Lievell

Saturday, September 5, 2020

1:57 PM

Bersejarah..

Bersejarah..

 


Siapa disini yang setuju kalau belajar Sejarah itu membosankan?


Wah, udah pasti deh banyak yang tunjuk tangan, eh gak keliatan lah ya kalau tunjuk tangan. Mungkin reaksi kalian pasti manggut-manggut sambil senyum-senyum sendiri. Ya, sama dong dengan aku!


Belajar Sejarah itu jadi momok tersendiri jaman sekolah dulu, selain belajar Matematika, Fisika, Kimia, PPKN, Bahasa Indonesia, Biologi (laah, semua pelajaran ini mah ya. :P). Benar atau benar? Rasanya hafalan paling menakutkan itu ya pelajaran Sejarah karena hafalnya harus benar, gak boleh meleset. Kebayang kan kalau nama orang salah atau tahun perang salah, kelar sudah nilai ujian kita. Pulang-pulang tinggal manyun kasih liat kertas ulangan ke orang tua. Bagus kalau hanya dipelototin aja, tapi kalau kemoceng yang mampir di betis, bah!


Pasti semua setuju ya kalau belajar Sejarah di sekolah itu membosankan (banget). Rata-rata semua buku pelajaran Sejarah berkutat dengan tanggal, tahun, nama tempat, nama orang yang semuanya itu menjadi beban tersendiri bagi kita untuk menghafalnya. Apalagi, setelah selesai ujian semua hafalan itu seperti menguap, yang sampai sekarang entah tersimpan di bagian sisi mana dari otak kita. Tidak heran kalau kita menjadi malas mengenal lebih jauh tentang sejarah. Jangankan sejarah dunia, sejarah negara kita saja pasti malas banget untuk dipelajarinya.


Menurut Charlotte Mason, sejarah itu merupakan bagian vital dari pendidikan. Hal dimana semua orang rasanya wajib dan mutlak perlu tahu tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau supaya bisa memandang segala sesuatunya lebih adil di saat ini. Bagaimana bisa begitu?


Generasi muda saat ini sedikit banyak memilih untuk apatis akan sejarah. Mereka hanya fokus dengan hidup mereka saat ini saja dan tidak cukup perduli dengan sejarah yang terjadi di masa lalu. Rasa sentimentil pada situs-situs kuno ataupun tempat-tempat bersejarah dimana peristiwa besar terjadi pun tidak banyak menggugah pemikiran mereka akan arti pentingnya sejarah. Padahal, sikap patriotisme dalam pribadi seseorang itu sangat diperlukan. Ditambah lagi, generasi tua yang tidak memiliki cukup minat untuk menceritakan kembali sejarah di masa lampau, sehingga semakin lunturlah rasa patriotisme di generasi muda saat ini. Patriotisme yang rasional dan bijak sangat tergantung pada seseorang, apakah ia banyak membaca sejarah atau tidak.


Pada akhirnya, ini kembali ke pendidikan dasar, yaitu sekolah. Bagaimana sekolah menanggapi pelajaran Sejarah di setiap jenjang pendidikan? Ya, seperti yang kita ketahui juga, pelajaran Sejarah di sekolah pun sama sekali tidak menarik. Tahun berulang, begitupun dengan pelajaran Sejarah yang selalu dipelajari dengan gaya yang sama dan dengan buku yang kering, hanya berisikan deretan fakta-fakta yang membuat anak didik menjadi bosan untuk mempelajarinya.


Sebenarnya, anak-anak itu sangat tertarik dengan sejarah. Mereka akan bisa memperhatikan dengan konsentrasi penuh kalau saja materi yang diberikan kepada mereka adalah materi belajar yang berkualitas dengan cita rasa sastrawi daripada buku-buku kering yang berisikan deretan fakta untuk dihafal oleh anak-anak. Metode dengan prinsip sekali baca lalu meminta anak menarasikan kembali apa yang sudah dibaca oleh guru juga jauh lebih efektif. Memberikan penilaian setelah ujian tertulis justru menjadi beban tersendiri bagi anak.


Tugas guru (orang tua) sebagai fasilitator juga memiliki peran yang sangat penting. Menjadi guru yang berpengetahuan dan memiliki simpati mendalam terhadap pengetahuan itu tersendiri adalah tugas yang perlu diemban oleh sang guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar. Guru tidak perlu banyak menjelaskan dan juga tidak perlu banyak menginterupsi ketika anak bernarasi.  Ya pasti pada awalnya anak akan kewalahan ketika diminta untuk bernarasi, tapi lambat laun anak-anak akan menemukan iramanya dan fasih dalam bernarasi. Tanpa disadari, anak-anak akan bisa bernarasi dengan panjang lebar. Guru pun tidak diminta memberikan komentar akan narasi anak, justru guru perlu sangat hati-hati dalam mengeluarkan pendapat.


Kenapa bernarasi, bukan menghafal?


Bernarasi justru membuat anak lebih memahami dan tidak membuat anak butuh untuk remidi, mengulang kembali materi yang sudah dipelajari. Anak-anak pun jadi lebih bisa memperhatikan secara utuh dan penuh konsentrasi di mana keduanya itu adalah naluri alamiah dan tidak butuh dipaksakan. Anak-anak jadi belajar untuk menyadari pikirannya sendiri supaya tidak mengembara melainkan fokus dengan materi yang diberikan. Membaca atau mendengarkan teks yang dibacakan dengan penuh perhatian justru membuat akal budi anak lebih bekerja.


