Lievell

Thursday, April 28, 2022

9:05 PM

Kejadian Centil di Bulan April

Kejadian Centil di Bulan April

Bulan April ini sesuatu banget


Dimulai dari rencana ke Bandung yang tertunda. Supposed to be kita pergi ke Bandung di akhir bulan Maret, bertepatan dengan ulang tahunnya Mas Boy. Tapi setelah hasil pertimbangan yang sudah dibahas bareng, akhirnya jalan-jalan ke Bandung ditunda setelah puasa aja. Pertimbangannya begini; kebetulan sekali keberangkatan kita ini pas banget dengan seminggu sebelum puasa dan akhir bulan. Perkiraannya Bandung bakalan rame dengan orang yang sudah gajian dan kepengen hepi-hepi sebelum mulai puasa. Jadi, fix deh diputuskan mundur ke minggu kedua puasa.


Senin, 4 April...

Hari itu gue ada trial anak les di daerah Jatinegara. Gue dianter Ali dan Mas Boy yang ternyata mau ikutan juga. Baru aja keluar belok kiri dari kawasan apartemen, keadaannya sudah macet. Itu sekitar jam 8 pagi. Karena ini adalah lokasi baru, Ali minta Mas Boy yang kebetulan duduk di sebelah untuk mencarikan rute ke sana. Dalam hitungan detik, buk! Bemper depan Mister POO ciuman dengan sebuah mobil di depannya. Saat itu gue mencoba santai, meskipun rada kesel juga Ali kurang hati-hati.


Singkat cerita, Ali dan yang punya mobil janjian untuk membereskan ini setelah urusan kerjaan gue selesai. Gue pun diantar ke Jatinegara dan bertemu dengan anak les terkecil yang pernah gue ajar, 19 bulan aja bok! 😁😁Sekelar gue dengan urusan anak les, Ali pergi bertemu dengan pemilik mobil ini, sambil berharap semua akan beres baik-baik aja.


Begitu pulang sorenya, Ali cerita kalau yang datang bukan suaminya yang tadi pagi ditemui melainkan istrinya yang cukup merepotkan. Mulai dari asuransi mobilnya yang sudah habis, pilihan bengkel yang dimau sampai minta dibayarkan biaya harian ketika mobil di bengkel. Wah. Cukup bikin pening juga ini. Tapi di balik kesulitan yang dibuat-buat oleh si ibu ini, kita cukup merasa beruntung juga sih. Ketika dia bilang kalau asuransi mobilnya habis, ada asuransi mobil kita yang bisa mengganti biaya perbaikan mobilnya itu. Namun sayangnya bengkel yang diminta si ibu ini tidak termasuk dalam list asuransi kita. Lagi-lagi masih diberi kemudahan oleh semesta, asuransi mobil kita bisa pakai sistem reimbursement.


Tapi untuk hal terakhir yang diminta oleh si ibu yang ber-ras sama dengan kita ini bikin spaneng. Sempat juga jadi bahan kekesalan gue ke babang. Tapi setelah gue sadari memang bapak-bapak gak pernah menang kalau lawan ibu-ibu. Jadi dengan kesadaran penuh, gue perlu turun melawan si ibu ini. Tentunya dengan persiapan peluru yang mapan dong sebelum perang. Gue konsultasi dulu dengan seorang teman yang paham banget soal hukum, bahkan darinya gue diajari bagaimana menghadapi si ibu ini. Oke, baiklah, gue siap maju perang.


Begitu besoknya gue harus berhadapan dengan si ibu ini, dengan standar muka gue ini gue maju. Mas Boy selalu bilang muka gue tuh songong kaya mau ngajakin berantem kalau ngadepin ibu-ibu rese begini, dan iya gue pasang settingan muka seperti itu, tapi tentunya gak pakai nada tinggi ya. Adu argumen biasa aja sih.  Tanpa disangka dengan membawa undang-undang lalu lintas yang gue singgung-singgung itu si ibu ini tidak mau lanjut minta dibayarin transportasi harian. Karena kalau sampai lanjut dan berujung ke polisi, gue juga yang mengkeret sih. πŸ˜‹πŸ˜‹


Dan perkara mobil ini pun beres sebelum kita pergi ke Bandung. Tentu diakhiri dengan minta maaf ya ke si ibu ini, dan berusaha menjaga hubungan kembali baik. Sesaat gue merasa menang atas kendali diri gue. Ternyata gue bisa juga berargumen tanpa pakai emosi. Cieeeee……satu kemajuan dah ini…πŸ˜‰


Sabtu, 9 April – Senin, 11 April

Here we go, Bandung! Aseli dah lama gak jalan-jalan ke luar kota. Betapa bahagianya sih perjalanan ini, benar-benar menikmati setiap waktunya di Bandung.


Hal yang paling gue senang adalah kemampuan adaptasi gue dengan kasur di hotel. Gue nih termasuk orang yang paling susah tidur kalau bukan di kasur sendiri. Jadi rada rumit emang gue kalau nginep-nginep gini. Karena hotelnya adalah pilihan gue sendiri – gue rada maksa memang harus nginep di tempat ini – jadi gue mencoba berdamai dengan situasi yang memang gue pilih sendiri. Sempat ada setan pikiran yang mengganggu begitu lihat satu titik kecil bekas darah di selimut, tapi untungnya gue bisa mengalahkan itu. Kemenangan banget deh ini. Wohooo….


