Lievell

Friday, July 17, 2020

7:31 AM

Drakor ooh Drakor

Drakor ooh Drakor

Sebetulnya sudah dapat diprediksi sebelumnya sih, kalau nonton drama seri semacam drakor itu sama seperti menjebloskan diri sendiri ke dalam lubang dan bakal susah untuk keluar. Memang dasar iman ini juga gak kuat-kuat amat ya, begitu mencoba satu judul saja, meskipun dah janji dengan diri sendiri untuk gak terlena, susah sekali ternyata untuk berhenti. Seperti layaknya magnet, drakor ini benar-benar menghipnotis sekali.


Berawal ketika salah satu stasiun TV swasta menayangkan satu judul serial drakor di tengah masa pandemi Covid-19 di pagi hari. Dengan kesadaran penuh (sebetulnya) gue menanyakan ke salah satu teman dari kecil gue yang memang suka sekali ber-drakor ria, dengan applikasi apa dia biasa menonton tayangan drakor. Dengan kesadaran penuh juga gue akhirnya mantap men-download applikasi tersebut dan menonton judul serial drakor yang ditayangkan di TV itu. Niatnya sih supaya gak capek-capek nunggu setiap hari per episodenya. Ya, tau sendiri kan, namanya drakor yang serupa tapi tak sama dengan sinetron ini, kalau sudah di akhir tayangan pasti dibikin situasi semacam lo lagi boker trus lo dipanggil sama bos gitu. Nanggung! Gak enak banget rasanya kan. Nah, dengan alasan itu lah, berikut janji gak akan terlena ke drakor-drakor lainnya, gue mulailah kenistaan menonton drakor.


Ketika seri pertama ditonton, menimbulkan sensasi tadi yang gue jelaskan (semacam boker gak tuntas itu, cuy), gue lanjut ke seri kedua, ketiga, terus dan terus, Sampai akhirnya gue kaget sendiri, dalam 3 hari sudah kelar gue tonton 16 episode. Kebayang kan, 5 episode dalam seharinya, dan ditonton secara marathon sampai niat tidur jam 1 atau setengah 2 pagi. Lalu berhenti sampai di situ?

Tentu tidak, Marimar!


Seperti biasa, ketika selesai menonton sesuatu, sudah jadi rutinitas bagi gue untuk browsing segala sesuatu yang berkaitan dengan tayangan yang gue tonton, seperti misalnya mengecek siapa nama pemainnya, latar belakang si aktor dan aktris ini, belum lagi melihat-lihat dia main di mana lagi. Kebiasaan ini pun juga gue lakukan dengan drakor yang gue tonton. Iseng awalnya lalu berujung jadi kepingin lanjut ke drakor berikutnya dimana si actor berperan juga. Kebetulan lagi di drakor berikutnya adalah salah satu drakor yang pernah fenomenal juga di masanya, sekitar tahun 2016-2017an gitu lah. Terlintaslah untuk menontonnya, yang kebetulan kali ini bisa-bisaan gue dapat grup tayangan drakor terlengkap di applikasi Telegram dari teman lain pecinta drakor juga. Dengan mudahnya drakor-drakor tersebut diunduh dan dapat ditonton, bahkan tanpa mobile data pun. Semakin nyaman saja situasinya ini. Tapi kali ini sudah gak se-barbar sebelumnya, ditonton cukup manusiawi, 16 episode dalam 5 hari. Cukup beradab lah ya. :P – pembelaan diri dari tersangka korban drakor.


Guardian: The Lonely and Great God


Ternyata oh ternyata, kejatuhan gue dengan drakor ini belum berakhir, sodara-sodara seiman dan senegara. Gue terlena dengan salah satu actor di drakor kedua yang berjudul Goblin. Yes, gue jadi demen banget sama pemainnya, Gong Yoo. Sampai-sampai gue niatin hanya akan menonton semua film dan drakor yang dimainkan oleh dia saja. Ini ceritanya untuk mempersempit iman gue yang gak kuat ini ya, supaya lebih tegar lagi menghadapi cobaan drakor. Namun sayangnya, korban drakor ini (gue!!) bukan hanya kurang iman dengan mengurangi tayangannya, tapi juga nambah dosa baru. Hampir tiap hari yang diliatin ya si Gong Yoo ini. Mesem-mesem sendiri gak jelas kaya orang gila. Nyanyiin theme songnya, padahal ngerti juga kaga artinya apa. Sampai punya niat mau belajar bahasa Korea, biar kalau nonton gak usah ditongkrongin subtitlenya tapi fokus sama mukanya aja.


