04.22 - Lievell

Thursday, April 28, 2022

9:05 PM

Kejadian Centil di Bulan April

Kejadian Centil di Bulan April

Bulan April ini sesuatu banget


Dimulai dari rencana ke Bandung yang tertunda. Supposed to be kita pergi ke Bandung di akhir bulan Maret, bertepatan dengan ulang tahunnya Mas Boy. Tapi setelah hasil pertimbangan yang sudah dibahas bareng, akhirnya jalan-jalan ke Bandung ditunda setelah puasa aja. Pertimbangannya begini; kebetulan sekali keberangkatan kita ini pas banget dengan seminggu sebelum puasa dan akhir bulan. Perkiraannya Bandung bakalan rame dengan orang yang sudah gajian dan kepengen hepi-hepi sebelum mulai puasa. Jadi, fix deh diputuskan mundur ke minggu kedua puasa.


Senin, 4 April...

Hari itu gue ada trial anak les di daerah Jatinegara. Gue dianter Ali dan Mas Boy yang ternyata mau ikutan juga. Baru aja keluar belok kiri dari kawasan apartemen, keadaannya sudah macet. Itu sekitar jam 8 pagi. Karena ini adalah lokasi baru, Ali minta Mas Boy yang kebetulan duduk di sebelah untuk mencarikan rute ke sana. Dalam hitungan detik, buk! Bemper depan Mister POO ciuman dengan sebuah mobil di depannya. Saat itu gue mencoba santai, meskipun rada kesel juga Ali kurang hati-hati.


Singkat cerita, Ali dan yang punya mobil janjian untuk membereskan ini setelah urusan kerjaan gue selesai. Gue pun diantar ke Jatinegara dan bertemu dengan anak les terkecil yang pernah gue ajar, 19 bulan aja bok! 😁😁Sekelar gue dengan urusan anak les, Ali pergi bertemu dengan pemilik mobil ini, sambil berharap semua akan beres baik-baik aja.


Begitu pulang sorenya, Ali cerita kalau yang datang bukan suaminya yang tadi pagi ditemui melainkan istrinya yang cukup merepotkan. Mulai dari asuransi mobilnya yang sudah habis, pilihan bengkel yang dimau sampai minta dibayarkan biaya harian ketika mobil di bengkel. Wah. Cukup bikin pening juga ini. Tapi di balik kesulitan yang dibuat-buat oleh si ibu ini, kita cukup merasa beruntung juga sih. Ketika dia bilang kalau asuransi mobilnya habis, ada asuransi mobil kita yang bisa mengganti biaya perbaikan mobilnya itu. Namun sayangnya bengkel yang diminta si ibu ini tidak termasuk dalam list asuransi kita. Lagi-lagi masih diberi kemudahan oleh semesta, asuransi mobil kita bisa pakai sistem reimbursement.


Tapi untuk hal terakhir yang diminta oleh si ibu yang ber-ras sama dengan kita ini bikin spaneng. Sempat juga jadi bahan kekesalan gue ke babang. Tapi setelah gue sadari memang bapak-bapak gak pernah menang kalau lawan ibu-ibu. Jadi dengan kesadaran penuh, gue perlu turun melawan si ibu ini. Tentunya dengan persiapan peluru yang mapan dong sebelum perang. Gue konsultasi dulu dengan seorang teman yang paham banget soal hukum, bahkan darinya gue diajari bagaimana menghadapi si ibu ini. Oke, baiklah, gue siap maju perang.


