Lievell

Friday, September 17, 2021

1:24 PM

Philosophy Education - Pendidikan dan Pikiran

Philosophy Education - Pendidikan dan Pikiran

 


Kita ini sudah sesat pikir dengan pendidikan yang kita jalani.

 

Kita menganggap pendidikan yang dikecap oleh anak-anak (kita juga dulu) sudah paling benar. Anak sudah bisa baca-tulis-hitung, sudah dianggap berhasil. Anak bisa naik kelas dengan nilai yang gemilang, sudah jemawa kalau nanti anaknya akan menjadi orang hebat. Anak sudah mahir dalam satu bidang tertentu, merasa yakin anaknya siap menghadapi masa depan.

 

Namun kenyataannya kita sudah keliru. Pendidikan yang dimaksud di sini bukanlah pengajar yang terengah-engah menyajikan materi semenarik mungkin bagi anak didiknya. Bukan juga pengajar yang harus bersusah payah mengunyahkan materi untuk mereka. Tapi pendidikan yang mempunyai konsep yang mengakar sampai ke hakikat budi.

 

Iya, budi yang perlu diasup dengan nutrisi dan ide sebagai makanan sehari-harinya. Pendidikan kita perlu mengaktifkan pikiran. Jadi bukan hanya minat dan bakat saja yang diasah karena dua hal itu dianggap hebat saat ini. Karena kita tidak lagi sedang berlomba untuk menggegas anak untuk sekadar menjadi pencari nafkah saja bagi hidupnya. Tapi kita sedang membuat anak menjadi pribadi yang utuh dan berkembang secara holistik. Sehingga nantinya ia mampu memenuhi potensi dirinya, menjalani kehidupannya dan tentunya melayani masyarakat.

 

Tulisan pembuka Ibu Charlotte Mason dalam serial bukunya yang ke 6, Towards a Philosophy of Education, ini menjadi awal kegalauan teman-teman diskusi Kamisan yang baru saja selesai membaca buku Cinta Yang Berpikir dan memulai perjalan baru dalam memasang tiang pancang pondasi filosofi pendidikan.

 

Monday, September 13, 2021

12:40 PM

Ourselves - Menemukan Diri Sendiri

Ourselves - Menemukan Diri Sendiri

 


Masih jelas di ingatan ketika mengikuti retret, entah di sekolah ataupun ketika di kuliah - karena waktu itu aktif berkegiatan di salah satu kegiatan mahasiswa yang bernafaskan keagamaan. Malam sebelum pulang dari acara tersebut pasti kami diminta berkumpul dalam satu aula besar, lampu dimatikan dan penerangan hanya berasal dari lilin yang kami pegang masing-masing. Hening, dingin, dan temaram sambil diiringi dengan musik yang mengalun pelan. Suasana dibuat syahdu sekali. Suara pembawa acara pun tidak kalah lembut, kata-kata yang mengalir dari mulutnya sedikit demi sedikit membuat kami yang duduk sambil menunduk di sana terbawa dalam larutan perasaan. Menggiring kami ke dalam ingatan-ingatan dosa yang pernah kami lakukan, khususnya terhadap orang tua kami.  Tidak lama kemudian, terdengar sayup-sayup segukan tangisan seseorang entah di mana di ruangan itu. Disusul oleh teman sebelah yang juga tidak kalah sesegukannya dari suara sebelumnya, membuat pertahanan diri sendiri pun jebol dan ikut terlarut dalam suasana. Sehingga malam itu adalah malam dimana kita berjanji untuk tidak lagi mengulang kembali dosa yang sama terhadap orang tua kita. Berjanji untuk menjadi anak yang baik, tidak mau melawan orang tua, tidak mau berkata-kata jahat lagi kepada orang tua dan segala macam janji yang berharap dapat dipegang untuk seumur hidup. Lalu, sehari dua hari berlalu, seminggu berlalu, apakah janji yang pernah kita tancapkan di hati saat itu mampu kita pegang dan buktikan?


Refleksi singkat ini sebetulnya diangkat oleh seorang teman dalam diskusi mingguan kami di CM Jakarta. Ini jadi mengingatkan ya, bahwa kita ini erat sekali dibentuk dalam sentuhan perasaan emosi yang sering diobok-obok macam Joshua kecil lagi ngobok air bareng Tukul Arwana saat itu dengan riang gembira. Entah lewat cerita, entah lewat lagu, tapi sering banget membuat kita jadi terjatuh dalam larutan perasaan yang mendalam. Ikutan sedih, lalu mewek sejadi-jadinya. Dibuat nelangsa banget deh perasaannya. Kalau dah begini tuh jadi keinget sama drakor deh, entah udah berapa ember itu kalau dikumpulin air mata gue gara-gara nonton drakor. Huahahahahahha.


Lantas apakah segala hal yang disentuh dengan perasaan emosi ini mampu bertahan lama?


Coba diingat kembali, apakah sepulang dari retret lalu kita menjadi manusia yang baru? Iya, tapi tidak bertahan lebih dari seminggu lalu kita akan kembali ke habit lama yang memang sudah mengendap sempurna di dalam diri kita. Ya gak sih?


