09.17 - Lievell

Friday, September 15, 2017

7:52 AM

Kenapa sih?

Kenapa sih?
Kenapa sih gue sering tulis dan posting di sosmed tentang pendidikan, parenting dan edukasi diri sendiri sekarang ini?

Karena gue merasa, gue bukan orang baik untuk diri gue sendiri. Makdarit...maka dari itu...gue merasa sangat bertanggung jawab untuk 'benerin' diri gue sendiri dulu, baru bisa menjadi orang tua yang baik buat si Boy. 

Pernah gak sadari kalau hidup kita sekarang ini penuh dengan ketakutan, kegalauan, resah, banyak masalah dan jadinya sering marah-marah, parahnya lagi jadi suka bersinggungan dengan orang-orang sekitar?
Ya kalau ada yang gak seperti itu artinya udah keren banget penguasaan dirinya. Bravo!!

Gue sendiri adalah orang yang merasa semakin tua kok masalah semakin banyak. Bener sih kalau orang bilang, "ya iyalah, namanya juga hidup masalah ya pasti selalu ada." Tapi kok setiap masalah berasanya bukannya kelar, tapi malah jadi bergulung menjadi bola salju yang siap menggelinding dan mejretin kita. Alias, kalau gak diselesaikan masalahnya, ya masalah akan jadi tambah besar....besar...dan besar...lalu menimpa kita dan menjadikan kita merasa yang paling tertindas lah, paling merasa menderita lah. Ujung-ujungnya frustasi.

Ughh....jangan ditanya berapa kali dalam hidup ini gue merasa frustasi menghadapi masalah. Bisanya ngeluh, marah-marah, nangis dan ujung-ujungnya jadi dendam. Dendam sama masalah yang ada.

Nah karena sering seperti inilah, gue merasa yang salah sepertinya bukan orang di luar gue deh. Justru gue merasa yang salah adalah diri gue sendiri. Jadi yang perlu diperbaiki ya diri gue sendiri. 

Mulailah perjalanan gue dari level yang paling bawah. Level dimana kondisi diri gue sudah sampai tengkurep, lemas tak berdaya, gak tau mau ngapain lagi. Kondisi paling terparah sepanjang hidup. 

Pernah gak merasakan hanya punya uang tinggal 100 ribu dalam kondisi sudah berkeluarga dan hutang dimana-mana?
Kami pernah!

Ini yang kami sebut adalah kondisi paling terparah sepanjang hidup berkeluarga kami. Dimana uang ditangan hanya tinggal 100 ribu dan kami gak tau harus kerjain apa. Otaknya buntu untuk mikir. Sedangkan hutang dimana-mana. Hutang dengan saudara, hutang dengan bank, hutang dengan semua pihak yang baik hatinya. Banyaak deh. Dan jangan ditanya berapa kali kami didatangin debt collector yang tau-tau nongol di depan rumah disaat kami mau antar si Boy les. Jadi ya cuma bisa ngintip dari dalam rumah dan nungguin si debt collector pergi. Hihihi....main kucing-kucingan.

Jangan ditanya pula bagaimana kondisi psikologis gue dengan si Mas Bro, yayank gue atu-atunya itu. Bisanya cuma ngeluh, nangis gak karuan, marah-marah, ngajakin doi berantem. Dimana saban kali berantem sama doi, si Boy kerjanya tutup kuping. Huhuhu....bad parents banget ini iiih. 

Ternyata, pelajarannya datang dari situ. 

Level pertama yang harus gue lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masalah yang ada. Terima apa yang terjadi saat itu. Sadari kalau memang masalah ada. Terima dan sadari bukan berarti hanya di mulut aja loh, tapi bener-bener sampai ke alam bawah sadar bahwa ya benar saya menerima kondisi saya saat ini. Gak iri dengan rumput sebelah yang lebih hijau. Kalau bagian nerima sudah selesai, biasanya jalan pelan-pelan akan terbuka.