Sebetulnya kalau mau milih sih gue mau menjadi penonton garis keras aja, yang hanya nonton tayangan yang ada Gong Yoo aja gitu. Sayangnya pemain drakor ini kan bejibun, meski banyak drakor bertebaran di mana-mana, satu aktor itu tidak terlalu banyak main drakornya. Begitu juga dengan Gong Yoo ini, drakornya hanya sedikit yang bisa ditonton. Akhirnya, sekelar dengan drakor-drakor yang dimainkan oleh Gong Yoo, gue beralih ke drakor fenomenal lainnya.  Kali ini gue hijrah ke tayangan Descendants of the Sun dengan pemainnya Song Joong Ki dan Song Hye Kyo. Dan di drakor ini pun gue terpesona dengan mereka berdua. Sempet ikutan baper pas baca-baca kisah mereka di real life dimana mereka akhirnya mereka beneran sampai masuk ke pernikahan dan sekarang dah bercerai. Halah!


Drakor terbaru yang saat ini baru aja gue selesaikan adalah The Innocent Man, yang main Song Joong Ki – mulai punya dua idola dah ini. Ya itu, lanjut dari DOTS, gue penasaran dengan drakor lainnya dari SJK ini. Ini pun juga hasil dari rekomendasi teman gue yang cinta banget sama doski. Biar dikata mukanya putih macam kulit bangkuang dan manis imut-imut (baby face gitu lah), tapi di dua drakor yang gue tonton, aktingnya oke juga. Drakor yang ini salah satu drakor yang menurut gue alur ceritanya cukup bikin gue up n down dengan tema balas dendam dari percintaan segitiga. Keren sih menurut gue sebagai penonton newbie drakor.


Jadilah selama pandemi ini gue sudah marathon nonton drakor entah ke berapa lah ini. Tapi gue akui sih, semakin ke sini drakor semakin beragam tema ceritanya dan semakin enak ditonton dengan pemandangan-pemandangan yang menarik juga. Ditambah lagi akting para pemainnya udah lebih oke juga. Gue sendiri sebetulnya pernah terlena nonton drama seri ketika sebelum nikah. Waktu itu masih eranya Meteor Garden dan setipenya yang sempat mengisi waktu gue saat itu. Karena gue sadar betul betapa gue gampang terlena dengan serial-serial seperti ini, jadi gue memilih menghindari nonton. Ealah, malah sekarang gue sendiri dengan sadar penuh memilih jalur drakor untuk mengisi waktu selama pandemi. Dodol emang! :D


Drakor alias Drama Korea ini benar-benar banget deh. Gue yang tadinya merasa hina jangan sampai kejeblos nonton drakor, eh sekarang malah ketagihan. Gue yang tadinya lihat muka aktor dan aktris Korea Selatan serasa sama semua gak ada bedanya, sekarang dikit-dikit paham siapa mereka. Gue yang tadinya mikir nama mereka semua mirip sampe susah bedain, sekarang mulai kebayang nama-nama mereka dikaitkan dengan mukanya. Bayangin aja gue pernah salah duga dong kalau Kim Jong-un adalah salah satu actor drakor. Ya amplop!! Sumpah, nama dan muka mereka itu susah diingat, man!!


Seringkali gue mengumpat “Drakor sialan!!” karena gue terlena dengan nonton drakor tetapi sebenarnya dianggap nista sekali juga gak sih nonton drakor ini. Memang perlu membagi waktu dengan imbang aja sebetulnya. Bagaimanapun juga ya tetap harus menerima keadaan kalau memang sudah terjerembab jatuh nyungsep tenggelam ke dalam dunia drakor yang udah seperti racun dunia selain si narkoba dan teman-temannya. Satu-satunya ya mencari cara untuk berdamai dengan situasi. Baiknya ya diatur dengan seimbang antara input dan output. Berhasil memasukan drakor ke dalam kesenangan, berarti harus ada output hasil dari kesenangan itu, misalnya saja mengkondisikan setiap selesai dengan satu drakor, buatlah review dalam bentuk tulisan untuk dibaca secara pribadi ataupun diunggah ke blog. Belajar lah bahasanya, karena bahasa Korea ini unik meskipun agak susah dipahami. Menarik sebetulnya belajar Korea. Begitu juga dengan tradisi mereka yang setiap makan harus banyak menunya, setiap bertemu dengan orang harus menunduk, bersalaman pun harus sopan dengan memegang antara ujung siku ataupun pinggang kanan. Sedikit sedikit jadi belajar bahasa dan tradisi mereka. Move on juga penting, artinya masih ada hal lain selain drakor. Kewajiban-kewajiban yang harus diselesaikan dalam keseharian ya diselesaikan dulu baru menonton di waktu senggang. Jangan sampai bablas lupa waktu dan lupa diri.