“Bersandar pada memori akal budi, kita memvisualisasikan adegan, menerima argumen, menikmati susunan kalimat, dan membingkai semuanya dalam bahasa kita sendiri, lalu perikop atau bab tersebut kita serap dan menjadi bagian dari diri kita tak ubahnya pencernaan kita menyerap hidang yang kita lahap semalam; ini malah lebih dari makanan, karena makanan kemarin sudah nyaris tak berbekas lagi besok, tapi bacaan yang kita konsumsi dan hidupkan secara jernih, detil, dan akurat, kita narasikan langsung sejak pertama kali menyimaknya, bisa berbekas selama berbulan-bulan. Semua kuasa akalbudi dilibatkan dalam menangani makanan intelektual itu. Jadi kita sebaiknya tidak usah mendikte anak dengan rangkaian pertanyaan komprehensif, membuatkan ilustrasi-ilustrasi cantik untuk membantunya berimajinasi, mengeksplisitkan pesan moral untuk menggugah nuraninya. Semua itu akan terjadi sendirinya saat anak mencerna bacaan.” - Vol 6 pg 174


Pekerjaan setelahnya adalah mencari buku sejarah dengan cita rasa sastrawi. Bisa dibilang tidak semua negara berhasil menceritakan sejarahnya dalam bentuk sastrawi ataupun naratif yang enak dibaca oleh anak-anak. Biasanya buku sejarah diceritakan dalam bentuk deretan fakta dengan segitu banyaknya tokoh cerita dan tahun-tahun yang tentunya menjadi sangat membosankan untuk dibaca. Ini memang semacam mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ada, tapi perlu usaha keras dalam mencarinya. Memang butuh ekstra semangat.


Melihat dari pengalaman pribadi, bertahun-tahun tidak pernah mengerti tentang sejarah negeri sendiri ataupun negara lain, kami mencoba mengaplikasikan metode ini terhadap pendidikan rumah yang kami jalani beberapa tahun terakhir ini. Membacakannya buku, hanya sekali baca, lalu memintanya menarasikan kembali ternyata menjadi sangat efektif untuk Fritz, anak kami. Berusaha untuk tetap fokus terhadap bacaan yang sedang dibacakan juga menjadi bagian yang sangat penting untuk melatih daya konsentrasinya. Selain itu, bersama-sama kami membuat catatan lini masa (time line/ Book of Century) setiap kali kami menemukan tanggal atau tahun bersejarah.


Mungkin ini terkesan terlalu santai dalam mempelajari sejarah. Tidak ada penghafalan nama, tahun, perisitiwa dan juga tidak ada ujian tertulis yang perlu dinilai, hanya perlu konsentrasi dan bernarasi. Nyatanya, setiap cerita yang diceritakan kembali justru menjadi kepingan puzzle yang tersusun rapi di dalam pikirannya yang sewaktu-waktu dapat direlasikan antara sejarah bangsa satu dengan bangsa lainnya. Seperti ketika ia mengetahui kematian Richard Wagner, salah satu komposer, terjadi di tahun yang sama dengan meletusnya gunung Krakatau di tahun 1883. Menarik ya!


Ini akan menjadi hal yang luar biasa ketika seseorang mempunyai gambaran utuh sejarah sebagai latar belakang pemikirannya. Tidak perlu harus bisa menyebutkan tempat dan tanggal peristiwanya dengan presisi setiap sejarah yang terjadi. Setidaknya kita tahu bahwa di setiap isu selalu ada banyak sekali pertimbangan dari pihak terkait sehingga ini juga bisa jadi pertimbangan bagi generasi muda agar terselamatkan dari opini yang dangkal dan aksi yang terburu-buru. Akalbudi yang sigap dan berwawasan akan menuntun pada sikap santun dan hidup bersahaja.


"Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang." - Soekarno

Monday, July 27, 2020

10:01 PM

Reply 1988, Nostalgia Masa Kecil

Reply 1988, Nostalgia Masa Kecil

Sekelar menonton drama Korea berjudul Reply 1988 mendadak banyak perasaan campur aduk bergelut di hati. Drama yang berbalut komedi dengan alur tema keluarga dan persahabatan di era 80an akhir ini mampu sekali membuat gue terbawa perasaan yang mendalam dan yang paling dirasa adalah rasa kangen dengan kehidupan masa kecil gue. Benar-benar sukses membangkitkan nostalgia.

 

Alkisah cerita ini berawal dari 5 anak kecil yang tinggal bertetangga satu dengan yang lainnya dalam satu gang yang bernama Ssangmundong. Dikarenakan mereka sering bermain bersama, otomatis persahabatan pun terjalin diantara mereka berlima. Mulai dari kecil sampai akhirnya perjalanan drakor ini dimulai ketika mereka sudah masuk di usia 18 tahun atau setara kelas 2 SMA (sepertinya umur mereka boros yee, umur segitu belum kelar sekolah :D). Adalah Sung Deok-sun, Sung Sun-woo, Kim Jung-hwan, Ryu Dong-ryong dan Choi Taek nama-nama 5 sekawan yang tinggal bersama dengan keluarga mereka masing-masing di gang tersebut.

 

Mereka sering sekali berkumpul bersama di rumahnya Choi Taek atau biasa suka dipanggil dengan sebutan Taek-ki. Ia merupakan pendatang terakhir di gang itu dan ibunya sudah meninggal sejak ia kecil. Ia pemain Baduk yang sudah go international dan ia memutuskan tidak sekolah karena profesinya ini. Karena ia sering kali bertanding di luar negeri, momen kepulangan dia sekelar dari bertanding pasti ditunggu oleh teman-temannya. Dering telepon berantai di antara rumah mereka pasti berbunyi saling memberi kabar dan dalam sekejab mereka sudah berada di kamar Taek-ki. Kegiatan mereka selama kumpul ini, selain menanyakan menang atau kalah dalam pertandingannya, mereka biasanya nonton film sambil nyemil atau makan ramen kuah dalam satu panci yang dimakan rame-rame dan diakhiri dengan menginap bersama.

