Sunday, December 13, 2020
Monday, December 7, 2020
Begitulah setiap insan memahami tahun 2020 ya. Beberapa dari kita mungkin harus terperosok dan jatuh dalam lubang, tetapi ada juga yang masih sanggup bertahan menghadapi badai Corona yang menguasai satu bumi ini. Bagaimana dengan kalian menanggapi tahun 2020 ini? Apakah Corona mendatangkan berkah atau malah menjadi musibah bagi kalian?
Bagiku pribadi, tahun 2020 ini cukup mencengangkan sih. Dimulai dengan kami harus bertahan di rumah Oma karena Kelapa Gading dilanda banjir di hari pertama tahun baru. Lalu berlanjut dengan kedatangan tamu banjir sampai 3 kali lagi setelah tahun baru itu. Memang sih, tidak berefek banyak untuk kami karena kami tinggal di area apartemen. Tapi wilayah Kelapa Gading jadi satu-satunya yang hujan dikit banjir-hujan dikit banjir dibanding dengan wilayah Jakarta lainnya. Gimana gak was-was coba ya ini. Setiap hujan mampir bentar namun deras curahnya, udah jiper aja kebanjiran. Hahaha
Berlanjut dengan bolak balik ke UGD RS Carolus sekitar pertengahan Januari ke Februari. Dari Mama (mertua) yang terjatuh di kamar mandi karena lemas dan kami harus mengantarnya ke UGD tengah malam itu juga, sampai Bang Ali yang mendadak panas tinggi ketika kami berkegiatan di Lapangan Banteng. Tentu saja ini menyebabkan suster dan dokter jaga di RS tersebut sedikit banyak kenal ya dengan diriku. Segitu tenarnya kah? Sebenarnya gak seartis itu juga sih gue. Eh, tapi kalau diingat-ingat, Kikan dari Band Cokelat aja pernah nuduh gue "Kayanya sering liat deh mukanya." Jadi, gue artis apa bukan, hayoooo :P
Lanjooot...
Yaaa, gue sedikit membuat drama dengan sensasi melotot sambil bernada tinggi ke salah satu suster akibat tidak adanya mobil ambulance yang membantu kami memindahkan Mama ke rumah sakit lain saat itu. Lah ya gimana gak pake esmoniiii eh esmosi sodaraaaa, mobil ambulance ada tiga berjejer rapi jali di depan UGD tapi begitu ditanya kenapa gak bisa antar Mama, jawabannya itu loh. "Supirnya gak ada, Bu." Darah langsung memuncak sampai ke otak rasanya saat itu, ngapain juga lo jejerin tuh ambulance ampe tiga biji disono kalau gak ada supirnya, Maliiih!! Gue pun ngomel dah, sambil gue tawarin diri, sini gue aja yang nyetirin tuh mobil ambulance dan disambut gelengan suster. Ya kali, Bu!!
Jadi begitu Bang Ali harus bertandang ke UGD RS tersebut lagi karena mendadak panas tinggi, suster yang gue ocehin itu pas bertugas. Doi kenalin kami dong lalu berbisik-bisik dengan koleganya yang lain sambil melirik-lirik ke gue. Eaaa, kesampaian juga gue jadi artis lokal sesaat deh saat itu. *gubraaak
Masuklah di pertengahan Maret. Pas banget ketika gue lagi mulai mendapat ide untuk membuat kegiatan Kumpul Bocah ala Allella Kids. Lagi seru-serunya merancang kegiatan untuk bulan berikutnya, eh Neng Corona pun menghampiri dan mendadak semua kegiatan luar ruangan harus dihentikan. Tentu saja ini bikin gue jadi resah dan gelisah, macam lagunya Chrisye.
Nah di saat pikiran bingung mau ngapain sambil nunggu si Coronce lewat, yang gak tau sampai kapan ini, ide muncul kembali. Sebetulnya ide ini sudah tercetus beberapa bulan sebelumnya sih, tapi belum berani eksekusi aja. Jadi, begitu ada kesempatan bakalan lama di rumah, gue beranikan diri untuk jalankan. Tentu ini sambil menggeret Bang Ali untuk ambil bagian lah ya. Kami mulai membuka PO masakan, di bawah bendera Allella Kitchen. Yaaa, lagi-lagi Allella. Udah brand khusus soalnya itu. Kapan-kapan diceritain deh kenapa Allella harus banget jadi nama usaha. Nanti yaaaa.
Masakan pertama kami adalah Pangsit Kuah frozen. Kami hanya mencoba memasarkan dari pertemanan di WA saja dan antusiasnya gak disangka-sangka. Dengan prosedur PO, kami mengumpulkan pesanan, puji Tuhan, penjualan pertama kami cukup disambit eh disambut baik oleh teman-teman ini. Puji Tuhan lagi, sampai di bulan terakhir tahun 2020 ini, kami masih menjalankan usaha kecil-kecilan kami ini. Berawal tanpa logo, sekarang kami punya logo. Berawal hanya sekadar isi waktu saja, sekarang kami punya 9 masakan frozen dan 2 masakan matang. Berawal hanya dari teman ke teman saja, sekarang kami punya pelanggan tetap dan beberapa orang yang kenal dari sosmed pun menjadi langganan kami. Artinya, kami memang harus butuh serius di bidang ini. Ada PR yang perlu kami rancang untuk ke depannya.
Ternyata juga, Bang Ali ini sebetulnya yang punya bakat memasak. Doi ini turun langsung sendiri meracik bumbu dan sering mendapat pujian dari teman-teman yang membeli. Gak nyangka ya. Plus, doi pun turun langsung sendiri dalam membeli bumbu dan bahan-bahan lainnya ke pasar. Dipilih satu-satu dengan rajinnya itu bawang putih, bawang merah, percabean dari cabe keriting sampai cabe merah gede, sayur sampai daging. Segala pedagang pasar pun sampai hafal dan ikriiiib banget sama doi ketimbang sama eikeh. Apalagi kalau gue sesekali dateng ke pasar, langsung aja pedagang heboh liat artis dateng. Kaga diing, gue disindir halus aja gitu. "Wah, Ibu sampai turun gunung nih." Preeetttt benerrr dah. >,<
Bersamaan dengan Allella Kitchen merambah dunia sosmed, begitupun gue yang semakin rajin sekrol-sekrol sosmed. Akibatnya banyak pikiran-pikiran gak penting masuk. Salah satunya, gue jadi korban drakor. Huahahahaha. Sebenarnya ini aib sih yang seharusnya gak perlu gue ceritakan di sini. Masalahnya, ini sudah jadi keseharian rasanya. Hidup tanpa drakor seperti makan tanpa nasi. Eh, gue makan tanpa nasi masih bisa, hidup tanpa air. Duh, lebay gak sih tuh gue. :D
Ini sudah gue prediksikan sebetulnya ketika gue mengambil langkah mencoba nonton drakor sekali. Tapi di satu sisi, drakor ini juga jadi penyelamatan tersendiri dari pengalihan pikiran untuk terus-terusan membuka sosmed. Ini mungkin satu-satunya berkah sekaligus musibah buat gue. Lewat drakor ini juga akhirnya gue belajar untuk mengontrol diri. Tepat di saat gue mulai keracunan, datanglah penyelamat. Babang Ji Chang Wook dan Babang Gong Yoo hadir di mimpi gue. Bukaaaaan deeeeeeh. Slepet juga niiih! :P :P
Ada beberapa hal yang datang sekaligus ketika gue sadar gue perlu keluar dari ketergantungan gue dengan menonton drakor. Hidup itu memang butuh penyeimbang. Gak bisa selamanya hanya mau senang, tapi menyingkirkan yang susah. Semacam Law of Attraction, ketika kita mengharapkan sesuatu, maka pintu akan dibukakan ke situ. Dalam hal apapun itu, pasti ini yang akan terjadi. Begitu juga ketika drakor ini sudah sedikit banyak menggangu keseharian, saatnya untuk mengganti pola hidup dan pikiran. Di saat itu pula mulailah bermunculan ide dan tawaran baru yang tidak terduga sebelumnya.