Semoga aja semakin beradab dan napak tanah ya dalam menonton drakor biar menjadi manusia yang lebih tahan iman – toyor pala ndiri ini sih mah. *nyengir*


Monday, June 29, 2020

8:11 AM

Esensi Dalam Bertuhan

Esensi Dalam Bertuhan

Dua belas tahun aku bersekolah di satu sekolah yang berbasis pendidikan Kristiani. Seperti pada umumnya sekolah dengan berbasis agama, anak-anak diminta untuk wajib mengikuti peraturan ritual agama di sekolah tersebut tanpa terkecuali apapun agama yang dianut oleh si anak. Jadilah ritual seperti melakukan ibadah kebaktian setiap minggunya, menghafalkan ayat-ayat alkitab setidaknya satu perikop dalam pelajaran agama dan juga ritual berdoa sebelum dan sesudah kelas, hukumnya wajib dilakukan dalam kegiatan persekolahan.  Apakah ritual-ritual tersebut lantas menjadikan anak-anak berkelakuan baik dalam kesehariannya?


Aku ingat sekali ketika aku berada di jenjang SMP. Kami diminta untuk mengikuti kebaktian yang dibuat di jam terakhir pelajaran sekolah dan terletak di gedung yang berbeda dari sekolah kami. Meskipun gedung kebaktian yang mana adalah gedung SD dan terletak dalam satu komplek yang sama, kami harus berjalan setidaknya 200-300 meter dari sekolah kami. Ya, kami berjalan berduyun-duyun di bawah terik matahari yang panasnya ajubileh bin jali, dengan guru yang menjaga barisan kami di depan dan di belakang agar anak-anak tidak hilang arah. Tetap saja, dalam perjalanan yang sebetulnya tidak cukup jauh itu, beberapa dari kami bisa mendadak berbelok arah dan masuk ke dalam gang-gang komplek perumahan lalu blas hilang, pulang ke rumah. Sehingga kebaktian yang diadakan sebelum pulang sekolah itu mendadak diganti jamnya menjadi pagi sebelum pelajaran dimulai agar peserta ibadah tidak mendadak hilang separuh.


Ada cerita lainnya lagi ketika kami ulangan agama dan harus menuliskan perikop ayat Alkitab. Mungkin ketika kami berusia SD, dengan nurutnya kami akan menghafal mati sampai tidak ada satu kata pun yang terlewatkan untuk nantinya kami tulis di kertas ulangan. Tetapi jangan harap dengan anak-anak menjelang usia dewasa ini, yang ada kami sibuk mengatur strategi bagaimana ayat-ayat Alkitab tersebut bisa kami ‘copy paste’ tanpa hilang satu katapun ke kertas ulangan kami. Ya, begitu banyak cara tentunya! Mulai dari membuat kertas contekan yang ditulis kecil-kecil (mata dengan silinder dan minus dilarang keras membuat contekan seperti ini) lalu kami gulung atau lipat untuk diselipkan di kaos kaki ataupun diinjak di dalam sepatu, sampai menuliskannya di atas meja kayu dengan pensil yang dilihat dengan bantuan cahaya matahari (cara ini memang akan tampak seperti orang bodoh karena kepala dan mata akan bergeser-geser untuk bisa membaca tulisan tersebut ) yang mana semua itu dilakukan dengan adrenalin tinggi tanpa ketahuan dari guru agama kami. Tujuannya tentu hanya untuk (lagi-lagi) nilai ulangan yang bagus semata.


Begitu banyak cara yang anak-anak lakukan di usia sekolah untuk bisa melepaskan diri dari ritual-ritual keagamaan. Anak-anak tampak tidak menyukai kegiatan beribadah ataupun pelajaran agama yang diberikan oleh sekolah. Tak jarang juga terjadi pemberontakan akan ritual-ritual yang sekolah sajikan. Padahal jelas sekali kalau semua peraturan-peraturan tersebut dibuat (untuk dilanggar, eh!) untuk menjadikan murid-muridnya berakhlak mulia di kemudian hari setelah selesai dari jenjang pendidikan di sekolah tersebut. Lantas, apa yang salah dari semuanya ini?


Dalam pembahasan diskusi dengan CM Jakarta beberapa hari yang lalu, ada penggalan kalimat seperti ini, “Dari tiga jenis pengetahuan yang layak dimiliki anak – pengetahuan tentang TUHAN, tentang manusia, dan tentang semesta – pengetahuan tentang TUHAN duduk peringkat pertama dalam hal arti pentingnya, tak boleh terabaikan, dan paling menentukan kebahagiaan.” Sudah jelas sekali bahwa pengetahuan tentang Tuhan ini menduduki tangga tertinggi untuk dijadikan tiang pondasi bagi anak. Mungkin yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, siapakah yang mengambil peran untuk mendirikan tiang pondasi tersebut untuk anak? Apakah sekolah, khususnya guru, ataukah peran orang tua yang mempunyai porsi terbesar dalam mengambil peran tersebut?


