Lievell: Family
Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Tuesday, May 3, 2022

7:27 AM

Keluarga Kemayoran

Keluarga Kemayoran

Bokap lahir di tengah keluarga besar, anak ke 6 dari 13 bersaudara. Kebayang betapa serunya kehidupan mereka dulu saat itu. Kakek gue – dipanggil Kungkung (Gong Gong) – asli dari dataran Cina yang hijrah ke Jakarta dan tinggal di daerah Kemayoran. Kesehariannya bekerja sebagai pembuat furnitur. Hampir semua perabot, mulai dari tempat tidur, lemari pakaian, lemari penyimpan barang, meja, kursi dan segala yang terbuat dari kayu dibuat oleh Kungkung gue ini. Saat itu kayu jati masih jadi bahan utama yang dipakainya. Sampai saat ini peninggalannya masih terpakai di rumahnya yang sekarang ditempati oleh 4 anaknya yang tidak menikah, seorang Om (Shushu yang terpeleseti dilafalkan menjadi Suksuk) dan 3 orang Tante (Gugu yang dilafalkan menjadi Kuku).


Sedangkan nenek gue – dipanggil Popo – ini asli Cina Benteng yang lahir sekitar tahun 1929 kalau gak salah, ini juga dari cerita Kuku gue. Popo ini bisa dibilang berumur panjang. Meskipun di akhir hidupnya pikirannya sudah pikun dan susah bicara. Kesehatannya semakin menurun dan sempat terserang sakit stroke sebelum meninggal. Beliau meninggal di umurnya yang ke 90 tahun, tahun 2019.


Sejujurnya gue gak bisa membayangkan bagaiamana cerita kehidupan bokap beserta ke-13 saudaranya sewaktu mereka kecil. Saat ini kakak tertuanya sudah berumur 74 tahun, dan yang termuda mungkin baru di awal 50an. Mereka hidup di rumah yang tidak terlalu besar saat itu. Bagian depan dibuat sebagai tempat kerja Kungkung gue – workshop kalau sekarang mah. Gue inget waktu itu gue diajak bokap nyokap ke sana masih kecil, rumahnya penuh dengan serutan kayu-kayu yang bertebaran di seluruh workshopnya itu. Tapi karena Kungkung meninggal cukup cepat, sekitar awal 90-an, gue hanya mengenal beliau sampai di usia awal SD aja. Lalu blas gak inget apa-apa lagi.


Sedangkan bagian belakangnya dibuat menjadi tempat tinggal mereka dengan hanya memiliki 1 kamar tidur utama dengan 2 tempat tidur bertingkat berukuran queen size. Sehingga 8 orang bisa masuk di dalam kamar utama ini. Lalu karena pasukannya semakin bertambah terus, Kungkung menambahkan rumahnya menjadi dua lantai yang beliau kreasikan sendiri dengan menggunakan lantai kayu. Di atas sini ada 3 kamar tidur yang cukup luas, tentu dengan tempat tidur bertingkat buatan Kungkung gue. Kalau sekarang 3 kamar tidur ini ditempati oleh masing-masing Kuku gue. Sedangkan kamar utama di bawah ditempati oleh Suksuk.


Popo sendiri selama hidupnya bersama dengan ke-13 anaknya ini sebetulnya merasa cukup terbantu karena mempunyai anak-anak perempuan yang gesit dalam urusan rumah tangga. Jadi Kuku-kuku gue yang tidak menikah inilah yang dulunya mengelola segala kebutuhan rumah tangga dan sekarang menjaga rumah peninggalan orang tuanya. Saat ini mereka pun sudah tidak lagi muda umurnya. Bahkan struktur badan mereka mulai terlihat mengecil dan semakin membungkuk karena masalah osteoporosis.


Kehidupan mereka tentu tidak luput dari yang namanya pertikaian antar saudara ya. Namanya juga sibling, pasti ada aja selisih pendapat. Dikit aja berantem, apalagi ini 13 anak. Lalu gue membayangkan dulu kalau anak-anak cowok berantem kaya gimana gitu ya. Rusuh banget kali ya. Hahahah 😂😂😂


Kalau dari cerita beberapa saudara kandungnya serta langsung dari mulut bokap sendiri, bokap ini anak paling badung diantara mereka. Paling galak pula sehingga semua adik-adiknya takut sama dia. Macam preman Kemayoran memang babeh gue di tengah keluarganya. 😂 Kuku gue, adik cewek bokap yang terkecil, pernah cerita ke gue. Waktu itu bokap gue lapar tengah malam, bisa loh dia suruh Kuku gue ini buat beliin dia nasi goreng tek tek. Maksa gitu lah mintanya, dan pakai ngancem mau pukul atau apa lah gitu. Jadi mau gak mau, karena Kuku gue takut sama bokap gue, terpaksa keluar rumah dan beliin yang dia mau. Haduh bokap gue ya! Gak heran gue turunan siapa ini. 😜😜


