Lievell

Thursday, July 8, 2021

6:43 PM

Bertamu Juga Dia, Si Covid 19

Bertamu Juga Dia, Si Covid 19

 


Begitu hasil PCR dikabarkan oleh pak Suami, gue sudah menduga kalau jawabannya adalah positif. Dari segala gejala yang muncul sudah mengarah ke sana soalnya. Setelah batuk-batuk ringan sampai kepala pusing seperti habis dipukul pentungan satpam, di hari keempat ini doi mulai mengeluh hilang penciuman. Minyak angin roll on yang biasa sering dioles ke bagian dalam maskernya sudah tidak tercium wanginya lagi. Dicoba dengan minyak angin lainnya yang wanginya lebih nendang, juga tidak tercium. Confirm! Bapak Ali resmi sudah menyandang sebagai penderita Covid 19.

 

Bagaimana ini bermula dan dimana kenanya? Sejujurnya susah untuk dijawab, ya kan. Namanya virus, ada dimana-mana. Tidak terlihat, tidak terdeteksi. Tapi kalau boleh mundur beberapa hari sebelumnya, kami menduganya, mungkin saja, ketika gue lagi kepengen banget makan martabak setelah pulang dari ngelesin hari itu – Rabu, 30 Juni 2021.

 

Sebetulnya sudah beberapa waktu lalu kepingin banget beli martabak, tapi seringkali urung diniatkan beli karena ukuran seporsinya luar biasa banyak untuk kami yang sedang mengurangi makanan manis – tentu karena kami memang keluarga manis lah ini, eneg boleh muntah jangan ya. :D Sayangnya, rasa kepingin itu semakin menjadi di hari Rabu itu. Jadi ketika dalam perjalanan dari parkiran menuju ke tower unit apartemen kami, kebetulan saat itu gue minta si Babeh ini bantu mencarikan tempat parkir, eh mendadak kaki maunya melangkah ke gerai martabak tempat biasa kami beli. Tentunya, sambil kasih senyum-senyum manis manja gituh ke si Babeh. Eaaaa.


 

Selagi kami menunggu, si Babeh yang emang dasarnya punya rasa pingin tahu selangit – alias kepo to the max, agak penasaran dengan kios-kios yang berada di seputaran gerai martabak ini. Kenapa 3 kios ini tutup semua ya, tanyanya ke si mas penjual martabak. Dijawab santai oleh si mas, habis disuntik vaksin kemarin jadi pada demam. Kami sama sekali tidak menaruh curiga apapun, lalu pulang dengan bahagia sambil membawa sekotak kecil martabak – iya, belinya yang ukuran mini aja, isi 4 untuk dimakan gue dan si Boy. Si Babeh lagi diet makan martabak soalnya. :D

 

Sampai keesokan harinya, sepulang dari pasar, si Babeh ini laporan kalau gerai martabak yang kemarin kami beli dan 3 kios lainnya ditempeli garis kuning seperti police line gitu. Setelah tanya pak Satpam sekitar situ ternyata keempat kios itu terkena Covid 19. Whaaatttt!!! O-O

 

Hehehe, sebetulnya sih gue gak segitu parnonya dengan urusan Covid ini. Selama kami sudah menjalankan prokes dengan benar, memakai dan tidak membuka masker sembarangan, sebisa mungkin gak keluar-keluar untuk yang tidak perlu, sampai rumah cepat-cepat mandi dan semprot-semprot disinfektan, rasanya itu sudah cukup. Mau di luar sana lagi heboh dengan tingkat angka kenaikan yang terpapar, atau segala macam urusan ini itu yang terkait dengan Covid sampai ikutan geram dan membuang energi gak kira-kira di situ, sejujurnya gue gak terlalu pusing sih. Just do what we can do aja prinsip gue. Jadi begitu ada berita kalau 4 kios itu tutup, sebenarnya gak membawa pengaruh apapun ke gue. Tetap menjalani hari seperti biasa.

 

Eh, ternyata kali ini tidak semulus itu, Esmeralda!

 

Keesokkan harinya, si Babeh mulai batuk-batuk ringan. Alasannya saat itu karena habis nyemil kacang, jadi tenggorokan agak gatal. Ditambah lagi kurang tidur akibat sok-sokan begadang nonton bola liga Eropa. Lupa doi kalau rambut udah ubanan, umur dah kepala empat, sering masuk angin kalau begadang. Hadeh, udah tua, Paaak! Dari dua hal ini aja stamina udah terasa berkurang, jadilah mudah itu masuk virus-virus jahanam ke dalam tubuh.

 

Kebetulan juga, gue ini termasuk orang yang suka mengandalkan feeling atau apalah namanya itu. Jadi sebetulnya ketika kaki mau melangkah ke gerai martabak itu adalah kuncinya. Ada sebersit suara hati yang bilang untuk tidak melangkah ke sana, ada keraguan memang. Tapi sayangnya gue tidak nurut dengan si kata hati ini. Nah begitu duduk menunggu pesanan martabak, kembali lagi ada feeling kuat seperti memperingatkan akan ada konsekuensi dari pilihan gue ini. Semacam warning ya istilahnya. Ada yang suka begini juga gak sih?

 

Jadi begitu si Babeh mulai batuk 3 hari berturut-turut, seperti diingatkan kembali dari feeling ketika duduk di bangku menunggu martabak itu. Menyesalkah? Nope. Never. Gue berusaha sebisa mungkin menerima segala konsekuensi atas segala pilihan gue. Kan gue sendiri yang memilih untuk menggerakkan kaki gue ke gerai martabak itu. Jadi gue dengan penuh kesadaran tahu akan konsekuensi tidak menurut apa yang diperingatkan oleh si kata hati ini. Duh, berat yaaa. Hahaha

 

Ya, intinya, gue sudah siap-siap dengan segala sesuatunya. Gue yakin juga si Babeh juga merasakan hal yang sama, ini belum sempet gue konfirmasikan langsung dengan orangnya. Tapi biasanya sih feeling kami suka sama. Bahkan yang terburuk, yaitu kami bertiga terkena Covid bersama. Dalam 3 hari batuk-batuk ringan itu ada sempat sekali gue bahas bagaimana jika salah satu dari kami terkena Covid, apa yang harus dilakukan, teknisnya bagaimana. Juga, gue bertanya segala urusan dengan asuransi yang kami, langkah-langkah apa yang kami harus jalankan. Semua hal terburuk sudah kami skenariokan dan memikirkan jalan keluarnya. Stoik banget deh ini ya.

 

Dan apa yang sudah diduga terjadi. Hari Minggu masih juga belum sembuh batuk-batuknya, padahal si Babeh sudah mencoba berbagai cara tapi tidak berhasil. Kepala mulai pusing, ya itu, seperti dipukul pakai pentungan satpam akibat lupa bantu ngeronda malam. Lalu, mendadak pusing hilang setelah dimuntahkan dan diajak bobo siang bareng. Eh, gak usah mikir macem-macem. :D Jadi pede jaya aja kalau orderan kami besok bisa terkirim dengan baik sejalan dengan berangsur si Babeh sembuh dari batuk dan pusing. Aseli loh, ini seperti sehat banget, gak ada sakitnya sama sekali.