Hal pertama adalah terajaklah gue dalam satu rutinitas baru dengan teman-teman dari CM Jakarta. Kami berkumpul dalam satu grup kecil berisikan 12 orang, yang mana setiap harinya kami harus membaca satu buku, berjudul Positive Discipline lalu menarasikannya. Kami sendirilah yang menetapkan waktu yang pas bagi kami kapan harus mengumpulkan tugas narasi, menjalankan dua rutinitas harian yang selalu harus dikerjakan dan juga pastinya mendiskusikannya setiap dua minggu sekali. Sedikit banyak hal ini membantu sekali sih. Gak hanya urusan dalam mendisiplinkan anak yang sering kami curhatkan, tapi juga dalam urusan apapun yang membuat kami jatuh berkali-kali dalam lubang yang sama. Seperti support grup gitu ya ini.
Selain itu, rutinitas yang perlu dijalankan juga sedikit banyak membantu gue dalam mengatur keseharian sih. Gue jadi terbiasa untuk tidur lebih pagi, sebelumnya kan karena keracunan drakor bisa sampai jam setengah 2 masih melek nonton. Sekarang jam 10 aja udah teler, dan paginya harus bangun kurang dari jam 6. Ditambah lagi rutinitas baru gue adalah jalan pagi bersama dengan Bang Ali dan dilanjut dengan meditasi sendiri. Dari dua rutinitas ini malah jadi berujung banyak banget loh. Gue jadi bisa melihat betapa dalam 24 jam itu banyaaak sekali yang bisa gue lakukan. Tanpa gue sadari, gue sudah menyusun beberapa rutinitas yang gue harus lakukan setiap harinya. Hidup jadi lebih teratur. Tentunya ya semuanya itu juga harus dijalankan dalam porsi sedikit demi sedikit. Menjalankan rutinitas itu tidak bisa sekali tepuk lalu rutinitas itu terjalankan. Semua butuh proses, dan always start small jadi motto gue lah sekarang.
Bagaimana dengan menonton drakor? Masih tetap dijalankan, tapi tidak lagi jadi Bucin Drakor dong sekarang. Sudah bisa mengatur waktu dengan baik, semoga ini berlangsung terus yaaa.
Hal kedua adalah mendadak gue mendapat tawaran ngelesin online. Adalah seorang sahabat dari jaman kuliah yang selalu menjadi tempat cerita ketika dibutuhkan. Persahabatan kami ini unik, tidak setiap saat kami mengobrol. Kadang bisa setahun sekali ataupun lebih, tapi ketika masing-masing dari kami punya masalah, pasti kami selalu terhubung dan bisa dihubungi. Begitulah persahabatan ala kami ini, dan jujur gue suka banget dengan persahabatan kami.
Pernah satu kali gue tanya tentang les online, lalu ditanggapi antusias olehnya kalau gue perlu mencobanya. Sampai gue rundingan ini itu tentang plus minusnya ngelesin online. Eh satu hari justru mendadak dia menelpon dan menawarkan anaknya untuk dibantu les online oleh gue. Wah, satu kesempatan bagus ini. Sekali coba, gue ketagihan. Begitu gue posting di IG gue, seorang sahabat dari sekolah pun minta untuk dibantu anaknya. Kalau sebelumnya anaknya minta dilesin matematika, kali ini minta dibantu anaknya untuk lebih berani bicara dengan Bahasa Inggris. Kesempatan sekaligus tantangan buat gue ini secara gue dah lama gak banyak menggunakan Bahasa Inggris dalam keseharian.
Setelah sebulan berjalan, gue mendapat review dari sahabat sejak sekolah bahwa anaknya mendadak pede jaya mengajukan diri ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan Bahasa Inggris. Begitu aja sudah membuat gue bahagia gak ketulungan loh. Rasanya mau gue skrinsyut itu tulisan sahabat gue dan gue pejeng di IG, tapi jadinya syombong maksimal bener ya gue. Batal deh niat nyombongin dirinya. Gue takut kalau orang sombong nanti fantatnya gak lebar lagi...Hahahaha.
Kali ini gue sempat disenggol oleh sahabat gue dari Jogja. Tiba-tiba saja dia kepingin anaknya untuk dikasih kegiatan oleh Allella Kids, bisakah gue sanggupi tanyanya. Lucu ya, seringkali gue mendapati hubungan gue dan dirinya ini sering berpapasan seperti ini. Gue lagi terlintas apa, kok bisa dia juga lagi terlintas ide yang sama. Sering!
Dan, setelah uji coba praktek kegiatan sekali, mantaplah untuk menjalankan kegiatan kembali dengan bendera Allella Kids. Kegiatan yang dibuat pun bukan kegiatan yang spektakuler luar biasa menggetarkan jiwa gitu loh, kegiatan super duper sederhana dengan bahan materi yang mudah didapat. Justru itulah kegiatan biasa ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri ketika menjalankannya. Setiap selesai bertemu dengan anak-anak ini seperti ada energi besar yang menyelimuti gue dan gue seneng luar biasa bisa berinteraksi lagi dengan mereka. Mendengar celoteh mereka walaupun hanya lewat online, bagi gue sudah bahagia banget. Begitu deh kalau berhubungan dengan anak-anak. Membawa sukacita tersendiri buat gue.
Begitulah yang terjadi di sepanjang tahun 2020, yang mungkin sebagian orang masih berusaha menerima atas apa yang terjadi dengan kesehariannya. Begitupun gue yang juga berjuang dengan keseharian gue. Begitu banyak hal yang saat ini gue melihatnya menjadi mujizat buat gue, berkat di setiap hal yang gue gumulkan. Dan satu lagi, gue melihatnya, tahun 2020 ini adalah pelajaran besar bagi kita semua. Ini bukan musibah, tahun ini adalah berkah. Berkah yang melimpah yang membuat kita belajar dari si Coronce. Di penghujung tahun ini, sanggupkah kita mengucapkan terima kasih akan hadirnya Covid 19 bernama Corona ini?
Sunday, September 27, 2020
Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang gandrung juga dengan Drama Korea (drakor) menyodorkan satu judul yang menurutnya bagus dan dijamin gue pasti suka. Awalnya gue kurang tertarik dengan anjuran si kawan ini yang mengajukan “Dear My Friends” sebagai drakor yang wajib gue tonton. Sampai akhirnya di obrolan kami yang kesekian kalinya, dia menanyakan , “Lo dah nonton blom drakor yang gue bilang waktu itu?!” Jreeeeng!