Level pertama kelar, saatnya berdamai dengan si Mas Bro. Ternyata kerukunan dalam rumah tangga itu sangat...sangattt diperlukan. Selama ini kerjanya kompleeeen terus, marah-marah terus, ngegerendeng teruuus minta si Mas Bro berubah. Oalaaah, ternyata yaaa yang harus berubah tuh ya gue!! Hellowww...selama ini gue kemana ajaaa...#jedotindirisendiri. 

Mulai lah level kedua...memperbaiki hubungan dengan yayank gue sehidup semati ini....Mulai bisa nerima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dulu kan hanya nerima kelebihan berat badannya aja yaaa....sekarang sudah bisa nerima segala kekurangannya. Kekurangan yang ternyata dilihat dari kacamata kita loh. 

Sudah kompak, sudah terima, sudah sering berpelukan ketimbang berantem...pelan-pelan jalan terbuka...

Pengalaman pegang uang hanya 100ribu gak dialami sekali dua kali loh, seriiing! Hahahaha
Dan hebatnya, mujizat selalu ada. Tiba-tiba aja datang gak terduga. Tau-tau dapet project 100 paket untuk baby new born yang minta dibikinin dalam 1 minggu harus kelar. Tau-tau dapet project dekorasiin rumah temen karena baru pindahan. Yang artinya bisa ke pasar untuk seminggu ke depan. 
Oalaaahh.....pertolonganNya tidak pernah terlambat.

Masalah-masalah ya selalu datang, setiap selesai dengan satu masalah yang ada, pasti akan datang masalah baru. Biasanya adalah masalah dimana kita sebenarnya bermasalah dengan karakter kita dan diminta untuk menyadari dan mau berubah untuk menjadi karakter yang lebih baik dari diri kita sendiri. Kalau datang masalah yang sama, artinya ya belum kelar dengan masalah sebelumnya dan karakter kita belum banyak berubah.

Pernah juga ada di masa karakter gue dibentuk melalui pertemanan yang sudah terjalin beberapa waktu. Bisa banget di setiap geng, komunitas ataupun kelompok gue bersinggungan dengan orang-orang di dalamnya. Disini gue banyak belajar banget untuk bisa menyadari karakter jelek gue yang sudah seharusnya dirubah. Ini sangat dibutuhkan kelegowoan hati untuk mau dibentuk karakter kita oleh alam yang diwujudkan dari orang-orang sekitar. 

Meskipun sampai sekarang, dan mungkin akan seterusnya, gue masih harus banyak diasah oleh alam dalam berkarakter di pertemanan. Tapi gue yakin, semakin kesini gue bisa jauh lebih baik. Semakin menyadari, semakin bisa tulus dan iklas untuk menerima masalah yang ada dan siap untuk mengucap maaf untuk sesuatu yang mungkin gak salah. Tapi setidaknya kelegaan sudah ada di dalam hati.

Bener banget gue memilih jalur Homeschooling saat ini. Ternyata bukan hanya anak aja yang perlu belajar. Biangnya juga! :D

Homeschooling ini justru pembelajaran orang tua untuk gak mikir orang tua yang paling benar, orang tua yang paling tahu segalanya. Orang tua yang perlu belajar. Dan ternyata benar, belajar itu bukan hanya dari sekolah aja dan bukan berhenti setelah selesai kita lulus kuliah, selesai ketika melahirkan. Justru setelah melahirkan ini lah, pembelajaran menjadi orang tua dimulai dan gak akan selesai sampai maut datang. Dan HS pulalah yang banyak merubah gue menjadi orang tua yang mau belajar. Belajar untuk mendengar diri sendiri, belajar menjadi teman hidup yang bener buat Mas Bro, dan pastinya terus menjadi orang tua yang baik buat Mas Boy. 