 

Senin pagi, begitu bangun tidur, si Babeh langsung bilang kalau penciumannya sudah tidak berfungsi baik. Roll on minyak angin yang suka dipakai gak terasa apapun di hidungnya – kaya nenek gue deh ini jaman gue kecil suka banget pake minyak angin.  Makanya gak boleh terlalu sebel sama kelakuan orang tua nanti dapet suami kaya gitu, beneran loh ini. Teori ala Ethep aja ini mah. Hahaha. Wanginya gak nampol, katanya. Pakai roll on satu lagi, sama juga, kaga nendang. Wah, gak pakai ragu-ragu lagi, gue minta dia duduk aja di pojokan, gak boleh kemana-mana dan gak boleh pegang apa-apa. Pakai masker dan pakai sarung tangan. Kebayang dong dia nulis WA pake sarung tangan, ngegelesot terus dah tuh hurufnya. :P

 

Gue pun memutuskan untuk antar sendiri pesanan makanan di hari itu, setidaknya ada sebagian bisa gue antar dan sampai ke pembeli. Disamping itu, si Babeh udah gue suruh PCR untuk memastikan dia positif atau negatif. Si Boy yang ada di rumah gue kasih tugas untuk ganti sprei kami dan memintanya untuk memberikan kamarnya untuk dijadikan tempat isoman sang Babeh. Jadi begitu selesai dari PCR, gue minta doi untuk diam-diam manis di kamar si Boy.

 

Sore itu begitu gue selesai dengan pengiriman makanan – riskan memang sih ya masih anter-anter makanan ini, gue dapat kabar bahwa si Babeh positif. Sejujurnya, tidak ada rasa khawatir ataupun takut dengan situasi ini. Apapun yang terjadi ya harus dihadapi, tinggal bagaimana pengaplikasiannya aja atas apa obrolan kami waktu itu. Satu dua hal memang tidak sesuai dengan rencana kami di awal, tapi tetap kami terima dan mencoba cari cara lain supaya semua enak dan nyaman dalam menjalani ini.

 

Sayangnya, virus sudah terlanjur menyebar. Dalam kurun waktu sehari, di hari Selasa pagi Si Boy mulai demam cukup tinggi. Mendadak dia nangis. Begitu ditanya, rupanya dia kesal dengan Babehnya yang membuat semua ini terjadi dan mengharuskan dia harus menjalankan PCR untuk tahu apakah kami berdua positif atau tidak. Pelan-pelan gue jelasin bahwa tidak semua hal sesuai dengan mau kita, ada hal yang memang harus terjadi dan harus kita terima. Dia pun cukup dewasa untuk bisa mengolah apa yang gue jelaskan, so ketika gue ajak untuk PCR pun dia hadapi dengan tenang. Meskipun dia harus menghadapi rasa takutnya ketika PCR, setelah dicolok-colok hidung dan mulutnya yang katanya gak enak banget itu, dia tetap say thank you ke petugasnya. “Makasih ya, Om.” – Mama mendadak senang, ya ampun anak gue dah gedeeee…..

 

Selanjutnya berkabar ke Ketua RT di lingkungan kami ini. Sejak Covid melanda, pengurus RT di apartemen sini cukup sigap untuk mengambil langkah lockdown di unit masing-masing bagi yang terkena Covid. Kami merasa harus berkabar dengan mereka demi kebaikan bersama ya. Dan mulailah kami diminta untuk tidak keluyuran kemana-mana dan segala paket atau hantaran harus dititip di lobby lalu dibawakan oleh mereka satu persatu ke unit kami masing-masing. Luar biasa sih pelayanannya.

 

Belum lagi dukungan dari teman-teman yang luar biasa baiknya. Bersyukur saja rasanya gak cukup deh. Beneran baik-baik banget ini teman-teman gue dan teman-teman si Babeh yang dengan sigap membantu dan menyediakan segala kebutuhan kami. Merinding rasanya dengan kebaikan yang diberikan. Kami tidak bisa dapat obat, dalam waktu kurang 1 jam, obat sudah tersedia dan sedang dikirim. Kami dikirimi begitu banyak makanan, sayur, buah, vitamin dan segala macam lah kebutuhan yang ampun gak bisa disebutkan satu-satu. Belum lagi yang mendukung kami dalam bentuk lainnya, wah, luar biasa banget. Terima kasih …terima kasih….kalian sungguh baik. Mungkin bukan kami yang dapat membantu kalian satu persatu kembali, tapi setidaknya Tuhan tahu hati dan perbuatan kalian untuk kami ini luar biasa indahnya.

 

Ya, sampai juga kami di bagian dimana kami sangat tidak menyangka harus menjalaninya. Betul, cepat atau lambat hal ini pasti akan datang, ini hanyalah masalah waktu aja. Semoga kita dapat melewatinya dengan baik dan menjadi pemenang atas virus ini. God bless!

Monday, June 7, 2021

9:16 PM

Ketika di Taman Kanak-Kanak

Ketika di Taman Kanak-Kanak


Suatu waktu di salah satu sekolah TK di bilangan Jakarta Pusat. Sudah waktunya masuk jam istirahat, bel pun berbunyi. Selang beberapa menit kemudian, anak-anak berhamburan keluar dari ruang kelas yang dibuka lebar oleh para guru. Seketika itu juga seluruh taman bermain dipenuhi oleh teriakan, cekikikan sampai tawa riang gembira dari anak-anak yang heboh bermain dan juga berlarian kesana kemari saling kejar-kejaran. Tentu saja semua anak TK pasti menyukai jam istirahat. Siapa yang tidak? Jam istirahat artinya main sepuasnya. Kebetulan pula taman bermain di sekolah itu cukup komplit permainannya. Semakin bahagia lah setiap anak yang bersekolah di sana.


Begitupun dengan si gadis kecil tomboy ini. Ia pun sangat menyukai jam istirahat. Tanpa ragu-ragu ia akan menuju ke mainan favoritnya, ayunan. Ia akan menunggu gilirannya dengan sabar karena ayunan di tempat bermain bisa dihitung jumlahnya. Begitu sudah waktunya ia mendapat giliran, ia akan mengayun ayunannya setinggi mungkin. Ia senang ketika mendapati wajahnya diterpa oleh angin ketika ayunannya bergerak menuju ke atas. Ia akan terus mengulang dan mengulang sampai sudah waktunya teman yang mengantri berikutnya mengoceh untuk bergantian main. Biasalah, namanya juga anak bocah. Yang antri tidak sabar, yang main lupa diri. Biasa kan itu. Hihihi.


Setelah puas bermain ayunan, ia akan menuju ke mainan perosotan. Perosotan yang ada taman bermain sekolah ini bagi si gadis kecil tomboy ini cukup keren pada saat itu. Untuk mencapai perosotan di atas sana tidak hanya mengandalkan tangga semata, tetapi banyak cara untuk dapat sampai di atas sebelum meluncur ke bawah. Bentuknya seperti pelatihan tentara, menurutnya. Ada tangga tegak dari kayu yang disusun berjarak, ada pula tali tambang untuk membantu naik ke atas. Pokoknya keren lah baginya. Begitu sampai di atas, si gadis kecil tomboy ini pun agak berlagak seperti layaknya berhasil memenangkan perang dengan mengambil bendera lawan, sebelum akhirnya meluncur turun dari perosotan.


Puas dengan bermain perosotan, ia tidak serta merta berhenti di sana. Ia akan berkeliling mencari permainan lainnya. Namun sayangnya hampir semua permainan penuh. Ia tidak terlalu suka bermain jungkat jungkit ataupun tempat duduk yang diputar-putar, rasanya bikin pusing. Ia pun menuju ke tiang gelantungan yang berbentuk setengah lingkaran, atau sekarang lebih dikenal dengan nama Monkey Bar. Mungkin ketika anak bergelantungan dari satu tiang ke tiang lainnya jadi lebih mirip monyet gitu ya. Hahaha.