Sebetulnya apa sih yang menarik dari kawanan nenek-nenek
yang sudah berteman sejak usia sekolah ini sampai jadi drakor yang menurut si
kawan ini wajib gue tonton? Akhirnya gue pun penasaran dan gue sempatkan waktu
beberapa hari lalu untuk menontonnya.
Drakor satu ini berkisah tentang 5 nenek yang sudah
bersahabat sejak usia sekolah. Mereka adalah Hee Ja, Joong A, Nan Hee, Young
Won dan Choong Nam yang berumur kisaran 70 tahunan. Ini adalah kisah mereka
berlima yang berjalan mengarungi waktu yang sudah tidak muda lagi dengan segala
permasalahan hidupnya dan berharap kisah mereka ini dituliskan dalam satu buku
oleh anaknya Nan Hee yang bernama Park Wan. Dia memang seorang penulis dan
ibunya kepingin sekali kisah hidup teman-temannya ini bisa jadi memori untuk
mereka sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Tentunya tidak mudah untuk si ibu
membujuk anaknya yang merasa akan bosan sekali harus mengintil kemana para
nenek ini berkegiatan. Lucunya, tanpa ia sadari ia sudah masuk ke dalam
permasalahan hidup mereka dan selalu terkait dalam setiap kisahnya mereka.
Cerita di dalam drakor ini memang berkisah tentang
persahabatan mereka berlima, tapi porsi lebih banyak berkisah tentang kehidupan
Nan Hee dan keluarga, Joong A dan keluarga serta Hee Ja dan keluarga. Sisanya
diikut sertakan tapi tidak begitu banyak porsinya. Seperti Young Won yang
adalah seorang aktris yang mengidap kanker payudara stadium awal. Ia adalah
teman yang baik yang selalu menolong kawan-kawannya ketika mereka
membutuhkannya, meskipun di awal ia diceritakan mengetahui hubungan gelap
antara suami Nan Hee dengan temannya tapi tidak memberitahukan Nan Hee sebagai
sahabatnya. Mereka bermusuhan lama tetapi akhirnya hubungan mereka membaik di cerita
ini.
Peran pembantu lainnya, Choong Nam adalah nenek yang
hidupnya melajang sampai tua dan sibuk menghidupi saudara, keponakan dan cucu
yang membutuhkan uangnya. Ia ceritanya seorang yang kaya dan periang, suka
sekali melucu nenek ini dengan suara yang serak-serak basah. “Di antara kalian
yang paling menderita sakit itu aku. Tahu kenapa? Karena aku yang paling
diberikan kesehatan yang baik dan umur yang panjang.” Lucunya lagi, si nenek satu ini masih sekolah
dong. Dia belum lulus SMA dan hobinya nyontek PR temennya karena ia terlalu
sibuk mengurusi teman-teman tuanya. Ampun deh, kocak banget!
Nan Hee adalah seorang ibu tunggal yang diselingkuhi oleh
suaminya 30 tahun lalu. Sejak itu ia tidak pernah menikah lagi dan memilih
hidup berdua dengan anaknya, Park Wan, dari hasil usaha restoran
kecil-kecilannya. Nan Hee juga masih memiliki keluarga lengkap. Ada ibu yang
sudah berumur hampir 90 tahun dan seorang ayah yang usianya tentu gak berbeda
jauh dari Ibu. Ini lucu deh, si Ayah ini di usia tuanya selalu mengintil kemana
ibunya berjalan, berbalik dengan ketika mereka masih muda dimana si Ibu yang
dulunya selalu mengikuti Ayah kemanapun karena si Ayah hobi selingkuh. Justru
di usia tuanya, si Ayah jadi sibuk mengikuti kemanapun Ibu berjalan, matanya
pun tidak pernah lepas dari si Ibu sambil terus membawa tabung oksigen yang
terhubung dengan hidungnya dan juga gantungan huruf-huruf Hangul untuk
dipelajari si Ayah. Ayahnya dikisahkan tidak bisa membaca sampai usia senja itu
tapi masih punya semangat untuk belajar. Jadi suka ada adegan kocak-kocak berantem standar
ala kakek nenek gitu.
Nan Hee juga memiliki seorang adik yang umurnya jauh sekali
dengannya, malah bisa dibilang hampir seumur anaknya yang sudah memasuki umur
40 tahun. Adiknya ini memiliki satu kaki yang lumpuh dan harus menggunakan
tongkat untuk membantunya berjalan. Nan Hee ini merasa memiliki tanggung jawab
berat, ia merasa harus menghidupi keluarganya. Padahal sebetulnya keluarga
mereka mempunyai lahan perkebunan yang luas. Eh iya, yang bikin tercengang, si
Ibu yang berusia 90 tahunan itu kalau mau berpergian kemana-mana naik ATV dong.
Keren banget yak!! :D
Hubungan Nan Hee dan anaknya, Park Wan, sering banget
berantem sebetulnya. Mereka hidup terpisah dan saling mengunjungi satu sama
lainnya. Biasanya sih lebih banyak Nan Hee yang suka mengunjungi anaknya sambil
membawakan stok-stok makanan untuk anaknya. Si Ibu yang sudah tahu kode
password nomor pintu si anak suka main seenaknya aja datang tanpa berkabar dulu
ke Park Wan. Sedangkan Park Wan merasa bête karena merasa tidak memiliki
privasi, apalagi ia takut ketahuan ibunya kalau ia merokok. Ia takut ibunya
melihat bungkus-bungkus rokok di tong sampah rumahnya. Beberapa kali ia harus
mengganti kode password rumahnya dan ini malah bikin si Ibu jadi bête juga,
ujung-ujungnya berantem. Ya gitu deh ya hubungan ibu dan anak perempuannya.
Kalau dekat bau ,menjauh justru wangi. Ketika sudah cukup lama menjauh, begitu ketemu
justru berantem. Adegan-adegan berantem ibu dan anak ini agak mirip-mirip
dengan kisah gue juga dengan nyokap. Hahahah.
Park Wan sendiri adalah seorang penulis yang bekerja di
kantor milik mantan pacar pertamanya yang masih cinta sama Park Wan tapi si
cowok itu sebetulnya sudah berkeluarga. Ada sempat salah paham si Ibu karena
merasa anaknya ini sudah merusak rumah tangga orang. Wah habis deh Park Wan
digebukin ibunya. Ibunya tidak mau kalau anaknya berakhir menjadi pelakor
seperti yang terjadi dengan kisah hidup ibunya yang diselingkuhi. Paham banget
ini rasanya jadi si ibu.
Park Wan memiliki seorang mantan pacar yang gantengnya
amit-amit, duh, gue demen banget sama (satu-satunya yang ganteng dan muda di
sini) cowo ini. Sayangnya si mantan pacar ini, Yeon Ha, lumpuh kedua kakinya
dan terpaksa harus memakai kursi roda. Yeon Ha tinggal di Slovenia, tempat
mereka pernah menjalin kasih dan terpaksa Park Wan meninggalkan Yeon Ha karena
lumpuh. Ini agak egois ya dilihatnya. Kenapa Park Wan dengan tega meninggalkan
Yeon Ha setelah lumpuh?