 

Momen-momen kocak banyak terjadi selama mereka kumpul bareng ini. Ada satu momen dimana Taek-ki kalah bertanding. Dimana semua orang berusaha menghiburnya dengan tidak menanyakan apapun tentang kekalahannya ataupun berusaha memberikan ini itu supaya dia tidak larut dalam kekalahannya. Eh begitu teman-temannya ini masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Taek-ki sedang duduk termenung di depan papan Baduknya, gak ada kata manis ataupun menghibur, yang ada justru dibego-begoin (dikatain bego) kenapa harus sedih gara-gara kalah gitu doang. Namanya juga permainan pasti ada menang ada kalah, ya diterima aja. Lo mau teriak dan mengumpat sialan, bangsat, kampret juga gak papa kali biar hati lo lega, ya habis itu berjuang lagi. Kira-kira begitulah mereka ngomong, dan memang itu yang diperlukan sama Taek-ki. Begitu dia mengumpat, dia merasa lega dan justru malah bisa ketawa lepas. Apalagi mengumpatnya itu pake diajarin dulu dan dikata-katain dulu, kurang kasar, kurang kenceng, kurang..kurang. Sampai akhirnya dia lega setelah teriak-teriak kaya gitu. Nah, habis itu pasti ada aja kelakuan dari dua temen ajaibnya, yaitu si Deok-sun dan Dong-ryong, yang biasanya langsung mulai dengan joget-joget gak jelas ala 80an gitu, yang pasti sontak ini bikin ketiga temen-temennya ngakak gak berenti melihat mereka. Atau kebiasaan kentut sebelum tidur dari si Dong-ryong yang bikin emosi jiwa dan biasanya berakhir digebukin rame-rame. Bau, man!

 

Persahabatan ini yang mengingatkan gue dengan teman-teman di masa kecil gue. Cerita gue gak beda jauh dari kisah di Reply 1988 ini. Gue besar di satu komplek dan bersekolah dari SD sampai lulus SMA di sekolah komplek juga. Otomatis teman-teman gue selama 12 tahun ya 4L, Lo Lagi Lo Lagi, dengan pertambahan teman hanya sedikit sekali di setiap jenjang pendidikan. Karena inilah kami cukup mengenal satu sama lain. Kami saling tahu dimana rumah si itu, si ini, si ana, si anu berikut juga kenal dengan orang tuanya masing-masing. Ketika telepon sudah masuk di komplek kami, kami pun saling menghafal nomor telepon dalam sekali pencet untuk sekadar tanya PR, tanya lo ada di rumah apa gak, ataupun ngobrol di telepon yang bikin emak babeh gue suka teriak karena tagihan telepon bengkak. Tak jarang juga kami saling bermain berjam-jam di rumah teman, entah sekadar mengobrol, nonton film, sampai makan siang ataupun nyemil sore di sana. Sering juga kegiatan kami setiap sore naik sepeda bersama keliling komplek, pernah juga ada masa main roller blade bareng, berenang bersama di kolam renang komplek atau bahkan jalan pagi bersama di kala libur sekolah yang berujung dengan makan bakmi.

 

Bertambahnya umur, persahabatan kelima kawan dari Ssangmundong ini mulai menunjukkan saling suka satu sama lain. Ada kisah cinta segitiga diantara mereka berlima, dimana Deok-sun, si satu-satunya perempuan di geng mereka yang mempunyai kelakuan ajaib yang rasanya urat malunya udah putus dari kapan tau itu, merasa GR dengan Sun-woo. Deok-sun merasa Sun-woo naksir dia. Setiap kali Sun-woo mampir ke rumah, kelakuan si Deok-sun mirip cacing kepanasan. Pernah dia kabur masuk kamar, begitu keluar kamar dia sudah berdandan menor hanya karena Sun-woo mampir ke rumahnya untuk minjem apa gitu. Gilingan memang Deok-sun, bikin ngakak abis. Eh ternyata seringnya Sun-woo mampir itu hanya untuk melihat kakaknya Deok-sun, Kak Bo-ra lewat minjem ini itu dari Deok-sun. Hancur sudah hatinya Deok-sun, sampai mewek karena merasa ditolak dan kesel kenapa Sun-woo naksir kakaknya.

 

Di lain sisi, ternyata ada Jung-hwan dan Choi Taek yang diam-diam naksir Deok-sun yang tentunya Deok-sun ini sama sekali gak sadar dong. Jung-hwan si cowok cool yang irit bicara ini sebetulnya sudah beberapa kali kasih sinyal ke Deok-sun, semisal jagain Deok-sun ketika di bus lagi padat banget supaya Deok-sun gak terjungkal kanan kiri depan belakang, belum lagi Jung-hwan yang diam-diam nungguin Deok-sun sepulang sekolah sambil bawa payung karena sedang hujan, dan berbagai macam sweet small things PDKT ala-ala gitu. Menyenangkan sih lihat momen-momen PDKTnya si Jung-hwan ini. Hihihi.

 

Beda lagi dengan Choi Taek. Taek-ki ini bisa dibilang hanya pintar main Baduk aja, untuk hal lain bisa dibilang terbelakang banget. Makan pakai sumpit aja kesusahan, sampai-sampai Dong-ryong suka gemes liat Taek-ki gak bisa-bisa ambil daging atau mie dengan sumpit. Biasanya Deok-sun langsung ambil garpu atau sendok begitu melihat situasi ini. Tidak bisa ikat tali sepatu. Pernah sampai ditolong oleh Jung-hwan dan Taek-ki memilih tidak membuka-buka lagi tali sepatu yang dibantu Jung-hwan itu. Belum lagi pernah diomelin Deok-sun habis-habisan karena kepolosannya Taek-ki yang minjemin duit ke siapa aja yang minta.

 

Dasar emang cinta itu buta ya. Meskipun Taek-ki mempunyai IQ 139, tapi dia sering banget dikerjain oleh Deok-sun yang hanya memiliki IQ 99. Ini kocak deh. Ada satu momen dimana mereka ditinggalin di pantai oleh teman-temannya. Deok-sun meminta dompet Taek-ki dan dilihatnya Taek-ki membawa uang yang banyak, lalu Deok-sun bilang akan mentraktir Taek-ki dan Taek-ki iya-iya aja. Duit duitnya siapa cobaaa. Dodol emang. Selama nunggu ini, Deok-sun membeli snack ringan semacam Cheetos dan menawarkan Taek-ki. Ketika Taek-ki membuka mulutnya siap disuapin Deok-sun, bukan snack yang masuk mulut melainkan jari Deok-sun. Berkali-kali dikerjain kaya gini tapi gak pinter-pinter juga si Taek-ki, dia tetep mangap dan berakhir dengan jari Deok-sun yang masuk. Haizz, ini ngakak abis.