Sebetulnya si gadis kecil tomboy ini juga tidak terlalu suka sih bermain di tiang gelantungan, selain mirip monyet #eh, sepertinya tangannya tidak terlalu kuat menahan beban badannya – padahal badannya bukan termasuk yang montok berisi gitu loh, cukup ramping dan tinggi tapi tidak menjulang. Ia pun tidak suka menaiki di atasnya tiang gelantungan itu, karena cukup panik ketika sudah sampai di pertengahan lalu bingung untuk melangkah turun. Entahlah, pokoknya ia tidak terlalu menyenangi permainan tiang gelantungan ini. Tapi ini ya satu-satunya yang agak sepi dari permainan yang lainnya.


Ketika ia sudah tidak terlalu minat untuk bermain lagi, sontak matanya melihat ke tumpukan oranye di pojokan taman bermain. Seperti ada panggilan untuk berjalan ke sana, namun urung ia lakukan. Ia sudah melihatnya berhari-hari tapi tidak punya keberanian untuk menuju ke sana sendiri. Ia takut dianggap aneh oleh teman-temannya. Ataupun ia takut akan dimarahi oleh ibu guru yang mengawasi mereka.


Namun rasa ingin tahunya ini seperti tidak dapat terbendung lagi. Ia pun mulai memikirkan satu rencana dan hari itu harus segera ia jalankan. Bel selesai istirahat berbunyi. Ketika anak-anak sibuk berlarian meninggalkan taman bermain menuju ke kelas masing-masing, ia pun ikut berlari. Tetapi ia tidak berlari seperti teman-temannya, ia berlari ke arah tumpukan oranye itu. Tidak ada yang memperhatikannya, bahkan ibu guru pun tidak karena sibuk mengangon anak-anak kembali ke kelas. Lalu ia pun jongkok di tumpukan oranye tersebut. Ia melihat ke kanan, ke kiri, ke belakang. Tidak ada orang yang melihat ke arahnya. Lalu jari-jari kecilnya mengambil sebongkah potongan oranye kecil dari tanah dan menjilatnya.


Bweeehh!! Si gadis kecil tomboy ini langsung melepeh bongkahan kecil yang berhasil terjilat oleh lidahnya. Rasanya kok tidak sama seperti yang dipikirkannya. Ini tidak enak, menurutnya. Lalu ia cepat-cepat membuang bongkahan potongan oranye tadi sembarangan dan lari secepat mungkin menuju kelasnya. Untung saja ia belum ketinggalan dari barisan terakhir, dan gurunya belum sadar kalau ia tertinggal. Ibu guru pun langsung mengunci kelas mereka setelah memastikan tidak ada murid yang tertinggal di luar kelas.


Ah, apa sih yang dipikirkannya sehingga ia meniatkan diri untuk berencana dan mencoba potongan kecil oranye itu. Jangan sampai ada yang melihatnya dan mentertawakan kebodohannya. Kebodohan ini biar disimpan saja sendiri sampai kapanpun. Tidak boleh ada yang tahu ini. Pikirnya sambil berjalan menuju ke kursi kecilnya, sambil melirik ke sekeliling kelas takut ada yang menyadari apa yang dilakukannya. Untungnya rahasia ini aman sampai hari ini.


Nah, saat ini mungkin waktunya pengakuan.


Mungkin sudah bisa menebak siapa si gadis kecil tomboy itu. Iyes, gue!!!!! :P :P :P


Dan kalian bisa tebak apa yang gue jilat di hari itu? Yaaaa. Keponya anak kecil yang lugu menyamakan batu bata dengan oncom yang pernah dimasak Emak –panggilan nenek dari pihak nyokap. Bayangan gue saat itu warnanya yang oranye sungguh menggugah selera, rasanya sama enaknya dan sedapnya. Entah apa ya nama masakannya, tapi kalau sekarang diingat-ingat mungkin saat itu Emak masak Toge Goreng yang pakai oncom orens-orens itu. Kebayang kan enaknya, sampai bisa dilirik berhari-hari itu tumpukan batu bata berwarna oranye di pojokan taman bermain, seakan-akan memanggil untuk dikunyah dan dimakan.


“Satu ide datang, memercikkan api di benak kita, dan tiba-tiba sudut pandang kita telah diperbaharui. Kita menyebut pengalaman ini dengan banyak nama: inspirasi, pencerahan, a-ha moment, eureka. Minat intelektual kita digugah, hati kita diperkaya, pendirian kita dibentuk, dan karakter kita dibangun.” – Cinta Yang Berpikir, hal 41.


Layaknya sebuah ide, ada rasa ingin tahu sampai diniatkan membuat rencana agar bisa mencoba batu bata apakah sama dengan rasa oncom yang menggugah selera saat itu. Kalau dipikir sih, kok bisa ya sampai terpikir seperti itu. Agak ajaib memang pikirannya. Tapi, jangan salahkan ide anak kecil yang baru hidup di dunia beberapa tahun lah ya. Anggap saja itu lugu, sampai punya rasa ingin tahu yang tinggi. Meski emang agak kebablasan sih. Hahahahaha…..

 

*Pinjem foto Mas Boy ketika umur 2 tahunan lagi seneng-senengnya main ayunan kaya mamaknya dulu. :D


Saturday, April 24, 2021

8:45 AM

Belajar Matematika yang Menghidupkan

Belajar Matematika yang Menghidupkan


Diskusi mingguan bersama teman-teman CM Jakarta masuk ke dalam topik bahasan mempelajari Matematika. Lalu timbul satu pertanyan, “Apakah belajar Matematika dapat juga dipelajari secara living?” – cakep banget pertanyaan nih.


Siapa sih yang tidak menjadikan Matematika sebagai mata pelajaran yang momok banget. Bukan hanya rambut aja yang bisa dibikin keriting, Matematika sukses berat bikin setiap orang yang keluar dari sekolah itu juga jadi keriting. Banyak banget yang melambaikan tangan ke kamera deh kalau dah berurusan dengan yang namanya Matematika. Iya apa iya banget? Ngakuuuu….


Sebetulnya, mempelajari Matematika itu ternyata tidak sehoror yang ditakutkan oleh semua anak, termasuk orang tua yang pernah juga mengalaminya dulu ketika di bangku sekolah. Memang sistem di sekolah itu seolah menggegas anak untuk balapan dalam mempelajari Matematika. Paham tidak paham materi terus berjalan tanpa kenal kata berhenti. Ya, namanya juga sistem dan begitu pulalah cara kerjanya seperti yang sudah dipahami bersama, berlaku satu untuk semua – macam slogannya TV swasta gitu deh.


Ketika sudah masuk dalam urusan sistem sekolah, berarti anak siap diberlakukan sama. Siap untuk menerima materi pelajaran yang sama. Siap juga mengikuti runtutan materi yang sama juga. Namun sayangnya, tidak semua anak memiliki percepatan yang sama dalam menerima materi di sekolah. Ketika ada anak yang lamban, misalnya saja ketika anak itu tidak juga dapat menghafal perkalian padahal teman-temannya sudah hafal mati perkalian, langsung saja cap ‘bodoh’ menempel sempurna di dahi anak. Hanya karena satu masalah ia terlambat memahami konsep perkalian, tapi cap tersebut tanpa disadari sudah melekat di benak anak bahwa ia adalah anak bodoh.


Kenyataannya, setiap anak adalah born person. Tidak bisa membandingkan ‘apple to apple’ kepada setiap anak, karena ya semua anak itu unik. Setiap anak memiliki kecepatan yang berbeda dalam setiap bidang. Tidak bisa satu anak dengan anak yang lain dianggap sama. Kakak beradik saja berbeda, begitu juga dengan anak kembar yang tidak sama satu dengan lainnya meskipun mereka memiliki wajah dan bentuk tubuh yang serupa. Lalu mengharapkan anak mampu mengikuti sistem kurikulum di sekolah yang sudah terstruktur rapi itu ya tentu tidak mudah bagi setiap anak. Pastinya sewaktu-waktu akan ada satu titik dimana anak akan melamban dan tidak dapat memahami materi pelajaran.


Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan kita dengan Matematika, apa perlu kita putus aja ini? Hahaha.


Bagaimanapun juga belajar Matematika itu ya harus. Semua yang ada di sekitar kita ini terkait erat dengan yang namanya Matematika. Kalau yang namanya ke pasar,melakukan transaksi tawar menawar (pake urat pula!) dengan pedagang di pasar, ya jelas ini terkait erat banget dengan Matematika. Tapi coba deh lihat sekitar kita, rumah yang kita tempati, makanan yang kita makan, sabun yang kita pakai dan masih banyak lagi semuanya itu adalah bentuk dari perpanjangan Matematika. Semua terkait erat dengan angka.


Kita perlu berterima kasih dengan filsuf Phytagoras yang berhasil membuat The Fresco of Spanish Chapel dari hasil temuannya mengutak-atik rumus Matematika dan salah satunya ya rumus segitiga Phytagoras itu. Di saat itu semua filsuf hanya menaruh perhatian penuh pada urusan Human Race, tapi Phytagoras menemukan hal lain bahwa semua yang ada di semesta kita terkait erat dengan yang namanya Matematika. Kebayang banget sih betapa senangnya beliau saat itu bisa menemukan hal penting seperti ini dan berguna bagi masyarakat sampai detik ini.


Aku sendiri banyak belajar mengenal Matematika sejak mulai mempelajari filosofinya Charlotte Mason. Ketika memilih homeschool pun tidak serta merta membuatku paham bagaimana mengajari si Boy berMatematika. Sempat aku berada di lubang kenistaan, halah bahasanya. :D Ketika si Boy berumur 8 tahun dan masih menggunakan materi belajar Matematika kurikulum sekolah, sempat ia nangis tersedu-sedu karena aku memaksanya menghafal perkalian dan juga memarahinya karena tidak juga paham pembagian. Padahal menurut materi, di usia segitu anak sudah harus bisa dong pembagian. Lagi-lagi ya, mamak si manusia yang punya emosi seperti gunung Merapi ini, begitu anaknya sudah nangis tersedu-sedu minta berhenti belajar, bukannya berhenti eh mamak masih ngomel panjang kali lebar kali tinggi kali diagonal dan masih tetap maksa untuk mengerjakan soal. Ampun deh! – mau jitak emaknya gak sih ini?! :D


Bersyukurnya setelah mengenal CM dan sempat juga berguru dengan seorang teman yang memang ahli dalam bidang Matematika, pelan namun pasti teknik belajar pun berubah. Dari teman ini aku banyak belajar bagaimana mengenal konsep itu perlu dan bagaimana dalam mempelajari Matematika itu tidak perlu seperti dalam area balapan layaknya Michael Schumacher di Formula 1. Pelan-pelan saja tanpa harus digegas itu perlu banget dipahami oleh orang tua dan para pengajar.  Aku pernah menulis hasil belajarku di
sini
.


Dari diskusi kemarin dan hasil dari keroyokan baca artikel tentang Matematika dari berbagai sumber yang ditulis para praktisi CM di luar sana, kira-kira begini teknisnya ketika Matematika dipelajari.


Ketika mulai mengenalkan anak usia dini dengan Matematika, kenalkan terlebih dahulu konsep konkrit sebelum mengenalkan konsep abstrak. Angka 1-10 itu abstrak bagi anak yang baru mengenal konsep Matematika. Anak belum paham relasinya angka 1 dengan bentuk konkrit 1 apel. Jadi yang perlu diperkenalkan dalam keseharian adalah benda-bendanya terlebih dahulu. “Dek, Mama punya 2 apel nih. Mama mau kasih Adek 1 apel ya. Satunya lagi buat Mama ya.” Terus berulang konsep ini dibahasakan dalam keseharian anak-anak dalam berbagai bentuk obrolan ringan dan benda di sekitar. Sehingga ketika anak mempelajari konsep angka 1-10, ia sudah bisa merelasikan bahwa 1 apel yang diberikan oleh Mama sama dengan angka 1, dan seterusnya. Cara sederhana namun ternyata anak sudah mempelajari konsepnya.


Begitupun ketika mulai mengajarkan konsep tambah dan kurang ke anak usia dini yang sudah paham relasi antara angka dan jumlah konkrit bendanya. “Dek, Mama punya 5 permen nih. Mama mau bagi permennya ah ke Adek 2 aja. Mama mau bagi juga ke Kakak 2 permen. Wah, sekarang Mama punya berapa permen nih ya?” Tentunya, jadikan ini semua bukan untuk sesuatu yang digegas. Tujuannya kan hanya supaya anak paham konsep. Buatlah seringan dan sesantai mungkin dalam obrolan sehari-sehari dengan anak. Hari ini belum paham, tenang Bun…masih ada hari esok. J


Lanjut ke usia sekolah. Layaknya rumah, pondasi itu perlu banget. Begitu juga dalam belajar Matematika. Usahakan anak paham dulu konsep pertambahan sebelum ia paham konsep pengurangan. Kenapa begitu? Ya kalau tambah-tambahan aja masih belum ajeg, gimana pondasinya kuat untuk pengurangan. Kalau anaknya bosan dengan tambah-tambahan terus gimana dong? Nah, belajar Matematikanya berapa lembar dalam sehari? Kalau belajar tambah-tambahannya 10 lembar, ya siapa yang gak bosen sih.


Durasi dalam belajar Matematika pun tidak perlu panjang. Ketika awal aku mengganti pola belajar Si Boy di usianya ke 8, aku menerapkan kembali ke awal untuk tahu dimana sebetulnya dia tidak paham. Aku memulainya kembali dari pertambahan 1-5, 1-10, 1-20, terus bertambah sampai ribuan dan ini dikerjakan hanya 10 nomor setiap hari dengan durasi dari hanya 5 menit sampai 10 menit. Ini ketika masih tambah-tambahan ya. Begitu sudah masuk di pengurangan, mulai lah ia melamban dalam mengerjakannya. Masih 10 nomor, tapi ketika mulai masuk pengurangan seperti 175-28, ia melamban. Waktu pengerjaannya pun sudah melebih 10 menit. Dan mulailah ketemu permasalahannya. Di pondasi pengurangan lah ia mulai tidak bisa. Ketika sudah tahu di situ permasalahannya, aku mulai memberikan soal-soal yang terkait dengan pengurangan. Setelah mulai mudah dilakukan olehnya, baru kami kembali maju. Ini pun selangkah demi selangkah lagi.


Masuk di perkalian. Urusan perkalian pun bukan perkara mudah, tapi aku mempercayakan si Boy untuk menghitung dengan caranya tersendiri. Ia tidak pernah menghafal perkalian. Ia menemukan caranya tersendiri dalam berhitung perkalian. Begini kira-kira yang aku ingat. Misalnya 8 x 6, ia akan menghitung 8 x 2 terlebih dahulu (karena ia ingat ini dengan mudah), lalu ia tambahkan 16 tiga kali. Memang ribet banget ya kelihatannya, tapi ini cara dia memahami perkalian. Setelah ribuan purnama, maksudnya saat ini di usianya 12 tahun, dengan sendirinya ia bisa melogikakan bahwa 8 x 6 = 48, tanpa perlu menghafal tabel perkalian.