Ribut-ribut kecil sampai besar pernah dihadapi bareng-bareng. Meskipun begitu gue salut dengan kekompakan mereka. Ketika ada keluarga yang tidak dalam kondisi prima, langsung bekerja sama untuk membantu. Segitu kuatnya ikatan emosi mereka, sehingga bisa saling merasakan penderitaan saudara-saudaranya. Ini pun terjadi ketika bokap mengalami stroke di suatu malam, 10 Oktober 2000. Kalau tidak ada mereka, mungkin keluarga gue tidak ada kehidupan saat ini.


Kebayang kan, bokap yang tadinya sangat perkasa – ditakuti oleh saudara-saudaranya karena galak 😋 dan menjadi tulang punggung keluarganya sendiri, meski nyokap kerja juga sih – hari itu bokap bukanlah siapa-siapa. Sepanjang 14 tahun bokap menjalani hidup dengan setengah badan yang berfungsi. Sungguh ini menyulitkannya dan banyak sekali membuat egonya sebagai kepala rumah tangga tersentil. Kehidupan timpang sekali saat itu. Tapi saudara-saudara bokap membantu kehidupan kami sampai sisa hidup bokap gue. Betapa berhutang budi yang sangat besar sekali kepada mereka.


Kepulangan bokap ini membuat saudara kandungnya terpukul. Bokap adalah saudara ke-2 yang meninggal di antara mereka. Sebelumnya kakak nomor 2 yang memiliki cacat karena pernah mengalami panas tinggi di saat bayi sehingga melumpuhkan pita suaranya dan membuatnya tidak bisa bicara. Kakak ini juga sama-sama terkena stroke seperti bokap. Sewaktu bokap melihat kakaknya berada di dalam peti mati, bokap nangis sejadi-jadinya. Sebegitu sedihnya kehilangan saudara buat mereka. Begitupun ketika bokap berpulang. Mereka menemani dari awal sampai masuk ke liang kubur, sebagai bentuk cinta kasihnya kepada saudara kandung mereka. Bahkan Popo yang sudah mulai pikun pun tiba-tiba menangis, seperti mendadak ingat akan anaknya. Ah, betapa insting ibu itu kuat ya. 💗💗


Setelah bokap gak ada sempat ada rasa apakah kami ini masih diterima di keluarga. Nyatanya mereka merangkul kami untuk tetap menjadi bagian dari keluarga besar Kemayoran. Kebiasaan untuk kumpul di hari besar pun masih menjadi rutinitas kami. Rumah Kemayoran selalu menjadi titik kumpul untuk kami berkumpul sejak dulu, sampai sekarang. Dulu, hanya 13 anak dengan segudang seluk beluk kisah di dalamnya. Sekarang keluarga ini bertumbuh, menjalani kehidupan berkeluarga. Para sepupu yang tadinya masih ucrit-ucrit dan tampak lucu, setiap tahun semakin menjulang tingginya. Rumah Kemayoran pun semakin sempit dengan kehadiran mereka. Tapi momen kumpul bersama ini selalu menjadi hal yang dinanti sih oleh kami semua, karena kalau sudah ngumpul itu akan banyak ketawa ngakak gak jelas hanya karena jokes absurb atau kelakuan sepupu-sepupu itu. Mas Boy pun menyukai momen-momen ini. Dasar keluarga lawak emang! 😁😁


Sayangnya selama pandemi ini acara ngumpul jadi absen. Memang sih para Om dan Tante ini sudah tidak lagi muda, jadi ya memang keputusan ini sudah yang terbaik juga untuk dijalankan. Lantas gue inget aja dengan ketiga Kuku gue yang mungkin saja mereka kesepian. Beberapa kali gue suka datang, ya berhubung tempat tinggal gue gak terlalu jauh juga sih dari Kemayoran. Datang untuk ngajakin mereka ngobrol, tukar kabar, tukar cerita, segala keluh kesah mereka dengan penyakitnya.