 

Mungkin karena care-nya Deok-sun ke Taek-ki yang bikin Taek-ki jadi suka dengan Deok-sun ya. Momen banget ketika Deok-sun harus nemenin Taek-ki bertanding ke Cina. Deok-sun terkaget-kaget ketika tahu kalau Taek-ki sebelum bertanding bisa sampai gak keluar dari kamar dan gak makan. Belum lagi dia cukup shock melihat Taek-ki ternyata merokok untuk menghilangkan stressnya sebelum bertanding. Melihat ini dan sudah dikasih tau oleh bokapnya Taek-ki, Deok-sun sudah menyiapkan segala keperluan Taek-ki selama bertanding. Biar Deok-sun dodol sedodol-nya ya, dia paham juga gimana mengurus Taek-ki. Dia bawa matras penghangat dari rumahnya – ini bikin Bo-ra emosi karena dia jadi kedinginan menggigil karena matrasnya penghangatnya dibawa si Deok-sun :D :D, dan ditaruh di bawah sprei tempat tidur Taek-ki di hotel karena pas musim dingin di Cina. Deok-sun juga menyiapkan pakaiannya Taek-ki untuk bertanding, dia taruh di mana Taek-ki bisa lihat – sampai hal kaya gini aja juga Taek-ki gak bisa, doeng banget ini orang emang ye. Sampai beliin makanan dan bikinin telur ceplok di dapur hotel buat Taek-ki makan. Kalau gak ada Deok-sun kelar udah hidupnya Taek-ki kali ya. Ampun deh.

 

Hal-hal semacam ini, cinta-cintaan monyet, juga terjadi di area komplek gue semasa gue SMP-SMA. Cerita si ini lagi PDKT ke si itu, lalu pacaran, putus dan PDKT dengan siapa lagi, udah menjadi cerita yang hilir mudik di telinga kami. Kadang merasa komplek gue tinggal ini mirip kisahnya Beverly Hills 90210, halah! Saking segitu banyaknya kisah romantis picisan ala-ala anak abegeh saat itu yang bertebaran di seantero komplek. Lucu kalau diingat. Komplek itu saksi bisu banget mengenang cerita cinta monyet kami semua.

 

Selain kisah persahabatan kelima kawan tadi, yang gak kalah seru adalah kisah masing-masing keluarga dan antar tetangga di gang Ssangmundong. Masing-masing mempunyai kisah tersendiri yang gak kalah kocak dan mengharu biru. Beberapa kali gue nangis mengingat kisah-kisah keluarga mereka mirip dengan kisah keluarga gue sendiri. Ya setiap keluarga pasti punya kisahnya masing-masing dan melalui drama ini setidaknya ada irisan yang sama dan terelasi dengan keluarga kita sendiri.

 

Seperti ketika Bo-ra mau belajar hukum dan harus masuk asrama. Ibu dan kedua adiknya mengantar Bo-ra dengan sedih di depan rumah, sedangkan Ayahnya memilih sok cuek dengan pergi kerja di hari itu seolah-olah ini hal biasa aja kok, gak perlu bersedih. Eh ternyata Ayahnya tidak berangkat kerja, malah nungguin Bo-ra lewat di pinggir jalan lalu memberhentikan mobil Bo-ra dan memberikan obat-obatan untuk di asrama nanti. Ah, sedihnya momen ini. Ayah yang sayang banget dengan anak sulungnya yang notabene serupa tapi tak sama wataknya ini. Ditambah lagi ketika Deok-sun diminta Ibunya mengantar kepiting untuk ransum kakaknya di asrama. Deok-sun sempat kesal karena harus berjalan jauh demi Bo-ra, tetapi begitu sampai disana ia melihat kamar asrama Bo-ra yang kecil banget. Seketika Deok-sun langsung memeluk Bo-ra dan menangis. Biar gimanapun siblings still siblings ya, meskipun kesel tapi kalau lihat saudaranya susah tetap saja sedih. Ah…

 

Dan tentunya di balik kisah-kisah mellow masing-masing keluarga, banyak juga hal-hal kocak yang bikin ngakak setiap nontonnya. Kelakuan para suami istri, ayah ibu dari kelima kawan itu, yang konyolnya ampun deh. Paling gokil sebetulnya keluarga Jung-hwan. Kebayang gak sih anaknya cool abis gitu, irit bicara, tapi emak bapaknya koplak abis. Ada-ada aja kelakuan mereka. Pernah sotoy bokapnya benerin setrikaan emaknya, sedikit-sedikit tali kabelnya dipotong sampai akhirnya kabelnya tinggal 30 cm doang. Emaknya udah emosi aja itu. Apalagi pas dipakai buat nyetrika, yang ada mejanya yang harus digeser sana sini supaya bisa ke-strika pakaiannya. Bikin tambah emosi si emak, kocak ini.

 

Begitu banyak nostalgia ketika menonton drama satu ini. Sukses banget membuat gue tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di kasur dan juga menangis sesegukan bersamaan. Ceritanya sangat ringan tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari di tahun-tahun itu. Bagaimana persahabatan antar teman terjalin hanya dengan main bersama tanpa sibuk oleh gadget. Menghabiskan berjam-jam di rumah teman sambil dengerin lagu sambil tiduran di kasur atau lantai dan bercerita ini itu. Sampai tiba waktunya kami semua sibuk dengan urusan masing-masing dan satu persatu meninggalkan komplek untuk menjelajahi dunia masa depan. Memori tetap terkenang sepanjang masa, meskipun momen tersebut hanya menjadi kisah yang melekat di ingatan.

 

Kosambi Baru, biarlah tetap menjadi saksi bisu perjalanan hidup gue di tahun 90an.