Di saat lagi enjoy banget di Bandung, tiba-tiba Mister POO mengalami rem blong. Memang sih Mister POO selama di Bandung ini agak kewalahan ketika diajak jalan naik turun yang rada curam. Bagus dia gak jantungan sih, tapi mesin sempet panas aja gitu. Jadi begitu rem mendadak ada masalah, kita diarahkan ke bengkel terdekat. Sempet rada cemas kita akan kena dikerjain oleh bengkel, tapi ternyata tidak. Mereka justru baik banget. Rem Mister POO dinyatakan tidak blong, hanya sedikit ada udara karena gak terbiasa perjalanan naik turun itu. Ibarat manusia mah paru-parunya rada engap dia. Kudu dibantu pernapasan aja dikit. Begitu sudah dibantu sedikit, Mister POO sudah kembali normal.


Lagi-lagi ya, pikiran ini sering banget bikin drama macem-macem padahal kejadian aja belum. Merasa beruntung masih dijaga oleh semesta dengan diberikan orang-orang baik yang sama sekali tidak mematok harga tinggi untuk masalah mobil kita ini. Cukup 50 ribu saja. Dan yang terutama tidak perlu berujung harus berurusan panjang karena rem ini. Puji Tuhan.


Paskah – Minggu, 17 April

Tumben banget ini ada niat mau ke gereja Paskah tahun ini. Meskipun aseli ribet banget urusan dengan pendaftaran untuk ikut misa, tapi akhirnya kita ikut misa juga di pagi Paskah ini. Hmm, menurut ibu ketua lingkungan gak ribet kok. Ketauan banget dah gue jarang ke gereja. Perkara daftar misa mudah aja jadi sulit. *tutup muka* πŸ˜‹πŸ˜‹


Setelah misa rencananya mau makan bakmi di daerah Sunter. Kata Youtuber yang pernah kita tonton, bakmi di sini mirip banget sama bakmi GM – dari jenis mienya, pangsitnya dan nasi gorengnya. Penasaran dong kita, apalagi harganya rada miring dari yang aslinya. Udah semangat banget nih kita ke sana, eh begitu sampai ternyata bukanya jam 11 siang. Sedangkan waktu baru pukul 9 kurang. Grrr…


Bingung mau kemana akhirnya jalan-jalan muterin Sunter lalu ke Kemayoran, macam orang hilang arah aja lah. Lagi santai jalan eh mendadak AC mobil gak ada angin dinginnya. Ditambah kejadian seperti ada sesuatu yang kita tabrak tapi agak kenceng bunyinya sebelum kejadian AC panas itu. Melipir sebentar untuk ceki-ceki, betul aja ada yang jatuh entah apa itu. Untungnya tidak jatuh di jalanan tadi, tapi di satu lempengan di bawah mobil.


Akhirnya kita mulai mencari bengkel AC di daerah Sunter. Kebetulan ada yang buka. Masuk lah Mister POO ke bengkel tersebut. Diperiksa sebentar sambil memberikan barang temuan kami itu ke Mas Bengkel. Pokoknya ya kalau sudah urusan bengkel mobil apalagi AC mobil bawaannya udah dag dig dug duer. Pikiran udah kebajak duluan aja dengan rasa takut dibohongin gitu lah.


Lagi-lagi…pikiran terlalu banyak kebanyakan mikir. AC mobil kembali dingin setelah Mas Bengkel memasang kembali barang yang kami temukan itu ke bagian semestinya. Duh, gak kebayang kalau tadi hilang di jalan. Ternyata memang masih banyak orang baik di sekitar ya. 😊



Malamnya..

Setelah menikmati Bakmi GM ala-ala Sunter itu, mendadak Ali berkabar kalau perutnya sakit. Sempat gue minta untuk meditasi. Minum obat parasetamol. Tapi ternyata mukanya tambah pucat, sakitnya menjadi. Malam itu juga gue bawa doski ke UGD terdekat.


Mungkin ini yang menjadi momen paling luar biasa di April ini. Ali terpaksa harus rawat inap malam itu dan diperiksa ini itu. Khawatir jelas, tepatnya lebih ke biaya. Bersyukurnya tahun lalu gue sudah memproteksi kita bertiga dengan asuransi Allianz. Langsung gue telpon Christian.


Christian ini sahabat gue sejak kuliah. Pernah satu waktu gue dan dia dapat tawaran kerja jadi freelancer WO bareng, dan kita diminta datang untuk briefing gitu deh ya. Kebetulan gue minta nebeng motornya. Saat itu belum ada GMaps, dia tulis patokan-patokan jalan di kertas yang ditempel di dashboard motornya. Dia emang niat banget sih. Tapi ya itu karena kita gak tau jalan, padahal cuma ke Kelapa Gading doang. Dan itu pun tetep kesasar. Ya ampun cupunya dua anak Jakarta Barat ini yeee. πŸ˜‚πŸ˜‚


Nah, seiring dengan waktu, Christian menekuni profesi jadi agen asuransi. Singkat cerita, gue selalu bilang ke Ali, ketika nanti kita punya uang lebih dan bisa punya asuransi, gue hanya mau agen asuransi gue itu Christian. Dan tahun lalu kita ada rejeki untuk punya asuransi buat bertiga.


