Lievell

Saturday, April 24, 2021

8:45 AM

Belajar Matematika yang Menghidupkan

Belajar Matematika yang Menghidupkan


Diskusi mingguan bersama teman-teman CM Jakarta masuk ke dalam topik bahasan mempelajari Matematika. Lalu timbul satu pertanyan, “Apakah belajar Matematika dapat juga dipelajari secara living?” – cakep banget pertanyaan nih.


Siapa sih yang tidak menjadikan Matematika sebagai mata pelajaran yang momok banget. Bukan hanya rambut aja yang bisa dibikin keriting, Matematika sukses berat bikin setiap orang yang keluar dari sekolah itu juga jadi keriting. Banyak banget yang melambaikan tangan ke kamera deh kalau dah berurusan dengan yang namanya Matematika. Iya apa iya banget? Ngakuuuu….


Sebetulnya, mempelajari Matematika itu ternyata tidak sehoror yang ditakutkan oleh semua anak, termasuk orang tua yang pernah juga mengalaminya dulu ketika di bangku sekolah. Memang sistem di sekolah itu seolah menggegas anak untuk balapan dalam mempelajari Matematika. Paham tidak paham materi terus berjalan tanpa kenal kata berhenti. Ya, namanya juga sistem dan begitu pulalah cara kerjanya seperti yang sudah dipahami bersama, berlaku satu untuk semua – macam slogannya TV swasta gitu deh.


Ketika sudah masuk dalam urusan sistem sekolah, berarti anak siap diberlakukan sama. Siap untuk menerima materi pelajaran yang sama. Siap juga mengikuti runtutan materi yang sama juga. Namun sayangnya, tidak semua anak memiliki percepatan yang sama dalam menerima materi di sekolah. Ketika ada anak yang lamban, misalnya saja ketika anak itu tidak juga dapat menghafal perkalian padahal teman-temannya sudah hafal mati perkalian, langsung saja cap ‘bodoh’ menempel sempurna di dahi anak. Hanya karena satu masalah ia terlambat memahami konsep perkalian, tapi cap tersebut tanpa disadari sudah melekat di benak anak bahwa ia adalah anak bodoh.


Kenyataannya, setiap anak adalah born person. Tidak bisa membandingkan ‘apple to apple’ kepada setiap anak, karena ya semua anak itu unik. Setiap anak memiliki kecepatan yang berbeda dalam setiap bidang. Tidak bisa satu anak dengan anak yang lain dianggap sama. Kakak beradik saja berbeda, begitu juga dengan anak kembar yang tidak sama satu dengan lainnya meskipun mereka memiliki wajah dan bentuk tubuh yang serupa. Lalu mengharapkan anak mampu mengikuti sistem kurikulum di sekolah yang sudah terstruktur rapi itu ya tentu tidak mudah bagi setiap anak. Pastinya sewaktu-waktu akan ada satu titik dimana anak akan melamban dan tidak dapat memahami materi pelajaran.


Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan kita dengan Matematika, apa perlu kita putus aja ini? Hahaha.


Bagaimanapun juga belajar Matematika itu ya harus. Semua yang ada di sekitar kita ini terkait erat dengan yang namanya Matematika. Kalau yang namanya ke pasar,melakukan transaksi tawar menawar (pake urat pula!) dengan pedagang di pasar, ya jelas ini terkait erat banget dengan Matematika. Tapi coba deh lihat sekitar kita, rumah yang kita tempati, makanan yang kita makan, sabun yang kita pakai dan masih banyak lagi semuanya itu adalah bentuk dari perpanjangan Matematika. Semua terkait erat dengan angka.


Kita perlu berterima kasih dengan filsuf Phytagoras yang berhasil membuat The Fresco of Spanish Chapel dari hasil temuannya mengutak-atik rumus Matematika dan salah satunya ya rumus segitiga Phytagoras itu. Di saat itu semua filsuf hanya menaruh perhatian penuh pada urusan Human Race, tapi Phytagoras menemukan hal lain bahwa semua yang ada di semesta kita terkait erat dengan yang namanya Matematika. Kebayang banget sih betapa senangnya beliau saat itu bisa menemukan hal penting seperti ini dan berguna bagi masyarakat sampai detik ini.


Aku sendiri banyak belajar mengenal Matematika sejak mulai mempelajari filosofinya Charlotte Mason. Ketika memilih homeschool pun tidak serta merta membuatku paham bagaimana mengajari si Boy berMatematika. Sempat aku berada di lubang kenistaan, halah bahasanya. :D Ketika si Boy berumur 8 tahun dan masih menggunakan materi belajar Matematika kurikulum sekolah, sempat ia nangis tersedu-sedu karena aku memaksanya menghafal perkalian dan juga memarahinya karena tidak juga paham pembagian. Padahal menurut materi, di usia segitu anak sudah harus bisa dong pembagian. Lagi-lagi ya, mamak si manusia yang punya emosi seperti gunung Merapi ini, begitu anaknya sudah nangis tersedu-sedu minta berhenti belajar, bukannya berhenti eh mamak masih ngomel panjang kali lebar kali tinggi kali diagonal dan masih tetap maksa untuk mengerjakan soal. Ampun deh! – mau jitak emaknya gak sih ini?! :D


Bersyukurnya setelah mengenal CM dan sempat juga berguru dengan seorang teman yang memang ahli dalam bidang Matematika, pelan namun pasti teknik belajar pun berubah. Dari teman ini aku banyak belajar bagaimana mengenal konsep itu perlu dan bagaimana dalam mempelajari Matematika itu tidak perlu seperti dalam area balapan layaknya Michael Schumacher di Formula 1. Pelan-pelan saja tanpa harus digegas itu perlu banget dipahami oleh orang tua dan para pengajar.  Aku pernah menulis hasil belajarku di
sini
.


Dari diskusi kemarin dan hasil dari keroyokan baca artikel tentang Matematika dari berbagai sumber yang ditulis para praktisi CM di luar sana, kira-kira begini teknisnya ketika Matematika dipelajari.


Ketika mulai mengenalkan anak usia dini dengan Matematika, kenalkan terlebih dahulu konsep konkrit sebelum mengenalkan konsep abstrak. Angka 1-10 itu abstrak bagi anak yang baru mengenal konsep Matematika. Anak belum paham relasinya angka 1 dengan bentuk konkrit 1 apel. Jadi yang perlu diperkenalkan dalam keseharian adalah benda-bendanya terlebih dahulu. “Dek, Mama punya 2 apel nih. Mama mau kasih Adek 1 apel ya. Satunya lagi buat Mama ya.” Terus berulang konsep ini dibahasakan dalam keseharian anak-anak dalam berbagai bentuk obrolan ringan dan benda di sekitar. Sehingga ketika anak mempelajari konsep angka 1-10, ia sudah bisa merelasikan bahwa 1 apel yang diberikan oleh Mama sama dengan angka 1, dan seterusnya. Cara sederhana namun ternyata anak sudah mempelajari konsepnya.


Begitupun ketika mulai mengajarkan konsep tambah dan kurang ke anak usia dini yang sudah paham relasi antara angka dan jumlah konkrit bendanya. “Dek, Mama punya 5 permen nih. Mama mau bagi permennya ah ke Adek 2 aja. Mama mau bagi juga ke Kakak 2 permen. Wah, sekarang Mama punya berapa permen nih ya?” Tentunya, jadikan ini semua bukan untuk sesuatu yang digegas. Tujuannya kan hanya supaya anak paham konsep. Buatlah seringan dan sesantai mungkin dalam obrolan sehari-sehari dengan anak. Hari ini belum paham, tenang Bun…masih ada hari esok. J


Lanjut ke usia sekolah. Layaknya rumah, pondasi itu perlu banget. Begitu juga dalam belajar Matematika. Usahakan anak paham dulu konsep pertambahan sebelum ia paham konsep pengurangan. Kenapa begitu? Ya kalau tambah-tambahan aja masih belum ajeg, gimana pondasinya kuat untuk pengurangan. Kalau anaknya bosan dengan tambah-tambahan terus gimana dong? Nah, belajar Matematikanya berapa lembar dalam sehari? Kalau belajar tambah-tambahannya 10 lembar, ya siapa yang gak bosen sih.