Guru di sekolah mempunyai peran dalam mendidik anak-anak dalam beragama. Pastinya dengan tekun guru akan mengajarkan semua yang berkaitan dengan keagamaan. Setidaknya seminggu sekali lah anak-anak diberikan bekal pelajaran agama dari buku teks. Dalam kesehariannya anak-anak pun diminta untuk melakukan rutinitas berdoa sebelum dan sesudah jam pelajaran sekolah agar mereka dilindungi dalam naungan Tuhan dalam belajar. Anak-anak pun tidak luput diberikan bekal ini itu yang berkaitan dengan Ketuhanan dalam kesehariannya mereka di sekolah. Tetapi, apakah hanya dengan buku teks saja anak-anak mampu mempunyai ikatan yang kuat dengan Tuhannya? Apakah dengan berdoa setiap hari anak-anak paham arti dan tujuanya dalam berdoa? Seyakin apa bekal-bekal yang diberikan oleh guru mampu membuat anak-anak ini bertahan di kehidupannya kelak selepas dari sekolah?


Seperti kata pepatah lama, “Anak adalah titipan Tuhan.” Seperti itulah tugas orang tua yang mengambil peran dalam porsi besar untuk bertanggung jawab akan titipanNya. Ikatan spiritual yang terbangun antara anak dan orang tua yang menjadi dasar untuk mendidik anak tentang Tuhan. Kasih sayang orang tua ibarat kasih sayang Tuhan untuk anaknya, sehingga sudah menjadi kewajiban utama bagi orang tua untuk mendampingi anak dalam kesehariannya untuk mengenal Tuhan lebih jauh lagi. Pertanyaan pun muncul ketika tanggung jawab ini disematkan. Bagaimana jika orang tua tidak sereligius itu dalam menjalankan agamanya, dalam melakukan ritualnya, dan dalam beribadahnya? Tentunya lepas tanggung jawab dan memberikan porsi ini kembali ke guru sekolah bukan menjadi jawabannya ya.


Perjalanan spiritual setiap keluarga bisa sangat berbeda-beda. Belajar dan bertumbuhlah dengan anak, karena sejatinya hasrat alami manusia itu mengenal sesuatu yang lebih tinggi darinya, dalam hal ini Tuhan. Pendidikan itu didapat dari atmosfer yang terbentuk dan keluarga mempunyai peran yang paling besar dalam memberikan atmosfer tersebut. Bagaimana anak bertumbuh dalam iman jika orang tua pun tidak mau bertumbuh dengan anak?


Mengenal Tuhan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, dan mengenalkan Tuhan dalam keseharian pun bisa berbeda-beda caranya. Mungkin melalui persoalan yang terjadi di sekitar dan mendiskusikannya bersama-sama dengan anak, bagaimana menyelesaikan masalah tersebut dengan mengandalkan tangan Tuhan yang bekerja dalam penyelesaiannya. Ataupun juga ketika anak bertanya tentang agama yang dianutnya, bersiaplah untuk menjadikan ini sebagai bahan diskusi yang menarik dengan anak dalam pencarian jati dirinya dengan Tuhannya.


Esensi dalam berTuhan tidak terpaku hanya di ritual dalam berdoa dan beribadah, tetapi juga dalam bersikap, pola pikir, cara pandang dan juga cara bersikap keluar terhadap teman-teman yang berbeda agama. Overdosis dalam beragama juga tidak dibenarkan. Ibarat melintasi kotak agama, anak-anak perlu juga melihat dan belajar dari kacamata agama lain sehingga mereka tidak semata tumbuh dan menjadikan agamanya  sendiri sebagai yang paling benar (I’ve been there!).

 


Saturday, June 13, 2020

9:16 AM

Kurikulum yang Kaya

Kurikulum yang Kaya

Setiap manusia pastilah terlahir dengan kodrat alamiah, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi Tuhan, sesama dan juga bagi alam semestanya. Sayangnya seiring dengan waktu kodrat tersebut tergerus dan entah menguap kemana. Tugasnya di dunia yang seharusnya bermanfaat bagi sesama, tergantikan dengan sibuk memikirkan dirinya sendiri. Belum lagi tugasnya menjaga alam sekitar seperti yang diperintahkan Tuhan kepada kita, yang ada justru sebaliknya, merusaknya, yang lagi-lagi, demi kepentingan dirinya sendiri. Lantas yang tersisa hanyalah manusia yang seolah-olah bermanfaat bagi Tuhan, tetapi sebenarnya tidak teraplikasi nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Kenapa manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk termulia yang memiliki akal dan budi bisa menjadi seperti itu?


Berkembangnya jaman membuat manusia seakan berlomba setiap waktunya untuk membuktikan menjadi yang terbaik. Sampailah kita di era teknlogi, dimana setiap orang bergantung penuh akan kebutuhan satu itu. Arus teknologi ini pun semakin kencang, membawa kita mengikuti arus atau bahkan membuat kita tenggelam semakin dalam. Belum lagi kesenangan yang tercipta ketika teknologi ini membuai kita dengan segala sesuatu yang menyenangkan. Tanpa disadari semuanya itu justru membuat daya fokus kita semakin dangkal, semakin sulit untuk diajak berpikir lebih mendalam.