Ali ini harus operasi, karena ada batu di kantung empedunya yang harus segera diangkat. Begitu kata dokter yang menangani. Tentu gue worried banget dengan biaya yang akan dihadapi. Galaunya gue, kalutnya gue, khawatirnya gue dihadapi tenang sama Christian. Aseli, jempol gue empat biji buat lo dah, Chris! Sabar banget sama resenya gue. πŸ˜‹πŸ˜‹


Puji Tuhan, semua yang dijalanin selama di rumah sakit tercover sempurna, tanpa keluar uang sepeser pun – kecuali bayar Gocar, Gojek, makan gue aje. Dan perlu banget gue bilang berapa biaya yang dicover oleh asuransi, sebesar Rp 94.250.000,- aja. Iyaaaa, angka yang besarrrr buangeeett. Gue hampir pingsan lihat angkanya, tapi pengen bangun cepet-cepet begitu tahu semuanya dicover paripurna oleh asuransi. Selesai urusan pembayaran gue langsung telpon Christian dan girang banget. Merinding ya ampun!!!


Entah apa yang menjadi perjalanan kita ini di bulan April ini, tapi yang pasti luar biasa. Seperti luar biasanya teman-teman sayang sama gue. Yang cukup terharu adalah gue dikirimin makanan selama di rumah sakit, sepulangnya pun, sampai gue ulang tahun. Mas Boy pun tidak ketinggalan dapat berkat dari sayangnya teman-teman ini. Puji Tuhan kami tidak kekurangan. Bahkan berlebih.


Gue juga bersyukur sekali selama gue harus nemenin Ali di rumah sakit, Mas Boy tidak sekalipun mengeluh minta ditemenin di rumah. Dia mampu menempatkan dirinya untuk bisa mandiri sesuai dengan kemampuannya. Mungkin ini ya dinamakan ujian praktek kehidupan. Selama ini kan hanya latihan terus menerus dimana gue masih nemenin. Tapi kemarin selama 4 hari 3 malam dia harus menghadapi hari-harinya sendiri tanpa gue ataupun bapaknya. Salut, Boy!


Senin, 25 April 

Puncaknya di bulan April ini adalah…Ulang Tahun gue.


Di angka 3 terakhir tahun ini, gue bertekad untuk bikin SIM A yang dah 7 tahun mati. Kenapa selama itu? Jujurly gue males loh dengan ujian praktek yang berbelit-belit. Gue sih percaya gue pasti lulus. Tsaaah, sombong! Soalnya ujian hidupnya lebih susah, man. Coba aja kalau berani parkir di apartemen gue sini, kalau gak pake sutrisno dengan keringet segede biji jagung karena diklaksonin mobil padahal lo lagi berjuang parkir mobil dengan space sempit. Horor lah parkiran di sini. πŸ˜‚πŸ˜‚


Dari semua yang gue alami selama ini, gue hanya bisa bersyukur dan bersyukur dengan segala berkat yang gue terima. Betapa Tuhan dan Alam Semesta ini baik sekali terhadap gue. Gue bisa merasakan kasih sayangNya lewat orang-orang terdekat yang datang dan memberi perhatian serta kasih sayang yang berlimpah untuk gue dan keluarga kecil gue. Terima kasih. Hanya itu yang bisa gue ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam. πŸ’“πŸ’“


Monday, April 4, 2022

2:44 PM

Ambisi

Ambisi

Sesaat rasa itu datang lagi ketika melihat anak-anak ini berlarian di lapangan. Bermacam-macam pertanyaan yang membandingkan antara klub ini dengan klub yang dulu berputar dalam pikiran. Tapi pada akhirnya menyerah juga dan menyadari tujuan kembali ke dunia olahraga yang satu ini.


Hampir 3 tahun lalu kami bergabung dalam satu klub basket yang bisa dibilang cukup ternama di daerah Jakarta Barat. Klub basket yang sempat menjadi wadah Fritz dalam menyalurkan energinya. Seminggu tiga kali dia latihan di klub ini, lalu kadang ditambah dengan pertandingan antar klub ataupun mengikuti kejuaraan wilayah. Saat itu hari-hari kami cukup sibuk dengan segala urusan perbasketan.


Sampai satu titik gue merasakan ada perasaan yang tidak wajar yang menyelimuti diri gue. AMBISI.

Ya, rasa ini kerap mendominasi pikiran gue. Ada rasa pingin Fritz jago dalam olahraga ini, menguasai teknik-teknik dalam basket seperti teman-temannya di klub itu. Ada juga rasa menyesal ketika melihat dalam pertandingan dia tidak melakukan yang terbaik, alias kalah dalam bertanding. Tidak jarang kecewa melihatnya tidak bisa selentur, sejago, sehebat dan sekeren teman-temannya di klub itu. 

Padahal sebetulnya anak ini salah satu termasuk yang sering dijadikan starter dalam setiap pertandingan, secara ukuran tubuhnya lebih tinggi daripada teman-temannya. Salah satu juga yang dianggap terbaik di usianya, sering menjadi andalan dalam pertandingan. Tapi tetap saja, rasa membandingkan anak sendiri dengan anak lain itu kerap bertengger di pikiran.