Setelah selesai dengan perkalian, baru masuklah ke konsep pembagian yang tidak kalah membutuhkan waktu. Belum lagi ketika konsep ini masuk ke dalam soal cerita yang membutuhkan penalaran dari anak. Semua butuh proses dan tentunya proses memahami konsep dan nalar anak ini butuh waktu yang cepat. Ketika anak digegas dari satu materi ke materi lain tanpa ia tahu konsep dan nalarnya berjalan, tentu yang ada anak merasa tertekan. Lalu kalau sudah tertekan, apakah anak mampu memahami materi yang diberikan? Jawabannya bisa dijawab masing-masing di rumah ya, gak perlu dikumpulkan. Eaaa….


Kenapa anak perlu belajar pondasi tambah, lalu kurang, lalu kali dan terakhir pembagian? Karena keempat ini adalah pondasi dasar dalam Matematika. Ketika anak sudah paham, maka dengan mudahnya anak belajar perpanjangan materi seperti misalnya pecahan, desimal, persentase, keliling, luas bangun, volume dan sebagainya. Begitupun dengan durasi belajar dan lembar soal yang diberikan. Cukup durasi singkat namun konsisten diberikan setiap hari. Tidak perlu berlembar-lembar soal yang dikejar dalam satu waktu. Ini akan menjadikan minat anak dalam belajar Matematika tetap terjaga. Ketika anak dirasa sudah mulai lelah, berikan waktu istirahat sejenak sebelum ia memulai lagi atau kalau mamak legowo, ya dikerjakan saja besok. Dunia gak kiamat juga sih besok karena anak kita gak kelar belajar Matematikanya hari ini. :P


Selain karena sistem di sekolah yang terus berkejaran seperti dulu takut ketinggalan bis kota, pengajar pun menjadi momok tersendiri ya kenapa anak jadi hilang minat belajar Matematika. Mencari pengajar yang pintar Matematika itu mudah, tapi mencari pengajar yang tidak hanya pintar tapi juga bersemangat dalam mengajar itu yang jadi perkara saat ini. Belum tentu orang yang pintar Matematika itu mampu juga mentransfer ilmunya dengan baik ke anak murid. Justru yang terjadi adalah pengajar yang punya sejarah buruk dengan Matematika tapi dengan semangat (passion) tinggi untuk mengenal Matematika lah yang mampu mengajar muridnya.


Aku sih ngaku aja ya, dulu pas sekolah ya paling sering dikeluarin dari kelas. Ya entah bikin rusuh di kelas, atau jadi tuduhan guru karena dianggap bikin ribut di kelas, udah biasa banget berdiri di luar kelas. Jadi ya belajar Matematika mah ke laut aje jaman sekolah dulu tuh. Setiap ada PR, ya nyontek. Setiap ada ulangan, bikin contekan rumus. Eh begitu ngerjain soal ulangan lalu buka contekannya, ya buset, ini rumus dipakainya gimana?! Gubrak! :D :D


Lulus dari sekolah ya jelas banget gagal paham banget sama yang namanya Matematika. Tapi kehidupan banyak mengajarkan sih. Lucunya malah dipertemukan dengan Matematika. Setiap kali diminta mengajar les privat, lagi-lagi orang tua berharap guru yang bisa mengajarkan Matematika. Akhirnya mau tidak mau, pelan tapi pasti, mulailah aku terpapar sedikit banyak dengan Matematika. Dari yang awalnya gelap buta, pengalaman hampir 20 tahun mengajar memberikan satu pencerahan juga. Akhirnya sampai di titik, aku paham bagaimana anak menganggap Matematika sebagai momok dan berharap sekali aku mampu membantu mereka keluar dari pemikiran tersebut. Seperti pepatah umum, semua ada waktunya pada akhirnya. Semoga saja ya.


Belajar Matematika itu bukan hanya sekadar perkara mengejar nilai semata dalam pelajaran sekolah. Melatih nalar dan logika serta paham konsep itu jauh lebih penting. Bagaimana Matematika bisa menjadi hidup dalam keseharian kita, kembali ke diri masing-masing semuanya.

Sunday, December 13, 2020

7:29 PM

Tanjung Lesung Short Getaway

Tanjung Lesung Short Getaway

Akhir pekan ini kami mendapat kesempatan istimewa karena bisa menikmati waktu merasakan keheningan sambil mendengarkan deburan suara ombak dari pantai, tepat di depan lokasi kami menginap.

Adalah Tante Rina dan Tante Tarti yang semangat mengajak kami untuk datang mampir ke rumah penginapannya di daerah Tanjung Lesung. Lokasinya menarik sekali, benar-benar tepat berhadapan dengan pantai. Plus hening, karena di sekitar lokasi hanya ada rumah penginapan Tante Rina tanpa ada rumah atau bangunan lain. Lokasi menarik untuk merefleksikan hidup ya.

Bersama dengan kelima suster dari ordo RGS - Religious of The Good Sheperd aka Susteran Gembala Baik (Sr. Lia, Sr. Lidwina, Sr. Magda, Sr. Nita, Sr. Yasinta) dan dua teman dari Pasar Geret (Shinta dan Ci Yanti), kami saling mengisi waktu bersama di akhir pekan ini. Kami benar-benar terhibur dengan para suster yang senang sekali melontarkan becandaan dengan Tante Rina dan Tante Tarti. Suasana jadi seru dan cair banget. Sering banget kami ngakak gak berhenti dengerin mereka bercanda. Kocak banget lah.

Kehadiran para suster ini juga menjadi keuntungan bagi Fritz. Mereka membawa satu tas isi board games. Ada Monopoli, Otello, Halma, Ludo, Ular Tangga, Scrabble dan bahkan kartu remi. Tiga dari lima suster yang ada (Sr. Lia, Sr. Nita dan Sr. Lidwina) merasa senang sekali mendapat pelatihan kilat bermain Monopoli, Otello dan juga main kartu 41 dari Fritz. Sebutannya pun menjadi Guru Gam(bl)er. :D

"Liburan kaya gini nih yang Izzie suka, Ma. Gak kemana-mana, main aja seharian." - begitu pendapat si Boy.

Kami datang di hari Sabtu pagi. Kami berangkat jam 4 pagi dan sampai di sana jam 8. Sewaktu kami datang, teman-teman ini sudah datang dari sehari sebelumnya. Mereka sudah selesai dengan sarapan pagi dan ingin bermain di pinggir pantai. Dan kebetulan, kami disambut oleh mantis yang lalu menjadi perhatian beberapa orang. Langsung cepet ambil kamera dan ceprat cepret deh diabadikan.

Fritz pun bergegas mengganti pakaiannya dan siap bermain di pinggir pantai. Kebetulan mereka juga sedang berendam, Fritz pun diajak untuk ikut bareng. Jadi satu keuntungan buat emak babehnya buat jalan berduaan sambil menyusuri pinggir pantai yang banyaaaaak sekali kerang dengan berbagai bentuk unik.

Ada salah satu suster, Sr. Magda, yang rajin mengumpulkan kerang-kerang berbentuk unik ini. Ia senang menaruhnya sebagai hiasan untuk berdoa. Jadi bersuasana alami, katanya. Menarik ya.