Banyak hal di kehidupan kita ini kerap sekali dibuat dengan mengedepankan ide-ide yang membuat orang lebih tersentuh secara emosi. Perasaannya yang dimainkan. Membuat logika jadi malas untuk diaktifkan. Ataupun dimatikan sama sekali. Seperti halnya ketika berbicara tentang dosa, “Tidak boleh bohong, nanti dosa dan masuk neraka loh.” Lagi-lagi situasi dibuat untuk menyentuh ke perasaan bahwa ‘berbuat dosa itu menyeramkan loh. Jadi jangan sekali-kali berbuat dosa kalau kamu tidak mau masuk neraka.’ Lalu, ketika anak mulai bertanya, “Memangnya neraka seseram apa, Ma?” Karena belum pernah masuk dan nyicipin neraka seperti apa, orang tua pun tidak bisa menjawabnya. Hanya mampu menerapkan bahwa jangan pernah sesekali bohong kalau tidak mau masuk neraka dan titik, jangan berdebat lagi soal itu. Akhirnya, anak-anak pun mencoba untuk tidak melakukan kebohongan karena ada rasa takut, bukan karena diajak berpikir lebih dalam menggunakan logikanya.


Emosi (perasaan) dan logika. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya erat dan berkaitan untuk dijalankan bersama. Tidak bisa mengandalkan emosi saja tapi lupa mengajak logika untuk bekerja. Bahasan yang tampak sederhana tapi sebetulnya cukup mendalam ya. Begitulah awal obrolan kami ketika membuka halaman pertama buku Ourselves, tulisannya Ibu Charlotte Mason yang ditulis di awal tahun 1900an itu. Ini adalah buku Volume ke 4 dari 6 seri bukunya. Dalam buku ini akan banyak mengajak kita untuk kenal lebih dalam tentang diri kita sendiri yang diibaratkan layaknya pemerintahan kota. Ini memang buku jadul, tapi masih sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita sampai saat ini.


Tunggu aja tulisan berikutnya yaaaa……


Sunday, September 5, 2021

7:08 AM

The Biology of Belief - Belajar dari Cawan Petri

The Biology of Belief - Belajar dari Cawan Petri


Pujian Bagi Sel-Sel Pintar dan Murid-Murid Pintar


Di Pulau Karibia, Bruce menjadi salah satu dosen pengganti di salah satu universitas kedokteran. Pada saat itu, ia menjadi dosen pengganti ke 4 dalam satu semester. Kebayang mahasiswanya gak paham dengan apa yang dipelajarinya karena dosen-dosen yang bergantian keluar di sepanjang semester. Ketika ia memberikan tes ke mahasiswanya, sudah dapat dipastikan mereka tidak paham dan tidak bisa mengerjakannya. Melihat kesusahan mahasiswanya ini, Bruce seperti mendapat pencerahan untuk membantu mereka. Ia sendiri sadar kalau ia akan ekstra banget mengajar mereka, tapi entah mengapa ia justru merasa semangat.

 

Mata kuliah yang ia ajarkan ke mahasiswanya ini adalah ilmu Histologi yang erat kaitannya dengan sel. Ini seperti mengingatkan Bruce ke masa kecilnya, dimana ia begitu sangat tertarik ketika ia melihat sel-sel tersebut dari mikroskop. Lalu, ia menyamakan sel-sel itu seperti miniatur manusia yang mirip secara fisik maupun perilakunya. Namun sayangnya, ide menyamakan ini, antropomorfisme, tidak sejalan dengan para peneliti lainnya. Mereka menganggap menyamakan sel dengan manusia seperti dosa yang besar yang merendahkan derajat manusia.

 

Sebetulnya Bruce tidak salah-salah banget karena kenyataannya memang manusia adalah organisme multiseluler yang terdiri dari triliunan sel individu. Ia lalu mengajak kita untuk melihat dari perspektif yang menarik. Sel yang hidup di dalam tubuh sama seperti  kita yang hidup bersama dengan triliunan manusia lainnya di bumi. Serupa tapi dalam bentuk yang tidak sama.

 

Menariknya lagi adalah setiap sel yang ada di dalam tubuh manusia mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Sel-sel ini pun sangat pintar. Misalkan sel-sel tersebut diangkat keluar dari tubuh manusia, mereka bisa beradaptasi dan bertahan dengan caranya masing-masing. Selayaknya manusia yang bisa mengenal lingkungannya dan beradaptasi seiring dengan waktu.

 

Selain itu, setiap sel ini juga mampu belajar dari pengalaman dan mampu menyimpan memori. Seperti ketika ada sel baru masuk ke dalam tubuh. Sel imun langsung mengenali sel baru yang masuk. Menandai ada virus baru yang akan merusak jaringan di dalam tubuh. Antibodi langsung bekerja sebagai pertahanan pertama. Sel tersebut langsung menyimpan memori. Jika sewaktu-waktu datang kembali, maka sel dengan cepat sudah mengenali dan mampu mengatasinya. Ini bukti bahwa sel memang pintar.