Berkonsentrasi menjadi tugas berat bagi otak saat ini. Daya atensi kita pun semakin menurun seiring dengan distraksi yang kita terima dari dunia teknologi saat ini. Bagaimana gawai berperan sebegitu besarnya dalam kehidupan sehari-hari kita, dimana dengan mudahnya pula kita mendapati satu dunia hanya dalam satu sentuhan saja. Maka tidak heran saat ini semakin banyak orang dewasa yang terbuai dengan fokus kerumunan mentalitas orang banyak seperti berlomba menjadi yang terkenal, terhebat dan bahkan yang terkaya sekalipun lewat dunia sosial media yang sedang marak belakangan ini. Seolah-olah hanya itu tujuan terbesarnya dalam hidup.


Tentunya ini pun sedikit banyak berdampak pada anak-anak yang cenderung melihat pola ini dengan orang tuanya. Terpaparnya anak sejak dini dengan layar, bukan serta merta menjadi hal yang baik untuk anak. Belakangan ini semakin banyak sekali ditemukan kasus pada anak-anak usia dini yang kesulitan dalam berkomunikasi dikarenakan oleh gawai. Komunikasi satu arah yang ditampilkan melalui layar seolah menjadi teman dalam kehidupan si anak. Belum lagi dampak lain yang ditemukan, daya atensi yang rendah yang sudah tercipta dari sejak dini. Sungguh tidak dipungkiri banyak anak-anak ketika masuk usia sekolah sulit untuk berkonsentrasi lebih lama karena seringnya terpapar dengan layar di gawai.


Dalam satu workshop tentang Habit of Attention yang pernah aku ikuti, anak-anak usia dini, sampai usia 5-6 tahun, dilarang untuk diberikan gawai. Mereka harus dipaparkan sebanyak mungkin dengan alam, dibacakan buku-buku yang berkualitas dan bahkan dibiarkan mencari sendiri kegiatan dalam kesehariannya tanpa gawai. Semakin minim anak terpapar dengan gawai, semakin panjang daya atensi si anak. Ini dibuktikan dalam satu tayangan di workshop tersebut bagaimana seorang bayi berumur 1 tahun sibuk bermain dengan popok baru yang dipegang, dilempar, bahkan diperhatikannya dengan seksama selama 1 jam tanpa henti. Bagaimana daya atensi ini terkait erat dengan terpaparnya anak dengan gawai ya.


Daya atensi rendah ini selain tercipta karena paparan gawai, juga tidak diiringi dengan asupan jiwa. Seringkali kita lupa bahwa jiwa dan raga ini adalah satu kesatuan dan keduanya ini harus diisi dengan asupan-asupan yang baik. Layaknya raga yang dengan mudahnya diisi dengan sajian makanan yang beragam bagi tubuh, jiwa pun juga seharusnya mendapat asupan yang bergizi bagi daya berpikirnya sang otak. Kembali ke kodrat manusia di atas tadi, bagaimana kita sebagai manusia harus tumbuh dan bermanfaat bagi Tuhan, sesama, alam semesta, atau bahkan harus lebih tinggi daripada ketiga itu. Perlu sekali kita mendapat pengetahuan yang beragam, yang menyajikan bukan hanya 1 atau 2 materi saja demi menajamkan kemampuan (skill) untuk tujuan bertahan hidup semata. Pengetahuan harus diberikan secara menyeluruh dan utuh karena semuanya itu terkait satu dengan lainnya. Oleh karena itu sajian seperti kurikulum yang kaya sangat dibutuhkan oleh kita semua.


Begitu juga bagi anak-anak yang memulai hidupnya. Perlu sekali mereka mendapatkan kurikulum yang kaya, yang bukan hanya terfokus dengan minat dan bakatnya saja lalu lupa dengan kodrat alamiahnya sebagai manusia. Pendidikan janganlah dibedakan antara humaniora dan science, karena keduanya ini sejatinya harus berjalan selaras yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan juga jangan menjadi individualis yang hanya berpusat pada satu kepentingan saja, sehingga anak terdidik hanya menjadi ‘mesin’ uang di masa depannya dengan jiwa yang kosong. Mereka harus disajikan dengan berbagai hal yang tidak hanya menarik untuk dirinya sendiri saja. Bukan juga durasi belajar yang panjang yang dibutuhkan oleh anak-anak sehingga mereka cepat merasa bosan, bukan juga materi belajar yang hanya berisikan fakta dari buku materi yang garing untuk dipelajari, bukan juga buku yang hanya memuat materi bergambar saja sehingga anak tidak memiliki daya imajinasi yang tinggi, tetapi buku-buku yang hidup (living books) yang dapat memantik jiwa anak dalam mempelajari segala sesuatunya. Sajikanlah itu semua untuk mereka dan biarkanlah mereka menikmatinya.