Durasi dalam belajar Matematika pun tidak perlu panjang. Ketika awal aku mengganti pola belajar Si Boy di usianya ke 8, aku menerapkan kembali ke awal untuk tahu dimana sebetulnya dia tidak paham. Aku memulainya kembali dari pertambahan 1-5, 1-10, 1-20, terus bertambah sampai ribuan dan ini dikerjakan hanya 10 nomor setiap hari dengan durasi dari hanya 5 menit sampai 10 menit. Ini ketika masih tambah-tambahan ya. Begitu sudah masuk di pengurangan, mulai lah ia melamban dalam mengerjakannya. Masih 10 nomor, tapi ketika mulai masuk pengurangan seperti 175-28, ia melamban. Waktu pengerjaannya pun sudah melebih 10 menit. Dan mulailah ketemu permasalahannya. Di pondasi pengurangan lah ia mulai tidak bisa. Ketika sudah tahu di situ permasalahannya, aku mulai memberikan soal-soal yang terkait dengan pengurangan. Setelah mulai mudah dilakukan olehnya, baru kami kembali maju. Ini pun selangkah demi selangkah lagi.


Masuk di perkalian. Urusan perkalian pun bukan perkara mudah, tapi aku mempercayakan si Boy untuk menghitung dengan caranya tersendiri. Ia tidak pernah menghafal perkalian. Ia menemukan caranya tersendiri dalam berhitung perkalian. Begini kira-kira yang aku ingat. Misalnya 8 x 6, ia akan menghitung 8 x 2 terlebih dahulu (karena ia ingat ini dengan mudah), lalu ia tambahkan 16 tiga kali. Memang ribet banget ya kelihatannya, tapi ini cara dia memahami perkalian. Setelah ribuan purnama, maksudnya saat ini di usianya 12 tahun, dengan sendirinya ia bisa melogikakan bahwa 8 x 6 = 48, tanpa perlu menghafal tabel perkalian.


Setelah selesai dengan perkalian, baru masuklah ke konsep pembagian yang tidak kalah membutuhkan waktu. Belum lagi ketika konsep ini masuk ke dalam soal cerita yang membutuhkan penalaran dari anak. Semua butuh proses dan tentunya proses memahami konsep dan nalar anak ini butuh waktu yang cepat. Ketika anak digegas dari satu materi ke materi lain tanpa ia tahu konsep dan nalarnya berjalan, tentu yang ada anak merasa tertekan. Lalu kalau sudah tertekan, apakah anak mampu memahami materi yang diberikan? Jawabannya bisa dijawab masing-masing di rumah ya, gak perlu dikumpulkan. Eaaa….


Kenapa anak perlu belajar pondasi tambah, lalu kurang, lalu kali dan terakhir pembagian? Karena keempat ini adalah pondasi dasar dalam Matematika. Ketika anak sudah paham, maka dengan mudahnya anak belajar perpanjangan materi seperti misalnya pecahan, desimal, persentase, keliling, luas bangun, volume dan sebagainya. Begitupun dengan durasi belajar dan lembar soal yang diberikan. Cukup durasi singkat namun konsisten diberikan setiap hari. Tidak perlu berlembar-lembar soal yang dikejar dalam satu waktu. Ini akan menjadikan minat anak dalam belajar Matematika tetap terjaga. Ketika anak dirasa sudah mulai lelah, berikan waktu istirahat sejenak sebelum ia memulai lagi atau kalau mamak legowo, ya dikerjakan saja besok. Dunia gak kiamat juga sih besok karena anak kita gak kelar belajar Matematikanya hari ini. :P


Selain karena sistem di sekolah yang terus berkejaran seperti dulu takut ketinggalan bis kota, pengajar pun menjadi momok tersendiri ya kenapa anak jadi hilang minat belajar Matematika. Mencari pengajar yang pintar Matematika itu mudah, tapi mencari pengajar yang tidak hanya pintar tapi juga bersemangat dalam mengajar itu yang jadi perkara saat ini. Belum tentu orang yang pintar Matematika itu mampu juga mentransfer ilmunya dengan baik ke anak murid. Justru yang terjadi adalah pengajar yang punya sejarah buruk dengan Matematika tapi dengan semangat (passion) tinggi untuk mengenal Matematika lah yang mampu mengajar muridnya.


Aku sih ngaku aja ya, dulu pas sekolah ya paling sering dikeluarin dari kelas. Ya entah bikin rusuh di kelas, atau jadi tuduhan guru karena dianggap bikin ribut di kelas, udah biasa banget berdiri di luar kelas. Jadi ya belajar Matematika mah ke laut aje jaman sekolah dulu tuh. Setiap ada PR, ya nyontek. Setiap ada ulangan, bikin contekan rumus. Eh begitu ngerjain soal ulangan lalu buka contekannya, ya buset, ini rumus dipakainya gimana?! Gubrak! :D :D


Lulus dari sekolah ya jelas banget gagal paham banget sama yang namanya Matematika. Tapi kehidupan banyak mengajarkan sih. Lucunya malah dipertemukan dengan Matematika. Setiap kali diminta mengajar les privat, lagi-lagi orang tua berharap guru yang bisa mengajarkan Matematika. Akhirnya mau tidak mau, pelan tapi pasti, mulailah aku terpapar sedikit banyak dengan Matematika. Dari yang awalnya gelap buta, pengalaman hampir 20 tahun mengajar memberikan satu pencerahan juga. Akhirnya sampai di titik, aku paham bagaimana anak menganggap Matematika sebagai momok dan berharap sekali aku mampu membantu mereka keluar dari pemikiran tersebut. Seperti pepatah umum, semua ada waktunya pada akhirnya. Semoga saja ya.


Belajar Matematika itu bukan hanya sekadar perkara mengejar nilai semata dalam pelajaran sekolah. Melatih nalar dan logika serta paham konsep itu jauh lebih penting. Bagaimana Matematika bisa menjadi hidup dalam keseharian kita, kembali ke diri masing-masing semuanya.

Sunday, December 13, 2020

7:29 PM

Tanjung Lesung Short Getaway

Tanjung Lesung Short Getaway

Akhir pekan ini kami mendapat kesempatan istimewa karena bisa menikmati waktu merasakan keheningan sambil mendengarkan deburan suara ombak dari pantai, tepat di depan lokasi kami menginap.

Adalah Tante Rina dan Tante Tarti yang semangat mengajak kami untuk datang mampir ke rumah penginapannya di daerah Tanjung Lesung. Lokasinya menarik sekali, benar-benar tepat berhadapan dengan pantai. Plus hening, karena di sekitar lokasi hanya ada rumah penginapan Tante Rina tanpa ada rumah atau bangunan lain. Lokasi menarik untuk merefleksikan hidup ya.

Bersama dengan kelima suster dari ordo RGS - Religious of The Good Sheperd aka Susteran Gembala Baik (Sr. Lia, Sr. Lidwina, Sr. Magda, Sr. Nita, Sr. Yasinta) dan dua teman dari Pasar Geret (Shinta dan Ci Yanti), kami saling mengisi waktu bersama di akhir pekan ini. Kami benar-benar terhibur dengan para suster yang senang sekali melontarkan becandaan dengan Tante Rina dan Tante Tarti. Suasana jadi seru dan cair banget. Sering banget kami ngakak gak berhenti dengerin mereka bercanda. Kocak banget lah.

Kehadiran para suster ini juga menjadi keuntungan bagi Fritz. Mereka membawa satu tas isi board games. Ada Monopoli, Otello, Halma, Ludo, Ular Tangga, Scrabble dan bahkan kartu remi. Tiga dari lima suster yang ada (Sr. Lia, Sr. Nita dan Sr. Lidwina) merasa senang sekali mendapat pelatihan kilat bermain Monopoli, Otello dan juga main kartu 41 dari Fritz. Sebutannya pun menjadi Guru Gam(bl)er. :D

"Liburan kaya gini nih yang Izzie suka, Ma. Gak kemana-mana, main aja seharian." - begitu pendapat si Boy.

Kami datang di hari Sabtu pagi. Kami berangkat jam 4 pagi dan sampai di sana jam 8. Sewaktu kami datang, teman-teman ini sudah datang dari sehari sebelumnya. Mereka sudah selesai dengan sarapan pagi dan ingin bermain di pinggir pantai. Dan kebetulan, kami disambut oleh mantis yang lalu menjadi perhatian beberapa orang. Langsung cepet ambil kamera dan ceprat cepret deh diabadikan.

Fritz pun bergegas mengganti pakaiannya dan siap bermain di pinggir pantai. Kebetulan mereka juga sedang berendam, Fritz pun diajak untuk ikut bareng. Jadi satu keuntungan buat emak babehnya buat jalan berduaan sambil menyusuri pinggir pantai yang banyaaaaak sekali kerang dengan berbagai bentuk unik.

Ada salah satu suster, Sr. Magda, yang rajin mengumpulkan kerang-kerang berbentuk unik ini. Ia senang menaruhnya sebagai hiasan untuk berdoa. Jadi bersuasana alami, katanya. Menarik ya.

