengan pergi kerja di hari itu seolah-olah ini hal biasa aja kok, gak perlu bersedih. Eh ternyata Ayahnya tidak berangkat kerja, malah nungguin Bo-ra lewat di pinggir jalan lalu memberhentikan mobil Bo-ra dan memberikan obat-obatan untuk di asrama nanti. Ah, sedihnya momen ini. Ayah yang sayang banget dengan anak sulungnya yang notabene serupa tapi tak sama wataknya ini. Ditambah lagi ketika Deok-sun diminta Ibunya mengantar kepiting untuk ransum kakaknya di asrama. Deok-sun sempat kesal karena harus berjalan jauh demi Bo-ra, tetapi begitu sampai disana ia melihat kamar asrama Bo-ra yang kecil banget. Seketika Deok-sun langsung memeluk Bo-ra dan menangis. Biar gimanapun siblings still siblings ya, meskipun kesel tapi kalau lihat saudaranya susah tetap saja sedih. Ah…

 

Dan tentunya di balik kisah-kisah mellow masing-masing keluarga, banyak juga hal-hal kocak yang bikin ngakak setiap nontonnya. Kelakuan para suami istri, ayah ibu dari kelima kawan itu, yang konyolnya ampun deh. Paling gokil sebetulnya keluarga Jung-hwan. Kebayang gak sih anaknya cool abis gitu, irit bicara, tapi emak bapaknya koplak abis. Ada-ada aja kelakuan mereka. Pernah sotoy bokapnya benerin setrikaan emaknya, sedikit-sedikit tali kabelnya dipotong sampai akhirnya kabelnya tinggal 30 cm doang. Emaknya udah emosi aja itu. Apalagi pas dipakai buat nyetrika, yang ada mejanya yang harus digeser sana sini supaya bisa ke-strika pakaiannya. Bikin tambah emosi si emak, kocak ini.

 

Begitu banyak nostalgia ketika menonton drama satu ini. Sukses banget membuat gue tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di kasur dan juga menangis sesegukan bersamaan. Ceritanya sangat ringan tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari di tahun-tahun itu. Bagaimana persahabatan antar teman terjalin hanya dengan main bersama tanpa sibuk oleh gadget. Menghabiskan berjam-jam di rumah teman sambil dengerin lagu sambil tiduran di kasur atau lantai dan bercerita ini itu. Sampai tiba waktunya kami semua sibuk dengan urusan masing-masing dan satu persatu meninggalkan komplek untuk menjelajahi dunia masa depan. Memori tetap terkenang sepanjang masa, meskipun momen tersebut hanya menjadi kisah yang melekat di ingatan.

 

Kosambi Baru, biarlah tetap menjadi saksi bisu perjalanan hidup gue di tahun 90an.


Friday, July 17, 2020

7:31 AM

Drakor ooh Drakor

Drakor ooh Drakor

Sebetulnya sudah dapat diprediksi sebelumnya sih, kalau nonton drama seri semacam drakor itu sama seperti menjebloskan diri sendiri ke dalam lubang dan bakal susah untuk keluar. Memang dasar iman ini juga gak kuat-kuat amat ya, begitu mencoba satu judul saja, meskipun dah janji dengan diri sendiri untuk gak terlena, susah sekali ternyata untuk berhenti. Seperti layaknya magnet, drakor ini benar-benar menghipnotis sekali.


Berawal ketika salah satu stasiun TV swasta menayangkan satu judul serial drakor di tengah masa pandemi Covid-19 di pagi hari. Dengan kesadaran penuh (sebetulnya) gue menanyakan ke salah satu teman dari kecil gue yang memang suka sekali ber-drakor ria, dengan applikasi apa dia biasa menonton tayangan drakor. Dengan kesadaran penuh juga gue akhirnya mantap men-download applikasi tersebut dan menonton judul serial drakor yang ditayangkan di TV itu. Niatnya sih supaya gak capek-capek nunggu setiap hari per episodenya. Ya, tau sendiri kan, namanya drakor yang serupa tapi tak sama dengan sinetron ini, kalau sudah di akhir tayangan pasti dibikin situasi semacam lo lagi boker trus lo dipanggil sama bos gitu. Nanggung! Gak enak banget rasanya kan. Nah, dengan alasan itu lah, berikut janji gak akan terlena ke drakor-drakor lainnya, gue mulailah kenistaan menonton drakor.