Kami pun harus pindah agak jauh dari tempat latihan basketnya. Rasanya keputusan keluar dengan alasan domisili pun menjadi tepat untuk menjernihkan pikiran gue. Fritz pun merasa tekanan yang gue berikan dan memilih untuk tidak berada dalam lingkaran basket lagi.

Tiba-tiba di bulan Februari anak ini nyeletuk untuk berkegiatan olahraga lagi. Pandemi membuatnya berhenti kegiatan renang, sehingga tidak ada kegiatan olahraga rutin yang dijalaninya. Lalu terbersit di benaknya untuk kembali lagi ke dunia basket. Setelah mencari, bergabunglah dia dalam satu klub basket di daerah Pulo Mas.

Klub basket dimana tidak ada latihan keras dengan teknik-teknik yang harus dikuasai seperti layaknya pemain basket sungguhan. Tidak ada pelatih galak yang memecut anak-anak untuk menggeber tenaganya sampai habis. Tidak ada pula pertandingan yang perlu dikejar-kejar setiap minggunya dengan dalih untuk memberi banyak pengalaman untuk anak-anak.

Klub basket ini hanya latihan dengan segelintir orang, bukan klub favorit tentunya. Anak-anak datang hanya untuk demi berkeringat. Santai, tidak ada teknik yang dikejar untuk dikuasai. Sehingga kadang rasa itu muncul kembali. :D

Mungkin disinilah ujiannya. Sanggupkah gue mengatasi si ambisi yang kemarin sudah berhasil ditaklukkan itu,eh sekarang dihadirkan kembali dalam lingkungan yang sama?

Friday, February 25, 2022

7:40 AM

Nyokap..

Nyokap..

 

Hubungan gue dengan nyokap tidak selalu bagus. Bahkan bisa dbilang kami tidak terlalu dekat. Begitu banyak memori kurang baik dengan nyokap yang melekat dalam pikiran gue, sehingga dikit banyak ini menyebabkan gue memberi jarak ke nyokap.


Sejak kecil, gue kenyang mendapat hukuman dari nyokap. Entah kenakalan apa yang gue buat di saat itu, tapi gue sering banget dijedotin ke tembok oleh nyokap gue. Pernah juga sebuah pisau mendarat di kepala gue pada saat dia sedang mengupas buah. Setelahnya gue ketakutan banget sih kalau kepala gue berdarah setelah nyokap melakukan itu. sungguh, seinget yang gue lakukan rasanya kenakalan gue tidak seberat itu sampai gue layak mendapat hukuman seperti itu. Tapi ya begitulah nyokap dengan emosinya.


Pengalaman masa kecil yang paling gue inget ada dua yang sangat melekat. Pertama ketika gue mengutang ke teman gue. Anak kecil bisa ngutang, entah dari mana nirunya ini. Jadi ceritanya gue pulang sekolah dengan teman gue, namanya Alex. Rumahnya dekat dengan rumah gue. Mampirlah kami ke minimarket. Namanya anak kecil senang banget lihat deretan cemilan kemasan yang penuh micin. Pilihannya tidak banyak saat itu. Tapi yang gue inget gue pingin beli cemilan itu dengan meminjam uang dari Alex, yang disepakati akan dicicil selama 3 minggu. Alex pun mengangguk, yang gue kira dia sudah setuju dengan kesepakatan ini. Gue pun beli Chitato seharga 700 perak dari uang Alex. Kenapa gue mencicil 3 minggu? Karena uang jajan gue 200 perak seminggu. Eh ini juga kurang ya sebetulnya buat bayar utangnya Alex. Tapi kenapa Alex iya-iya aja, pasti karena dia gak bisa hitung perkalian deh. πŸ˜‚

Sore pun tiba, eh ada teman memanggil nama gue dari depan rumah. Ternyata Alex. Ada apa ini dia datang ke rumah. Benar saja lintasan pikiran gue saat itu, Alex datang ingin menagih utangnya. Dengan volume suara yang gue kecilin, gue bilang ke Alex kalau gue akan membayar utang gue sampai 3 minggu ke depan. Kan tadi udah sepakat, Lex. Gimana sih lo. Gak ngerti banget sistem utang apa ini orang. Dan mulai lah terdengar oleh nenek gue yang memang tinggal bareng dengan kami. Terkuaklah kebohongan gue saat itu juga.

Nyokap ini bekerja di kantor. Pergi pagi banget, pulang sore menjelang magrib. Begitu sampai di rumah sore itu, disambutlah dengan cerita kenakalan gue yang satu itu oleh nenek gue. Watak nyokap gue ini gampang sekali emosi. Begitu emosi langsung aja dia bereaksi sesuka pikiran liarnya untuk menghukum gue. Dan hukuman yang gue terima akibat mengutang dengan Alex adalah…

Nyokap belikan 10 bungkus Chiki – padahal gue belinya Chitato loh 😁 – untuk dimakan saat itu juga. Dibukain semuanya satu-satu dan harus masuk ke dalam mulut gue. Nangis-nangis lah gue minta ampun ke nyokap. Tentu gak digubris dong ini. Emosi nyokap gue semakin tersulut dengan tangisan minta ampun gue, dia ambil kamera dan minta gue untuk duduk di lantai dengan bungkusan Chiki bertebaran di sekliling gue. Dia mengabadikan momen itu. Mana saat itu outfit gue cakep banget lagi – kaos kutang dan celana kolor doang. Sambil mengucap nanti akan diperbanyak foto itu dan disebar ke sekolahan dan keluarga besar. Supaya tahu kalau gue ini tukang utang.