 

Sayangnya, belakangan ini manusia justru mendapat satu pemikiran baru bahwa mikroorganisme yang bernama bakteri harus dibunuh dengan sabun anti bakteri ataupun antibiotik. Keduanya ini sangat tidak pandang bulu, mematikan bakteri yang memang berbahaya bagi tubuh sekaligus yang tidak berbahaya. Mengabaikan bahwa ada bakteri yang juga penting bagi tubuh.

 

Contohnya saja bakteri di sistem pencernaan. Tentu ada bakteri-bakteri yang berguna untuk menyerap vitamin dan mengolah makanan di dalam usus. Tapi karena belakangan ini juga semakin marak tren makanan yang dimodifikasi ini itu, maka bakteri di dalam usus pun mulai meronta-ronta dan butuh pertolongan. Sayangnya, pertolongan pun datang bukan dari mengubah pola makan tapi menggantinya dengan obat-obatan yang dianggap ampuh. Justru yang terjadi adalah membuat sistem pencernaan semakin amburadul.

 

Penjelasan-penjelasan Bruce yang panjang lebar betapa miripnya sel dengan manusia ini banyak membantu  mahasiswanya paham dan berhasil mengerjakan tes ulang yang diberikan Bruce, dan lulus dari mata kuliahnya.


Sel hidup berdampingan dengan kita secara kasat mata. Tidak hanya ada di dalam tubuh kita, tapi mereka juga ada di sekitar kita. Di alam, tumbuhan, hewan. Jumlahnya pun sudah pasti melebihi jumlah populasi manusia. Tapi sedikit banyak ekosistem mereka terganggu juga. Misalnya saja pemanasan global yang saat ini terjadi di bumi. Penggundulan hutan yang membuat lapisan ozon semakin menipis salah satunya. Tentu membuat sel terus berevolusi mengikuti situasi dan kondisi.

 

Dan perlu diingat bahwa penyebab utama dari semuanya ini siapa lagi kalau bukan ulahnya manusia itu sendiri. Sungguh miris.

 


Friday, September 3, 2021

12:11 PM

Piranti Bernama Nalar, Kehendak dan Nurani

Piranti Bernama Nalar, Kehendak dan Nurani

 

 

Siapa yang mampu menolak diskonan? Rasanya hampir tidak ada ya.

 

Seperti gue yang belakangan ini tergiur dengan promo diskonan dari merchant online. Padahal bisa dibilang gue bukan penggemar pesan makanan secara online selama ini loh. Bisa dihitung dengan jari kayanya pesan makanan via online tuh. Pilihan selalu jatuh ke masak sendiri ataupun datang langsung ke restorannya. Bukan anak jajan online lah pokoknya. Jadi jangan pernah nanya resto apa atau makanan apa yang lagi hype saat ini sama gue ya. :D

 

Lalu, ada satu waktu dimana gue tergiur banget buat ikutan membeli makanan cepat saji lewat promo resto di online. Bayangkan satu ember ayam yang isinya 9 potong, yang harganya biasanya seratus ribuan ke atas, setelah lewat promo mendadak harganya bisa sekitar 50rban sampai 75rban. Besar kecilnya diskonan yang didapat itu tergantung seberapa besar iman dan amal ibadah lo sama aplikasi tersebut. Semakin sering lo belanja di sana, maka diskonan pun semakin besar. Nah, kalau dah begini siapa sih yang gak tergiur? Langsung deh gue cepet-cepet ikutan beli dan pejeng hasil diskonan gue di IG story. Jelas, ini mah dalam rangka pamer ceritanya! Hohohohoo…

 

Selesai sampai di situ? Tentu tidak.

 

Hari berikutnya, ada promo lainnya lagi. Serupa, dapat potongan diskon gila-gilaan sehingga harga makanan bisa jadi kurang dari separuh, dan ini sudah berikut ongkos kirimnya pula. Coba, siapa yang gak ngiler kalau dah begini?! Hampir setiap hari kerjaan gue mantengin dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya demi kepuasaan batin melihat yang diskonan. Waktu habis cuma buat sekrol sana, sekrol sini. Iyes, kurang kerjaan banget emang gue. Dan gak jarang juga hasil sekrolan itu dituntaskan, alias beneran jadi belanja. Duh, jangan ditanya betapa bangga akan pencapaian diskon yang gue dapatkan setelah makanannya datang. :D :D

 

Tapiiii…..

 

Apa efeknya setelah ini? Tentu, selain kantong mulai terkuras karena jadi rajin transfer ke merchant-merchant itu, efek lainnya adalah bertambahnya berat badan dan eksim yang semakin gatal di kaki. Gimana nggak, makanan yang dijual kan pasti erat banget sama terigu, manis dan gurih. Jelas banget gue gak bisa makan terigu, eksim jadi gatal dan pengen digaruk terus. Manis, kalau udah manis orangnya ditambah makan manis, ya jadi lebih kan. Makanya berat gue gak turun-turun, malah jadi nambah karena manis gue kelebihan. Kalau gurih, duh, ini mah jangan ditanya lagi. Semua makanan yang dibeli di luar, apalagi fast food dan kekinian dah pasti gurihnya tiada duanya deh. Bikin kerongkongan gatel dan pengen minum terus.