Sayangnya cuaca sedikit kurang bersahabat. Kami sering mendapati mendung dan turun hujan ketimbang cuaca cerah. Sempat kami sudah semangat makan siang di luar ruangan, ceritanya menikmati makan siang pinggir pantai. Menunya pun juga sudah ciamik banget nih. Sayur asem, tahu tempe bacem, ikan asin dan tentu sambal yang semuanya hasil masakan rumah dari kedua tante ini. Semuanya pun sudah tertata rapi. Kami pun sudah mulai makan. Ealaaah, mendadak rintik hujan dan diakhiri dengan tergopoh-gopoh membawa kembali segalanya ke dalam rumah karena hujan langsung deras. Gagal maning deh menikmati suasana piknik depan pantai. :P

Ada satu momen menyenangkan ketika masing-masing menceritakan tentang siapa dan apa komunitas kami ini. Ada Pasar Geret yang mana diwakili oleh Shinta dan ci Yanti. Pasar Geret ini adalah kumpulan teman-teman yang sudah tersadarkan akan gaya hidup sehat. Mereka mengkonsumsi makanan yang merupakan hasil olahan sendiri. Begitupun dengan Tante Rina dan Tante Tarti lewat Tanah Laut. Karena seringnya mereka berinteraksi satu sama lain, akhirnya diwujudkan dalam satu event yang bernama Pasar Geret. Selain lebih memudahkan teman-teman ini berinteraksi secara offline, mereka pun mempunyai misi untuk mengedukasi masyarakat tentang hidup sehat yang berawal dari pencernaan.

Lalu bagian kami yang menceritakan tentang perjalanan homeschooling kami. Dilanjut oleh Sr. Lia yang menceritakan ordo mereka yang bermisi untuk mendampingi perempuan dan anak-anak. Salah satunya adalah untuk ibu tunggal dan anaknya. Bagaimana mereka bersinergi dengan psikolog saling membantu untuk mendampingi para ibu tunggal dan juga anaknya yang semakin banyak di kalangan umat Katolik.

Sr. Lia sendiri juga mempunyai pekerjaan lainnya, ia membuat kurikulum bagi 8 PAUD yang didanai oleh keuskupan. Dimana dalam pelaksanaannya ada penyimpangan teknis yang cukup mengganggu, sehingga para suster ini ditugaskan sebagai perpanjangan tangan dari pihak keuskupan. Semoga dimudahkan misinya para suster ini, karena betul-betul dibutuhkan perjuangan yang sangat panjang untuk meluruskannya. Tercengang sih dengar ceritanya.

Hari pun masih panjang sampai malam, apalagi di sana sinyal susah sekali. Benar-benar GSM ini judulnya - Geser Sedikit Mati. Zonk banget sinyalnya. Ada spot-spot tertentu yang masih bisa, tapi begitu hujan lebat dan hari semakin malam, sinyal di spot itu hilang tanpa jejak. Jadilah beneran hening. Hihihi.

Waktu pun diisi dengan berbagi cerita, ngobrol, bercanda dan juga makaaaaan!! Wah ini sih parah. Mulut beneran tidak berhenti mengunyah. Gue sih!! Hahaha. Semua makanan yang disajikan hasil buatan sendiri. Ada berbagai macam cokelat, kue sus dengan isian cokelat disertai dengan rum serta wine yang mana semuanya ini adalah hasil dari Tanah Laut. Ada pula kue bolu hasil buatan ci Yanti yang menggunakan tepung mokaf. Enak ternyata, kali pertama nih makan kue dari tepung mokaf. Ini sampai lupa sebetulnya ngelist makanan apa saja yang tayang. Otak-otak ikan dari Allella Kitchen juga tayang lah pastinya, dan ini digoreng langsung oleh Mamang Dilan eh Bang Ali. :P

Makan malam kami dong, luar biasa totalitasnya. Ikan bakar yang mungkin kalau ditotal hampir 5 kg mungkin dan ludes dalam sekejab masuk ke perut. Disanding dengan tumisan daun dan bunga pepaya, plus lalapan serta tidak lupa sambal tomat. Duh, waktu nulis ini mendadak air liur keluar. Enak banget sumpah deh! ^-^

Eh iya, lupa cerita. Sorenya itu aku dan Ali diajak Tante Rina untuk jalan-jalan. Ceritanya ngeramban, eh yang ada malah Tante Rina kasih materi. Ini taneman jahe, Tep. Ini labu, bunganya edible, bisa dimakan, Tep. Ini kacang tanah, ini daun ubi, ini kacang panjang dan banyak lagi. Huahahahaha. Segitu gak pahamnya gue tentang tanaman. Dudulipet lah. :P
Beneran seru sih dapat pengalaman banyak dari jalan-jalan sore ke kebunnya Tante Rina. Semuanya berguna, tidak ada tanaman yang asal ditanam. 

Selesai makan malam dan cuci-cuci serta beberes, mulailah satu persatu masuk ke kamar dan beristirahat. Begitu juga kami. Sempat mengobrol dengan Fritz dan dia menyampaikan betapa senangnya dia liburan seperti ini. Meskipun beberapa kali dia sering digodain oleh Sr. Lia dan Sr. Lidwina yang memang sudah memutih rambutnya, serta Oma Rina dan Oma Tarti karena temannya jadi nenek-nenek semua, tapi Fritz benar-benar suka bisa berinteraksi dengan mereka. Awalnya dia pikir semua suster tidak lucu, tidak suka melawak, serius penampakannya. Sekarang dia baru sadar bahwa suster pun juga manusia yang hobi ngebanyol sampai bikin sakit perut. :D :D :D

Pagi hari kami disambut hujan rintik dan mendung bergelayut. Fritz yang pengen banget melihat sunrise dan sudah bangun dari jam 4.30, terpaksa manyun. Ternyata eh ternyata, menurut Oma Tarti, di tempatnya hanya bisa melihat sunset, matahari tenggelam saja. Lalu dia pun masih semangat untuk main di pantai. Meskipun hujan masih rintik, dia tetap kembali ke pantai dan minta ditemenin. Jadi deh kami berdua basah-basahan karena kehujanan. 

Waktu berjalan sangat cepat. Sekitar pukul 10 pagi, kami siap meninggalkan lokasi setelah menikmati makan pagi, beberes, bertransaksi singkong, ubi dan pisang tanduk serta memasukkan barang ke dalam mobil. Tentunya pepotoan tidak lupa dong.

Ini akan jadi kenangan manis banget sebelum penutupan tahun 2020. Kami sangat menikmati akhir pekan kami ini loh. Pemandangan yang tersajikan selama dua hari ini bikin segar mata, hati dan pikiran. Tentunya ini semua berkat yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun. Sungguh berterima kasih untuk kesempatan istimewa atas ajakan kedua Tante ini yang sebetulnya akupun juga baru kenal belum lama. Berkat melimpah ya, Tante Rina dan Tante Tarti. Tuhan berkati! 


**Sehari setelah menulis ini, baru terungkap bahwa Sr. Yasinta adalah tante dari keponakan cantik nan jutek yang bernama Adriana Melliany alias Lia (Lia - nya Yanto kalau sekarang mah :P). Kalau tahu dari awal, kan sudah jadi bahan gosipan bareng nih diantara eikeh dan Sr. Yasinta. Hohohoho. 

Monday, December 7, 2020

3:04 PM

Refleksi 2020, Berkah atau Musibah?

Refleksi 2020, Berkah atau Musibah?


Bermula dari harapan yang baik untuk hari esok. Berharap semua rencana akan berjalan lancar sepanjang tahun. Bermimpi yang terbaik akan datang. Berangan hal-hal baik dapat menaungi di setiap waktu di setiap harinya. Namun sayangnya, semesta menginginkan yang berbeda bagi dunia di tahun ini. Mendadak kita semua diminta untuk rehat sejenak dari kesibukan. Mendadak semua harapan yang sudah dirancang sedemikian rupa harus tertahan dan tertunda, entah sampai kapan batas waktunya, tidak ada yang mengerti. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi kita semua, hanya pasrah pada Sang Kuasa yang mampu dipahami oleh nalar ini.


Begitulah setiap insan memahami tahun 2020 ya. Beberapa dari kita mungkin harus terperosok dan jatuh dalam lubang, tetapi ada juga yang masih sanggup bertahan menghadapi badai Corona yang menguasai satu bumi ini. Bagaimana dengan kalian menanggapi tahun 2020 ini? Apakah Corona mendatangkan berkah atau malah menjadi musibah bagi kalian?