Friday, July 17, 2020

7:31 AM

Drakor ooh Drakor

Drakor ooh Drakor

Sebetulnya sudah dapat diprediksi sebelumnya sih, kalau nonton drama seri semacam drakor itu sama seperti menjebloskan diri sendiri ke dalam lubang dan bakal susah untuk keluar. Memang dasar iman ini juga gak kuat-kuat amat ya, begitu mencoba satu judul saja, meskipun dah janji dengan diri sendiri untuk gak terlena, susah sekali ternyata untuk berhenti. Seperti layaknya magnet, drakor ini benar-benar menghipnotis sekali.


Berawal ketika salah satu stasiun TV swasta menayangkan satu judul serial drakor di tengah masa pandemi Covid-19 di pagi hari. Dengan kesadaran penuh (sebetulnya) gue menanyakan ke salah satu teman dari kecil gue yang memang suka sekali ber-drakor ria, dengan applikasi apa dia biasa menonton tayangan drakor. Dengan kesadaran penuh juga gue akhirnya mantap men-download applikasi tersebut dan menonton judul serial drakor yang ditayangkan di TV itu. Niatnya sih supaya gak capek-capek nunggu setiap hari per episodenya. Ya, tau sendiri kan, namanya drakor yang serupa tapi tak sama dengan sinetron ini, kalau sudah di akhir tayangan pasti dibikin situasi semacam lo lagi boker trus lo dipanggil sama bos gitu. Nanggung! Gak enak banget rasanya kan. Nah, dengan alasan itu lah, berikut janji gak akan terlena ke drakor-drakor lainnya, gue mulailah kenistaan menonton drakor.


Ketika seri pertama ditonton, menimbulkan sensasi tadi yang gue jelaskan (semacam boker gak tuntas itu, cuy), gue lanjut ke seri kedua, ketiga, terus dan terus, Sampai akhirnya gue kaget sendiri, dalam 3 hari sudah kelar gue tonton 16 episode. Kebayang kan, 5 episode dalam seharinya, dan ditonton secara marathon sampai niat tidur jam 1 atau setengah 2 pagi. Lalu berhenti sampai di situ?

Tentu tidak, Marimar!


Seperti biasa, ketika selesai menonton sesuatu, sudah jadi rutinitas bagi gue untuk browsing segala sesuatu yang berkaitan dengan tayangan yang gue tonton, seperti misalnya mengecek siapa nama pemainnya, latar belakang si aktor dan aktris ini, belum lagi melihat-lihat dia main di mana lagi. Kebiasaan ini pun juga gue lakukan dengan drakor yang gue tonton. Iseng awalnya lalu berujung jadi kepingin lanjut ke drakor berikutnya dimana si actor berperan juga. Kebetulan lagi di drakor berikutnya adalah salah satu drakor yang pernah fenomenal juga di masanya, sekitar tahun 2016-2017an gitu lah. Terlintaslah untuk menontonnya, yang kebetulan kali ini bisa-bisaan gue dapat grup tayangan drakor terlengkap di applikasi Telegram dari teman lain pecinta drakor juga. Dengan mudahnya drakor-drakor tersebut diunduh dan dapat ditonton, bahkan tanpa mobile data pun. Semakin nyaman saja situasinya ini. Tapi kali ini sudah gak se-barbar sebelumnya, ditonton cukup manusiawi, 16 episode dalam 5 hari. Cukup beradab lah ya. :P – pembelaan diri dari tersangka korban drakor.


Guardian: The Lonely and Great God


Ternyata oh ternyata, kejatuhan gue dengan drakor ini belum berakhir, sodara-sodara seiman dan senegara. Gue terlena dengan salah satu actor di drakor kedua yang berjudul Goblin. Yes, gue jadi demen banget sama pemainnya, Gong Yoo. Sampai-sampai gue niatin hanya akan menonton semua film dan drakor yang dimainkan oleh dia saja. Ini ceritanya untuk mempersempit iman gue yang gak kuat ini ya, supaya lebih tegar lagi menghadapi cobaan drakor. Namun sayangnya, korban drakor ini (gue!!) bukan hanya kurang iman dengan mengurangi tayangannya, tapi juga nambah dosa baru. Hampir tiap hari yang diliatin ya si Gong Yoo ini. Mesem-mesem sendiri gak jelas kaya orang gila. Nyanyiin theme songnya, padahal ngerti juga kaga artinya apa. Sampai punya niat mau belajar bahasa Korea, biar kalau nonton gak usah ditongkrongin subtitlenya tapi fokus sama mukanya aja.


Sebetulnya kalau mau milih sih gue mau menjadi penonton garis keras aja, yang hanya nonton tayangan yang ada Gong Yoo aja gitu. Sayangnya pemain drakor ini kan bejibun, meski banyak drakor bertebaran di mana-mana, satu aktor itu tidak terlalu banyak main drakornya. Begitu juga dengan Gong Yoo ini, drakornya hanya sedikit yang bisa ditonton. Akhirnya, sekelar dengan drakor-drakor yang dimainkan oleh Gong Yoo, gue beralih ke drakor fenomenal lainnya.  Kali ini gue hijrah ke tayangan Descendants of the Sun dengan pemainnya Song Joong Ki dan Song Hye Kyo. Dan di drakor ini pun gue terpesona dengan mereka berdua. Sempet ikutan baper pas baca-baca kisah mereka di real life dimana mereka akhirnya mereka beneran sampai masuk ke pernikahan dan sekarang dah bercerai. Halah!


Drakor terbaru yang saat ini baru aja gue selesaikan adalah The Innocent Man, yang main Song Joong Ki – mulai punya dua idola dah ini. Ya itu, lanjut dari DOTS, gue penasaran dengan drakor lainnya dari SJK ini. Ini pun juga hasil dari rekomendasi teman gue yang cinta banget sama doski. Biar dikata mukanya putih macam kulit bangkuang dan manis imut-imut (baby face gitu lah), tapi di dua drakor yang gue tonton, aktingnya oke juga. Drakor yang ini salah satu drakor yang menurut gue alur ceritanya cukup bikin gue up n down dengan tema balas dendam dari percintaan segitiga. Keren sih menurut gue sebagai penonton newbie drakor.