Inilah kenapa saat ini gue sangat concern banget dengan ketiga hal tadi. Edukasi diri sendiri, Parenting dan Pendidikan. Tanpa ada kesadaran dari diri sendiri, gue gak akan bisa menjadi orang tua yang baik. Ini aja kadang masih bablas dan masih banyak belajar dari kanan kiri atas bawah depan belakang dengan orang-orang yang lebih humble dan lebih bisa menguasai diri. Bersyukur aja semakin kesini jalan itu semakin dilapangkan oleh semesta. Banyak jalan dengan diketemukan dengna orang-orang humble yang siap membagi ilmunya ke kami.

Puji Tuhan, masalah pelan-pelan selesai. Hutang-hutang sudah dapat dibayarkan. Hubungan kami bertiga jauh lebih baik ketimbang dulu. Hubungan dengan keluarga juga jauh lebih baik. Sebisa mungkin kami menjaga diri dalam berbicara dan berperilaku dalam berhubungan dengan teman atau sahabat. Dan yang pastinya menerima kondisi kami saat ini. 

Terima kasih untuk segala hal yang terjadi...

Saturday, September 9, 2017

7:43 PM

5 hari di Semarang

5 hari di Semarang

Rapat Nasional
Perserikatan Homeschooler Indonesia
17 - 21 Agustus 2017


Libur panjang di hari Kemerdekaan Indonesia kali ini, gue dan Mas Boy berkesempatan ngebolang ke daerah Semarang. Ini kali pertamanya buat gue pergi ke luar kota berdua aja sama si Boy, dan ini kali pertamanya juga naik kereta ekonomi keluar kota. Untungnya aja ada Mak Anet yang mau dirempongin sama gue. Padahal yaa, harusnya gue yang dirempongin sama doi karena lagi hamil besar, ini malah gue yang rempongin doi. Hihihihi.


Dengan gembolan kanan kiri depan belakang, kami sampai di Stasiun Senen sore itu. Dalam bayangan, stasiun Senen ini menyeramkan, penuh asap rokok, desak2an, rebutan kursi dan segala yang gak asik yang suka ditonton di tipi kalau jelang Lebaran. Eh nyatanya, jauuuuh banget. Antrian rapi, regulasi teratur, penumpang gak desak-desakan. Seneng juga yaa kalau ternyata transportasi umum sekarang udah cakep banget.


Perjalanan kami dimulai dari Jakarta menuju Semarang, estimasi waktu 6,5 jam perjalanan. Kursi yang agak tegak buat kami susah untuk bobo-bobo cantik. Akhirnya kami mengisi waktu dengan ngobrol bareng, cemal cemil bareng dan makan malam bareng. Tapi baru setengah perjalanan si Boy mulai komplen bosen. Harusnya sih perjalanan ngebolang kali ini ada Domi juga yang ikut, tapi karena doi harus tanding futsal akhirnya terpaksa batal ikut. Jadilah si Boy colak colek emaknya buat ngajakin main. Main suit kampung udah, suit internasional udah, main segala permaian jari-jari pun juga udah, tetep aja yaa rasanya lamaaaa beuuut gak sampe-sampe. Dan berakhir dengan bobo manis di bahu emaknya setengah jam sebelum kereta sampai di Semarang jam 10an malam.


Begitu sampai Semarang, kami langsung ke venue untuk rapat PHI besok paginya. Kami menginap di Achteruis Guest House. Tempatnya cukup nyaman untuk menginap.


Paginya kami bangun cukup pagi dan memilih untuk jalan kaki menikmati Kota Tua. Kebetulan sekali kami menginap di daerah itu. Banyak sekali bangunan-bangunan tua yang cakep-cakep. Jepret sana sini. Berasa kaya di Kota Tua Jakarta. Dan berakhir di warung kecil menikmati soto ayam yang endessss dan murah banget. Untuk dua porsi soto ayam, 3 gorengan, 2 teh manis hangat dihargai 18rebu doang!! Wuiiiihhh.... Dimana si Boy menikmati nasi goreng Pak Karmin yang harganya 13rebu. Hahahahha....lebih dari makan emaknya dan si tante Anet.