Bagiku pribadi, tahun 2020 ini cukup mencengangkan sih. Dimulai dengan kami harus bertahan di rumah Oma karena Kelapa Gading dilanda banjir di hari pertama tahun baru. Lalu berlanjut dengan kedatangan tamu banjir sampai 3 kali lagi setelah tahun baru itu. Memang sih, tidak berefek banyak untuk kami karena kami tinggal di area apartemen. Tapi wilayah Kelapa Gading jadi satu-satunya yang hujan dikit banjir-hujan dikit banjir dibanding dengan wilayah Jakarta lainnya. Gimana gak was-was coba ya ini. Setiap hujan mampir bentar namun deras curahnya, udah jiper aja kebanjiran. Hahaha


Berlanjut dengan bolak balik ke UGD RS Carolus sekitar pertengahan Januari ke Februari. Dari Mama (mertua) yang terjatuh di kamar mandi karena lemas dan kami harus mengantarnya ke UGD tengah malam itu juga, sampai Bang Ali yang mendadak panas tinggi ketika kami berkegiatan di Lapangan Banteng. Tentu saja ini menyebabkan suster dan dokter jaga di RS tersebut sedikit banyak kenal ya dengan diriku. Segitu tenarnya kah? Sebenarnya gak seartis itu juga sih gue. Eh, tapi kalau diingat-ingat, Kikan dari Band Cokelat aja pernah nuduh gue "Kayanya sering liat deh mukanya." Jadi, gue artis apa bukan, hayoooo :P


Lanjooot...


Yaaa, gue sedikit membuat drama dengan sensasi melotot sambil bernada tinggi ke salah satu suster akibat tidak adanya mobil ambulance yang membantu kami memindahkan Mama ke rumah sakit lain saat itu. Lah ya gimana gak pake esmoniiii eh esmosi sodaraaaa, mobil ambulance ada tiga berjejer rapi jali di depan UGD tapi begitu ditanya kenapa gak bisa antar Mama, jawabannya itu loh. "Supirnya gak ada, Bu." Darah langsung memuncak sampai ke otak rasanya saat itu, ngapain juga lo jejerin tuh ambulance ampe tiga biji disono kalau gak ada supirnya, Maliiih!! Gue pun ngomel dah, sambil gue tawarin diri, sini gue aja yang nyetirin tuh mobil ambulance dan disambut gelengan suster. Ya kali, Bu!!


Jadi begitu Bang Ali harus bertandang ke UGD RS tersebut lagi karena mendadak panas tinggi, suster yang gue ocehin itu pas bertugas. Doi kenalin kami dong lalu berbisik-bisik dengan koleganya yang lain sambil melirik-lirik ke gue. Eaaa, kesampaian juga gue jadi artis lokal sesaat deh saat itu. *gubraaak


Masuklah di pertengahan Maret. Pas banget ketika gue lagi mulai mendapat ide untuk membuat kegiatan Kumpul Bocah ala Allella Kids. Lagi seru-serunya merancang kegiatan untuk bulan berikutnya, eh Neng Corona pun menghampiri dan mendadak semua kegiatan luar ruangan harus dihentikan. Tentu saja ini bikin gue jadi resah dan gelisah, macam lagunya Chrisye.


Nah di saat pikiran bingung mau ngapain sambil nunggu si Coronce lewat, yang gak tau sampai kapan ini, ide muncul kembali. Sebetulnya ide ini sudah tercetus beberapa bulan sebelumnya sih, tapi belum berani eksekusi aja. Jadi, begitu ada kesempatan bakalan lama di rumah, gue beranikan diri untuk jalankan. Tentu ini sambil menggeret Bang Ali untuk ambil bagian lah ya. Kami mulai membuka PO masakan, di bawah bendera Allella Kitchen. Yaaa, lagi-lagi Allella. Udah brand khusus soalnya itu. Kapan-kapan diceritain deh kenapa Allella harus banget jadi nama usaha. Nanti yaaaa. 


Masakan pertama kami adalah Pangsit Kuah frozen. Kami hanya mencoba memasarkan dari pertemanan di WA saja dan antusiasnya gak disangka-sangka. Dengan prosedur PO, kami mengumpulkan pesanan, puji Tuhan, penjualan pertama kami cukup disambit eh disambut baik oleh teman-teman ini. Puji Tuhan lagi, sampai di bulan terakhir tahun 2020 ini, kami masih menjalankan usaha kecil-kecilan kami ini. Berawal tanpa logo, sekarang kami punya logo. Berawal hanya sekadar isi waktu saja, sekarang kami punya 9 masakan frozen dan 2 masakan matang. Berawal hanya dari teman ke teman saja, sekarang kami punya pelanggan tetap dan beberapa orang yang kenal dari sosmed pun menjadi langganan kami. Artinya, kami memang harus butuh serius di bidang ini. Ada PR yang perlu kami rancang untuk ke depannya.


Ternyata juga, Bang Ali ini sebetulnya yang punya bakat memasak. Doi ini turun langsung sendiri meracik bumbu dan sering mendapat pujian dari teman-teman yang membeli. Gak nyangka ya. Plus, doi pun turun langsung sendiri dalam membeli bumbu dan bahan-bahan lainnya ke pasar. Dipilih satu-satu dengan rajinnya itu bawang putih, bawang merah, percabean dari cabe keriting sampai cabe merah gede, sayur sampai daging. Segala pedagang pasar pun sampai hafal dan ikriiiib banget sama doi ketimbang sama eikeh. Apalagi kalau gue sesekali dateng ke pasar, langsung aja pedagang heboh liat artis dateng. Kaga diing, gue disindir halus aja gitu. "Wah, Ibu sampai turun gunung nih." Preeetttt benerrr dah. >,<


Bersamaan dengan Allella Kitchen merambah dunia sosmed, begitupun gue yang semakin rajin sekrol-sekrol sosmed. Akibatnya banyak pikiran-pikiran gak penting masuk. Salah satunya, gue jadi korban drakor. Huahahahaha. Sebenarnya ini aib sih yang seharusnya gak perlu gue ceritakan di sini. Masalahnya, ini sudah jadi keseharian rasanya. Hidup tanpa drakor seperti makan tanpa nasi. Eh, gue makan tanpa nasi masih bisa, hidup tanpa air. Duh, lebay gak sih tuh gue. :D


Beneran deh, ini gue nista banget menceritakan hidup gue terpapar dengan drakor. Gue emang lemah dengan nonton dan liat cowok romantis di cerita-cerita tertentu gitu loh. Apalagi judulnya serial yang harus lanjut terus semacam drakor. Gak drakor aja gue suka terlena, seperti nonton Grey's Anatomy yang jadi favorit gue bertahun-tahun ini, plus nonton NCIS, CSI dan semacamnya itu. Apalagi dengan drakor. Semua orang tahu juga lah ya, namanya juga drakor, lebay maksimal kan ya, pastilah adegan-adegannya itu semua dimaksimalin bikin cewe-cewe jadi klepek-klepek kaya orang keracunan. Iya, semacam keracunan drakor ini! Begitu juga dengan gue, yaowoooo, kalap gue nonton drakor. Belum lagi jadinya ngeliat Bang Ali udah gue sama ratakan seperti ngeliat artis Korea yang gue demen. Tentu musibah buat Bang Ali ya, soalnya gue jadi gak waras karena menyamakan dia dengan artis Korea yang gue idolain. Nah, ini beneran jadi gak bisa bedakan mana realita mana ilusi. :D

Ini sudah gue prediksikan sebetulnya ketika gue mengambil langkah mencoba nonton drakor sekali. Tapi di satu sisi, drakor ini juga jadi penyelamatan tersendiri dari pengalihan pikiran untuk terus-terusan membuka sosmed. Ini mungkin satu-satunya berkah sekaligus musibah buat gue. Lewat drakor ini juga akhirnya gue belajar untuk mengontrol diri. Tepat di saat gue mulai keracunan, datanglah penyelamat. Babang Ji Chang Wook dan Babang Gong Yoo hadir di mimpi gue. Bukaaaaan deeeeeeh. Slepet juga niiih! :P :P


Ada beberapa hal yang datang sekaligus ketika gue sadar gue perlu keluar dari ketergantungan gue dengan menonton drakor. Hidup itu memang butuh penyeimbang. Gak bisa selamanya hanya mau senang, tapi menyingkirkan yang susah. Semacam Law of Attraction, ketika kita mengharapkan sesuatu, maka pintu akan dibukakan ke situ. Dalam hal apapun itu, pasti ini yang akan terjadi. Begitu juga ketika drakor ini sudah sedikit banyak menggangu keseharian, saatnya untuk mengganti pola hidup dan pikiran. Di saat itu pula mulailah bermunculan ide dan tawaran baru yang tidak terduga sebelumnya.