Kadang gue sedikit bertanya tentang kisah masa lalu mereka, masa kecil mereka, cerita Kungkung dan Popo gue dulu. Senang sih mengetahui kisah ini dari mereka yang pernah menjalankannya. Mas Boy pun turut mendengarkan silsilah keluarga ini. Apalagi masih ada potret lukisan dari orang tua atau saudara dari pihak Popo gue yang pernah menjadi cerita ketika kami berkunjung. Sedangkan karena Kungkung gue merantau dari China sana, tidak ada satupun bukti foto yang bisa dilihat selain peninggalan furnitur yang masih kokoh digunakan oleh anak cucu dan cicitnya ini ketika datang berkunjung.


Satu hal yang paling gue senangi ketika datang ke sana adalah gue bisa merasakan masakan rumahan jadul, selain mengetahui cerita kisah hidup mereka ya yang sering gue tanya-tanya ya. Salah satu yang paling gue kangenin itu Ketupat Sayur Lebaran buatan Kuku-kuku gue ini. Setiap Lebaran, meskipun gak ada satupun anggotanya yang merayakan, pasti ketupat ini selalu nongol. Hanya hadir setahun sekali.


Kemarin gue datang bersama Ali dan Mas Boy. Kuku gue ini memang totalitas sekali deh. Mereka langsung sigap menyiapkan semuanya sampai kami bertiga hanya tinggal duduk dan makan saja. Jadi enak kan! Halaaah. 😁✌


Sambil makan sambil mereka cerita proses pembuatan Ketupat Sayur ini. Dari awal membuat ketupat yang beberapa tahun ini gagal terus, tapi kali ini berhasil. Lalu proses bumbu yang masih memakai teknik ulek ketimbang blender, sehingga rasa bumbunya kuat sekali. Sampai berapa banyak yang mereka masak untuk dibagi dengan semua keluarga saudara kandungnya. Di sini terasa banget ketulusan dan kehangatan keluarga Kemayoran. Meskipun sekarang tanpa adanya kehadiran bokap di tengah kami, tapi rasanya bokap selalu hadir setiap gue datang ke rumah masa kecilnya ini.


Semoga hal-hal sederhana yang gue lakukan, sekadar berkunjung, menyiapkan telinga untuk mendengar kisah mereka, menikmati masakan rumahan ala mereka, bisa menjadi kesenangan tersendiri untuk mereka yang sudah semakin menua ini. Semoga gue dan keluarga kecil gue ini bisa membalas segala kebaikan yang mereka sudah berikan sepanjang bokap hidup. Semoga Tuhan dan Alam Semesta memberikan kesempatan ini. Amin! 💗💗

Friday, February 16, 2018

8:10 PM

Gong Xi Fat Chai 2018

Gong Xi Fat Chai 2018

Kebahagiaan di hari Imlek itu cuma satu, kumpul dengan keluarga!!

Dan syukur luar biasa, tahun ini kami banyak dapat rejeki dari hasil jualan buah jeruk. Hampir seminggu kami berjuang mengantar dus-dus buah yang jumlahnya hampir 100 dus itu ke seluruh penjuru Jakarta dan sekitarnya. Rejeki Imlek, Puji Tuhan!!


Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada acara makan malam bersama di rumah. Menunya pun yang sederhana aja yang penting kumpul-kumpul dan tahun ini tema kaosnya warna merah. Hihihi.


Pas hari H, pagi-pagi kami seperti biasa mengadakan ritual untuk saling sungkeman ala-ala Chinese, kiunghi. Diawali dengan kiunghi ke Mami, lalu Fritz ke kami dan terakhir saling kiunghi antar saudara. Sebelum akhirnya kami berpisah, karena kami harus menuju ke rumah Mama untuk kiunghi juga.


Setelah dari rumah Mama, tujuan selanjutnya adalah menuju ke Pramuka. Disini sudah menunggu saudara-saudara dari Bang Ali. Setahun lalu sempat vakum karena salah satu tetua ada yang meninggal. Tahun ini kembali kami berkumpul di sana. Yang paling dikangenin adalah limpahan makanan berbau babi. Uuuuuh, nyaaammm!!!


Lokasi selanjutnya menuju Kemayoran. Ini adalah tempat wajib yang harus dikunjungi sampai hari ini. Ada popo dari pihak bokap yang masih tinggal disana. Umurnya sudah mencapai 89 tahun. Masih sehat, tapi sudah lebih banyak tiduran sambil mendengarkan suara anak-anaknya yang mengobrol dekatnya. Suara para cucu yang udah pada gede-gede dan juga para cicit. Sehat terus ya, Po!! 