 

Notes:

Gawai bukanlah musuh, bukan sesuatu yang harus dihindari. Anak tetap perlu diperkenalkan sesuai dengan porsinya. Jadikanlah gawai sebagai media imunitas sehingga tidak larut dalam sosialita. J


Saturday, May 30, 2020

12:00 PM

Ketika Corona Menyapa

Ketika Corona Menyapa


Belakangan ini satu dunia dihadapkan dengan satu pandemi penyakit yang bernama Corona. Penyebarannya cukup cepat, menyerupai flu sepertinya, tapi mematikan banyak manusia. Awalnya penyakit ini dikabarkan datang dari China, lalu menyebar seiring manusia berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lain, dari satu kota ke kota lain dan bahkan berpindah dari satu negara ke negara lain.


Awalnya di Indonesia sendiri tidak terdeteksi. Ya kalau ini sih sempat ada meme-meme lucu kenapa penyakit tersebut tidak sampai ke Indonesia. Pada saat itu pas sekali dengan sering-seringnya Jakarta kebanjiran, dimana anak-anak kecil membuat daerah banjir jadi ajang permainan mereka. Belum lagi dengan jajanan pinggir jalan ala Indonesia yang bercampur dengan debu kendaraan bermotor yang lalu lalang. Tentunya saja ini menguatkan asumsi kalau Corona merasa takut datang ke Indonesia.


Lalu sekitar pertengahan bulan Maret mendadak ditemukan 2 orang yang terjangkit penyakit Corona. Selesai Presiden Jokowi mengumumkan berita ini, seketika itu juga masyarakat di Indonesia kalap. Mereka semua mengantri di supermarket, membeli apa yang sebetulnya tidak perlu. Mereka berduyun-duyun memborong semua yang bisa mereka beli untuk persediaan. Dalam sekejab, semua supermarket kehabisan stok mereka.


Bahkan ada juga yang viral ketika salah satu bapak-bapak Tionghoa dengan seragam kebesarannya, celana pendek, kaos polo licin dengan tas di pinggangnya, mengantri di salah satu supermarket dengan tumpukan kardus Indomie melebihi tinggi badannya. Sontak kejadian ini menjadi perbincangan warga +62 lah ya, dari yang nyumpahin si Ngkoh kanker usus karena menyetok Indomie segitu banyaknya,sampai isu menyulut penjarahan pun melonjak. Usut punya usut, ternyata si Ngkoh ini emang setiap hari membeli Indomie dari supermarket tersebut dan setiap belanja ya dengan porsi seperti itu. Ya begitulah berita itu menyebar lewat sosmed, dan secepat itulah jari dan lidah mengeluarkan komen-komen.


Setelah pengumuman berita tersebut, selain masyarakat berbondong-bondong mengantri di supermarket, mendadak sekolah di Jakarta diminta untuk meliburkan murid-murid mereka guna memutus rantai penyebaran Corona atau yang sering disebut dengan Covid-19. Lagi-lagi hal ini jadi perbincangan. Mulai dari akan bagaimanakah sistem pendidikan selanjutnya ketika di rumah, lalu penilaian akan dibuat seperti apa, belum lagi yang menjelang UN sampai akhirnya di ujung pertanyaan, apakah uang sekolah bisa didiskon?


Seperti ramalan jadi kenyataan ketika Presiden Jokowi melantik Nadiem menjadi Menteri Pendidikan, dimana sekolah akan online, begitupun dengan pembayarannya yang sesuai applikasi Gojek. Sekolah pun akan berlangsung seperti lelucon yang menjadi kenyataan. Lucu namun miris.


Sekolah saat ini betul menjalani pendidikan secara online. Anak-anak diberi materi oleh guru kelasnya untuk dikerjakan di rumah dengan orang tuanya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi? Ya, tentu saja setelah pendidikan dipindahkan tugasnya menjadi orang tua yang bertanggung jawab penuh, orang tua berteriak semua. Mereka tidak siap menanggung semua ‘beban’ ini tiba-tiba, dibalik alasan mereka harus bekerja, menyelesaikan urusan rumah tangga (memasak, nyuci baju, setrika dsb), tidak ada waktu me time lagi sampai dengan alasan merasa rugi karena sudah membayar uang sekolah full di awal, bahkan merasa tidak terima ketika ditagih dengan uang sekolah bulanan atau bahkan tahunan karena harus mengajar sendiri anak-anaknya tanpa bantuan guru.