Hal pertama adalah terajaklah gue dalam satu rutinitas baru dengan teman-teman dari CM Jakarta. Kami berkumpul dalam satu grup kecil berisikan 12 orang, yang mana setiap harinya kami harus membaca satu buku, berjudul Positive Discipline lalu menarasikannya. Kami sendirilah yang menetapkan waktu yang pas bagi kami kapan harus mengumpulkan tugas narasi, menjalankan dua rutinitas harian yang selalu harus dikerjakan dan juga pastinya mendiskusikannya setiap dua minggu sekali. Sedikit banyak hal ini membantu sekali sih. Gak hanya urusan dalam mendisiplinkan anak yang sering kami curhatkan, tapi juga dalam urusan apapun yang membuat kami jatuh berkali-kali dalam lubang yang sama. Seperti support grup gitu ya ini. 



Selain itu, rutinitas yang perlu dijalankan juga sedikit banyak membantu gue dalam mengatur keseharian sih. Gue jadi terbiasa untuk tidur lebih pagi, sebelumnya kan karena keracunan drakor bisa sampai jam setengah 2 masih melek nonton. Sekarang jam 10 aja udah teler, dan paginya harus bangun kurang dari jam 6. Ditambah lagi rutinitas baru gue adalah jalan pagi bersama dengan Bang Ali dan dilanjut dengan meditasi sendiri. Dari dua rutinitas ini malah jadi berujung banyak banget loh. Gue jadi bisa melihat betapa dalam 24 jam itu banyaaak sekali yang bisa gue lakukan. Tanpa gue sadari, gue sudah menyusun beberapa rutinitas yang gue harus lakukan setiap harinya. Hidup jadi lebih teratur. Tentunya ya semuanya itu juga harus dijalankan dalam porsi sedikit demi sedikit. Menjalankan rutinitas itu tidak bisa sekali tepuk lalu rutinitas itu terjalankan. Semua butuh proses, dan always start small jadi motto gue lah sekarang.


Bagaimana dengan menonton drakor? Masih tetap dijalankan, tapi tidak lagi jadi Bucin Drakor dong sekarang. Sudah bisa mengatur waktu dengan baik, semoga ini berlangsung terus yaaa.


Hal kedua adalah mendadak gue mendapat tawaran ngelesin online. Adalah seorang sahabat dari jaman kuliah yang selalu menjadi tempat cerita ketika dibutuhkan. Persahabatan kami ini unik, tidak setiap saat kami mengobrol. Kadang bisa setahun sekali ataupun lebih, tapi ketika masing-masing dari kami punya masalah, pasti kami selalu terhubung dan bisa dihubungi. Begitulah persahabatan ala kami ini, dan jujur gue suka banget dengan persahabatan kami. 


Pernah satu kali gue tanya tentang les online, lalu ditanggapi antusias olehnya kalau gue perlu mencobanya. Sampai gue rundingan ini itu tentang plus minusnya ngelesin online. Eh satu hari justru mendadak dia menelpon dan menawarkan anaknya untuk dibantu les online oleh gue. Wah, satu kesempatan bagus ini. Sekali coba, gue ketagihan. Begitu gue posting di IG gue, seorang sahabat dari sekolah pun minta untuk dibantu anaknya. Kalau sebelumnya anaknya minta dilesin matematika, kali ini minta dibantu anaknya untuk lebih berani bicara dengan Bahasa Inggris. Kesempatan sekaligus tantangan buat gue ini secara gue dah lama gak banyak menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian. 


Setelah sebulan berjalan, gue mendapat review dari sahabat sejak sekolah bahwa anaknya mendadak pede jaya mengajukan diri ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan Bahasa Inggris. Begitu aja sudah membuat gue bahagia gak ketulungan loh. Rasanya mau gue skrinsyut itu tulisan sahabat gue dan gue pejeng di IG, tapi jadinya syombong maksimal bener ya gue. Batal deh niat nyombongin dirinya. Gue takut kalau orang sombong nanti fantatnya gak lebar lagi...Hahahaha.


Di saat yang bersamaan, terlintas juga untuk menjalankan kembali Allella Kids secara online. Mungkin mesin gue ini diesel yang lama panas ya. Bukan tipe orang yang dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ada momen bisa online, kenapa gak gerak cepat bikin kegiatan atau aktivitas apa gitu. Malah jatuh dulu dalam lubang drakor yang dalam. Tapi sekalinya sudah tergerak dengan ide yang muncul, gue mulailah mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan aktivitas dengan anak-anak.


Kali ini gue sempat disenggol oleh sahabat gue dari Jogja. Tiba-tiba saja dia kepingin anaknya untuk dikasih kegiatan oleh Allella Kids, bisakah gue sanggupi tanyanya. Lucu ya, seringkali gue mendapati hubungan gue dan dirinya ini sering berpapasan seperti ini. Gue lagi terlintas apa, kok bisa dia juga lagi terlintas ide yang sama. Sering!


Dan, setelah uji coba praktek kegiatan sekali, mantaplah untuk menjalankan kegiatan kembali dengan bendera Allella Kids. Kegiatan yang dibuat pun bukan kegiatan yang spektakuler luar biasa menggetarkan jiwa gitu loh, kegiatan super duper sederhana dengan bahan materi yang mudah didapat. Justru itulah kegiatan biasa ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri ketika menjalankannya. Setiap selesai bertemu dengan anak-anak ini seperti ada energi besar yang menyelimuti gue dan gue seneng luar biasa bisa berinteraksi lagi dengan mereka. Mendengar celoteh mereka walaupun hanya lewat online, bagi gue sudah bahagia banget. Begitu deh kalau berhubungan dengan anak-anak. Membawa sukacita tersendiri buat gue.


Begitulah yang terjadi di sepanjang tahun 2020, yang mungkin sebagian orang masih berusaha menerima atas apa yang terjadi dengan kesehariannya. Begitupun gue yang juga berjuang dengan keseharian gue. Begitu banyak hal yang saat ini gue melihatnya menjadi mujizat buat gue, berkat di setiap hal yang gue gumulkan. Dan satu lagi, gue melihatnya, tahun 2020 ini adalah pelajaran besar bagi kita semua. Ini bukan musibah, tahun ini adalah berkah. Berkah yang melimpah yang membuat kita belajar dari si Coronce. Di penghujung tahun ini, sanggupkah kita mengucapkan terima kasih akan hadirnya Covid 19 bernama Corona ini?

Sunday, September 27, 2020

4:36 PM

Tua itu Pasti

Tua itu Pasti


Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang gandrung juga dengan Drama Korea (drakor) menyodorkan satu judul yang menurutnya bagus dan dijamin gue pasti suka. Awalnya gue kurang tertarik dengan anjuran si kawan ini yang mengajukan “Dear My Friends” sebagai drakor yang wajib gue tonton. Sampai akhirnya di obrolan kami yang kesekian kalinya, dia menanyakan , “Lo dah nonton blom drakor yang gue bilang waktu itu?!” Jreeeeng!

 

Sebetulnya apa sih yang menarik dari kawanan nenek-nenek yang sudah berteman sejak usia sekolah ini sampai jadi drakor yang menurut si kawan ini wajib gue tonton? Akhirnya gue pun penasaran dan gue sempatkan waktu beberapa hari lalu untuk menontonnya.

 

Drakor satu ini berkisah tentang 5 nenek yang sudah bersahabat sejak usia sekolah. Mereka adalah Hee Ja, Joong A, Nan Hee, Young Won dan Choong Nam yang berumur kisaran 70 tahunan. Ini adalah kisah mereka berlima yang berjalan mengarungi waktu yang sudah tidak muda lagi dengan segala permasalahan hidupnya dan berharap kisah mereka ini dituliskan dalam satu buku oleh anaknya Nan Hee yang bernama Park Wan. Dia memang seorang penulis dan ibunya kepingin sekali kisah hidup teman-temannya ini bisa jadi memori untuk mereka sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Tentunya tidak mudah untuk si ibu membujuk anaknya yang merasa akan bosan sekali harus mengintil kemana para nenek ini berkegiatan. Lucunya, tanpa ia sadari ia sudah masuk ke dalam permasalahan hidup mereka dan selalu terkait dalam setiap kisahnya mereka.

 

Cerita di dalam drakor ini memang berkisah tentang persahabatan mereka berlima, tapi porsi lebih banyak berkisah tentang kehidupan Nan Hee dan keluarga, Joong A dan keluarga serta Hee Ja dan keluarga. Sisanya diikut sertakan tapi tidak begitu banyak porsinya. Seperti Young Won yang adalah seorang aktris yang mengidap kanker payudara stadium awal. Ia adalah teman yang baik yang selalu menolong kawan-kawannya ketika mereka membutuhkannya, meskipun di awal ia diceritakan mengetahui hubungan gelap antara suami Nan Hee dengan temannya tapi tidak memberitahukan Nan Hee sebagai sahabatnya. Mereka bermusuhan lama tetapi akhirnya hubungan mereka membaik di cerita ini.