Ajaran Ibu itu begitu kuat dan mengakar hebat di benak anak
ya. Nan Hee selalu bilang ke Park Wan untuk tidak menikah dengan seorang pria
lumpuh seperti pamannya Park Wan karena menyusahkan. Jadi begitu Yeon Ha
lumpuh, tanpa pikir panjang Park Wan pun meninggalkan Yeon Ha dan kembali ke Korea.
Hubungan cinta ini jadinya ribet sendiri. Mereka berdua masih saling sayang,
tapi karena ajaran ibu untuk tidak menikahi seorang pria lumpuh terus
terngiang-ngiang di Park Wan alhasil membuat mereka berdua jadi (kadang)saling
menyiksa satu sama lain dengan kata-kata. Nyesek sih ini!
Karakter nenek kedua adalah Hee Ja. Ia adalah nenek yang
melankolis dan memiliki tanda-tanda demensia di awal cerita. Suaminya meninggal
di dalam lemari baju dalam keadaan tertidur, rumornyaa karena pintunya ditahan
dengan sendok oleh Hee Ja sehingga suaminya tidak bisa keluar dari lemari baju
dan mati lemas kurang oksigen. Jadilah ia hidup menjanda dan tidak ada anaknya
yang mau menampungnya. Ia pun hidup sendirian di rumahnya yang cukup besar.
Hanya satu anaknya yang mau mengurusnya, Bong Yi, tapi ini pun tidak tinggal
serumah dengan Hee Ja.
Ada satu waktu ketika Hee Ja mau mengganti lampu bohlam yang
mati. Pelan-pelan ia naik ke atas kursi, membuka lampu bohlam yang mati lalu
turun dari kursi. Ia mengambil lampu bohlam yang baru dan pasang sarung tangan
supaya tidak kesetrum waktu memasang bohlam yang baru. Waktu nonton ini gue
tahan nafas takut terjadi sesuatu dalam adegannya, dan ternyata doski berhasil
menggantinya sampai kembali turun ke lantai dong. Eh, pas jalan mundur sedikit
tiba-tiba kakinya terkilir dan tanpa disangka lampu bohlam yang ia pasang juga pecah.
Haiya, bisaan aja ini adegannya dibikin kaget pemirsah.
Karena tangan dan kakinya berdarah, Hee Ja mencoba menelpon
anaknya, Bong Yi, untuk datang ke rumah membantunya. Bong Yi marah karena ia
lagi sibuk di bengkel dan dari semalam belum tidur, ia pun minta ibunya
menelpon ambulans saja. Mungkin karena ada rasa iba atau sayang dengan ibunya,
meski dia menolak di awal tapi tiba-tiba dia sudah datang ke rumah ibunya dan
menolong ibunya yang tidak berdaya di lantai dengan darah dimana-mana. Setelah beres,
Bong Yi tidur di lantai dan disusul oleh ibunya yang ikut tiduran di lantai
sambil dipeluk Bong Yi. Bong Yi pun bilang, “Dulu sewaktu aku kecil, Ibu suka
memelukku sampai aku tertidur di sini.” Whoaaaah, gue mewek dong. (pas nulis
ini pun mata gue ngembeng :P)
Dalam kisahnya ini, ada seorang kakek yang merupakan cinta
pertamanya Hee Ja yang kembali hadir. Ia seorang pengacara dan masih segar
bugar banget karena hidupnya sehat. Si Kakek ini, Seong Jae, suka mengikuti Hee
Ja kemana-mana. Awalnya dari gereja, setiap Hee Ja ke gereja pasti ada si Kakek
ini. Lalu lama-lama mulai PDKT lagi sampai sempet ngajakin jalan-jalan pakai
strategi nginep dan kamarnya hanya bisa satu yang ditempati. Bisaan banget
emang nih kakek. Lucunya si Kakek ini
dicerita sini adalah playboy. Ampun dijeeee, udah tuwir tapi masih suka tebar
pesona ke dua nenek, Hee Ja dan Choong Nam. Ini banyak adegan lucu juga di
percintaan segitiga mereka. Bikin ngakak. Yang lucunya tentunya si nenek Choong
Nam dengan suara serak-serak basahnya dan ekspresi muka yang datar aja.
Berpindah ke karakter nenek ketiga di cerita ini, Joong A.
Nenek satu ini menikah dengan seorang suami yang ampun pelitnya gak ketulungan.
Nonton TV dengan lampu menyala aja diomelin karena dianggap pemborosan. Belum
lagi suaminya ini, Seok Gyun, hobinya menyuruh-nyuruh layaknya bos dengan
bawahannya dan semua serba dilayani. Sampai satu ketika Joong A gak tahan lagi
dan milih bercerai dengan suaminya. Cerai tanpa surat, alias kabur aja gitu dan
tinggal di satu rumah kecil. Suaminya tadinya merasa masih di atas angin, masih
berpikir kalau istrinya tidak akan mungkin meninggalkan dia sendirian. Suaminya
masih suka marah-marah dan menelpon istrinya untuk pulang ataupun minta anak
dan teman-teman Joong A datang untuk masak dan beberes rumah. Teman-temannya
mau ya bantuin, kalau gue sih ogah! Hahaha.
Akhirnya, si kakek ini tersadar akan sikapnya. Dia
pelan-pelan belajar untuk masak nasi, masak untuk dirinya, cuci piring sampai
cuci baju sendiri. Di kulkasnya ada kertas yang tulisannya “Menjadi Suami yang
Baik”, yang sengaja diletakkan di situ oleh Choong Nam. Nenek satu ini idola
gue banget deh. :D Akhirnya si kakek sifatnya dan sikapnya berubah, jadi lebih
mandiri dan jadi lebih perhatian ke istrinya seperti kertas yang ditempel itu, meskipun
kadang masih ada juga kelakuan ajaibnya. Ya namanya udah menua, tentu gak segampang
membalikkan telapak tangan ya untuk berubah.
Kisah dari Joong A lainnya adalah ketika ia mengetahui anaknya
yang pertama menjadi korban KDRT suaminya yang merupakan seorang profesor di
universitas terkenal. Joong A merasa nyesek melihat anaknya yang mukanya
biru-biru akibat digebukin dan tangan yang diperban karena patah. Padahal bisa
dibilang Joong A ini rutin mengunjungi rumah anaknya dan selalu melihat si anak
ini tidur di kasur sambil membelakangi Joong A, sampai-sampai Joong A sebel dan
bilang dia anak pemalas karena keenakan sebagai istri hanya tiduran terus.
Padahal, si anak lagi menutupi muka dan badannya yang lebam-lebam karena kelakukan
suaminya. Ia takut dengan ancaman suaminya kalau sampai ibunya tahu.
Gue sedih banget dengan adegan ini. Gue seperti larut dengan
perasaan ibu yang akhirnya tahu kalau anaknya digebukin orang sampai patah
tulang. Menyayat hati banget. Syukurnya si anak ini tidak menaruh dendam dengan
ibunya, Joong A, yang kadang suka kasar secara verbal mengomeli si anak yang
dianggap manja ataupun tidak mengangkat telepon ketika si anak minta bantuan
ibunya. Huhuhu. Untungnya si anak tersadar untuk kabur dari rumahnya dan pergi
jauh sampai ke Amerika untuk kehidupan lebih baik.