Sayangnya cuaca sedikit kurang bersahabat. Kami sering mendapati mendung dan turun hujan ketimbang cuaca cerah. Sempat kami sudah semangat makan siang di luar ruangan, ceritanya menikmati makan siang pinggir pantai. Menunya pun juga sudah ciamik banget nih. Sayur asem, tahu tempe bacem, ikan asin dan tentu sambal yang semuanya hasil masakan rumah dari kedua tante ini. Semuanya pun sudah tertata rapi. Kami pun sudah mulai makan. Ealaaah, mendadak rintik hujan dan diakhiri dengan tergopoh-gopoh membawa kembali segalanya ke dalam rumah karena hujan langsung deras. Gagal maning deh menikmati suasana piknik depan pantai. :P

Ada satu momen menyenangkan ketika masing-masing menceritakan tentang siapa dan apa komunitas kami ini. Ada Pasar Geret yang mana diwakili oleh Shinta dan ci Yanti. Pasar Geret ini adalah kumpulan teman-teman yang sudah tersadarkan akan gaya hidup sehat. Mereka mengkonsumsi makanan yang merupakan hasil olahan sendiri. Begitupun dengan Tante Rina dan Tante Tarti lewat Tanah Laut. Karena seringnya mereka berinteraksi satu sama lain, akhirnya diwujudkan dalam satu event yang bernama Pasar Geret. Selain lebih memudahkan teman-teman ini berinteraksi secara offline, mereka pun mempunyai misi untuk mengedukasi masyarakat tentang hidup sehat yang berawal dari pencernaan.

Lalu bagian kami yang menceritakan tentang perjalanan homeschooling kami. Dilanjut oleh Sr. Lia yang menceritakan ordo mereka yang bermisi untuk mendampingi perempuan dan anak-anak. Salah satunya adalah untuk ibu tunggal dan anaknya. Bagaimana mereka bersinergi dengan psikolog saling membantu untuk mendampingi para ibu tunggal dan juga anaknya yang semakin banyak di kalangan umat Katolik.

Sr. Lia sendiri juga mempunyai pekerjaan lainnya, ia membuat kurikulum bagi 8 PAUD yang didanai oleh keuskupan. Dimana dalam pelaksanaannya ada penyimpangan teknis yang cukup mengganggu, sehingga para suster ini ditugaskan sebagai perpanjangan tangan dari pihak keuskupan. Semoga dimudahkan misinya para suster ini, karena betul-betul dibutuhkan perjuangan yang sangat panjang untuk meluruskannya. Tercengang sih dengar ceritanya.

Hari pun masih panjang sampai malam, apalagi di sana sinyal susah sekali. Benar-benar GSM ini judulnya - Geser Sedikit Mati. Zonk banget sinyalnya. Ada spot-spot tertentu yang masih bisa, tapi begitu hujan lebat dan hari semakin malam, sinyal di spot itu hilang tanpa jejak. Jadilah beneran hening. Hihihi.

Waktu pun diisi dengan berbagi cerita, ngobrol, bercanda dan juga makaaaaan!! Wah ini sih parah. Mulut beneran tidak berhenti mengunyah. Gue sih!! Hahaha. Semua makanan yang disajikan hasil buatan sendiri. Ada berbagai macam cokelat, kue sus dengan isian cokelat disertai dengan rum serta wine yang mana semuanya ini adalah hasil dari Tanah Laut. Ada pula kue bolu hasil buatan ci Yanti yang menggunakan tepung mokaf. Enak ternyata, kali pertama nih makan kue dari tepung mokaf. Ini sampai lupa sebetulnya ngelist makanan apa saja yang tayang. Otak-otak ikan dari Allella Kitchen juga tayang lah pastinya, dan ini digoreng langsung oleh Mamang Dilan eh Bang Ali. :P

Makan malam kami dong, luar biasa totalitasnya. Ikan bakar yang mungkin kalau ditotal hampir 5 kg mungkin dan ludes dalam sekejab masuk ke perut. Disanding dengan tumisan daun dan bunga pepaya, plus lalapan serta tidak lupa sambal tomat. Duh, waktu nulis ini mendadak air liur keluar. Enak banget sumpah deh! ^-^

Eh iya, lupa cerita. Sorenya itu aku dan Ali diajak Tante Rina untuk jalan-jalan. Ceritanya ngeramban, eh yang ada malah Tante Rina kasih materi. Ini taneman jahe, Tep. Ini labu, bunganya edible, bisa dimakan, Tep. Ini kacang tanah, ini daun ubi, ini kacang panjang dan banyak lagi. Huahahahaha. Segitu gak pahamnya gue tentang tanaman. Dudulipet lah. :P
Beneran seru sih dapat pengalaman banyak dari jalan-jalan sore ke kebunnya Tante Rina. Semuanya berguna, tidak ada tanaman yang asal ditanam. 

Selesai makan malam dan cuci-cuci serta beberes, mulailah satu persatu masuk ke kamar dan beristirahat. Begitu juga kami. Sempat mengobrol dengan Fritz dan dia menyampaikan betapa senangnya dia liburan seperti ini. Meskipun beberapa kali dia sering digodain oleh Sr. Lia dan Sr. Lidwina yang memang sudah memutih rambutnya, serta Oma Rina dan Oma Tarti karena temannya jadi nenek-nenek semua, tapi Fritz benar-benar suka bisa berinteraksi dengan mereka. Awalnya dia pikir semua suster tidak lucu, tidak suka melawak, serius penampakannya. Sekarang dia baru sadar bahwa suster pun juga manusia yang hobi ngebanyol sampai bikin sakit perut. :D :D :D

Pagi hari kami disambut hujan rintik dan mendung bergelayut. Fritz yang pengen banget melihat sunrise dan sudah bangun dari jam 4.30, terpaksa manyun. Ternyata eh ternyata, menurut Oma Tarti, di tempatnya hanya bisa melihat sunset, matahari tenggelam saja. Lalu dia pun masih semangat untuk main di pantai. Meskipun hujan masih rintik, dia tetap kembali ke pantai dan minta ditemenin. Jadi deh kami berdua basah-basahan karena kehujanan. 

Waktu berjalan sangat cepat. Sekitar pukul 10 pagi, kami siap meninggalkan lokasi setelah menikmati makan pagi, beberes, bertransaksi singkong, ubi dan pisang tanduk serta memasukkan barang ke dalam mobil. Tentunya pepotoan tidak lupa dong.

Ini akan jadi kenangan manis banget sebelum penutupan tahun 2020. Kami sangat menikmati akhir pekan kami ini loh. Pemandangan yang tersajikan selama dua hari ini bikin segar mata, hati dan pikiran. Tentunya ini semua berkat yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun. Sungguh berterima kasih untuk kesempatan istimewa atas ajakan kedua Tante ini yang sebetulnya akupun juga baru kenal belum lama. Berkat melimpah ya, Tante Rina dan Tante Tarti. Tuhan berkati! 


**Sehari setelah menulis ini, baru terungkap bahwa Sr. Yasinta adalah tante dari keponakan cantik nan jutek yang bernama Adriana Melliany alias Lia (Lia - nya Yanto kalau sekarang mah :P). Kalau tahu dari awal, kan sudah jadi bahan gosipan bareng nih diantara eikeh dan Sr. Yasinta. Hohohoho. 

Monday, December 7, 2020

3:04 PM

Refleksi 2020, Berkah atau Musibah?

Refleksi 2020, Berkah atau Musibah?


Bermula dari harapan yang baik untuk hari esok. Berharap semua rencana akan berjalan lancar sepanjang tahun. Bermimpi yang terbaik akan datang. Berangan hal-hal baik dapat menaungi di setiap waktu di setiap harinya. Namun sayangnya, semesta menginginkan yang berbeda bagi dunia di tahun ini. Mendadak kita semua diminta untuk rehat sejenak dari kesibukan. Mendadak semua harapan yang sudah dirancang sedemikian rupa harus tertahan dan tertunda, entah sampai kapan batas waktunya, tidak ada yang mengerti. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi kita semua, hanya pasrah pada Sang Kuasa yang mampu dipahami oleh nalar ini.


Begitulah setiap insan memahami tahun 2020 ya. Beberapa dari kita mungkin harus terperosok dan jatuh dalam lubang, tetapi ada juga yang masih sanggup bertahan menghadapi badai Corona yang menguasai satu bumi ini. Bagaimana dengan kalian menanggapi tahun 2020 ini? Apakah Corona mendatangkan berkah atau malah menjadi musibah bagi kalian?