Jadilah selama pandemi ini gue sudah marathon nonton drakor entah ke berapa lah ini. Tapi gue akui sih, semakin ke sini drakor semakin beragam tema ceritanya dan semakin enak ditonton dengan pemandangan-pemandangan yang menarik juga. Ditambah lagi akting para pemainnya udah lebih oke juga. Gue sendiri sebetulnya pernah terlena nonton drama seri ketika sebelum nikah. Waktu itu masih eranya Meteor Garden dan setipenya yang sempat mengisi waktu gue saat itu. Karena gue sadar betul betapa gue gampang terlena dengan serial-serial seperti ini, jadi gue memilih menghindari nonton. Ealah, malah sekarang gue sendiri dengan sadar penuh memilih jalur drakor untuk mengisi waktu selama pandemi. Dodol emang! :D


Drakor alias Drama Korea ini benar-benar banget deh. Gue yang tadinya merasa hina jangan sampai kejeblos nonton drakor, eh sekarang malah ketagihan. Gue yang tadinya lihat muka aktor dan aktris Korea Selatan serasa sama semua gak ada bedanya, sekarang dikit-dikit paham siapa mereka. Gue yang tadinya mikir nama mereka semua mirip sampe susah bedain, sekarang mulai kebayang nama-nama mereka dikaitkan dengan mukanya. Bayangin aja gue pernah salah duga dong kalau Kim Jong-un adalah salah satu actor drakor. Ya amplop!! Sumpah, nama dan muka mereka itu susah diingat, man!!


Seringkali gue mengumpat “Drakor sialan!!” karena gue terlena dengan nonton drakor tetapi sebenarnya dianggap nista sekali juga gak sih nonton drakor ini. Memang perlu membagi waktu dengan imbang aja sebetulnya. Bagaimanapun juga ya tetap harus menerima keadaan kalau memang sudah terjerembab jatuh nyungsep tenggelam ke dalam dunia drakor yang udah seperti racun dunia selain si narkoba dan teman-temannya. Satu-satunya ya mencari cara untuk berdamai dengan situasi. Baiknya ya diatur dengan seimbang antara input dan output. Berhasil memasukan drakor ke dalam kesenangan, berarti harus ada output hasil dari kesenangan itu, misalnya saja mengkondisikan setiap selesai dengan satu drakor, buatlah review dalam bentuk tulisan untuk dibaca secara pribadi ataupun diunggah ke blog. Belajar lah bahasanya, karena bahasa Korea ini unik meskipun agak susah dipahami. Menarik sebetulnya belajar Korea. Begitu juga dengan tradisi mereka yang setiap makan harus banyak menunya, setiap bertemu dengan orang harus menunduk, bersalaman pun harus sopan dengan memegang antara ujung siku ataupun pinggang kanan. Sedikit sedikit jadi belajar bahasa dan tradisi mereka. Move on juga penting, artinya masih ada hal lain selain drakor. Kewajiban-kewajiban yang harus diselesaikan dalam keseharian ya diselesaikan dulu baru menonton di waktu senggang. Jangan sampai bablas lupa waktu dan lupa diri.


Semoga aja semakin beradab dan napak tanah ya dalam menonton drakor biar menjadi manusia yang lebih tahan iman – toyor pala ndiri ini sih mah. *nyengir*


Monday, June 29, 2020

8:11 AM

Esensi Dalam Bertuhan

Esensi Dalam Bertuhan

Dua belas tahun aku bersekolah di satu sekolah yang berbasis pendidikan Kristiani. Seperti pada umumnya sekolah dengan berbasis agama, anak-anak diminta untuk wajib mengikuti peraturan ritual agama di sekolah tersebut tanpa terkecuali apapun agama yang dianut oleh si anak. Jadilah ritual seperti melakukan ibadah kebaktian setiap minggunya, menghafalkan ayat-ayat alkitab setidaknya satu perikop dalam pelajaran agama dan juga ritual berdoa sebelum dan sesudah kelas, hukumnya wajib dilakukan dalam kegiatan persekolahan.  Apakah ritual-ritual tersebut lantas menjadikan anak-anak berkelakuan baik dalam kesehariannya?


Aku ingat sekali ketika aku berada di jenjang SMP. Kami diminta untuk mengikuti kebaktian yang dibuat di jam terakhir pelajaran sekolah dan terletak di gedung yang berbeda dari sekolah kami. Meskipun gedung kebaktian yang mana adalah gedung SD dan terletak dalam satu komplek yang sama, kami harus berjalan setidaknya 200-300 meter dari sekolah kami. Ya, kami berjalan berduyun-duyun di bawah terik matahari yang panasnya ajubileh bin jali, dengan guru yang menjaga barisan kami di depan dan di belakang agar anak-anak tidak hilang arah. Tetap saja, dalam perjalanan yang sebetulnya tidak cukup jauh itu, beberapa dari kami bisa mendadak berbelok arah dan masuk ke dalam gang-gang komplek perumahan lalu blas hilang, pulang ke rumah. Sehingga kebaktian yang diadakan sebelum pulang sekolah itu mendadak diganti jamnya menjadi pagi sebelum pelajaran dimulai agar peserta ibadah tidak mendadak hilang separuh.


Ada cerita lainnya lagi ketika kami ulangan agama dan harus menuliskan perikop ayat Alkitab. Mungkin ketika kami berusia SD, dengan nurutnya kami akan menghafal mati sampai tidak ada satu kata pun yang terlewatkan untuk nantinya kami tulis di kertas ulangan. Tetapi jangan harap dengan anak-anak menjelang usia dewasa ini, yang ada kami sibuk mengatur strategi bagaimana ayat-ayat Alkitab tersebut bisa kami ‘copy paste’ tanpa hilang satu katapun ke kertas ulangan kami. Ya, begitu banyak cara tentunya! Mulai dari membuat kertas contekan yang ditulis kecil-kecil (mata dengan silinder dan minus dilarang keras membuat contekan seperti ini) lalu kami gulung atau lipat untuk diselipkan di kaos kaki ataupun diinjak di dalam sepatu, sampai menuliskannya di atas meja kayu dengan pensil yang dilihat dengan bantuan cahaya matahari (cara ini memang akan tampak seperti orang bodoh karena kepala dan mata akan bergeser-geser untuk bisa membaca tulisan tersebut ) yang mana semua itu dilakukan dengan adrenalin tinggi tanpa ketahuan dari guru agama kami. Tujuannya tentu hanya untuk (lagi-lagi) nilai ulangan yang bagus semata.