 

Yah, begitulah yang terjadi ketika nalar secara impulsif membenarkan kelakuan kita. Tanpa menilik lagi, apakah yang gue lakukan benar atau tidak, tapi membenarkan bahwa diskonan ini nyata loh. Murah loh. Sayang kalau gak beli. Kapan lagi. Nyesel loh nanti. Dan segudang alasan untuk membenarkan argumen kalau gue memang harus belanja makanan dari resto yang promonya gila-gilaan itu. Lupa dengan efeknya, lupa dengan kantong bolongnya, lupa sama berat badan yang naik terus. Lupa semua-muanya.

 

Membahas soal nalar ini sangat terkait erat dengan apa yang gue bahas kemarin bersama dengan teman-teman diskusi buku Cinta Yang Berpikir. Selama 6 bulan terakhir, gue bersama dengan belasan ibu-ibu (dan seorang kawan yang dengan sadar menyemplungkan diri masuk ke dalam diskusi kami padahal menikah saja belum. Keren emang kawan gue ini!) membahas banyak hal yang berkaitan dengan filosofi pendidikan ala Charlotte Mason. Sampailah kami di bab terakhir dan pembahasannya pun semakin mendalam. Kami membahas tentang bagaimana Kehendak, Nalar dan Hati Nurani mempunyai peran yang sangat penting sekali dalam setiap kondisi dan situasi di kehidupan kita.

 

Ketiga piranti ini menjadi pusat dalam menuntun kita untuk berpikir dan bertindak. Nalar contohnya. Ia adalah piranti paling netral. Ia bekerja ketika akal pikiran kita menuntunnya ke suatu ide. Misalnya seperti promo tadi. Sifatnya sebetulnya netral bagi gue. Tapi ketika ada keinginan kuat untuk mengikuti nafsu, maka nalar seolah membenarkan banyak alasan sehingga gue pun jatuh dan terbuai dengan promo tersebut. “Gak apa-apa lah beli, kan sesekali.” “Kapan lagi, kan jarang belanja online.” “Si Boy pasti suka deh kalau gue beliin.” Lihat, segitu banyak alasan untuk membenarkan bahwa promo ini “ya harus dibeli!’ Nalar diarahkan untuk condong menyetujui alasan-alasan yang dikemukakan.

 

Ini sekadar contoh masalah promo. Sederhana memang, tapi semakin sering nalar diajak membenarkan segala alasan, maka akal pikiran kita lama kelamaan tidak dapat lagi berpikir mana yang benar, mana yang perlu, mana yang butuh, dan mana yang tidak. Garisnya menjadi tidak kentara atau bahkan menjadi hilang sama sekali. Sehingga tidak dapat lagi memutuskan hal-hal yang prinsipil, melainkan menjadi ikut dengan kerumunan. Ketika ada promo makanan A enak, semua akan berbondong-bondong membeli makanan tersebut. Ketika ada diskon tas bermerek atau skincare ternama, semua akan membeli karena takut tidak menjadi sama dengan yang lain.

 

Setelah itu, ada Kehendak yang menjadi teman dari nalar. Kehendak ini terbagi menjadi dua, yang aku ingini (I want) dan yang aku kehendaki (I will). Mungkin terkesan sama ketika membaca keduanya. Tapi sebetulnya ini berbeda. Ketika berbicara tentang ‘I want’ – yang aku ingini, secara tidak langsung inilah yang membenarkan semua alasan dari nalar ketika gue terbuai dengan promo tadi. Lantas, apa bedanya dengan ‘I will’ – yang aku kehendaki? Sebuah fakta bahwa ketika gue terbuai dengan promo tersebut banyak efek yang terjadi setelahnya – kantong bolong, eksim menjadi, berat badan naik. Gue abai dengan fakta ini karena masih mengikuti keinginan (I want) tadi itu tapi melupakan apa yang seharusnya gue kehendaki (I will) – berhenti membeli makanan promo online karena sudah tidak sesuai dengan prinsip (kantong bolong karena kebanyakan jajan) dan eksim menjadi-jadi (gatal-gatal itu gak enak banget tau!!) plus sebel banget melihat timbangan yang meroket.

 

Teman berikutnya adalah Hati Nurani. Semua orang sudah pasti tahu lah apa itu hati nurani. Tapi jika kita  bicara tentang promo online tadi, dimana kaitannya dengan hati nurani? Semakin sering belanja online untuk sesuatu yang bersifat ‘I want’ saja, maka otomatis gue mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebetulnya tidak baik untuk kesehatan jantung Bapak Ali dong ya. Dia semakin deg-deg serrrr karena uangnya terpakai demi kepuasaan batin istrinya yang doyan nyemil gak jelas ini. Ditambah lagi dimana rasa kasih sayang gue terhadap diri gue sendiri. Nyaman memangnya melihat kaki penuh luka akibat digaruk-garuk karena memenuhi hasrat untuk mendapat diskon besar?