Bagiku pribadi, tahun 2020 ini cukup mencengangkan sih. Dimulai dengan kami harus bertahan di rumah Oma karena Kelapa Gading dilanda banjir di hari pertama tahun baru. Lalu berlanjut dengan kedatangan tamu banjir sampai 3 kali lagi setelah tahun baru itu. Memang sih, tidak berefek banyak untuk kami karena kami tinggal di area apartemen. Tapi wilayah Kelapa Gading jadi satu-satunya yang hujan dikit banjir-hujan dikit banjir dibanding dengan wilayah Jakarta lainnya. Gimana gak was-was coba ya ini. Setiap hujan mampir bentar namun deras curahnya, udah jiper aja kebanjiran. Hahaha


Berlanjut dengan bolak balik ke UGD RS Carolus sekitar pertengahan Januari ke Februari. Dari Mama (mertua) yang terjatuh di kamar mandi karena lemas dan kami harus mengantarnya ke UGD tengah malam itu juga, sampai Bang Ali yang mendadak panas tinggi ketika kami berkegiatan di Lapangan Banteng. Tentu saja ini menyebabkan suster dan dokter jaga di RS tersebut sedikit banyak kenal ya dengan diriku. Segitu tenarnya kah? Sebenarnya gak seartis itu juga sih gue. Eh, tapi kalau diingat-ingat, Kikan dari Band Cokelat aja pernah nuduh gue "Kayanya sering liat deh mukanya." Jadi, gue artis apa bukan, hayoooo :P


Lanjooot...


Yaaa, gue sedikit membuat drama dengan sensasi melotot sambil bernada tinggi ke salah satu suster akibat tidak adanya mobil ambulance yang membantu kami memindahkan Mama ke rumah sakit lain saat itu. Lah ya gimana gak pake esmoniiii eh esmosi sodaraaaa, mobil ambulance ada tiga berjejer rapi jali di depan UGD tapi begitu ditanya kenapa gak bisa antar Mama, jawabannya itu loh. "Supirnya gak ada, Bu." Darah langsung memuncak sampai ke otak rasanya saat itu, ngapain juga lo jejerin tuh ambulance ampe tiga biji disono kalau gak ada supirnya, Maliiih!! Gue pun ngomel dah, sambil gue tawarin diri, sini gue aja yang nyetirin tuh mobil ambulance dan disambut gelengan suster. Ya kali, Bu!!


Jadi begitu Bang Ali harus bertandang ke UGD RS tersebut lagi karena mendadak panas tinggi, suster yang gue ocehin itu pas bertugas. Doi kenalin kami dong lalu berbisik-bisik dengan koleganya yang lain sambil melirik-lirik ke gue. Eaaa, kesampaian juga gue jadi artis lokal sesaat deh saat itu. *gubraaak


Masuklah di pertengahan Maret. Pas banget ketika gue lagi mulai mendapat ide untuk membuat kegiatan Kumpul Bocah ala Allella Kids. Lagi seru-serunya merancang kegiatan untuk bulan berikutnya, eh Neng Corona pun menghampiri dan mendadak semua kegiatan luar ruangan harus dihentikan. Tentu saja ini bikin gue jadi resah dan gelisah, macam lagunya Chrisye.


Nah di saat pikiran bingung mau ngapain sambil nunggu si Coronce lewat, yang gak tau sampai kapan ini, ide muncul kembali. Sebetulnya ide ini sudah tercetus beberapa bulan sebelumnya sih, tapi belum berani eksekusi aja. Jadi, begitu ada kesempatan bakalan lama di rumah, gue beranikan diri untuk jalankan. Tentu ini sambil menggeret Bang Ali untuk ambil bagian lah ya. Kami mulai membuka PO masakan, di bawah bendera Allella Kitchen. Yaaa, lagi-lagi Allella. Udah brand khusus soalnya itu. Kapan-kapan diceritain deh kenapa Allella harus banget jadi nama usaha. Nanti yaaaa. 


Masakan pertama kami adalah Pangsit Kuah frozen. Kami hanya mencoba memasarkan dari pertemanan di WA saja dan antusiasnya gak disangka-sangka. Dengan prosedur PO, kami mengumpulkan pesanan, puji Tuhan, penjualan pertama kami cukup disambit eh disambut baik oleh teman-teman ini. Puji Tuhan lagi, sampai di bulan terakhir tahun 2020 ini, kami masih menjalankan usaha kecil-kecilan kami ini. Berawal tanpa logo, sekarang kami punya logo. Berawal hanya sekadar isi waktu saja, sekarang kami punya 9 masakan frozen dan 2 masakan matang. Berawal hanya dari teman ke teman saja, sekarang kami punya pelanggan tetap dan beberapa orang yang kenal dari sosmed pun menjadi langganan kami. Artinya, kami memang harus butuh serius di bidang ini. Ada PR yang perlu kami rancang untuk ke depannya.


Ternyata juga, Bang Ali ini sebetulnya yang punya bakat memasak. Doi ini turun langsung sendiri meracik bumbu dan sering mendapat pujian dari teman-teman yang membeli. Gak nyangka ya. Plus, doi pun turun langsung sendiri dalam membeli bumbu dan bahan-bahan lainnya ke pasar. Dipilih satu-satu dengan rajinnya itu bawang putih, bawang merah, percabean dari cabe keriting sampai cabe merah gede, sayur sampai daging. Segala pedagang pasar pun sampai hafal dan ikriiiib banget sama doi ketimbang sama eikeh. Apalagi kalau gue sesekali dateng ke pasar, langsung aja pedagang heboh liat artis dateng. Kaga diing, gue disindir halus aja gitu. "Wah, Ibu sampai turun gunung nih." Preeetttt benerrr dah. >,<


Bersamaan dengan Allella Kitchen merambah dunia sosmed, begitupun gue yang semakin rajin sekrol-sekrol sosmed. Akibatnya banyak pikiran-pikiran gak penting masuk. Salah satunya, gue jadi korban drakor. Huahahahaha. Sebenarnya ini aib sih yang seharusnya gak perlu gue ceritakan di sini. Masalahnya, ini sudah jadi keseharian rasanya. Hidup tanpa drakor seperti makan tanpa nasi. Eh, gue makan tanpa nasi masih bisa, hidup tanpa air. Duh, lebay gak sih tuh gue. :D


Beneran deh, ini gue nista banget menceritakan hidup gue terpapar dengan drakor. Gue emang lemah dengan nonton dan liat cowok romantis di cerita-cerita tertentu gitu loh. Apalagi judulnya serial yang harus lanjut terus semacam drakor. Gak drakor aja gue suka terlena, seperti nonton Grey's Anatomy yang jadi favorit gue bertahun-tahun ini, plus nonton NCIS, CSI dan semacamnya itu. Apalagi dengan drakor. Semua orang tahu juga lah ya, namanya juga drakor, lebay maksimal kan ya, pastilah adegan-adegannya itu semua dimaksimalin bikin cewe-cewe jadi klepek-klepek kaya orang keracunan. Iya, semacam keracunan drakor ini! Begitu juga dengan gue, yaowoooo, kalap gue nonton drakor. Belum lagi jadinya ngeliat Bang Ali udah gue sama ratakan seperti ngeliat artis Korea yang gue demen. Tentu musibah buat Bang Ali ya, soalnya gue jadi gak waras karena menyamakan dia dengan artis Korea yang gue idolain. Nah, ini beneran jadi gak bisa bedakan mana realita mana ilusi. :D