Begitu besoknya gue harus berhadapan dengan si ibu ini, dengan standar muka gue ini gue maju. Mas Boy selalu bilang muka gue tuh songong kaya mau ngajakin berantem kalau ngadepin ibu-ibu rese begini, dan iya gue pasang settingan muka seperti itu, tapi tentunya gak pakai nada tinggi ya. Adu argumen biasa aja sih.  Tanpa disangka dengan membawa undang-undang lalu lintas yang gue singgung-singgung itu si ibu ini tidak mau lanjut minta dibayarin transportasi harian. Karena kalau sampai lanjut dan berujung ke polisi, gue juga yang mengkeret sih. πŸ˜‹πŸ˜‹


Dan perkara mobil ini pun beres sebelum kita pergi ke Bandung. Tentu diakhiri dengan minta maaf ya ke si ibu ini, dan berusaha menjaga hubungan kembali baik. Sesaat gue merasa menang atas kendali diri gue. Ternyata gue bisa juga berargumen tanpa pakai emosi. Cieeeee……satu kemajuan dah ini…πŸ˜‰


Sabtu, 9 April – Senin, 11 April

Here we go, Bandung! Aseli dah lama gak jalan-jalan ke luar kota. Betapa bahagianya sih perjalanan ini, benar-benar menikmati setiap waktunya di Bandung.


Hal yang paling gue senang adalah kemampuan adaptasi gue dengan kasur di hotel. Gue nih termasuk orang yang paling susah tidur kalau bukan di kasur sendiri. Jadi rada rumit emang gue kalau nginep-nginep gini. Karena hotelnya adalah pilihan gue sendiri – gue rada maksa memang harus nginep di tempat ini – jadi gue mencoba berdamai dengan situasi yang memang gue pilih sendiri. Sempat ada setan pikiran yang mengganggu begitu lihat satu titik kecil bekas darah di selimut, tapi untungnya gue bisa mengalahkan itu. Kemenangan banget deh ini. Wohooo….


Di saat lagi enjoy banget di Bandung, tiba-tiba Mister POO mengalami rem blong. Memang sih Mister POO selama di Bandung ini agak kewalahan ketika diajak jalan naik turun yang rada curam. Bagus dia gak jantungan sih, tapi mesin sempet panas aja gitu. Jadi begitu rem mendadak ada masalah, kita diarahkan ke bengkel terdekat. Sempet rada cemas kita akan kena dikerjain oleh bengkel, tapi ternyata tidak. Mereka justru baik banget. Rem Mister POO dinyatakan tidak blong, hanya sedikit ada udara karena gak terbiasa perjalanan naik turun itu. Ibarat manusia mah paru-parunya rada engap dia. Kudu dibantu pernapasan aja dikit. Begitu sudah dibantu sedikit, Mister POO sudah kembali normal.


Lagi-lagi ya, pikiran ini sering banget bikin drama macem-macem padahal kejadian aja belum. Merasa beruntung masih dijaga oleh semesta dengan diberikan orang-orang baik yang sama sekali tidak mematok harga tinggi untuk masalah mobil kita ini. Cukup 50 ribu saja. Dan yang terutama tidak perlu berujung harus berurusan panjang karena rem ini. Puji Tuhan.


Paskah – Minggu, 17 April

Tumben banget ini ada niat mau ke gereja Paskah tahun ini. Meskipun aseli ribet banget urusan dengan pendaftaran untuk ikut misa, tapi akhirnya kita ikut misa juga di pagi Paskah ini. Hmm, menurut ibu ketua lingkungan gak ribet kok. Ketauan banget dah gue jarang ke gereja. Perkara daftar misa mudah aja jadi sulit. *tutup muka* πŸ˜‹πŸ˜‹


Setelah misa rencananya mau makan bakmi di daerah Sunter. Kata Youtuber yang pernah kita tonton, bakmi di sini mirip banget sama bakmi GM – dari jenis mienya, pangsitnya dan nasi gorengnya. Penasaran dong kita, apalagi harganya rada miring dari yang aslinya. Udah semangat banget nih kita ke sana, eh begitu sampai ternyata bukanya jam 11 siang. Sedangkan waktu baru pukul 9 kurang. Grrr…


Bingung mau kemana akhirnya jalan-jalan muterin Sunter lalu ke Kemayoran, macam orang hilang arah aja lah. Lagi santai jalan eh mendadak AC mobil gak ada angin dinginnya. Ditambah kejadian seperti ada sesuatu yang kita tabrak tapi agak kenceng bunyinya sebelum kejadian AC panas itu. Melipir sebentar untuk ceki-ceki, betul aja ada yang jatuh entah apa itu. Untungnya tidak jatuh di jalanan tadi, tapi di satu lempengan di bawah mobil.