 

Peran pembantu lainnya, Choong Nam adalah nenek yang hidupnya melajang sampai tua dan sibuk menghidupi saudara, keponakan dan cucu yang membutuhkan uangnya. Ia ceritanya seorang yang kaya dan periang, suka sekali melucu nenek ini dengan suara yang serak-serak basah. “Di antara kalian yang paling menderita sakit itu aku. Tahu kenapa? Karena aku yang paling diberikan kesehatan yang baik dan umur yang panjang.”  Lucunya lagi, si nenek satu ini masih sekolah dong. Dia belum lulus SMA dan hobinya nyontek PR temennya karena ia terlalu sibuk mengurusi teman-teman tuanya. Ampun deh, kocak banget!

 

Nan Hee adalah seorang ibu tunggal yang diselingkuhi oleh suaminya 30 tahun lalu. Sejak itu ia tidak pernah menikah lagi dan memilih hidup berdua dengan anaknya, Park Wan, dari hasil usaha restoran kecil-kecilannya. Nan Hee juga masih memiliki keluarga lengkap. Ada ibu yang sudah berumur hampir 90 tahun dan seorang ayah yang usianya tentu gak berbeda jauh dari Ibu. Ini lucu deh, si Ayah ini di usia tuanya selalu mengintil kemana ibunya berjalan, berbalik dengan ketika mereka masih muda dimana si Ibu yang dulunya selalu mengikuti Ayah kemanapun karena si Ayah hobi selingkuh. Justru di usia tuanya, si Ayah jadi sibuk mengikuti kemanapun Ibu berjalan, matanya pun tidak pernah lepas dari si Ibu sambil terus membawa tabung oksigen yang terhubung dengan hidungnya dan juga gantungan huruf-huruf Hangul untuk dipelajari si Ayah. Ayahnya dikisahkan tidak bisa membaca sampai usia senja itu tapi masih punya semangat untuk belajar.  Jadi suka ada adegan kocak-kocak berantem standar ala kakek nenek gitu.

 

Nan Hee juga memiliki seorang adik yang umurnya jauh sekali dengannya, malah bisa dibilang hampir seumur anaknya yang sudah memasuki umur 40 tahun. Adiknya ini memiliki satu kaki yang lumpuh dan harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Nan Hee ini merasa memiliki tanggung jawab berat, ia merasa harus menghidupi keluarganya. Padahal sebetulnya keluarga mereka mempunyai lahan perkebunan yang luas. Eh iya, yang bikin tercengang, si Ibu yang berusia 90 tahunan itu kalau mau berpergian kemana-mana naik ATV dong. Keren banget yak!! :D

 

Hubungan Nan Hee dan anaknya, Park Wan, sering banget berantem sebetulnya. Mereka hidup terpisah dan saling mengunjungi satu sama lainnya. Biasanya sih lebih banyak Nan Hee yang suka mengunjungi anaknya sambil membawakan stok-stok makanan untuk anaknya. Si Ibu yang sudah tahu kode password nomor pintu si anak suka main seenaknya aja datang tanpa berkabar dulu ke Park Wan. Sedangkan Park Wan merasa bête karena merasa tidak memiliki privasi, apalagi ia takut ketahuan ibunya kalau ia merokok. Ia takut ibunya melihat bungkus-bungkus rokok di tong sampah rumahnya. Beberapa kali ia harus mengganti kode password rumahnya dan ini malah bikin si Ibu jadi bête juga, ujung-ujungnya berantem. Ya gitu deh ya hubungan ibu dan anak perempuannya. Kalau dekat bau ,menjauh justru wangi. Ketika sudah cukup lama menjauh, begitu ketemu justru berantem. Adegan-adegan berantem ibu dan anak ini agak mirip-mirip dengan kisah gue juga dengan nyokap. Hahahah.

 

Park Wan sendiri adalah seorang penulis yang bekerja di kantor milik mantan pacar pertamanya yang masih cinta sama Park Wan tapi si cowok itu sebetulnya sudah berkeluarga. Ada sempat salah paham si Ibu karena merasa anaknya ini sudah merusak rumah tangga orang. Wah habis deh Park Wan digebukin ibunya. Ibunya tidak mau kalau anaknya berakhir menjadi pelakor seperti yang terjadi dengan kisah hidup ibunya yang diselingkuhi. Paham banget ini rasanya jadi si ibu.

 

Park Wan memiliki seorang mantan pacar yang gantengnya amit-amit, duh, gue demen banget sama (satu-satunya yang ganteng dan muda di sini) cowo ini. Sayangnya si mantan pacar ini, Yeon Ha, lumpuh kedua kakinya dan terpaksa harus memakai kursi roda. Yeon Ha tinggal di Slovenia, tempat mereka pernah menjalin kasih dan terpaksa Park Wan meninggalkan Yeon Ha karena lumpuh. Ini agak egois ya dilihatnya. Kenapa Park Wan dengan tega meninggalkan Yeon Ha setelah lumpuh?

 

Ajaran Ibu itu begitu kuat dan mengakar hebat di benak anak ya. Nan Hee selalu bilang ke Park Wan untuk tidak menikah dengan seorang pria lumpuh seperti pamannya Park Wan karena menyusahkan. Jadi begitu Yeon Ha lumpuh, tanpa pikir panjang Park Wan pun meninggalkan Yeon Ha dan kembali ke Korea. Hubungan cinta ini jadinya ribet sendiri. Mereka berdua masih saling sayang, tapi karena ajaran ibu untuk tidak menikahi seorang pria lumpuh terus terngiang-ngiang di Park Wan alhasil membuat mereka berdua jadi (kadang)saling menyiksa satu sama lain dengan kata-kata. Nyesek sih ini!

 

Karakter nenek kedua adalah Hee Ja. Ia adalah nenek yang melankolis dan memiliki tanda-tanda demensia di awal cerita. Suaminya meninggal di dalam lemari baju dalam keadaan tertidur, rumornyaa karena pintunya ditahan dengan sendok oleh Hee Ja sehingga suaminya tidak bisa keluar dari lemari baju dan mati lemas kurang oksigen. Jadilah ia hidup menjanda dan tidak ada anaknya yang mau menampungnya. Ia pun hidup sendirian di rumahnya yang cukup besar. Hanya satu anaknya yang mau mengurusnya, Bong Yi, tapi ini pun tidak tinggal serumah dengan Hee Ja.

 

Ada satu waktu ketika Hee Ja mau mengganti lampu bohlam yang mati. Pelan-pelan ia naik ke atas kursi, membuka lampu bohlam yang mati lalu turun dari kursi. Ia mengambil lampu bohlam yang baru dan pasang sarung tangan supaya tidak kesetrum waktu memasang bohlam yang baru. Waktu nonton ini gue tahan nafas takut terjadi sesuatu dalam adegannya, dan ternyata doski berhasil menggantinya sampai kembali turun ke lantai dong. Eh, pas jalan mundur sedikit tiba-tiba kakinya terkilir dan tanpa disangka lampu bohlam yang ia pasang juga pecah. Haiya, bisaan aja ini adegannya dibikin kaget pemirsah.

 

Karena tangan dan kakinya berdarah, Hee Ja mencoba menelpon anaknya, Bong Yi, untuk datang ke rumah membantunya. Bong Yi marah karena ia lagi sibuk di bengkel dan dari semalam belum tidur, ia pun minta ibunya menelpon ambulans saja. Mungkin karena ada rasa iba atau sayang dengan ibunya, meski dia menolak di awal tapi tiba-tiba dia sudah datang ke rumah ibunya dan menolong ibunya yang tidak berdaya di lantai dengan darah dimana-mana. Setelah beres, Bong Yi tidur di lantai dan disusul oleh ibunya yang ikut tiduran di lantai sambil dipeluk Bong Yi. Bong Yi pun bilang, “Dulu sewaktu aku kecil, Ibu suka memelukku sampai aku tertidur di sini.” Whoaaaah, gue mewek dong. (pas nulis ini pun mata gue ngembeng :P)

 

Dalam kisahnya ini, ada seorang kakek yang merupakan cinta pertamanya Hee Ja yang kembali hadir. Ia seorang pengacara dan masih segar bugar banget karena hidupnya sehat. Si Kakek ini, Seong Jae, suka mengikuti Hee Ja kemana-mana. Awalnya dari gereja, setiap Hee Ja ke gereja pasti ada si Kakek ini. Lalu lama-lama mulai PDKT lagi sampai sempet ngajakin jalan-jalan pakai strategi nginep dan kamarnya hanya bisa satu yang ditempati. Bisaan banget emang nih kakek.  Lucunya si Kakek ini dicerita sini adalah playboy. Ampun dijeeee, udah tuwir tapi masih suka tebar pesona ke dua nenek, Hee Ja dan Choong Nam. Ini banyak adegan lucu juga di percintaan segitiga mereka. Bikin ngakak. Yang lucunya tentunya si nenek Choong Nam dengan suara serak-serak basahnya dan ekspresi muka yang datar aja.