Ketika seri pertama ditonton, menimbulkan sensasi tadi yang gue jelaskan (semacam boker gak tuntas itu, cuy), gue lanjut ke seri kedua, ketiga, terus dan terus, Sampai akhirnya gue kaget sendiri, dalam 3 hari sudah kelar gue tonton 16 episode. Kebayang kan, 5 episode dalam seharinya, dan ditonton secara marathon sampai niat tidur jam 1 atau setengah 2 pagi. Lalu berhenti sampai di situ?

Tentu tidak, Marimar!


Seperti biasa, ketika selesai menonton sesuatu, sudah jadi rutinitas bagi gue untuk browsing segala sesuatu yang berkaitan dengan tayangan yang gue tonton, seperti misalnya mengecek siapa nama pemainnya, latar belakang si aktor dan aktris ini, belum lagi melihat-lihat dia main di mana lagi. Kebiasaan ini pun juga gue lakukan dengan drakor yang gue tonton. Iseng awalnya lalu berujung jadi kepingin lanjut ke drakor berikutnya dimana si actor berperan juga. Kebetulan lagi di drakor berikutnya adalah salah satu drakor yang pernah fenomenal juga di masanya, sekitar tahun 2016-2017an gitu lah. Terlintaslah untuk menontonnya, yang kebetulan kali ini bisa-bisaan gue dapat grup tayangan drakor terlengkap di applikasi Telegram dari teman lain pecinta drakor juga. Dengan mudahnya drakor-drakor tersebut diunduh dan dapat ditonton, bahkan tanpa mobile data pun. Semakin nyaman saja situasinya ini. Tapi kali ini sudah gak se-barbar sebelumnya, ditonton cukup manusiawi, 16 episode dalam 5 hari. Cukup beradab lah ya. :P – pembelaan diri dari tersangka korban drakor.


Guardian: The Lonely and Great God


Ternyata oh ternyata, kejatuhan gue dengan drakor ini belum berakhir, sodara-sodara seiman dan senegara. Gue terlena dengan salah satu actor di drakor kedua yang berjudul Goblin. Yes, gue jadi demen banget sama pemainnya, Gong Yoo. Sampai-sampai gue niatin hanya akan menonton semua film dan drakor yang dimainkan oleh dia saja. Ini ceritanya untuk mempersempit iman gue yang gak kuat ini ya, supaya lebih tegar lagi menghadapi cobaan drakor. Namun sayangnya, korban drakor ini (gue!!) bukan hanya kurang iman dengan mengurangi tayangannya, tapi juga nambah dosa baru. Hampir tiap hari yang diliatin ya si Gong Yoo ini. Mesem-mesem sendiri gak jelas kaya orang gila. Nyanyiin theme songnya, padahal ngerti juga kaga artinya apa. Sampai punya niat mau belajar bahasa Korea, biar kalau nonton gak usah ditongkrongin subtitlenya tapi fokus sama mukanya aja.


Sebetulnya kalau mau milih sih gue mau menjadi penonton garis keras aja, yang hanya nonton tayangan yang ada Gong Yoo aja gitu. Sayangnya pemain drakor ini kan bejibun, meski banyak drakor bertebaran di mana-mana, satu aktor itu tidak terlalu banyak main drakornya. Begitu juga dengan Gong Yoo ini, drakornya hanya sedikit yang bisa ditonton. Akhirnya, sekelar dengan drakor-drakor yang dimainkan oleh Gong Yoo, gue beralih ke drakor fenomenal lainnya.  Kali ini gue hijrah ke tayangan Descendants of the Sun dengan pemainnya Song Joong Ki dan Song Hye Kyo. Dan di drakor ini pun gue terpesona dengan mereka berdua. Sempet ikutan baper pas baca-baca kisah mereka di real life dimana mereka akhirnya mereka beneran sampai masuk ke pernikahan dan sekarang dah bercerai. Halah!