Cerita kedua yang gue inget waktu kecil. Kalau ini masalahnya apa, lagi-lagi gue gak inget. Tapi yang membekas diingatan gue adalah semua baju gue dimasukkan nyokap ke tas besar dan satu persatu tas itu dibawa bokap masuk ke dalam mobil. Gue nangis minta ampun karena gue takut dibawa ke rumah panti asuhan. Gue mau diusir dari rumah. Tidak ada orang dewasa yang menolong gue saat itu. Bahkan nenek dan bokap gue turut ikut perintah nyokap. Segitu niatnya sih nyokap mengusir gue, dan entah gimana juga gue akhirnya juga gue gak tahu.

Dua memori masa kecil yang paling gue ingat, meski gue gak inget sama sekali sih apa sebabnya tapi melekat sampai ke detilnya gue merasakan hukuman itu.


Nyokap itu cukup keras sama gue. Tapi tidak ke adik gue. Menurut gue, tapi tentu adik gue tidak setuju dengan pernyataan gue ini. Bagi adik gue, nyokap itu sering memuja gue di depan adik gue dan membandingkan dengannya. Keburukan nyokap lainnya lagi. Sering banget dia melakukan ini di depan kami berdua. Ketika sama gue, dia akan angkat bagus dan baiknya adik gue sampai gue merasa sebal banget dengan adik gue. Begitu juga sebaliknya, diam-diam nyokap membanggakan gue depan adik gue. Siapa juga yang gak kesal ya kalau dibandingkan begini terus-terusan?

Dalam kacamata gue, adik gue ini tumbuh dengan dimanja oleh bokap nyokap. Waktu sekolah, gue senang sebetulnya bersepeda pulang pergi ke sekolah. Tapi jadi agak kesal ketika mendapati adik gue diberi fasilitas naik antar jemput setiap pergi dan pulang sekolah sambil ditemani oleh nenek, padahal jarak sekolah tidak lebih dari 1 KM dari rumah. Ada rasa iri ketika melihat mobil antar jemput mereka melintasi gue yang sedang mengayuh sepeda ke sekolah. Mana tas selempang gue sering nyangkut di bawah dudukan sepeda lagi, bikin leher beberapa kali tercekik sebelah dan harus berhenti untuk membenarkan posisi tas.

Perlakuan berbeda ini sungguh membuat gue merasa yakin nyokap tidak sayang sama gue. Apalagi nyokap sering banget memeluk dan mencium adik gue di depan gue. Sedangkan nyokap hampir bisa dibilang tidak melakukan ini ke gue. Melihat keduanya berpelukan dengan nyokap mencium adik gue bertubi-tubi itu bikin gue iri. Gue juga pengen. Tapi yang ada gue dulu yang harus menghampiri nyokap baru nyokap akan memeluk gue, itupun gak pakai bonus ciuman. 😁

Masa remaja jauh lebih gila lagi. Gue yang nyaman main dengan anak cowo, mulai merasa tertarik dengan mereka. Ada dua anak cowo yang dekat dengan gue saat itu. Mereka datang dari luar komplek dan seringnya kalau datang sekitar jam 7 malam. Tentu bokap nyokap gak suka ini. Apalagi nakalnya gue dengan mereka itu sampai naik motor keluar komplek, padahal jelas mereka ini tidak punya SIM saat itu. Belum lagi gue sering berbohong ke nenek untuk bisa keluar dengan mereka siang-siang. Dan begitu ketahuan, wah jangan ditanya betapa berangnya nyokap. Sepulang dari kerja, begitu masuk ke dalam rumah dan mendapati laporan cerita dari nenek gue, sontak nyokap emosi. Ya siapa yang tidak emosi sih ya kalau dipikir-pikir. Pulang kerja sudah capek, yang didapat anak gadisnya berulah gak karuan. Tangan nyokap mah gak sekali dua kali mendarat manis di pipi gue setelah itu.

Karena tidak harmonisnya hubungan gue dengan nyokap ini membuat gue sering banget berulah. Tapi seringnya sih dengan teman dan guru di sekolah. Ribut dengan teman macam ketua gangster itu sering banget sih gue lakukan. Bahkan pernah ada pengakuan dari seorang teman kalau pacarnya saat itu hampir saja membunuh gue. Dia sudah menyiapkan pisau di balik jaketnya yang siap untuk menusuk gue. Dan banyak kenakalan-kenakalan gue lainnya yang kalau ditonton ulang sama gue saat ini juga bikin gue urut dada sih.

Menjelang dewasa hubungan gue dengan nyokap makin menjadi tidak dekat. Sering banget gue komplen dengan sikap nyokap yang sering membela adik gue. Setiap gue berantem dengan adik gue, selalu adik gue yang dibela. Masih kecil dia. Padahal badannya aja udah lebih gede dari gue. Tetap aja dia selalu dibilang masih kecil. Ya sampai tua juga umurnya dia gak akan pernah melewati gue lah, tetap lebih kecil dari gue. Tapi ya begitulah nyokap, sebegitu dibelainnya lah adik gue. Selalu ada alasan untuk membela adik gue. Dan ini menyebabkan gue juga jadi marah ke nyokap.