Diantara kelima kawan ini, Joong A dan Hee Ja adalah kawan
paling akrab. Mereka saling sayang satu sama lain dan saling support. Pernah di
satu episode, karena Joong A sebel dengan suaminya, ia kabur tengah malam
dengan Hee Ja dengan mengendarai mobil suaminya. Dua nenek ini berpergian
bersama mengunjungi Ibu dari Joong A yang sudah berada di panti jompo yang jauh
dari perkotaan. Dalam perjalanan tanpa disangka, Joong A menabrak seseorang.
Hee Ja yang berada di kursi penumpang ikut merasa bersalah karena ia mengatakan
rem berada di sebelah kanan sehingga mobil bukannya berhenti malah melaju lebih
cepat. Keduanya ketakutan dan meminta Park Wan (salah satunya adegan ini yang
ia turut dibawa-bawa oleh dua nenek ini untuk menolong mereka) untuk menjemput
mereka karena Joong A merasa tidak mampu menyetir pulang. Dua nenek ini
ketakutan setengah mati berhari-hari. Lalu ada satu momen dimana mereka
akhirnya tersadar bahwa mereka harus menyerahkan diri ke polisi untuk perbuatan
mereka. Ya ampun, di sini gue melihat betapa sahabat tuh bisa sampai segitunya
saling sayang dan saling bergandengan tangan untuk mengakui perbuatan mereka.
Syukurnya bukan orang yang mereka tabrak malam itu, melainkan rusa yang
tiba-tiba lewat. Ini aja udah bikin polisi shock begitu dua nenek ini ngaku
nabrak orang. Hihihi.
Tentu adegan puncaknya lebih banyak mengoyak hati dan air
mata. Hee Ja diceritakan mengalami demensia akut. Ia mendadak hilang setelah ia
pulang dari gereja. Sebelumnya ia sering keluar pagi-pagi buta, sekitar jam 2
pagi, untuk berjalan ke gereja dan berdoa di sana sambil menangis, lalu pulang
ke rumah dan tidur. Begitu pagi, ia sama sekali tidak tersadar apa yang dia
lakukan setiap pagi-pagi buta itu. Dan ketika demensianya semakin parah, ia
sudah berjalan jauh menuju rumah pertama dengan suaminya yang terletak di satu
desa yang jauh. Ia berjalan berhari-hari
tanpa makan, tanpa alas kaki dan dengan bantal di belakang seperti sedang
menggendong anak. Ternyata diingatannya saat itu, ia sedang membawa anak sulungnya
yang sudah meninggal akibat sakit parah.
Semua sahabatnya mencarinya, bahkan si pengacara pun meminta
kenalan polisi yang bisa membantunya lewat CCTV di jalan. Sampai akhirnya
mereka berhasil menemukan Hee Ja yang berjalan di bawah rindangnya pepohonan
menuju rumah pertamanya dengan sang suaminya dulu. Begitu ditemukan, reaksinya
adalah marah dengan Joong A karena tidak mau membantunya ke rumah sakit sampai
anaknya meninggal di gendongan Hee Ja. Sampai-sampai Hee Ja menolak melihat
wajah Joong A berhari-hari, tapi Joong A dengan sabarnya menunggu sampai
akhirnya Hee Ja tersadar sendiri alias kembali ke pikiran sadarnya saat ini dan
malu dengan perbuatannya. Tetap dong dimaafkan oleh Joong A, si sahabat
karibnya. Waah, ini syedih gak ketulungan nontonnya.
Di tempat yang berbeda, Nan Hee yang sebetulnya mau
mengantar ibunya berobat ke rumah sakit justru mendapati kalau ia sudah sampai
di stadium akhir kanker hati. Park Wan yang akhirnya mengetahui hal ini
langsung menemani hari-hari ibunya. Meskipun kadang ibu anak ini bertengkar,
tetap saja ikatan batin itu kuat ya. Rasa sayang diantaranya pun tidak akan
bisa bohong, meskipun Park Wan dan Nan Hee bukan orang yang terbuka satu sama
lainnya. Jelas terlihat dari gesture, mereka saling menyayangi. Ibunya tentu
takut setengah mati, begitupun dengan Park Wan. Ah, ini pun udah sampai mewek
berkali-kali yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari si Boy. :D
Sungguh drakor yang menurut gue layak untuk ditonton dan
dijadikan refleksi hidup. Saat ini gue berterima kasih sekali dengan kawan gue
yang satu itu yang memaksa gue untuk menonton ini. Susah untuk disebutkan
satu-satu moral apa yang terkandung di dalam tontonan ini, pastinya semua
realita kehidupan jelas digambarkan dalam drakor satu ini. Tua itu pasti,
tinggal bagaimana kita berbaik hati menerima kenyataan hidup yang akan
disajikan oleh Tuhan Maha Pengasih untuk kita di masa tua nanti.
Saturday, September 5, 2020
Wah, udah pasti deh banyak yang tunjuk tangan, eh gak
keliatan lah ya kalau tunjuk tangan. Mungkin reaksi kalian pasti
manggut-manggut sambil senyum-senyum sendiri. Ya, sama dong dengan aku!
Belajar Sejarah itu jadi momok tersendiri jaman sekolah
dulu, selain belajar Matematika, Fisika, Kimia, PPKN, Bahasa Indonesia, Biologi
(laah, semua pelajaran ini mah ya. :P). Benar atau benar? Rasanya hafalan
paling menakutkan itu ya pelajaran Sejarah karena hafalnya harus benar, gak
boleh meleset. Kebayang kan kalau nama orang salah atau tahun perang salah,
kelar sudah nilai ujian kita. Pulang-pulang tinggal manyun kasih liat kertas
ulangan ke orang tua. Bagus kalau hanya dipelototin aja, tapi kalau kemoceng
yang mampir di betis, bah!
Pasti semua setuju ya kalau belajar Sejarah di sekolah itu
membosankan (banget). Rata-rata semua buku pelajaran Sejarah berkutat dengan
tanggal, tahun, nama tempat, nama orang yang semuanya itu menjadi beban tersendiri
bagi kita untuk menghafalnya. Apalagi, setelah selesai ujian semua hafalan itu
seperti menguap, yang sampai sekarang entah tersimpan di bagian sisi mana dari
otak kita. Tidak heran kalau kita menjadi malas mengenal lebih jauh tentang
sejarah. Jangankan sejarah dunia, sejarah negara kita saja pasti malas banget
untuk dipelajarinya.
Menurut Charlotte Mason, sejarah itu merupakan bagian vital
dari pendidikan. Hal dimana semua orang rasanya wajib dan mutlak perlu tahu
tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau supaya bisa memandang segala
sesuatunya lebih adil di saat ini. Bagaimana bisa begitu?
Generasi muda saat ini sedikit banyak memilih untuk apatis
akan sejarah. Mereka hanya fokus dengan hidup mereka saat ini saja dan tidak
cukup perduli dengan sejarah yang terjadi di masa lalu. Rasa sentimentil pada
situs-situs kuno ataupun tempat-tempat bersejarah dimana peristiwa besar
terjadi pun tidak banyak menggugah pemikiran mereka akan arti pentingnya
sejarah. Padahal, sikap patriotisme dalam pribadi seseorang itu sangat
diperlukan. Ditambah lagi, generasi tua yang tidak memiliki cukup minat untuk
menceritakan kembali sejarah di masa lampau, sehingga semakin lunturlah rasa
patriotisme di generasi muda saat ini. Patriotisme yang rasional dan bijak
sangat tergantung pada seseorang, apakah ia banyak membaca sejarah atau tidak.