 

Betapa ketiga piranti ini menjadi sangat penting dalam kehidupan kita, tidak dapat dipisahkan ataupun bekerja sendiri-sendiri. Ketika ada orang yang hanya mengandalkan keinginan yang kuat dan berdaya nalar tapi tidak punya hati nurani, maka orang ini akan menjadi koruptor, maling, copet, tukang boong, tukang tipu – karena segala cara disahkan aja buat orang ini. Lalu, ketika ada orang yang punya kehendak kuat dan berhati nurani, maka orang ini bakalan capek sendiri. Sering banget terkuras energinya karena tidak cukup pintar untuk menemukan solusi. Dan yang terakhir, ketika ada orang yang hanya punya nalar dan berhati nurani, akhirnya tumbuh jadi orang yang frustrasi karena gak cukup gigih untuk menyelesaikan masalah-masalah hidupnya.


Jadi kebayang ya hubungan Nalar, Kehendak dan Hati Nurani ini. Mereka bertiga itu sudah seperti semacam sohib – sohiiiib, angkatannya ketauan banget yeeee – dari sejak lahir, mungkin. Dan ketiganya ini perlu banget diasah di dalam diri kita maupun anak-anak kita. Untuk hal kecil semacam promo online aja gue bisa – aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi – gitu, apalagi anak-anak yang masih belum mengerti banyak di kehidupan mereka. Tentu ini jadi tugas kita sebagai orang tua ya untuk membantu mereka melatih ketiga piranti ini. Bukan hanya mereka, kita pun juga perlu dilatih. Supaya tidak ada lagi korban-korban promo diskonan makanan seperti gue. #eh



Monday, July 19, 2021

8:38 PM

Perjalanan 14 Hari

Perjalanan 14 Hari

Selama 14 hari kami menjalankan isolasi mandiri di unit apartemen kami. Pilihan untuk melaporkan diri ke pihak RT dan pengelola setempat kami lakukan semata demi kepentingan bersama. Bagaimana tidak? Kami tinggal bersama dengan ratusan, mungkin ribuan, manusia dalam satu lingkungan apartemen yang cukup ramai dalam kesehariannya. Bisa saja kami egois untuk tidak melaporkan kondisi kami yang terkena virus corona – sempat terlintas siiiiih #ups – dan berkeliaran kemana-mana tanpa diketahui oleh orang-orang sekitar yang berada satu lift dengan kami, memencet tombol, berdiri bersebelahan ataupun mengobrol dekat-dekat dengan kami tanpa mereka tahu bahwa kami ini sudah terjangkit virus yang lagi hype. Tapi kami dengan sadar memilih untuk tidak seperti itu – karena kami adalah keluarga yang baiiiik #senyum sampai matanya sipiiiittt….

 

Meskipun pada kenyataannya, hidup kami langsung seperti menjadi tahanan rumah. Hahaha. Bayangkan selama 2 minggu kami mendekam manis di dalam unit tanpa diperbolehkan keluar dari pintu. Membuka pintu depan hanya untuk menerima paket dan dilarang mengeluarkan barang-barang kecuali sampah. Jangankan kepala yang nongol, nafas aja takut-takut kalau buka pintu tuh, serius! Berasa nafasnya kaya nafas naga, ada apinya. Bikin siapa aja yang mau lewat takut kena nafas kami. Lebay banget yaaa :D

 

Nah karena sudah melewati 14 hari, waktunya kami cerita ngapain aja selama kami ber-isoman ria ya.

 

Apa yang terjadi dengan kami?

 

Di hari pertama sampai hari ke 7 adalah hari-hari dimana keadaan gak enak banget. Meskipun kami ini termasuk yang bergejala ringan, tapi seringan-ringannya tetep yang paling dirasa adalah lemas dan males mau ngapa-ngapain. Diantara kami bertiga, CT gue paling tinggi – angkanya 33. Si Babeh terendah, 21 dan si Boy adalah 29. Kalau menurut sepupu dari pihak si Babeh, gue adalah si ulat bulu. Maksudnya gimana? Gue lah si pembawa virus, karena CT gue paling tinggi. Wkwkwkwkwk. Yah seperti yang gue cerita di blog gue sebelumnya, gue sendiri gak tau darimana virus ini berasal. Gue hanya kira-kira, tapi bisa jadi ya karena nafsunya gue kepengen makan martabak. :P Eh tapi ini mungkin hanya mitos ya, mitos ulat bulu. Aselinya benar atau gak, gue kaga tauuu. :D

 

Gejala yang pertama gue rasa adalah tenggorokan seperti ada pasirnya gitu, lalu di hari kedua mulai muncul pilek dengan batuk dikit-dikit. Hari kedua ini gue sempet agak sumeng tapi gak tinggi, sekitar 37 koma-koma, gak inget. Di hari ketiga gue mulai gak bisa tidur, hidung rasanya sakit banget pas dipakai buat nafas – ya dipakai buat apalagi selain buat nafas yeeee. Padahal sepanjang hari ketiga itu hidung rasanya seperti keran, sering banget ingusnya keluar. Hari keempat, mulai ada batuk dan pileknya mendadak gak terlalu banyak. Nah di hari keempat ini karena hasil PCR juga sudah keluar dan dinyatakan positif, plus sudah konsultasi dengan dokter online, gue akhirnya dapat obat pilek. Barulah malam itu gue bisa tidur nyenyak dengan bantuan obat pilek itu. Rasanya langsung seperti sleeping beauty #etdaah. Padahal hari-hari sebelumnya lebih berasa mirip satpam. Maklumlah ya naluri emak-emak nongol kalau anak dan suami sakit, pasti tidur kebangun-bangun mulu meyakinkan mereka gak kenapa-napa. Pada gitu gak sih yang udah jadi emak-emak?