Barang tentu ini jadi dilema tersendiri bagi pihak sekolah, guru, orang tua bahkan anak-anak sekalipun. Selain orang tua yang merasa stress karena ter”beban”i dengan satu tanggung jawab baru (which is sebetulnya ini sudah jadi tanggung jawab di awal ketika memiliki anak. Ketika pihak sekolah sebagai wakil orang tua tidak bisa lagi membantu anak dalam pendidikan, sudah wajib takdirnya orang tua mau menerima tanggung jawab mendidik anaknya sendiri), anak pun kena getahnya. Setiap hari yang dihadapi mereka hanya tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan hanya demi nilai semata, sampai-sampai orang tua lupa apa sebetulnya hal dasar dari pendidikan selain nilai semu yang dikejar. Tujuan pemerintah merumahkan anak-anak dari sekolah, seharusnya bisa jadi ajang bagi keluarga untuk kembali melihat ke dalam. Ini justru bisa jadi momen tersendiri bagi orang tua untuk lebih berperan bagi anaknya. Bukan lagi nilai-nilai sekolah yang perlu dijunjung tinggi sehingga lupa apa artinya kebersamaan saat ini.


Selain orang tua dan anak, pihak sekolah sebagai wakil orang tua dan juga sebagai pihak pebisnis disini, merasa ketar ketir dengan keputusan pemerintah ini. Mereka tetap harus menjalankan ‘bisnis’ mereka, tapi tidak tahu sistem apa yang harus digunakan ketika situasi di luar kendali mereka. Jadilah pihak guru yang terkena dampaknya.


Sebagai orang yang pernah bekerja di sekolah, aku dapat merasakan bagaimana situasi guru saat ini. Pernah lihat di salah satu postingan teman yang bekerja sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah ternama bagaimana guru dalam menyiapkan pendidikan online harus bekerja semaksimal mungkin agar materi-materi tersebut sampai ke tangan orang tua dan bisa diajarkan ke anak-anak. Peran guru disini betul-betul menjadi tonggak keberhasilan bagi pihak sekolah, orang tua bahkan anak muridnya. Belum lagi sambil dipikirkan apakah tahun ajaran baru para guru ini masih akan mendapat pendapatan penuh atau tidak, bahkan memikirkan apakah jasa mereka masih akan tetap dipakai oleh sekolah tersebut atau tidak. Salut padamu, Para Guru, teman sejawatku!


Kalau bicara tentang pandemic yang terjadi ini sudah barang tentu banyak yang mengkritisi, dari mulai pendidikan anak, kerja pemerintah yang dinilai setengah-setengah menanggulanginya sampai ke bisnis yang mulai lesu. Bayangkan saja para masyarakat kelas bawah yang pendapatannya harian, sudah barang tentu hal ini paling berdampak ke mereka. Mereka lebih memilih tetap berjualan, sambil berharap ada pembeli, ketimbang harus berdiam diri di rumah menunggu pandemic selesai. Urusan perut jelas lebih utama bagi mereka saat ini. Lebih baik mati karena Covid-19 ketimbang mati karena kelaparan, begitu ujar mereka ketika diwawancara di daerah Kota. Hidup ini berat, Jenderal!


Tentu sudut pandang ini sedikit berbeda ketika yang menyikapinya dari pihak para Homeschooler. Kami yang sudah sejak awal tahu langkah kami dalam membersamai anak, ketika mendapati berita harus lebih banyak berdiam diri di rumah, tentu saja ini bukan menjadi masalah besar. Kami terbiasa 24 jam /7 hari dengan anak-anak dan tidak pernah merasa menjadi halangan untuk kami berdiam diri di rumah selama itu. Setidaknya ini yang terjadi di aku dan Fritz, tentu beda dengan bapaknya yang terbiasa dengan kerja lapangan.


Satu lagi yang dapat diamati dari pandemic ini, semesta seolah memaksa manusia untuk refleksi. Manusia diminta untuk rehat sejenak dari kesibukan duniawinya. Sibuk bekerja sampai lupa waktu dengan kesehatannya, kebersamaan dengan keluarganya, bahkan sampai lupa dengan dirinya sendiri dan alam sekitar. Manusia diminta untuk bersantai sejenak dan lebih menyadari serta menikmati hari demi hari dengan penuh kesadaran, bukan lagi sibuk dengan urusannya masing-masing.


Sadari alam sekitar. Langit jauh lebih cerah dari hari-hari biasanya. Burung-burung bercuit lebih sering. Bunga jauh lebih kelihatan indah dari biasanya. Bahkan udara pun jauh lebih enak dihirup ketimbang sebelumnya. Ya, biarkan bumi rehat. Bumi sudah tua dan butuh istirahat sejenak dari rutinitas manusia setelah dipakai secara berlebihan.


Oleh karena itu, masih banyak yang bisa disyukuri dari keadaan saat ini ketimbang menggerutu dengan hal-hal yang tiada guna. Sadari setiap nafas kehidupan kita adalah anugerah tersendiri yang Tuhan kasih secara gratis, begitu juga dengan detak jantung yang masih bekerja sampai saat ini. Biarlah hal kecil namun berarti bisa menjadi rasa syukur kita di tengah situasi saat ini.