Pada akhirnya, ini kembali ke pendidikan dasar, yaitu
sekolah. Bagaimana sekolah menanggapi pelajaran Sejarah di setiap jenjang
pendidikan? Ya, seperti yang kita ketahui juga, pelajaran Sejarah di sekolah
pun sama sekali tidak menarik. Tahun berulang, begitupun dengan pelajaran
Sejarah yang selalu dipelajari dengan gaya yang sama dan dengan buku yang
kering, hanya berisikan deretan fakta-fakta yang membuat anak didik menjadi
bosan untuk mempelajarinya.
Sebenarnya, anak-anak itu sangat tertarik dengan sejarah.
Mereka akan bisa memperhatikan dengan konsentrasi penuh kalau saja materi yang
diberikan kepada mereka adalah materi belajar yang berkualitas dengan cita rasa
sastrawi daripada buku-buku kering yang berisikan deretan fakta untuk dihafal
oleh anak-anak. Metode dengan prinsip sekali baca lalu meminta anak menarasikan
kembali apa yang sudah dibaca oleh guru juga jauh lebih efektif. Memberikan
penilaian setelah ujian tertulis justru menjadi beban tersendiri bagi anak.
Tugas guru (orang tua) sebagai fasilitator juga memiliki
peran yang sangat penting. Menjadi guru yang berpengetahuan dan memiliki
simpati mendalam terhadap pengetahuan itu tersendiri adalah tugas yang perlu
diemban oleh sang guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar. Guru tidak
perlu banyak menjelaskan dan juga tidak perlu banyak menginterupsi ketika anak
bernarasi. Ya pasti pada awalnya anak
akan kewalahan ketika diminta untuk bernarasi, tapi lambat laun anak-anak akan
menemukan iramanya dan fasih dalam bernarasi. Tanpa disadari, anak-anak akan
bisa bernarasi dengan panjang lebar. Guru pun tidak diminta memberikan komentar
akan narasi anak, justru guru perlu sangat hati-hati dalam mengeluarkan
pendapat.
Kenapa bernarasi, bukan menghafal?
Bernarasi justru membuat anak lebih memahami dan tidak
membuat anak butuh untuk remidi, mengulang kembali materi yang sudah
dipelajari. Anak-anak pun jadi lebih bisa memperhatikan secara utuh dan penuh
konsentrasi di mana keduanya itu adalah naluri alamiah dan tidak butuh dipaksakan.
Anak-anak jadi belajar untuk menyadari pikirannya sendiri supaya tidak
mengembara melainkan fokus dengan materi yang diberikan. Membaca atau
mendengarkan teks yang dibacakan dengan penuh perhatian justru membuat akal
budi anak lebih bekerja.
“Bersandar pada memori akal budi, kita memvisualisasikan adegan, menerima argumen, menikmati susunan kalimat, dan membingkai semuanya dalam bahasa kita sendiri, lalu perikop atau bab tersebut kita serap dan menjadi bagian dari diri kita tak ubahnya pencernaan kita menyerap hidang yang kita lahap semalam; ini malah lebih dari makanan, karena makanan kemarin sudah nyaris tak berbekas lagi besok, tapi bacaan yang kita konsumsi dan hidupkan secara jernih, detil, dan akurat, kita narasikan langsung sejak pertama kali menyimaknya, bisa berbekas selama berbulan-bulan. Semua kuasa akalbudi dilibatkan dalam menangani makanan intelektual itu. Jadi kita sebaiknya tidak usah mendikte anak dengan rangkaian pertanyaan komprehensif, membuatkan ilustrasi-ilustrasi cantik untuk membantunya berimajinasi, mengeksplisitkan pesan moral untuk menggugah nuraninya. Semua itu akan terjadi sendirinya saat anak mencerna bacaan.” - Vol 6 pg 174
Pekerjaan setelahnya adalah mencari buku sejarah dengan cita
rasa sastrawi. Bisa dibilang tidak semua negara berhasil menceritakan
sejarahnya dalam bentuk sastrawi ataupun naratif yang enak dibaca oleh
anak-anak. Biasanya buku sejarah diceritakan dalam bentuk deretan fakta dengan
segitu banyaknya tokoh cerita dan tahun-tahun yang tentunya menjadi sangat
membosankan untuk dibaca. Ini memang semacam mencari jarum dalam tumpukan
jerami. Ada, tapi perlu usaha keras dalam mencarinya. Memang butuh ekstra
semangat.
Melihat dari pengalaman pribadi, bertahun-tahun tidak pernah
mengerti tentang sejarah negeri sendiri ataupun negara lain, kami mencoba mengaplikasikan
metode ini terhadap pendidikan rumah yang kami jalani beberapa tahun terakhir
ini. Membacakannya buku, hanya sekali baca, lalu memintanya menarasikan kembali
ternyata menjadi sangat efektif untuk Fritz, anak kami. Berusaha untuk tetap
fokus terhadap bacaan yang sedang dibacakan juga menjadi bagian yang sangat
penting untuk melatih daya konsentrasinya. Selain itu, bersama-sama kami
membuat catatan lini masa (time line/ Book of Century) setiap kali kami
menemukan tanggal atau tahun bersejarah.
Mungkin ini terkesan terlalu santai dalam mempelajari
sejarah. Tidak ada penghafalan nama, tahun, perisitiwa dan juga tidak ada ujian
tertulis yang perlu dinilai, hanya perlu konsentrasi dan bernarasi. Nyatanya,
setiap cerita yang diceritakan kembali justru menjadi kepingan puzzle yang
tersusun rapi di dalam pikirannya yang sewaktu-waktu dapat direlasikan antara
sejarah bangsa satu dengan bangsa lainnya. Seperti ketika ia mengetahui
kematian Richard Wagner, salah satu komposer, terjadi di tahun yang sama dengan
meletusnya gunung Krakatau di tahun 1883. Menarik ya!
Ini akan menjadi hal yang luar biasa ketika seseorang mempunyai gambaran utuh sejarah sebagai latar belakang pemikirannya. Tidak perlu harus bisa menyebutkan tempat dan tanggal peristiwanya dengan presisi setiap sejarah yang terjadi. Setidaknya kita tahu bahwa di setiap isu selalu ada banyak sekali pertimbangan dari pihak terkait sehingga ini juga bisa jadi pertimbangan bagi generasi muda agar terselamatkan dari opini yang dangkal dan aksi yang terburu-buru. Akalbudi yang sigap dan berwawasan akan menuntun pada sikap santun dan hidup bersahaja.
"Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang." - Soekarno
Monday, July 27, 2020
Sekelar menonton drama Korea berjudul Reply 1988 mendadak banyak perasaan campur aduk bergelut di hati. Drama yang berbalut komedi dengan alur tema keluarga dan persahabatan di era 80an akhir ini mampu sekali membuat gue terbawa perasaan yang mendalam dan yang paling dirasa adalah rasa kangen dengan kehidupan masa kecil gue. Benar-benar sukses membangkitkan nostalgia.