 

Hari kelima, karena sudah ada obat tidur #eh obat pilek maksudnya, gue pun nenggak obat itu lagi setelah sarapan dan sepanjang hari bawaannya kepengen bobo syantik syalala gitu loh. Mata susah banget diajak melek. Lalu, begitu berhasil melawan hasrat mau tidur lagi,eh lihat piring di tempat cucian numpuk banyak, belum ada makan siang, nasi pun belum ada di rice cooker, sedangkan si dua cowok ini malah asyik-asyikkan aja nonton depan TV. Seketika tanduk gue nongol dan merepetlah gue macam rapper. Jangan pernah remehin emak-emak ngefly karena obat pilek dan bangun karena kelaparan ya, horror!! Hahahaha.

 

Gejala di Mas Boy sendiri malah agak aneh, menurut gue sebagai emaknya. Di hari pertama, dia demam dan nangis-nangis karena gak bisa terima kenyataan kenapa sampai kena Covid 19. Biar dikata dah lebih tinggi dari gue, muka dah kaya anak abegeh, kelakuan mah tetep bocah. Syukurnya dia bisa terima setelah diajak ngobrol dan didiemin aja biar mikir. :D Tapi setelah demam di hari pertama, doi gak merasakan demam lagi. Hanya sempat sumeng di hari ketiga aja dan tidak muncul lagi besok-besoknya. Batuk pilek iya, tapi cepat banget hilangnya. Paling terasa di anak ini adalah radang tenggorokan, begitu menelan rasanya sakit banget. Plus sariawan yang besar di dinding mulut bagian kiri. Ya ampun, sensi banget sepanjang hari itu. Minim ngomong, tapi sekali ngomong kaya pengen ditelen balik masuk perut gue. Nyebelin banget pokoknya nih anak deh begitu duet sariawan dan radang tenggorokan melanda.

 

Beda lagi dengan gejala yang terjadi di Babeh. Batuk 3 hari pertama, hari keempat kepala pusing berat sampai muntah segala, hari kelima hilang penciuman, tapi di hari keenam dia sudah membaik banget. Si Babeh ini dinyatakan positif dari hasil PCR ketika hilang penciuman itu. Malamnya langsung diarahkan ke dokter yang dipakai oleh om tante gue yang saat itu juga tengah terserang Covid berjamaah seminggu sebelum kami. Berhubung dokter ini prakteknya tengah malam, jadilah malam itu si Babeh berjuang setengah mati menyetir motornya – maklum ya, tinggal di apartemen sejuta umat itu susah banget keluar parkir mobil malam-malam – dengan kesadaran yang sudah setengah-setengah itu. Gue sempet jiper juga dia kenapa-napa di jalan, tapi syukurlah masih bisa gue cium-ciumin sampai hari ini. Jadi, setelah ke dokter dan mendapat obat yang jumlahnya gak kira-kira itu, doski lah yang termasuk cukup cepat fit-nya dibanding gue dan Mas Boy.

 

Oiya, soal indera penciuman dan indera perasa, si Babeh yang paling lama mengalami hilang dua indera ini dibanding gue dan si Boy. Malah kalau boleh dibilang si Boy itu tidak mengalami sama sekali. Gue sempat dua-tiga hari mengalaminya. Aseli ya, rasanya makan gak enak banget. Makanan rasanya dominan asin, sebel banget deh karena gue gak suka asin.

 

Meskipun kami dalam kondisi tidak nyaman ini, hilang penciuman, hilang rasa, sariawan gede di dinding mulut, pilek, batuk dan lemas, ada satu yang sama. Biar dikata makanan rasanya amburadul di mulut, tetep loh kami masih punya nafsu makan yang besar. Hahahahaha. Perut serasa gak ada dasarnya, bawaannya lapar terus. Apa aja yang dikirim, dimasak, ada di depan mata, semua habis dalam sekejab. Ya ampun, macam gak makan berhari-hari. Pokoknya gak ada tuh yang namanya hilang nafsu makan, yang ada justru kelaparan melulu. Bersyukur sih kami masih diberikan kemudahan dalam makan.