Begitu banyak cara yang anak-anak lakukan di usia sekolah untuk bisa melepaskan diri dari ritual-ritual keagamaan. Anak-anak tampak tidak menyukai kegiatan beribadah ataupun pelajaran agama yang diberikan oleh sekolah. Tak jarang juga terjadi pemberontakan akan ritual-ritual yang sekolah sajikan. Padahal jelas sekali kalau semua peraturan-peraturan tersebut dibuat (untuk dilanggar, eh!) untuk menjadikan murid-muridnya berakhlak mulia di kemudian hari setelah selesai dari jenjang pendidikan di sekolah tersebut. Lantas, apa yang salah dari semuanya ini?


Dalam pembahasan diskusi dengan CM Jakarta beberapa hari yang lalu, ada penggalan kalimat seperti ini, “Dari tiga jenis pengetahuan yang layak dimiliki anak – pengetahuan tentang TUHAN, tentang manusia, dan tentang semesta – pengetahuan tentang TUHAN duduk peringkat pertama dalam hal arti pentingnya, tak boleh terabaikan, dan paling menentukan kebahagiaan.” Sudah jelas sekali bahwa pengetahuan tentang Tuhan ini menduduki tangga tertinggi untuk dijadikan tiang pondasi bagi anak. Mungkin yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, siapakah yang mengambil peran untuk mendirikan tiang pondasi tersebut untuk anak? Apakah sekolah, khususnya guru, ataukah peran orang tua yang mempunyai porsi terbesar dalam mengambil peran tersebut?


Guru di sekolah mempunyai peran dalam mendidik anak-anak dalam beragama. Pastinya dengan tekun guru akan mengajarkan semua yang berkaitan dengan keagamaan. Setidaknya seminggu sekali lah anak-anak diberikan bekal pelajaran agama dari buku teks. Dalam kesehariannya anak-anak pun diminta untuk melakukan rutinitas berdoa sebelum dan sesudah jam pelajaran sekolah agar mereka dilindungi dalam naungan Tuhan dalam belajar. Anak-anak pun tidak luput diberikan bekal ini itu yang berkaitan dengan Ketuhanan dalam kesehariannya mereka di sekolah. Tetapi, apakah hanya dengan buku teks saja anak-anak mampu mempunyai ikatan yang kuat dengan Tuhannya? Apakah dengan berdoa setiap hari anak-anak paham arti dan tujuanya dalam berdoa? Seyakin apa bekal-bekal yang diberikan oleh guru mampu membuat anak-anak ini bertahan di kehidupannya kelak selepas dari sekolah?


Seperti kata pepatah lama, “Anak adalah titipan Tuhan.” Seperti itulah tugas orang tua yang mengambil peran dalam porsi besar untuk bertanggung jawab akan titipanNya. Ikatan spiritual yang terbangun antara anak dan orang tua yang menjadi dasar untuk mendidik anak tentang Tuhan. Kasih sayang orang tua ibarat kasih sayang Tuhan untuk anaknya, sehingga sudah menjadi kewajiban utama bagi orang tua untuk mendampingi anak dalam kesehariannya untuk mengenal Tuhan lebih jauh lagi. Pertanyaan pun muncul ketika tanggung jawab ini disematkan. Bagaimana jika orang tua tidak sereligius itu dalam menjalankan agamanya, dalam melakukan ritualnya, dan dalam beribadahnya? Tentunya lepas tanggung jawab dan memberikan porsi ini kembali ke guru sekolah bukan menjadi jawabannya ya.


Perjalanan spiritual setiap keluarga bisa sangat berbeda-beda. Belajar dan bertumbuhlah dengan anak, karena sejatinya hasrat alami manusia itu mengenal sesuatu yang lebih tinggi darinya, dalam hal ini Tuhan. Pendidikan itu didapat dari atmosfer yang terbentuk dan keluarga mempunyai peran yang paling besar dalam memberikan atmosfer tersebut. Bagaimana anak bertumbuh dalam iman jika orang tua pun tidak mau bertumbuh dengan anak?


Mengenal Tuhan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, dan mengenalkan Tuhan dalam keseharian pun bisa berbeda-beda caranya. Mungkin melalui persoalan yang terjadi di sekitar dan mendiskusikannya bersama-sama dengan anak, bagaimana menyelesaikan masalah tersebut dengan mengandalkan tangan Tuhan yang bekerja dalam penyelesaiannya. Ataupun juga ketika anak bertanya tentang agama yang dianutnya, bersiaplah untuk menjadikan ini sebagai bahan diskusi yang menarik dengan anak dalam pencarian jati dirinya dengan Tuhannya.


Esensi dalam berTuhan tidak terpaku hanya di ritual dalam berdoa dan beribadah, tetapi juga dalam bersikap, pola pikir, cara pandang dan juga cara bersikap keluar terhadap teman-teman yang berbeda agama. Overdosis dalam beragama juga tidak dibenarkan. Ibarat melintasi kotak agama, anak-anak perlu juga melihat dan belajar dari kacamata agama lain sehingga mereka tidak semata tumbuh dan menjadikan agamanya  sendiri sebagai yang paling benar (I’ve been there!).

 


Saturday, June 13, 2020

9:16 AM

Kurikulum yang Kaya

Kurikulum yang Kaya

Setiap manusia pastilah terlahir dengan kodrat alamiah, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi Tuhan, sesama dan juga bagi alam semestanya. Sayangnya seiring dengan waktu kodrat tersebut tergerus dan entah menguap kemana. Tugasnya di dunia yang seharusnya bermanfaat bagi sesama, tergantikan dengan sibuk memikirkan dirinya sendiri. Belum lagi tugasnya menjaga alam sekitar seperti yang diperintahkan Tuhan kepada kita, yang ada justru sebaliknya, merusaknya, yang lagi-lagi, demi kepentingan dirinya sendiri. Lantas yang tersisa hanyalah manusia yang seolah-olah bermanfaat bagi Tuhan, tetapi sebenarnya tidak teraplikasi nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Kenapa manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk termulia yang memiliki akal dan budi bisa menjadi seperti itu?