Tujuan utama kami ke Semarang ini adalah mengikuti Rapat Nasional Perserikatan Homeschooler Indonesia, yang mana pesertanya adalah koordinator-koordinator simpul dari berbagai wilayah di beberapa daerah di Indonesia dan juga Tim Inti. Kebetulan yang gak disengaja, gue termasuk salah satu koorsim daerah Jakarta Barat. Jadilah gue berada di Semarang bareng dengan 25 orang lainnya dari penjuru wilayah ini untuk mengikuti rapat selama 3 hari ke depan.

Di rapat hari pertama, kami diajak untuk saling mengenalkan diri, dan menceritakan kenapa kami memilih homeschool dan apa motivasi kami memilih homeschool. Jadilah di hari pertama ini kami banyak curcol tentang perjalanan HS kami. Lalu dilanjut oleh Yvonne, sang fasilitator, untuk melihat lebih dalam visi dan misi kami dalam menjalankan HS kami. Kami diajak untuk menyelam lebih jauh untuk menganalisis semua kendala dan diskriminasi yang dialami oleh HSers.

Rapat berakhir cukup malam, kepala rasanya sudah berasap di hari pertama. Hihihhi. Macam pejabat DPR aja ini rapat seharian. :P


Rapat di hari kedua lebih seru lagi. Kami diajak untuk membongkar paradigma dalam melihat problem sosial yang dihadapi dalam perjalanan HS masing-masing. Paradigma seperti apa yang kami pegang. Liberalkah? Konservatifkah? atau Kritis?

Rapatpun sempat memanas karena adu pendapat dalam menentukan visi. Rapat yang harusnya ditutup pukul 6 sore dan dilanjutkan jalan-jalan bersama terpaksa batal, karena masih belum ketemu titik terang visi seperti apa yang kami mau. Jadilah kami jalan-jalan singkat aja dengan makan malam di Nasi Goreng Gongso Pak Karmin dekat hotel. Rapat pun dilanjutkan kembali dan selesai pukul 10 malam.


Hari ketiga, kami banyak membahas Anggaran Dasar dan Rencana Program Kerja PHI selama 4 tahun ke depan. Rapat di hari ketiga ini selesai setelah makan siang.

Lalu kemana si Boy selama sepanjang rapat 3 hari berturut-turut?


Justru doi dan anak-anak lainnya lah yang paling menikmati ngebolang di Semarang ini. Mereka tour ke Kota Tua, perpustakaan, museum dan Simpang Lima. Bahagia luar biasa mereka ini menikmati jalan-jalan bersama ditemani sama Tante Nuni, ibunya Kiran. Bikin iri ajaa, rasanya pingin ikutan!! :D


Setelah selesai rapat di hari ketiga, rombongan gue-Mas Boy, Anet dan keluarga Kiran pindah lokasi menginap ke daerah rumah kakak Ellen. Dan malam itu kami diajak jalan-jalan ke Klenteng Tay Kak Sie dan Warung Semawis. Di klenteng, kami banyak tour gratis dari Kak Ellen yang memang lagi mempelajari semua hal yang berhubungan dengan klenteng ini. Salut lah pokoknya sama beliau. Hebat banget deh ihh. *lope-lope-lope*


Kalau di Warung Semawis sih gak lain gak bukan ya kami makan-makan aja. Menikmati liburan di hari terakhir dengan kulineran sambil ngobrol singkat tentang kurikulum Charlotte Mason. Sayang, waktunya sangat terbatas banget, kami ngobrol gak tuntas karena udah kemaleman banget. Dan besok paginya kami sudah harus sampai di stasiun Tawang pukul 7 pagi.


Dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Jakarta, gue banyak ngbrl sama Anet sambil melihat hamparan padi, laut dan gunung. Rasanya hati adem, mata terbuka dan pastinya pulang dengan semangat 45 untuk menjalani homeschool kami.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan 5 hari kami di Semarang.