 

Masuk minggu berikutnya, hari ke 8 sampai hari ke 14. Dimana hari-hari sudah lebih kuat, tidak ada lagi lemas yang maunya bobo-an syantik syalala gitu.  Setiap pagi selalu diawali dengan antusias yang tinggi, dengan segudang jadwal mau ini, mau itu. Pada kenyataannya, baru aja cuci-cuci sayur dan mau potong wortel, eh badan mendadak berasa capek banget. Langsung potong wortel sambil duduk gelosoran di lantai. Gitu juga kalau mau masak macem-macem, persiapannya harus disisipin dengan istirahat sebentar dulu baru bisa lanjut mengerjakan lainnya. Cuci baju dan pakaian dalam yang dikit aja berasa capek, jadi gak berani mau cuci baju sering-sering – Ah, ini sih emang disinyalir karena kemalasan bukan karena kelemesan. :D

 

Aktivitas pun masih seputar nonton – makan – leyeh-leyeh di kasur dan berulang. Begitu aja setiap harinya. Kalau makan ya jangan ditanya kan ya, tetep dengan nafsu besar. Selain itu, jangan diajak mikir berat deh. Lemot banget rasanya, susah banget diajak konsentrasi. Tapi syukurlah di minggu ini sudah agak mencair otaknya. #eh :D

 

Pelan tapi pasti kekuatan badan dan pikiran sudah berangsur-angsur menuju membaik di minggu kedua pasca pemulihan ini. Di samping itu yang gue sadari lagi adalah bagaimana keluarga dan teman sungguh sangat membantu. Paling terasa di sakit seperti ini yang sepertinya gak kelar-kelar – gue termasuk yang jarang sakit soalnya, jadi begitu sakit trus gak sehat-sehat tuh capek banget buat gue – gue jadi kangen berat dengan bokap dong. Gue kangen dengan segala bentuk perhatiannya. Gue yakin ya kalau sekarang masih ada, bokap pasti akan telepon gue berkali-kali menanyakan keadaan gue, mencarikan obat yang susah dicari kemarin itu, memastikan gue makan, memastikan gue istirahat, memastikan apa yang gue butuh dan mencarikannya sampai gue terima. Gue yakin ini.

 

Namun gue sungguh bersyukur sih, semesta seperti mengirimkan bokap melalui perpanjangan tangan dari saudara dan sepupu serta teman-teman yang baiknya ampun-ampun ke kami. Ada satu kakak tertua dari bokap yang bisa dibilang hampir setiap hari menelpon kami menanyakan keadaan kami, apakah kami makin membaik, ada gejala apa dan bagaimana perkembangannya. Ya ampun, ketika mendengar suaranya pun rasanya seperti mendapati bokap yang sedang berbicara dengan gue, suaranya pun hampir mirip – atau jangan-jangan saking kangennya gue jadi halu dengarnya mirip. Kangen tuh sampe segininya ya, bikin nyes di hati dan bikin mata ngembeng. Beneran ya, covid ini menjadikan keluarga dan teman seperti dekat di hati. Begitu terasa dan nyata perhatian dan supportnya mereka untuk kami. Bersyukur kami dikelilingi orang-orang terbaik, tersayang dan terberkati.

 

Jadi selama dua minggu ini apa saja yang kami lakukan?

 

Ya seperti tadi yang sudah disebutkan, setiap pagi segudang jadwal sudah direncanakan, tapi kenyataannya ya bubar jalan. Dengan alasan lemah badan dan lemah otak tadi – bilang aja males yaaa, kami memilih menjalani hari tanpa jadwal di setiap harinya. Kami lepaskan segala beban pikiran dan menikmati hari dari waktu ke waktu. Tidak mikir apa-apa selain menyenangkan hati dan pikiran, relaksasi tanpa henti judulnya deh. Just enjoy the days without any schedule.

 

Tapi gak mudah juga sih menjalani hari tanpa beban pikiran dimana belakangan ini berita yang mengarah ke negatif berseliweran di dunia maya. Lagi-lagi sih ya, ini semua kan pilihan ya. Kita sendiri yang paham dengan diri kita sendiri ini mudah termakan atau tidak dengan hal-hal seperti itu. Kalau gue pribadi sih memang sejak awal pandemi sudah memutuskan untuk tidak mau terpengaruh dan tidak pernah mau mengikuti berita-berita seperti itu. Jadi mau seperti apapun beritanya, gue memilih untuk tidak mendengar. Terserah apa kata orang ya, tapi gue memilih untuk seperti itu. Bukan karena parno juga, tapi untuk apa membuang energi untuk sesuatu yang bikin imunitas kita melemah kan?

 

Lain halnya dengan si Babeh, doi sangat menikmati isomannya ini dengan teman-temannya yang aseli super abis deh. Super tenaganya, karena ditengah kerja mereka bisa dong sempatin waktu ber-VC (video call) ria yang gak cuma sekali, tapi 3x – makan obat aja kalah, boooo. Super berisik, ternyata bapak-bapak kalau udah VCan itu gosipan juga kaya emak-emak, tapi dengan suara bass, bukan suara cemprengnya ala emak-emak. Super cepat, begitu kami gak dapat obat, dalam sejam obat sudah hadir di unit kami. Luar biasa banget emang bapack-bapack itu yaaaa. Salut!