Drakor terbaru yang saat ini baru aja gue selesaikan adalah The Innocent Man, yang main Song Joong Ki – mulai punya dua idola dah ini. Ya itu, lanjut dari DOTS, gue penasaran dengan drakor lainnya dari SJK ini. Ini pun juga hasil dari rekomendasi teman gue yang cinta banget sama doski. Biar dikata mukanya putih macam kulit bangkuang dan manis imut-imut (baby face gitu lah), tapi di dua drakor yang gue tonton, aktingnya oke juga. Drakor yang ini salah satu drakor yang menurut gue alur ceritanya cukup bikin gue up n down dengan tema balas dendam dari percintaan segitiga. Keren sih menurut gue sebagai penonton newbie drakor.


Jadilah selama pandemi ini gue sudah marathon nonton drakor entah ke berapa lah ini. Tapi gue akui sih, semakin ke sini drakor semakin beragam tema ceritanya dan semakin enak ditonton dengan pemandangan-pemandangan yang menarik juga. Ditambah lagi akting para pemainnya udah lebih oke juga. Gue sendiri sebetulnya pernah terlena nonton drama seri ketika sebelum nikah. Waktu itu masih eranya Meteor Garden dan setipenya yang sempat mengisi waktu gue saat itu. Karena gue sadar betul betapa gue gampang terlena dengan serial-serial seperti ini, jadi gue memilih menghindari nonton. Ealah, malah sekarang gue sendiri dengan sadar penuh memilih jalur drakor untuk mengisi waktu selama pandemi. Dodol emang! :D


Drakor alias Drama Korea ini benar-benar banget deh. Gue yang tadinya merasa hina jangan sampai kejeblos nonton drakor, eh sekarang malah ketagihan. Gue yang tadinya lihat muka aktor dan aktris Korea Selatan serasa sama semua gak ada bedanya, sekarang dikit-dikit paham siapa mereka. Gue yang tadinya mikir nama mereka semua mirip sampe susah bedain, sekarang mulai kebayang nama-nama mereka dikaitkan dengan mukanya. Bayangin aja gue pernah salah duga dong kalau Kim Jong-un adalah salah satu actor drakor. Ya amplop!! Sumpah, nama dan muka mereka itu susah diingat, man!!


Seringkali gue mengumpat “Drakor sialan!!” karena gue terlena dengan nonton drakor tetapi sebenarnya dianggap nista sekali juga gak sih nonton drakor ini. Memang perlu membagi waktu dengan imbang aja sebetulnya. Bagaimanapun juga ya tetap harus menerima keadaan kalau memang sudah terjerembab jatuh nyungsep tenggelam ke dalam dunia drakor yang udah seperti racun dunia selain si narkoba dan teman-temannya. Satu-satunya ya mencari cara untuk berdamai dengan situasi. Baiknya ya diatur dengan seimbang antara input dan output. Berhasil memasukan drakor ke dalam kesenangan, berarti harus ada output hasil dari kesenangan itu, misalnya saja mengkondisikan setiap selesai dengan satu drakor, buatlah review dalam bentuk tulisan untuk dibaca secara pribadi ataupun diunggah ke blog. Belajar lah bahasanya, karena bahasa Korea ini unik meskipun agak susah dipahami. Menarik sebetulnya belajar Korea. Begitu juga dengan tradisi mereka yang setiap makan harus banyak menunya, setiap bertemu dengan orang harus menunduk, bersalaman pun harus sopan dengan memegang antara ujung siku ataupun pinggang kanan. Sedikit sedikit jadi belajar bahasa dan tradisi mereka. Move on juga penting, artinya masih ada hal lain selain drakor. Kewajiban-kewajiban yang harus diselesaikan dalam keseharian ya diselesaikan dulu baru menonton di waktu senggang. Jangan sampai bablas lupa waktu dan lupa diri.


Semoga aja semakin beradab dan napak tanah ya dalam menonton drakor biar menjadi manusia yang lebih tahan iman – toyor pala ndiri ini sih mah. *nyengir*