Wednesday, May 27, 2020

1:28 PM

Kodrat Manusia

Kodrat Manusia

Diskusi buku vol 6 bersama dengan CM Jakarta dimulai pukul 1 siang. Lagi-lagi, kami hanya bisa bertemu secara online karena masih di masa pandemik yang mengharuskan kami masih banyak berdiam diri di rumah saat ini. Kalau saja obrolannya hanya sekadar remahan rengginang dengan dipenuhi ketawa haha hihi, mungkin akan beda ceritanya. Sayangnya yang dibahas ini adalah bahan yang sangat perlu konsentrasi tinggi di tengah siang bolong sehabis makan siang. Selain dibutuhkan konsentrasi tinggi, kali ini kami juga perlu untuk mendengarkan dengan seksama sebelum akhirnya kami diminta narasi satu persatu oleh Jeng Ayu. Oh Tuhan… Sudahlah jangan dibayangkan bagaimana kami, maaf, tepatnya aku berusaha semaksimal mungkin mendengar, mencerna bahkan mencoba fokus kata demi kata, kalimat demi kalimat ke dalam otakku yang belakangan ini terlalu banyak dipenuhi dengan adegan drama Korea termehek-mehek itu.


Sebetulnya topik bahasan ini sudah pernah dibahas bersama sewaktu dengan teman-teman CM Jakarta dulu. Sedikit banyak masih ingat apa yang pernah kami bahas waktu itu, tapi tidak sedalam bahasan dengan teman-teman CM Jakarta kemarin. Dari dua paragraph yang dibacakan, kami bisa berdiskusi dan tukar pikiran hampir selama 3 jam. Dari bahasan kami kemarin, kurang lebih seperti inilah yang aku pahami.


Pendidikan yang dikenal saat ini semua mengarah untuk melahirkan anak yang siap kerja di masa depannya. Seolah-olah anak diarahkan untuk menguasai satu bidang keahlian tertentu saja. Sehingga ketika lulus dari pendidikannya, mereka siap terjun ke dunia lapangan kerja tanpa lagi ragu dengan apa yang akan mereka kerjakan. Apa hanya sekadar itu tujuan pendidikan untuk anak? Apa sebetulnya yang diharapkan oleh orang tua untuk anaknya di masa depan nanti? Lalu, setelah anak-anak ini tumbuh dewasa dan siap memasuki dunia kerja dengan satu keahlian yang mereka punya, seberapa yakinkah mereka akan menyukai bidang tersebut? Bagaimana jika suatu saat nanti mereka tidak lagi menyukai apa yang mereka kerjakan namun mereka merasa tidak mempunyai keahilan lainnya lagi untuk keluar dari rutinitas mereka?


Tentu saja situasi merasa tidak berdaya terhadap keadaan dan situasi ini sering sekali ditemukan. Sayangnya, alasan merasa tidak mempunyai kekuatan dari dalam diri sendiri untuk keluar dari situasi tersebut lebih mendominasi ketimbang menggali lebih dalam siapa dirinya. Alih-alih melakukan refleksi, rekreasi justru menjadi pilihan untuk mengalihkannya. Tanpa disadari, pelan namun pasti, destruktif terhadap diri sendirinya lah yang terjadi. Akan sampai kapan hal ini akan berlangsung?


Kembali ke atas tadi, bukankah saat ini kita perlu pendidikan yang lebih dari sekadar melahirkan anak yang siap kerja? Kita membutuhkan satu kurikulum yang hidup dan kaya untuk anak-anak kita. Kurikulum yang menitik beratkan kepada siapa kodrat kita sebagai manusia yang mempunyai hasrat alamiah belajar dari hal-hal di sekeliling. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa semua pengetahuan itu saling terkait erat satu dengan lainnya, dan anak penting sekali dipaparkan dengan semua itu. Tujuannya tentu saja untuk menjadi manusia yang kodratnya lebih besar dari dirinya sendiri yaitu menjadi pelayan semesta. Dimana anak tidak melulu berpusat pada dirinya sendiri sehingga lupa akan kodratnya sebagai manusia yang siap melayani sesama dan Tuhan.


Mengutip kata ibu Charlotte Mason “;menghadapi anak sebagai anak Allah, yang hasrat tertinggi dan kemuliaan sejatinya adalah punya pengetahuan dan mengenal Bapanya yang Mahakuasa: bahwa dia adalah pribadi dengan banyak bagian dan hasrat hati yang harus tahu cara memakai, merawat, dan mendisiplin diri sendiri, dalam tubuh, akalbudi, maupun jiwa; anak sebagai pribadi yang punya banyak relasi––relasi dengan keluarga, kota, agama, negara, negara tetangga, dan dunia seluruhnya; anak sebagai penghuni bumi yang penuh dengan keindahan dan hal menarik”. Demikianlah anak perlu belajar untuk mengenal Tuhan sebaik mengenal dirinya sendiri.