 

Sikap nyokap yang arogan, yang merasa mau dihormati dan tidak akan memulai pembicaraan dengan gue kalau tidak dimulai dari gue yang mengalah lebih dulu, bikin gue semakin menantangnya. Bisa banget gue marah ke nyokap dengan tidak bicara sama sekali dengannya. Dari yang mungkin ngambek ala anak abege, gak keluar kamar, sampai gue bisa gak bicara sama nyokap berminggu-minggu, berbulan-bulan sampai setahun. Rekor banget itu yang setahun, dan diulang di tahun berikutnya. Padahal kami berada dalam satu rumah yang sama. Masing-masing tidak saling bertegur sapa. Keluar kamar kalau nyokap tidak sedang di area depan, begitu juga sebaliknya. Meskipun nyokap hampir tidak begini ke adik gue, bahkan setelah adik gue diomelin nyokap. Adik gue ini tahu bagaimana menjilat nyokap gue sih, sedangkan gue anti dengan sikap kaya gitu.

Hanya sekali nyokap menurunkan arogansinya ketika gue mau menikah. Gue merasa tidak apa-apa banget kalau menikah tanpa perlu adanya kehadiran nyokap di pelaminan gue. Sedangkan mungkin nyokap merasa malu kalau sampai saat itu tiba dan dia tetap bergeming dengan arogannya tidak mau mengalah dengan gue. Suatu malam dia datang ke kamar gue dan minta maaf. Wah, gue merasa menang dengan sikapnya ini. Tentu gue memakai gayanya sewaktu nyokap minta maaf ke gue. Duduk santai di tempat tidur, dengan pandangan tidak melihat ke nyokap melainkan ke TV di depan gue, tentu dengan muka yang sedikit didongakan ke atas. Kesannya arogan sekali ya, padahal hati ini deg-degan setengah mampus. Channel TV beberapa saat sekali diganti sambil mendengar apa yang sedang diutarakan nyokap.

Itulah nyokap gue, yang menjawab emosinya yang tidak stabil dengan marah, teriak, lempar barang, menjedutkan anak ke tembok, menendang anaknya, menyiramnya dengan air seperti lagi mengusir kucing lagi berantem, menampar, menyubit, mengusir, mengutuk jadi orang tidak berhasil dan segala yang jelek-jelek untuk masa depan anaknya, you name it lah. Sampai-sampai gue tumbuh dengan banyak sakit hati dengan nyokap. Ya, dia menyematkan banyak luka di diri gue yang membentuk gue menjadi pribadi gue yang sekarang.

Tapi karena itu juga gue jadi belajar untuk mengenal diri gue sendiri. Mengenal dan menerima juga nyokap yang seperti itu. Gue yakin nyokap juga melalui masa lalunya dengan penuh luka. Luka yang melekat lama, sampai berkerak mungkin, di dalam dirinya. Sehingga sebetulnya menyembuhkan luka itu bagian dari perjalanan hidup, tapi mungkin nyokap tidak tahu bagaimana memeluk lukanya.


Hari ini ulang tahunnya ke 63 tahun. Sudah lama gue tidak menelponnya, kangen. Habis ini gue akan mengucapkan Selamat Ulang Tahun, dan menyematkan doa untuknya. Semoga Mami bisa bahagia selalu dalam menjalani masa tuanya. Diesertai sehat dan berkat yang menaunginya selalu. Meski gue dan keluarga kecil gue tidak lagi sering bisa berkunjung, tapi nyokap tetap selalu menjadi orang kesayangan gue. I love you, Mom!! πŸ’—πŸ’—


PS: proses menyembuhkan luka ini masih belum selesai ya. Masih terus dan terus.....

Sunday, February 6, 2022

11:12 AM

Ourselves - Diri Kita

Ourselves - Diri Kita

 Seberapa penting sih sebetulnya kita perlu mengenal diri kita sendiri?


Sepertinya gue agak sedikit telat belajar mengenal diri gue sendiri. Dulu, ketika sekolah, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran gue untuk kenalan dengan diri gue. Gue terlalu sibuk untuk tidak terlihat berbeda dengan teman-teman. Sebisa mungkin hidup gue sama dengan mereka. Parameter gue selalu bergantung dari kacamata teman. Sama sekali tidak ada di pikiran untuk melihat lebih jauh siapa diri gue sebenarnya. Begitupun masa kuliah. Meskipun sudah masuk usia dewasa, tapi gue tidak serta merta menjadi matang secara pikiran. Penampilan luar selalu menjadi pusat perhatian gue. Bagaimana gue terlihat menjadi satu hal yang penting banget gue pikirkan. Mengenal diri sendiri dalam bayangan gue saat itu sama halnya terlihat menarik secara fisik.