Acara terakhir di hari ini adalah kumpul dengan keluarga dari pihak Mami di daerah Alam Sutera. Kami makan malam bersama di Ikan Bakar Cianjur lalu acara dilanjutkan ke Flavor Bliss. Nongki syantik sambil minum kopi. 

Selalu seru memang setiap Imlek itu. Ada aja yang bisa dinikmati dari setiap kumpul keluarga setiap tahun ini.


Tuesday, January 2, 2018

7:08 AM

Selamat Datang 2018

Selamat Datang 2018

Malam pergantian tahun ini sengaja kami lewati bersama dengan keluarga. Kami sengaja ajak keluarga dari pihak Mami datang ke rumah. Gak banyak memang, tapi ya lumayan cukup menghibur buat si nyokap yang biasanya setiap akhir tahun hanya dilewati gitu aja.

Yang paling sukses bahagia di penghujung tahun ini ya gak lain dan gak bukan ya si Mas Boy ini loh. Dia seneng luar biasa karena bisa main dengan sepupunya, Kimi, seharian penuh. Kebetulan si sepupu ini seumuran dan cowo pula dan kebetulan pula Iie Ina dan Kimi ini datang paling duluan. Puas banget deh mereka main apa aja. Dari main ular tangga, ludo, tembak-tembakan, makan es krim, trus diulang lagi dan berakhir dengan tidur bareng-bareng di kamar si Oma.


Setelah berhari-hari rasanya sumuk banget karena matahari kinclong banget, sore itu mendadak mendung lalu hujan deras banget. Menikmati hujan terakhir di tahun 2017.


Menu makan malam kami simpel aja, Liwetan sambil berdeprok ria di lantai. Nasi liwet ala rice cooker yang ditata di jajaran daun pisang dengan teman-temannya seperti tahu tempe goreng, lalapan, cumi cabe ijo, sambal dan gak ketinggalan bintang tamu kita, ikan bakar ala hepikol!! Endess, nikmat tiada tara...

Sambil menunggu sepupu kami satu lagi, kami mengobrol, nonton tv dan para bocah tentunya mengulang lagi mainan yang tadi. Sampai juga akhirnya Om Tito dan Iie Ling-Ling datang dengan membawa dua paket pizza, bir dan lagi-lagi ada bintang tamu...duren!! 2 box duren dari Nias siap menemani malam tahun baruan kami.

Seketika suasana jadi seru ketika Iie Ling-Ling mengajak kami semua bermain Uno Stacko dengan hukuman yang kalah dicoreng mukanya pakai bedak. Eaaa....
Si Boy lah yang paling semangat begitu dia kalah. Dia seneng banget mukanya jadi penuh sama bedak. Ada-ada aja emang si bocah ini. Hahahhaa


Kelar main Uno Stacko dua babak yang panjaaang dan lamaaa itu, kami lanjut main ular tangga sambil makan pizza dan buka kaleng bir. Ular tangga pun rasanya gak kelar-kelar, berulang kali secara giliran kami naik dan turun. Bikin gemes ajaaa.


Waktu pergantian semakin dekat, kami semua keluar ingin melihat kembang api yang kebetulan juga adanya di seberang rumah kami. Detik-detik menjelang pergantian bikin gue melow, begitu banyak yaaa berkat melimpah sepanjang tahun 2017. Semua memori tahun 2017 seperti film yang lewat satu persatu di pikiran. Indah, luar biasa dan am so blessed to pass this year!


Jedar jeder kembang api yang rasanya seperti perang karena posisinya deket banget sama rumah ini bikin suasana pergantian tahun baru cukup meriah. Kami saling berpelukan dan mengucapan selamat tahun baru ke sesama. Semoga tahun ini bisa menjadi tahun luar biasa babak selanjutnya dari tahun lalu.

Acara masih lanjut terus. Anak-anak sudah masuk kamar ditemani Iie Ina. Kami semua masih duduk-duduk dibawah sambil ngobrol dan menikmati duren asal Nias. Alamaaaaak, enak banget!!


Om Tito dan Iie Ling-Ling memutuskan pulang karena rumahnya cukup dekat dengan kami. Iie Ina dan Kimi masih sempat menikmati hari bersama kami sampai siang sesudah makan siang bersama. Terima kasih, Tuhan atas hari yang luar biasa yang kami lewati bersama keluarga.

Mari kita sambut tahun ini dengan pengharapan agar kita semua diberkati dengan rejeki yang melimpah, berkat yang luar biasa dan tentunya bahagia sepanjang tahun. Damai sejahtera menyertai kita dan juga negara Indonesia.

Amiiiiin, sodara-sodaraaaa!!!