Ini sudah gue prediksikan sebetulnya ketika gue mengambil langkah mencoba nonton drakor sekali. Tapi di satu sisi, drakor ini juga jadi penyelamatan tersendiri dari pengalihan pikiran untuk terus-terusan membuka sosmed. Ini mungkin satu-satunya berkah sekaligus musibah buat gue. Lewat drakor ini juga akhirnya gue belajar untuk mengontrol diri. Tepat di saat gue mulai keracunan, datanglah penyelamat. Babang Ji Chang Wook dan Babang Gong Yoo hadir di mimpi gue. Bukaaaaan deeeeeeh. Slepet juga niiih! :P :P


Ada beberapa hal yang datang sekaligus ketika gue sadar gue perlu keluar dari ketergantungan gue dengan menonton drakor. Hidup itu memang butuh penyeimbang. Gak bisa selamanya hanya mau senang, tapi menyingkirkan yang susah. Semacam Law of Attraction, ketika kita mengharapkan sesuatu, maka pintu akan dibukakan ke situ. Dalam hal apapun itu, pasti ini yang akan terjadi. Begitu juga ketika drakor ini sudah sedikit banyak menggangu keseharian, saatnya untuk mengganti pola hidup dan pikiran. Di saat itu pula mulailah bermunculan ide dan tawaran baru yang tidak terduga sebelumnya.


Hal pertama adalah terajaklah gue dalam satu rutinitas baru dengan teman-teman dari CM Jakarta. Kami berkumpul dalam satu grup kecil berisikan 12 orang, yang mana setiap harinya kami harus membaca satu buku, berjudul Positive Discipline lalu menarasikannya. Kami sendirilah yang menetapkan waktu yang pas bagi kami kapan harus mengumpulkan tugas narasi, menjalankan dua rutinitas harian yang selalu harus dikerjakan dan juga pastinya mendiskusikannya setiap dua minggu sekali. Sedikit banyak hal ini membantu sekali sih. Gak hanya urusan dalam mendisiplinkan anak yang sering kami curhatkan, tapi juga dalam urusan apapun yang membuat kami jatuh berkali-kali dalam lubang yang sama. Seperti support grup gitu ya ini. 



Selain itu, rutinitas yang perlu dijalankan juga sedikit banyak membantu gue dalam mengatur keseharian sih. Gue jadi terbiasa untuk tidur lebih pagi, sebelumnya kan karena keracunan drakor bisa sampai jam setengah 2 masih melek nonton. Sekarang jam 10 aja udah teler, dan paginya harus bangun kurang dari jam 6. Ditambah lagi rutinitas baru gue adalah jalan pagi bersama dengan Bang Ali dan dilanjut dengan meditasi sendiri. Dari dua rutinitas ini malah jadi berujung banyak banget loh. Gue jadi bisa melihat betapa dalam 24 jam itu banyaaak sekali yang bisa gue lakukan. Tanpa gue sadari, gue sudah menyusun beberapa rutinitas yang gue harus lakukan setiap harinya. Hidup jadi lebih teratur. Tentunya ya semuanya itu juga harus dijalankan dalam porsi sedikit demi sedikit. Menjalankan rutinitas itu tidak bisa sekali tepuk lalu rutinitas itu terjalankan. Semua butuh proses, dan always start small jadi motto gue lah sekarang.


Bagaimana dengan menonton drakor? Masih tetap dijalankan, tapi tidak lagi jadi Bucin Drakor dong sekarang. Sudah bisa mengatur waktu dengan baik, semoga ini berlangsung terus yaaa.


Hal kedua adalah mendadak gue mendapat tawaran ngelesin online. Adalah seorang sahabat dari jaman kuliah yang selalu menjadi tempat cerita ketika dibutuhkan. Persahabatan kami ini unik, tidak setiap saat kami mengobrol. Kadang bisa setahun sekali ataupun lebih, tapi ketika masing-masing dari kami punya masalah, pasti kami selalu terhubung dan bisa dihubungi. Begitulah persahabatan ala kami ini, dan jujur gue suka banget dengan persahabatan kami. 


Pernah satu kali gue tanya tentang les online, lalu ditanggapi antusias olehnya kalau gue perlu mencobanya. Sampai gue rundingan ini itu tentang plus minusnya ngelesin online. Eh satu hari justru mendadak dia menelpon dan menawarkan anaknya untuk dibantu les online oleh gue. Wah, satu kesempatan bagus ini. Sekali coba, gue ketagihan. Begitu gue posting di IG gue, seorang sahabat dari sekolah pun minta untuk dibantu anaknya. Kalau sebelumnya anaknya minta dilesin matematika, kali ini minta dibantu anaknya untuk lebih berani bicara dengan Bahasa Inggris. Kesempatan sekaligus tantangan buat gue ini secara gue dah lama gak banyak menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian. 


Setelah sebulan berjalan, gue mendapat review dari sahabat sejak sekolah bahwa anaknya mendadak pede jaya mengajukan diri ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan Bahasa Inggris. Begitu aja sudah membuat gue bahagia gak ketulungan loh. Rasanya mau gue skrinsyut itu tulisan sahabat gue dan gue pejeng di IG, tapi jadinya syombong maksimal bener ya gue. Batal deh niat nyombongin dirinya. Gue takut kalau orang sombong nanti fantatnya gak lebar lagi...Hahahaha.


Di saat yang bersamaan, terlintas juga untuk menjalankan kembali Allella Kids secara online. Mungkin mesin gue ini diesel yang lama panas ya. Bukan tipe orang yang dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ada momen bisa online, kenapa gak gerak cepat bikin kegiatan atau aktivitas apa gitu. Malah jatuh dulu dalam lubang drakor yang dalam. Tapi sekalinya sudah tergerak dengan ide yang muncul, gue mulailah mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan aktivitas dengan anak-anak.


Kali ini gue sempat disenggol oleh sahabat gue dari Jogja. Tiba-tiba saja dia kepingin anaknya untuk dikasih kegiatan oleh Allella Kids, bisakah gue sanggupi tanyanya. Lucu ya, seringkali gue mendapati hubungan gue dan dirinya ini sering berpapasan seperti ini. Gue lagi terlintas apa, kok bisa dia juga lagi terlintas ide yang sama. Sering!


Dan, setelah uji coba praktek kegiatan sekali, mantaplah untuk menjalankan kegiatan kembali dengan bendera Allella Kids. Kegiatan yang dibuat pun bukan kegiatan yang spektakuler luar biasa menggetarkan jiwa gitu loh, kegiatan super duper sederhana dengan bahan materi yang mudah didapat. Justru itulah kegiatan biasa ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri ketika menjalankannya. Setiap selesai bertemu dengan anak-anak ini seperti ada energi besar yang menyelimuti gue dan gue seneng luar biasa bisa berinteraksi lagi dengan mereka. Mendengar celoteh mereka walaupun hanya lewat online, bagi gue sudah bahagia banget. Begitu deh kalau berhubungan dengan anak-anak. Membawa sukacita tersendiri buat gue.


Begitulah yang terjadi di sepanjang tahun 2020, yang mungkin sebagian orang masih berusaha menerima atas apa yang terjadi dengan kesehariannya. Begitupun gue yang juga berjuang dengan keseharian gue. Begitu banyak hal yang saat ini gue melihatnya menjadi mujizat buat gue, berkat di setiap hal yang gue gumulkan. Dan satu lagi, gue melihatnya, tahun 2020 ini adalah pelajaran besar bagi kita semua. Ini bukan musibah, tahun ini adalah berkah. Berkah yang melimpah yang membuat kita belajar dari si Coronce. Di penghujung tahun ini, sanggupkah kita mengucapkan terima kasih akan hadirnya Covid 19 bernama Corona ini?