 

Sampai akhirnya gue punya Fritz. Mungkin ini adalah momen dimana gue mulai belajar untuk tidak lagi melihat penampilan fisik yang menjadi perhatian utama gue. Ada satu kesadaran diri ketika seorang bayi hadir dalam hidup gue dan Ali. Gue merasa harus menjadi versi terbaik dari diri gue demi anak ini. Gue harus bisa menjadi panutan yang bagus buatnya. Nah, di waktu inilah pelan-pelan gue mulai belajar untuk mengenal diri gue. Agak telat sih secara umur, tapi gue percaya tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Eaaa….πŸ˜†

 

Perjalanan mengenal diri ini ternyata tidak mudah. Beberapa kali gue terbentur, terperosok, jumpalitan, guling-gulingan bahkan sampai koprol. Tapi lagi-lagi, gue percaya kita hadir di dunia ini sebetulnya punya tujuan. Bukan hanya dilahirkan, hidup, menikah, punya anak, lalu menua dan selesai. Dan proses mengenali siapa diri gue sebenarnya ini pun dimulai.

 

Tepatnya ketika gue memutuskan menjalankan Pendidikan Rumah alias homeschooling (HS) buat Fritz. Awalnya gue pikir ini akan jadi perjalanan mendidik anak saja. Bagaimana gue yang notabene seorang guru memilih untuk mengajar anaknya sendiri. That’s it. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi ternyata gue berpikir pendek, sodara-sodara. HS lebih dari itu. HS membawa gue jauh mengenal hidup gue lebih jauh lagi. HS menuntun gue menuju perjalanan spiritual kehidupan gue. Tsaaah, dalam banget ini obrolannya. 😜

 

Berawal dari mencoba mencari tahu dan berkenalan dengan para penggiat homeschool di tahun 2012. Bergerilya mencari informasi lewat teman-teman yang sudah lebih dulu menjalaninya. Berteman satu demi satu dengan mereka, mengenali kebiasaan mereka ber-HS, sampai akhirnya berkumpul bersama dalam satu komunitas kecil bernama Ibu Jari. Di sini gue banyak terbuka secara pikiran dan mata gue melihat kehidupan. Lewat mereka, gue pertama kali belajar mengenal diri gue sendiri dan apa yang gue mau dalam hidup gue. Melihat anak, suami serta arti keluarga dari sisi berbeda.

 

Perjalanan berlanjut di tahun 2015. Persimpangan jalan antara memilih tetap berHS atau mulai sekolah formal. Di sini gue banyak berdiskusi dengan Ali dan juga Fritz, dan akhirnya kami sepakat tetap memilih HS sebagai jalur perjalanan pendidikan buat Fritz. Berkegiatan lah kami di Komunitas Oase di tahun ini. Di sini kami bertemu dengan banyak teman yang baru, meskipun ada juga yang sudah kami kenal di tahun-tahun sebelumnya. Sungguh menyenangkan perjalanan HS bersama komunitas ini. Bukan hanya Fritz yang bertemu dengan teman-teman baru, tapi kami sebagai keluarga pun berkenalan dengan keluarga HS lainnya.


Tanpa disadari, pertemanan keluarga ini akhirnya mengerucut di akhir tahun 2016. Beberapa keluarga memilih untuk berkegiatan bersama di Kaplongan. Sehingga kami sepakat memilih nama DeKaplongan sebagai nama grup kecil kami ini. Dalam perjalanannya kami banyak berproses bersama dalam mengenal diri kami masing-masing. Seringkali kami meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang spiritual dalam kehidupan, tentu disamping belajar hal-hal lainnya yang masih terkait dengan HS. Menarik sekali sebetulnya mempelajari tentang hal spiritual ini, sehingga mengenal diri gue semakin jelas saja dari obrolan-obrolan yang sering kami lakukan di meja (makan) oval itu.

 

Apalagi dalam perjalanan mengenal diri ini gue banyak ngobrol bareng dengan Lia. Bukan Milea yang biasa dipanggil Lia sama Dilan ya. Lia, emaknya Mas Abi dan Nduk Anin, istrinya Bapak Aji Wijaya. Begitu banyak yang sering gue bahas bareng Lia, meskipun lebih banyak debatnya karena gak cocok pemikirannya sih. Tapi emang Lia itu sayang banget ya sama gue, sampai-sampai rela direcokin terus sama gue. I love you, Liaaaaa. πŸ’—πŸ’— Dan dari obrolan-obrolan yang sering kita lalui, gue semakin belajar lebih dalam lagi mengenal diri gue sendiri.

 

Jalan untuk mengenal diri pun semakin terbuka lebar. Awalnya mungkin hanya satu jalan utama, tapi semakin ke sini semakin banyak jalan-jalan yang dibukakan untuk mempelajari diri ini. 5 tahun terakhir ini gue memilih metode Charlotte Mason untuk pendidikan rumah Fritz. Dan lewat CM pula-lah gue semakin merasa proses mengenali diri menjadi lebih dalam lagi. Bukan lagi lewat bertanya dan curhat dengan teman, tapi lewat buku serta hasil dari diskusi dan refleksi dengan diri sendiri yang membuat gue semakin kenal siapa diri gue sebenarnya.