Berkembangnya jaman membuat manusia seakan berlomba setiap waktunya untuk membuktikan menjadi yang terbaik. Sampailah kita di era teknlogi, dimana setiap orang bergantung penuh akan kebutuhan satu itu. Arus teknologi ini pun semakin kencang, membawa kita mengikuti arus atau bahkan membuat kita tenggelam semakin dalam. Belum lagi kesenangan yang tercipta ketika teknologi ini membuai kita dengan segala sesuatu yang menyenangkan. Tanpa disadari semuanya itu justru membuat daya fokus kita semakin dangkal, semakin sulit untuk diajak berpikir lebih mendalam.


Berkonsentrasi menjadi tugas berat bagi otak saat ini. Daya atensi kita pun semakin menurun seiring dengan distraksi yang kita terima dari dunia teknologi saat ini. Bagaimana gawai berperan sebegitu besarnya dalam kehidupan sehari-hari kita, dimana dengan mudahnya pula kita mendapati satu dunia hanya dalam satu sentuhan saja. Maka tidak heran saat ini semakin banyak orang dewasa yang terbuai dengan fokus kerumunan mentalitas orang banyak seperti berlomba menjadi yang terkenal, terhebat dan bahkan yang terkaya sekalipun lewat dunia sosial media yang sedang marak belakangan ini. Seolah-olah hanya itu tujuan terbesarnya dalam hidup.


Tentunya ini pun sedikit banyak berdampak pada anak-anak yang cenderung melihat pola ini dengan orang tuanya. Terpaparnya anak sejak dini dengan layar, bukan serta merta menjadi hal yang baik untuk anak. Belakangan ini semakin banyak sekali ditemukan kasus pada anak-anak usia dini yang kesulitan dalam berkomunikasi dikarenakan oleh gawai. Komunikasi satu arah yang ditampilkan melalui layar seolah menjadi teman dalam kehidupan si anak. Belum lagi dampak lain yang ditemukan, daya atensi yang rendah yang sudah tercipta dari sejak dini. Sungguh tidak dipungkiri banyak anak-anak ketika masuk usia sekolah sulit untuk berkonsentrasi lebih lama karena seringnya terpapar dengan layar di gawai.


Dalam satu workshop tentang Habit of Attention yang pernah aku ikuti, anak-anak usia dini, sampai usia 5-6 tahun, dilarang untuk diberikan gawai. Mereka harus dipaparkan sebanyak mungkin dengan alam, dibacakan buku-buku yang berkualitas dan bahkan dibiarkan mencari sendiri kegiatan dalam kesehariannya tanpa gawai. Semakin minim anak terpapar dengan gawai, semakin panjang daya atensi si anak. Ini dibuktikan dalam satu tayangan di workshop tersebut bagaimana seorang bayi berumur 1 tahun sibuk bermain dengan popok baru yang dipegang, dilempar, bahkan diperhatikannya dengan seksama selama 1 jam tanpa henti. Bagaimana daya atensi ini terkait erat dengan terpaparnya anak dengan gawai ya.


Daya atensi rendah ini selain tercipta karena paparan gawai, juga tidak diiringi dengan asupan jiwa. Seringkali kita lupa bahwa jiwa dan raga ini adalah satu kesatuan dan keduanya ini harus diisi dengan asupan-asupan yang baik. Layaknya raga yang dengan mudahnya diisi dengan sajian makanan yang beragam bagi tubuh, jiwa pun juga seharusnya mendapat asupan yang bergizi bagi daya berpikirnya sang otak. Kembali ke kodrat manusia di atas tadi, bagaimana kita sebagai manusia harus tumbuh dan bermanfaat bagi Tuhan, sesama, alam semesta, atau bahkan harus lebih tinggi daripada ketiga itu. Perlu sekali kita mendapat pengetahuan yang beragam, yang menyajikan bukan hanya 1 atau 2 materi saja demi menajamkan kemampuan (skill) untuk tujuan bertahan hidup semata. Pengetahuan harus diberikan secara menyeluruh dan utuh karena semuanya itu terkait satu dengan lainnya. Oleh karena itu sajian seperti kurikulum yang kaya sangat dibutuhkan oleh kita semua.


Begitu juga bagi anak-anak yang memulai hidupnya. Perlu sekali mereka mendapatkan kurikulum yang kaya, yang bukan hanya terfokus dengan minat dan bakatnya saja lalu lupa dengan kodrat alamiahnya sebagai manusia. Pendidikan janganlah dibedakan antara humaniora dan science, karena keduanya ini sejatinya harus berjalan selaras yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan juga jangan menjadi individualis yang hanya berpusat pada satu kepentingan saja, sehingga anak terdidik hanya menjadi ‘mesin’ uang di masa depannya dengan jiwa yang kosong. Mereka harus disajikan dengan berbagai hal yang tidak hanya menarik untuk dirinya sendiri saja. Bukan juga durasi belajar yang panjang yang dibutuhkan oleh anak-anak sehingga mereka cepat merasa bosan, bukan juga materi belajar yang hanya berisikan fakta dari buku materi yang garing untuk dipelajari, bukan juga buku yang hanya memuat materi bergambar saja sehingga anak tidak memiliki daya imajinasi yang tinggi, tetapi buku-buku yang hidup (living books) yang dapat memantik jiwa anak dalam mempelajari segala sesuatunya. Sajikanlah itu semua untuk mereka dan biarkanlah mereka menikmatinya.


 

Notes:

Gawai bukanlah musuh, bukan sesuatu yang harus dihindari. Anak tetap perlu diperkenalkan sesuai dengan porsinya. Jadikanlah gawai sebagai media imunitas sehingga tidak larut dalam sosialita. J