 

Selanjutnya, mau cerita apa yang kami konsumsi selama dua minggu ini. Masih tetap bertahan kan baca ceritanya? Hihihii

 

Sebelum kami dinyatakan positif dan harus isoman, kami sebetulnya sudah menyiapkan diri untuk tidak keluar rumah selama seminggu. Ceritanya mau menikmati liburan setelah selesai dengan PO makanan kami. Eh ternyata malah beneran harus isoman karena positif. Jadi, kami sudah menyiapkan beberapa hal seperti belanja sayur online, telur 2 tray, buah-buahan, air isi ulang 4 galon dan beberapa vitamin yang memang kami beli. Lalu, begitu gejala semakin jelas dan memutuskan tidak jadi mengirim paket-paket makanan kami, semakin terasa bahwa kami seperti sedang menyiapkan diri untuk isoman. Isian kulkas dan kebutuhan rasanya cukup lah untuk isoman kami. Besok-besok jangan suka bikin rencana aneh-aneh deh ya. Kalau bagus hasilnya, lah kalau jadinya liburan ala isoman gini mah gak keren dah.

 

Nah sepanjang isoman ini kami berusaha banget masak. Gejala kami ini hampir serupa sedang terkena radang tenggorokan, batuk dan pilek tapi versi dua kali lipat lebih berat dari biasanya, maka sangat nyaman banget ketika makanan yang kami asup adalah makanan berupa kuah-kuahan dan tumis-tumisan. Tentu sebisa mungkin kami mengurangi sesuatu yang berminyak, goreng-gorengan dan juga makanan pedas, tujuannya ya supaya tidak memicu virusnya tetap bersarang di tubuh.  Namun ya beberapa kali kalau kami dikirimi makanan yang gorengan dan karbo banget, kami makan juga. Ya namanya kelaparan terus, apa juga masuk ke perut. Nothing left behind, prinsipnya gitu emang! Hohohoho.

 

Ditambah lagi asupan lainnya berupa jus sayur dan buah yang kami konsumsi hampir setiap hari, jamu empon-empon ala Pak Jokowi yang bahan-bahannya jahe, kunyit, temulawak, secang, sereh dan gula jawa yang langsung dikirim oleh teman kami di komunitas, buah-buahan seperti apel, kiwi, melon, semangka, buah naga, pepaya, pisang dan nanas sebagai snack ketika lapar mendadak, rebusan obat tradisional Cina yang bahannya dikirim oleh temannya si Babeh – duh jangan tanya rasanya pahit banget, air kelapa ijo yang mampu bikin adem badan yang dikirim oleh adik kandungnya bokap – terasa banget seperti bokap deh ini, dan terakhir adalah minum vitamin yang kami terima beberapa juga dari teman-teman kami.

 

Berhubung kami ini tidak boleh keluar dari unit, jadilah untuk mendapatkan sinar matahari, kami hanya bisa berjemur sebentar di balkon yang ukurannya seuprit alias mini. Ini pun harus kejar-kejaran dengan waktu. Ya syukurnya masih sempat berjemur meski dalam 14 hari hanya dua kali aja sih yang beneran jemur. Dibalik lemas ada rasa malas. :P

 

Begitulah hari-hari yang kami lalui selama 14 hari kami isolasi mandiri. Dan selama 14 hari juga kami mengalami banyak kabar menyedihkan yang tentu tidak dapat kami hindari dan sedikit banyak mempengaruhi kami. Beberapa teman  yang kami kenal dan pernah dekat, serta saudara yang harus berjuang dengan virus yang sama dengan kami tapi dengan kondisi yang berbeda dan tidak dapat bertahan sehingga harus meninggalkan kami. Sungguh ironi perjalanan pandemi dan virus ini.

 

Virus ini bukan untuk ditakuti dan dihindari, karena sejujurnya mau sampai kapanpun kita akan terus hidup berdampingan dengan Covid 19 dan suatu waktu pasti akan terkena. Namun kita perlu bijak dalam menghadapinya. Kenali diri kita sendiri seperti apa. Apakah ada penyakit bawaan (komorbid) yang kita derita? Jika ada, apa yang harus dilakukan dengan penyakit bawaan kita ini, sehingga nanti begitu terjangkit virus Covid 19 kita sudah lebih siap menghadapinya. Memang mudah untuk dijelaskan tapi susah dijalankan ketika virus ini menghinggapi kita. Tapi setidaknya, dengan kita paham dengan diri kita sendiri, kita jadi paham apa yang dibutuhkan oleh diri kita.

 

Selain itu, di saat yang genting seperti ini dimana oksigen susah dicari, rumah sakit penuh dimana-mana, dan pertolongan susah didapatkan, kenali lingkungan sekitar kita. Berakrab-akrab ria-lah dengan tetangga, berhubungan baiklah dengan ketua RT setempat, kumpulkanlah informasi sebanyak-banyaknya tentang lingkungan kita. Siapa lagi yang mampu menolong kita selain orang yang tinggal berdekatan dengan kita sewaktu-waktu kita memerlukannya.

 

Dan yang terakhir, hiduplah dengan sehat. Karena kita tidak tahu kapan virus ini mendekat dan seberapa siap badan kita menerima virus ini. Jadi, perbanyak asupan yang sehat untuk jiwa maupun raga, untuk badan dan juga untuk pikiran kita.

 

Semangat bagi yang sedang menjalani hari-hari isoman dan juga yang sedang berjuang menghadapi Covid 19. Kami bisa, kalian pun juga pasti bisa.