 

Kalau dari tadi gue terus bilang mengenal diri sendiri, lantas yang baca pasti bingung. Sebenarnya gue selama ini amnesia apa gimana sih sampai gak kenal sama diri gue sendiri? Padahal kan jelas ya mengenal diri sendiri itu mudah. Hmm. Coba deh jabarkan secara panjang lebar siapa diri kita, apa maunya dalam hidup kita, dan sudah berbuat apa saja dalam kehidupan ini? Percaya, itu tidak mudah. Ada hal-hal dimana yang selama ini mungkin kita tidak pernah tahu kedalaman pikiran, perasaan serta sifat dan sikap yang kita punya. Apalagi dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah ini perlu disadari, dicari serta digali untuk membuat hidup kita semakin berarti.

 

Gue pun semakin percaya, ketika kita mencari, semesta pun akan menyediakannya. Begitu seperti halnya ketika gue merasa perlu belajar untuk kenal dengan diri gue sendiri, paham siapa gue dan bagaimana memperlakukan diri gue, serta jujur dengan pribadi gue, Tuhan pun memberikan jalannya lewat orang-orang yang dikirimNya. Entah bagaimana caranya, mereka hadir untuk memberikan gue banyak pelajaran dalam hidup. πŸ’•

Tuesday, January 25, 2022

2:53 PM

Ourselves - Panca Indera

Ourselves - Panca Indera


Kebetulan sedang membahas tentang panca indera, rasanya jadi tepat banget kalau di edisi tulisan kali ini gue berbagi cerita pengalaman pribadi aja. Tepat seminggu yang lalu, akhir minggu kedua di Januari, gue mengalami sakit di pencernaan yang cukup hebat. Ini bukan pertama kalinya gue menderita sakit seperti ini. Rasanya kalau diingat-ingat lagi sudah dari usia sekolah gue selalu bermasalah dengan pencernaan. Dan seperti orang bebal, gue kerap kali mengulang kesalahan yang serupa.


Kelemahan gue yang paling utama adalah tidak bisa melihat makanan enak. Masalah yang lainnya lagi adalah semua makanan selalu enak buat gue. Jadi bisa dibayangkan betapa lemahnya pengendalian diri gue ketika melihat ada makanan di depan mata. Apalagi kalau judulnya gratis! 😎😎 Jadi ingat jaman kuliah dulu. Gue punya prinsip, kalau ada makanan yang gratis kenapa harus beli. Geng kuliah gue hafal banget kebiasaan gue ini nih karena gue sering banget malak makanan mereka ataupun minta dijajanin sama mereka. Baiknya mereka punya teman kaya gue. #eh kebalik yak…

 

Kembali ke cerita sakit yang gue rasain (sukurin lo!) eh rasakan. Akhir minggu itu gue banyak mengkonsumsi gluten yang tanpa disadari memicu pencernaan gue. Mendadak perut gue sakit gak ketulungan di dini hari. Seperti ada demo besar-besaran di dalam perut. Sontak para pendemo itu minta keluar dari perut dalam rupa muntah dan diare. Dan di hari Senin pagi itu gue sudah 4x muntah ditambah 1x diare tanpa bentuk selain cairan kuning. Lemas tak berdaya rasanya dengan perut yang bergejolak kawula muda – macam Prambors FM ya. πŸ˜‚ Ditambah dengan bunyi geluduk kecil-kecil di dalam perut, sama persis dengan cuaca di hari itu yang ditemani oleh geluduk dan hujan.

 


Iya, gue ini termasuk yang tidak kuat dengan gluten. Padahal gue cinta mati sama mie! Pernah ada pengalaman tepar tak berdaya juga karena mie. Satu waktu gue mengkonsumsi mie sekitar 4-5 kali dalam seminggu dan tentu setelah itu perut meronta-ronta kesakitan. Sama seperti rasa sakit yang terakhir gue derita. Segitu gagalnya gue menahan nafsu melihat mie. Tapi sejak itu gue agak kapok. Seperti dalam pertemanan yang kurang sehat, mie ini membawa pengaruh buruk dalam hidup gue. Jadi gue terapkan peraturan untuk mie ini. Kami tetap berteman, tapi perlu jaga jarak. Cukup makan mie seminggu sekali aja. Supaya hasrat makan mie tetap terpenuhi dalam porsi sewajarnya, tidak barbar seperti sebelumnya. Dan berhasil dong! Yaaaayy.

 

Permasalahan mie sudah bisa dikendalikan, meskipun harus melewati rasa sakit yang luar biasa dulu. Nah untuk sakit yang gue alami seminggu yang lalu sebetulnya hasil dari pengalaman yang serupa juga. Ternyata perut gue bukan hanya bermasalah dengan mie, tapi beberapa gluten mulai bereaksi yang sama ketika dikonsumsi berdekatan waktunya. Sehingga pengalaman sakit kemarin mengajak gue untuk belajar lagi untuk lebih mengendalikan mulut.

 

Begitulah ketika mulut sudah menjadi tuan untuk diri kita. Dan sejujurnya gue pun gak bisa menjanjikan gue tidak lagi jatuh ke dalam lubang yang sama, karena perkara makanan ini memang momok besar banget buat diri gue. Tapi setidaknya dengan prinsip CM untuk tetap berada di tengah-tengah penting banget gue terapkan dalam urusan perglutenan dan pencernaan ini. Supaya tidak ada lagi kasus-kasus demo besar di dalam perut hamba...πŸ˜‚πŸ˜‚