 

Berpindah ke karakter nenek ketiga di cerita ini, Joong A. Nenek satu ini menikah dengan seorang suami yang ampun pelitnya gak ketulungan. Nonton TV dengan lampu menyala aja diomelin karena dianggap pemborosan. Belum lagi suaminya ini, Seok Gyun, hobinya menyuruh-nyuruh layaknya bos dengan bawahannya dan semua serba dilayani. Sampai satu ketika Joong A gak tahan lagi dan milih bercerai dengan suaminya. Cerai tanpa surat, alias kabur aja gitu dan tinggal di satu rumah kecil. Suaminya  tadinya merasa masih di atas angin, masih berpikir kalau istrinya tidak akan mungkin meninggalkan dia sendirian. Suaminya masih suka marah-marah dan menelpon istrinya untuk pulang ataupun minta anak dan teman-teman Joong A datang untuk masak dan beberes rumah. Teman-temannya mau ya bantuin, kalau gue sih ogah! Hahaha.

 

Akhirnya, si kakek ini tersadar akan sikapnya. Dia pelan-pelan belajar untuk masak nasi, masak untuk dirinya, cuci piring sampai cuci baju sendiri. Di kulkasnya ada kertas yang tulisannya “Menjadi Suami yang Baik”, yang sengaja diletakkan di situ oleh Choong Nam. Nenek satu ini idola gue banget deh. :D Akhirnya si kakek sifatnya dan sikapnya berubah, jadi lebih mandiri dan jadi lebih perhatian ke istrinya seperti kertas yang ditempel itu, meskipun kadang masih ada juga kelakuan ajaibnya. Ya namanya udah menua, tentu gak segampang membalikkan telapak tangan ya untuk berubah.

 

Kisah dari Joong A lainnya adalah ketika ia mengetahui anaknya yang pertama menjadi korban KDRT suaminya yang merupakan seorang profesor di universitas terkenal. Joong A merasa nyesek melihat anaknya yang mukanya biru-biru akibat digebukin dan tangan yang diperban karena patah. Padahal bisa dibilang Joong A ini rutin mengunjungi rumah anaknya dan selalu melihat si anak ini tidur di kasur sambil membelakangi Joong A, sampai-sampai Joong A sebel dan bilang dia anak pemalas karena keenakan sebagai istri hanya tiduran terus. Padahal, si anak lagi menutupi muka dan badannya yang lebam-lebam karena kelakukan suaminya. Ia takut dengan ancaman suaminya kalau sampai ibunya tahu.

 

Gue sedih banget dengan adegan ini. Gue seperti larut dengan perasaan ibu yang akhirnya tahu kalau anaknya digebukin orang sampai patah tulang. Menyayat hati banget. Syukurnya si anak ini tidak menaruh dendam dengan ibunya, Joong A, yang kadang suka kasar secara verbal mengomeli si anak yang dianggap manja ataupun tidak mengangkat telepon ketika si anak minta bantuan ibunya. Huhuhu. Untungnya si anak tersadar untuk kabur dari rumahnya dan pergi jauh sampai ke Amerika untuk kehidupan lebih baik.

 

Diantara kelima kawan ini, Joong A dan Hee Ja adalah kawan paling akrab. Mereka saling sayang satu sama lain dan saling support. Pernah di satu episode, karena Joong A sebel dengan suaminya, ia kabur tengah malam dengan Hee Ja dengan mengendarai mobil suaminya. Dua nenek ini berpergian bersama mengunjungi Ibu dari Joong A yang sudah berada di panti jompo yang jauh dari perkotaan. Dalam perjalanan tanpa disangka, Joong A menabrak seseorang. Hee Ja yang berada di kursi penumpang ikut merasa bersalah karena ia mengatakan rem berada di sebelah kanan sehingga mobil bukannya berhenti malah melaju lebih cepat. Keduanya ketakutan dan meminta Park Wan (salah satunya adegan ini yang ia turut dibawa-bawa oleh dua nenek ini untuk menolong mereka) untuk menjemput mereka karena Joong A merasa tidak mampu menyetir pulang. Dua nenek ini ketakutan setengah mati berhari-hari. Lalu ada satu momen dimana mereka akhirnya tersadar bahwa mereka harus menyerahkan diri ke polisi untuk perbuatan mereka. Ya ampun, di sini gue melihat betapa sahabat tuh bisa sampai segitunya saling sayang dan saling bergandengan tangan untuk mengakui perbuatan mereka. Syukurnya bukan orang yang mereka tabrak malam itu, melainkan rusa yang tiba-tiba lewat. Ini aja udah bikin polisi shock begitu dua nenek ini ngaku nabrak orang. Hihihi.

 

Tentu adegan puncaknya lebih banyak mengoyak hati dan air mata. Hee Ja diceritakan mengalami demensia akut. Ia mendadak hilang setelah ia pulang dari gereja. Sebelumnya ia sering keluar pagi-pagi buta, sekitar jam 2 pagi, untuk berjalan ke gereja dan berdoa di sana sambil menangis, lalu pulang ke rumah dan tidur. Begitu pagi, ia sama sekali tidak tersadar apa yang dia lakukan setiap pagi-pagi buta itu. Dan ketika demensianya semakin parah, ia sudah berjalan jauh menuju rumah pertama dengan suaminya yang terletak di satu desa yang  jauh. Ia berjalan berhari-hari tanpa makan, tanpa alas kaki dan dengan bantal di belakang seperti sedang menggendong anak. Ternyata diingatannya saat itu, ia sedang membawa anak sulungnya yang sudah meninggal akibat sakit parah.

 

Semua sahabatnya mencarinya, bahkan si pengacara pun meminta kenalan polisi yang bisa membantunya lewat CCTV di jalan. Sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Hee Ja yang berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju rumah pertamanya dengan sang suaminya dulu. Begitu ditemukan, reaksinya adalah marah dengan Joong A karena tidak mau membantunya ke rumah sakit sampai anaknya meninggal di gendongan Hee Ja. Sampai-sampai Hee Ja menolak melihat wajah Joong A berhari-hari, tapi Joong A dengan sabarnya menunggu sampai akhirnya Hee Ja tersadar sendiri alias kembali ke pikiran sadarnya saat ini dan malu dengan perbuatannya. Tetap dong dimaafkan oleh Joong A, si sahabat karibnya. Waah, ini syedih gak ketulungan nontonnya.

 

Di tempat yang berbeda, Nan Hee yang sebetulnya mau mengantar ibunya berobat ke rumah sakit justru mendapati kalau ia sudah sampai di stadium akhir kanker hati. Park Wan yang akhirnya mengetahui hal ini langsung menemani hari-hari ibunya. Meskipun kadang ibu anak ini bertengkar, tetap saja ikatan batin itu kuat ya. Rasa sayang diantaranya pun tidak akan bisa bohong, meskipun Park Wan dan Nan Hee bukan orang yang terbuka satu sama lainnya. Jelas terlihat dari gesture, mereka saling menyayangi. Ibunya tentu takut setengah mati, begitupun dengan Park Wan. Ah, ini pun udah sampai mewek berkali-kali yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari si Boy. :D

 

Sungguh drakor yang menurut gue layak untuk ditonton dan dijadikan refleksi hidup. Saat ini gue berterima kasih sekali dengan kawan gue yang satu itu yang memaksa gue untuk menonton ini. Susah untuk disebutkan satu-satu moral apa yang terkandung di dalam tontonan ini, pastinya semua realita kehidupan jelas digambarkan dalam drakor satu ini. Tua itu pasti, tinggal bagaimana kita berbaik hati menerima kenyataan hidup yang akan disajikan oleh Tuhan Maha Pengasih untuk kita di masa tua nanti.


Saturday, September 5, 2020

1:57 PM

Bersejarah..

Bersejarah..

 


Siapa disini yang setuju kalau belajar Sejarah itu membosankan?


Wah, udah pasti deh banyak yang tunjuk tangan, eh gak keliatan lah ya kalau tunjuk tangan. Mungkin reaksi kalian pasti manggut-manggut sambil senyum-senyum sendiri. Ya, sama dong dengan aku!