Alkisah cerita ini berawal dari 5 anak kecil yang tinggal bertetangga
satu dengan yang lainnya dalam satu gang yang bernama Ssangmundong. Dikarenakan
mereka sering bermain bersama, otomatis persahabatan pun terjalin diantara
mereka berlima. Mulai dari kecil sampai akhirnya perjalanan drakor ini dimulai
ketika mereka sudah masuk di usia 18 tahun atau setara kelas 2 SMA (sepertinya
umur mereka boros yee, umur segitu belum kelar sekolah :D). Adalah Sung
Deok-sun, Sung Sun-woo, Kim Jung-hwan, Ryu Dong-ryong dan Choi Taek nama-nama 5
sekawan yang tinggal bersama dengan keluarga mereka masing-masing di gang
tersebut.
Mereka sering sekali berkumpul bersama di rumahnya Choi Taek
atau biasa suka dipanggil dengan sebutan Taek-ki. Ia merupakan pendatang
terakhir di gang itu dan ibunya sudah meninggal sejak ia kecil. Ia pemain Baduk
yang sudah go international dan ia memutuskan tidak sekolah karena profesinya
ini. Karena ia sering kali bertanding di luar negeri, momen kepulangan dia
sekelar dari bertanding pasti ditunggu oleh teman-temannya. Dering telepon berantai
di antara rumah mereka pasti berbunyi saling memberi kabar dan dalam sekejab
mereka sudah berada di kamar Taek-ki. Kegiatan mereka selama kumpul ini, selain
menanyakan menang atau kalah dalam pertandingannya, mereka biasanya nonton film
sambil nyemil atau makan ramen kuah dalam satu panci yang dimakan rame-rame dan
diakhiri dengan menginap bersama.
Momen-momen kocak banyak terjadi selama mereka kumpul bareng
ini. Ada satu momen dimana Taek-ki kalah bertanding. Dimana semua orang
berusaha menghiburnya dengan tidak menanyakan apapun tentang kekalahannya
ataupun berusaha memberikan ini itu supaya dia tidak larut dalam kekalahannya.
Eh begitu teman-temannya ini masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Taek-ki
sedang duduk termenung di depan papan Baduknya, gak ada kata manis ataupun
menghibur, yang ada justru dibego-begoin (dikatain bego) kenapa harus sedih
gara-gara kalah gitu doang. Namanya juga permainan pasti ada menang ada kalah,
ya diterima aja. Lo mau teriak dan mengumpat sialan, bangsat, kampret juga gak
papa kali biar hati lo lega, ya habis itu berjuang lagi. Kira-kira begitulah
mereka ngomong, dan memang itu yang diperlukan sama Taek-ki. Begitu dia
mengumpat, dia merasa lega dan justru malah bisa ketawa lepas. Apalagi
mengumpatnya itu pake diajarin dulu dan dikata-katain dulu, kurang kasar,
kurang kenceng, kurang..kurang. Sampai akhirnya dia lega setelah teriak-teriak
kaya gitu. Nah, habis itu pasti ada aja kelakuan dari dua temen ajaibnya, yaitu
si Deok-sun dan Dong-ryong, yang biasanya langsung mulai dengan joget-joget gak
jelas ala 80an gitu, yang pasti sontak ini bikin ketiga temen-temennya ngakak
gak berenti melihat mereka. Atau kebiasaan kentut sebelum tidur dari si
Dong-ryong yang bikin emosi jiwa dan biasanya berakhir digebukin rame-rame.
Bau, man!
Persahabatan ini yang mengingatkan gue dengan teman-teman di
masa kecil gue. Cerita gue gak beda jauh dari kisah di Reply 1988 ini. Gue
besar di satu komplek dan bersekolah dari SD sampai lulus SMA di sekolah
komplek juga. Otomatis teman-teman gue selama 12 tahun ya 4L, Lo Lagi Lo Lagi,
dengan pertambahan teman hanya sedikit sekali di setiap jenjang pendidikan.
Karena inilah kami cukup mengenal satu sama lain. Kami saling tahu dimana rumah
si itu, si ini, si ana, si anu berikut juga kenal dengan orang tuanya
masing-masing. Ketika telepon sudah masuk di komplek kami, kami pun saling
menghafal nomor telepon dalam sekali pencet untuk sekadar tanya PR, tanya lo
ada di rumah apa gak, ataupun ngobrol di telepon yang bikin emak babeh gue suka
teriak karena tagihan telepon bengkak. Tak jarang juga kami saling bermain
berjam-jam di rumah teman, entah sekadar mengobrol, nonton film, sampai makan
siang ataupun nyemil sore di sana. Sering juga kegiatan kami setiap sore naik
sepeda bersama keliling komplek, pernah juga ada masa main roller blade bareng,
berenang bersama di kolam renang komplek atau bahkan jalan pagi bersama di kala
libur sekolah yang berujung dengan makan bakmi.
Bertambahnya umur, persahabatan kelima kawan dari Ssangmundong
ini mulai menunjukkan saling suka satu sama lain. Ada kisah cinta segitiga
diantara mereka berlima, dimana Deok-sun, si satu-satunya perempuan di geng
mereka yang mempunyai kelakuan ajaib yang rasanya urat malunya udah putus dari
kapan tau itu, merasa GR dengan Sun-woo. Deok-sun merasa Sun-woo naksir dia.
Setiap kali Sun-woo mampir ke rumah, kelakuan si Deok-sun mirip cacing
kepanasan. Pernah dia kabur masuk kamar, begitu keluar kamar dia sudah
berdandan menor hanya karena Sun-woo mampir ke rumahnya untuk minjem apa gitu. Gilingan
memang Deok-sun, bikin ngakak abis. Eh ternyata seringnya Sun-woo mampir itu
hanya untuk melihat kakaknya Deok-sun, Kak Bo-ra lewat minjem ini itu dari
Deok-sun. Hancur sudah hatinya Deok-sun, sampai mewek karena merasa ditolak dan
kesel kenapa Sun-woo naksir kakaknya.
Di lain sisi, ternyata ada Jung-hwan dan Choi Taek yang
diam-diam naksir Deok-sun yang tentunya Deok-sun ini sama sekali gak sadar
dong. Jung-hwan si cowok cool yang irit bicara ini sebetulnya sudah beberapa
kali kasih sinyal ke Deok-sun, semisal jagain Deok-sun ketika di bus lagi padat
banget supaya Deok-sun gak terjungkal kanan kiri depan belakang, belum lagi
Jung-hwan yang diam-diam nungguin Deok-sun sepulang sekolah sambil bawa payung
karena sedang hujan, dan berbagai macam sweet small things PDKT ala-ala gitu. Menyenangkan
sih lihat momen-momen PDKTnya si Jung-hwan ini. Hihihi.
Beda lagi dengan Choi Taek. Taek-ki ini bisa dibilang hanya
pintar main Baduk aja, untuk hal lain bisa dibilang terbelakang banget. Makan
pakai sumpit aja kesusahan, sampai-sampai Dong-ryong suka gemes liat Taek-ki
gak bisa-bisa ambil daging atau mie dengan sumpit. Biasanya Deok-sun langsung
ambil garpu atau sendok begitu melihat situasi ini. Tidak bisa ikat tali
sepatu. Pernah sampai ditolong oleh Jung-hwan dan Taek-ki memilih tidak membuka-buka
lagi tali sepatu yang dibantu Jung-hwan itu. Belum lagi pernah diomelin
Deok-sun habis-habisan karena kepolosannya Taek-ki yang minjemin duit ke siapa
aja yang minta.