Belajar Sejarah itu jadi momok tersendiri jaman sekolah dulu, selain belajar Matematika, Fisika, Kimia, PPKN, Bahasa Indonesia, Biologi (laah, semua pelajaran ini mah ya. :P). Benar atau benar? Rasanya hafalan paling menakutkan itu ya pelajaran Sejarah karena hafalnya harus benar, gak boleh meleset. Kebayang kan kalau nama orang salah atau tahun perang salah, kelar sudah nilai ujian kita. Pulang-pulang tinggal manyun kasih liat kertas ulangan ke orang tua. Bagus kalau hanya dipelototin aja, tapi kalau kemoceng yang mampir di betis, bah!


Pasti semua setuju ya kalau belajar Sejarah di sekolah itu membosankan (banget). Rata-rata semua buku pelajaran Sejarah berkutat dengan tanggal, tahun, nama tempat, nama orang yang semuanya itu menjadi beban tersendiri bagi kita untuk menghafalnya. Apalagi, setelah selesai ujian semua hafalan itu seperti menguap, yang sampai sekarang entah tersimpan di bagian sisi mana dari otak kita. Tidak heran kalau kita menjadi malas mengenal lebih jauh tentang sejarah. Jangankan sejarah dunia, sejarah negara kita saja pasti malas banget untuk dipelajarinya.


Menurut Charlotte Mason, sejarah itu merupakan bagian vital dari pendidikan. Hal dimana semua orang rasanya wajib dan mutlak perlu tahu tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau supaya bisa memandang segala sesuatunya lebih adil di saat ini. Bagaimana bisa begitu?


Generasi muda saat ini sedikit banyak memilih untuk apatis akan sejarah. Mereka hanya fokus dengan hidup mereka saat ini saja dan tidak cukup perduli dengan sejarah yang terjadi di masa lalu. Rasa sentimentil pada situs-situs kuno ataupun tempat-tempat bersejarah dimana peristiwa besar terjadi pun tidak banyak menggugah pemikiran mereka akan arti pentingnya sejarah. Padahal, sikap patriotisme dalam pribadi seseorang itu sangat diperlukan. Ditambah lagi, generasi tua yang tidak memiliki cukup minat untuk menceritakan kembali sejarah di masa lampau, sehingga semakin lunturlah rasa patriotisme di generasi muda saat ini. Patriotisme yang rasional dan bijak sangat tergantung pada seseorang, apakah ia banyak membaca sejarah atau tidak.


Pada akhirnya, ini kembali ke pendidikan dasar, yaitu sekolah. Bagaimana sekolah menanggapi pelajaran Sejarah di setiap jenjang pendidikan? Ya, seperti yang kita ketahui juga, pelajaran Sejarah di sekolah pun sama sekali tidak menarik. Tahun berulang, begitupun dengan pelajaran Sejarah yang selalu dipelajari dengan gaya yang sama dan dengan buku yang kering, hanya berisikan deretan fakta-fakta yang membuat anak didik menjadi bosan untuk mempelajarinya.


Sebenarnya, anak-anak itu sangat tertarik dengan sejarah. Mereka akan bisa memperhatikan dengan konsentrasi penuh kalau saja materi yang diberikan kepada mereka adalah materi belajar yang berkualitas dengan cita rasa sastrawi daripada buku-buku kering yang berisikan deretan fakta untuk dihafal oleh anak-anak. Metode dengan prinsip sekali baca lalu meminta anak menarasikan kembali apa yang sudah dibaca oleh guru juga jauh lebih efektif. Memberikan penilaian setelah ujian tertulis justru menjadi beban tersendiri bagi anak.


Tugas guru (orang tua) sebagai fasilitator juga memiliki peran yang sangat penting. Menjadi guru yang berpengetahuan dan memiliki simpati mendalam terhadap pengetahuan itu tersendiri adalah tugas yang perlu diemban oleh sang guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar. Guru tidak perlu banyak menjelaskan dan juga tidak perlu banyak menginterupsi ketika anak bernarasi.  Ya pasti pada awalnya anak akan kewalahan ketika diminta untuk bernarasi, tapi lambat laun anak-anak akan menemukan iramanya dan fasih dalam bernarasi. Tanpa disadari, anak-anak akan bisa bernarasi dengan panjang lebar. Guru pun tidak diminta memberikan komentar akan narasi anak, justru guru perlu sangat hati-hati dalam mengeluarkan pendapat.


Kenapa bernarasi, bukan menghafal?


Bernarasi justru membuat anak lebih memahami dan tidak membuat anak butuh untuk remidi, mengulang kembali materi yang sudah dipelajari. Anak-anak pun jadi lebih bisa memperhatikan secara utuh dan penuh konsentrasi di mana keduanya itu adalah naluri alamiah dan tidak butuh dipaksakan. Anak-anak jadi belajar untuk menyadari pikirannya sendiri supaya tidak mengembara melainkan fokus dengan materi yang diberikan. Membaca atau mendengarkan teks yang dibacakan dengan penuh perhatian justru membuat akal budi anak lebih bekerja.


“Bersandar pada memori akal budi, kita memvisualisasikan adegan, menerima argumen, menikmati susunan kalimat, dan membingkai semuanya dalam bahasa kita sendiri, lalu perikop atau bab tersebut kita serap dan menjadi bagian dari diri kita tak ubahnya pencernaan kita menyerap hidang yang kita lahap semalam; ini malah lebih dari makanan, karena makanan kemarin sudah nyaris tak berbekas lagi besok, tapi bacaan yang kita konsumsi dan hidupkan secara jernih, detil, dan akurat, kita narasikan langsung sejak pertama kali menyimaknya, bisa berbekas selama berbulan-bulan. Semua kuasa akalbudi dilibatkan dalam menangani makanan intelektual itu. Jadi kita sebaiknya tidak usah mendikte anak dengan rangkaian pertanyaan komprehensif, membuatkan ilustrasi-ilustrasi cantik untuk membantunya berimajinasi, mengeksplisitkan pesan moral untuk menggugah nuraninya. Semua itu akan terjadi sendirinya saat anak mencerna bacaan.” - Vol 6 pg 174


Pekerjaan setelahnya adalah mencari buku sejarah dengan cita rasa sastrawi. Bisa dibilang tidak semua negara berhasil menceritakan sejarahnya dalam bentuk sastrawi ataupun naratif yang enak dibaca oleh anak-anak. Biasanya buku sejarah diceritakan dalam bentuk deretan fakta dengan segitu banyaknya tokoh cerita dan tahun-tahun yang tentunya menjadi sangat membosankan untuk dibaca. Ini memang semacam mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ada, tapi perlu usaha keras dalam mencarinya. Memang butuh ekstra semangat.


Melihat dari pengalaman pribadi, bertahun-tahun tidak pernah mengerti tentang sejarah negeri sendiri ataupun negara lain, kami mencoba mengaplikasikan metode ini terhadap pendidikan rumah yang kami jalani beberapa tahun terakhir ini. Membacakannya buku, hanya sekali baca, lalu memintanya menarasikan kembali ternyata menjadi sangat efektif untuk Fritz, anak kami. Berusaha untuk tetap fokus terhadap bacaan yang sedang dibacakan juga menjadi bagian yang sangat penting untuk melatih daya konsentrasinya. Selain itu, bersama-sama kami membuat catatan lini masa (time line/ Book of Century) setiap kali kami menemukan tanggal atau tahun bersejarah.


Mungkin ini terkesan terlalu santai dalam mempelajari sejarah. Tidak ada penghafalan nama, tahun, perisitiwa dan juga tidak ada ujian tertulis yang perlu dinilai, hanya perlu konsentrasi dan bernarasi. Nyatanya, setiap cerita yang diceritakan kembali justru menjadi kepingan puzzle yang tersusun rapi di dalam pikirannya yang sewaktu-waktu dapat direlasikan antara sejarah bangsa satu dengan bangsa lainnya. Seperti ketika ia mengetahui kematian Richard Wagner, salah satu komposer, terjadi di tahun yang sama dengan meletusnya gunung Krakatau di tahun 1883. Menarik ya!


Ini akan menjadi hal yang luar biasa ketika seseorang mempunyai gambaran utuh sejarah sebagai latar belakang pemikirannya. Tidak perlu harus bisa menyebutkan tempat dan tanggal peristiwanya dengan presisi setiap sejarah yang terjadi. Setidaknya kita tahu bahwa di setiap isu selalu ada banyak sekali pertimbangan dari pihak terkait sehingga ini juga bisa jadi pertimbangan bagi generasi muda agar terselamatkan dari opini yang dangkal dan aksi yang terburu-buru. Akalbudi yang sigap dan berwawasan akan menuntun pada sikap santun dan hidup bersahaja.


"Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang." - Soekarno