Dasar emang cinta itu buta ya. Meskipun Taek-ki mempunyai IQ
139, tapi dia sering banget dikerjain oleh Deok-sun yang hanya memiliki IQ 99.
Ini kocak deh. Ada satu momen dimana mereka ditinggalin di pantai oleh
teman-temannya. Deok-sun meminta dompet Taek-ki dan dilihatnya Taek-ki membawa
uang yang banyak, lalu Deok-sun bilang akan mentraktir Taek-ki dan Taek-ki
iya-iya aja. Duit duitnya siapa cobaaa. Dodol emang. Selama nunggu ini,
Deok-sun membeli snack ringan semacam Cheetos dan menawarkan Taek-ki. Ketika
Taek-ki membuka mulutnya siap disuapin Deok-sun, bukan snack yang masuk mulut
melainkan jari Deok-sun. Berkali-kali dikerjain kaya gini tapi gak
pinter-pinter juga si Taek-ki, dia tetep mangap dan berakhir dengan jari
Deok-sun yang masuk. Haizz, ini ngakak abis.
Mungkin karena care-nya Deok-sun ke Taek-ki yang bikin Taek-ki
jadi suka dengan Deok-sun ya. Momen banget ketika Deok-sun harus nemenin
Taek-ki bertanding ke Cina. Deok-sun terkaget-kaget ketika tahu kalau Taek-ki
sebelum bertanding bisa sampai gak keluar dari kamar dan gak makan. Belum lagi
dia cukup shock melihat Taek-ki ternyata merokok untuk menghilangkan stressnya
sebelum bertanding. Melihat ini dan sudah dikasih tau oleh bokapnya Taek-ki,
Deok-sun sudah menyiapkan segala keperluan Taek-ki selama bertanding. Biar
Deok-sun dodol sedodol-nya ya, dia paham juga gimana mengurus Taek-ki. Dia bawa
matras penghangat dari rumahnya – ini bikin Bo-ra emosi karena dia jadi
kedinginan menggigil karena matrasnya penghangatnya dibawa si Deok-sun :D :D, dan
ditaruh di bawah sprei tempat tidur Taek-ki di hotel karena pas musim dingin di
Cina. Deok-sun juga menyiapkan pakaiannya Taek-ki untuk bertanding, dia taruh
di mana Taek-ki bisa lihat – sampai hal kaya gini aja juga Taek-ki gak bisa, doeng
banget ini orang emang ye. Sampai beliin makanan dan bikinin telur ceplok di
dapur hotel buat Taek-ki makan. Kalau gak ada Deok-sun kelar udah hidupnya
Taek-ki kali ya. Ampun deh.
Hal-hal semacam ini, cinta-cintaan monyet, juga terjadi di
area komplek gue semasa gue SMP-SMA. Cerita si ini lagi PDKT ke si itu, lalu
pacaran, putus dan PDKT dengan siapa lagi, udah menjadi cerita yang hilir mudik
di telinga kami. Kadang merasa komplek gue tinggal ini mirip kisahnya Beverly
Hills 90210, halah! Saking segitu banyaknya kisah romantis picisan ala-ala anak
abegeh saat itu yang bertebaran di seantero komplek. Lucu kalau diingat.
Komplek itu saksi bisu banget mengenang cerita cinta monyet kami semua.
Selain kisah persahabatan kelima kawan tadi, yang gak kalah
seru adalah kisah masing-masing keluarga dan antar tetangga di gang Ssangmundong.
Masing-masing mempunyai kisah tersendiri yang gak kalah kocak dan mengharu
biru. Beberapa kali gue nangis mengingat kisah-kisah keluarga mereka mirip
dengan kisah keluarga gue sendiri. Ya setiap keluarga pasti punya kisahnya
masing-masing dan melalui drama ini setidaknya ada irisan yang sama dan
terelasi dengan keluarga kita sendiri.
Seperti ketika Bo-ra mau belajar hukum dan harus masuk
asrama. Ibu dan kedua adiknya mengantar Bo-ra dengan sedih di depan rumah,
sedangkan Ayahnya memilih sok cuek dengan pergi kerja di hari itu seolah-olah
ini hal biasa aja kok, gak perlu bersedih. Eh ternyata Ayahnya tidak berangkat
kerja, malah nungguin Bo-ra lewat di pinggir jalan lalu memberhentikan mobil
Bo-ra dan memberikan obat-obatan untuk di asrama nanti. Ah, sedihnya momen ini.
Ayah yang sayang banget dengan anak sulungnya yang notabene serupa tapi tak
sama wataknya ini. Ditambah lagi ketika Deok-sun diminta Ibunya mengantar
kepiting untuk ransum kakaknya di asrama. Deok-sun sempat kesal karena harus
berjalan jauh demi Bo-ra, tetapi begitu sampai disana ia melihat kamar asrama
Bo-ra yang kecil banget. Seketika Deok-sun langsung memeluk Bo-ra dan menangis.
Biar gimanapun siblings still siblings ya, meskipun kesel tapi kalau lihat
saudaranya susah tetap saja sedih. Ah…
Dan tentunya di balik kisah-kisah mellow masing-masing
keluarga, banyak juga hal-hal kocak yang bikin ngakak setiap nontonnya.
Kelakuan para suami istri, ayah ibu dari kelima kawan itu, yang konyolnya ampun
deh. Paling gokil sebetulnya keluarga Jung-hwan. Kebayang gak sih anaknya cool
abis gitu, irit bicara, tapi emak bapaknya koplak abis. Ada-ada aja kelakuan
mereka. Pernah sotoy bokapnya benerin setrikaan emaknya, sedikit-sedikit tali kabelnya
dipotong sampai akhirnya kabelnya tinggal 30 cm doang. Emaknya udah emosi aja
itu. Apalagi pas dipakai buat nyetrika, yang ada mejanya yang harus digeser
sana sini supaya bisa ke-strika pakaiannya. Bikin tambah emosi si emak, kocak
ini.
Begitu banyak nostalgia ketika menonton drama satu ini.
Sukses banget membuat gue tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di kasur
dan juga menangis sesegukan bersamaan. Ceritanya sangat ringan tapi nyata dalam
kehidupan sehari-hari di tahun-tahun itu. Bagaimana persahabatan antar teman
terjalin hanya dengan main bersama tanpa sibuk oleh gadget. Menghabiskan
berjam-jam di rumah teman sambil dengerin lagu sambil tiduran di kasur atau
lantai dan bercerita ini itu. Sampai tiba waktunya kami semua sibuk dengan
urusan masing-masing dan satu persatu meninggalkan komplek untuk
menjelajahi dunia masa depan. Memori tetap terkenang sepanjang masa,
meskipun momen tersebut hanya menjadi kisah yang melekat di ingatan.
Kosambi Baru, biarlah tetap menjadi saksi bisu perjalanan
hidup gue di tahun 90an.