Akhirnya kita mulai mencari bengkel AC di daerah Sunter. Kebetulan ada yang buka. Masuk lah Mister POO ke bengkel tersebut. Diperiksa sebentar sambil memberikan barang temuan kami itu ke Mas Bengkel. Pokoknya ya kalau sudah urusan bengkel mobil apalagi AC mobil bawaannya udah dag dig dug duer. Pikiran udah kebajak duluan aja dengan rasa takut dibohongin gitu lah.


Lagi-lagi…pikiran terlalu banyak kebanyakan mikir. AC mobil kembali dingin setelah Mas Bengkel memasang kembali barang yang kami temukan itu ke bagian semestinya. Duh, gak kebayang kalau tadi hilang di jalan. Ternyata memang masih banyak orang baik di sekitar ya. 😊



Malamnya..

Setelah menikmati Bakmi GM ala-ala Sunter itu, mendadak Ali berkabar kalau perutnya sakit. Sempat gue minta untuk meditasi. Minum obat parasetamol. Tapi ternyata mukanya tambah pucat, sakitnya menjadi. Malam itu juga gue bawa doski ke UGD terdekat.


Mungkin ini yang menjadi momen paling luar biasa di April ini. Ali terpaksa harus rawat inap malam itu dan diperiksa ini itu. Khawatir jelas, tepatnya lebih ke biaya. Bersyukurnya tahun lalu gue sudah memproteksi kita bertiga dengan asuransi Allianz. Langsung gue telpon Christian.


Christian ini sahabat gue sejak kuliah. Pernah satu waktu gue dan dia dapat tawaran kerja jadi freelancer WO bareng, dan kita diminta datang untuk briefing gitu deh ya. Kebetulan gue minta nebeng motornya. Saat itu belum ada GMaps, dia tulis patokan-patokan jalan di kertas yang ditempel di dashboard motornya. Dia emang niat banget sih. Tapi ya itu karena kita gak tau jalan, padahal cuma ke Kelapa Gading doang. Dan itu pun tetep kesasar. Ya ampun cupunya dua anak Jakarta Barat ini yeee. πŸ˜‚πŸ˜‚


Nah, seiring dengan waktu, Christian menekuni profesi jadi agen asuransi. Singkat cerita, gue selalu bilang ke Ali, ketika nanti kita punya uang lebih dan bisa punya asuransi, gue hanya mau agen asuransi gue itu Christian. Dan tahun lalu kita ada rejeki untuk punya asuransi buat bertiga.


Ali ini harus operasi, karena ada batu di kantung empedunya yang harus segera diangkat. Begitu kata dokter yang menangani. Tentu gue worried banget dengan biaya yang akan dihadapi. Galaunya gue, kalutnya gue, khawatirnya gue dihadapi tenang sama Christian. Aseli, jempol gue empat biji buat lo dah, Chris! Sabar banget sama resenya gue. πŸ˜‹πŸ˜‹


Puji Tuhan, semua yang dijalanin selama di rumah sakit tercover sempurna, tanpa keluar uang sepeser pun – kecuali bayar Gocar, Gojek, makan gue aje. Dan perlu banget gue bilang berapa biaya yang dicover oleh asuransi, sebesar Rp 94.250.000,- aja. Iyaaaa, angka yang besarrrr buangeeett. Gue hampir pingsan lihat angkanya, tapi pengen bangun cepet-cepet begitu tahu semuanya dicover paripurna oleh asuransi. Selesai urusan pembayaran gue langsung telpon Christian dan girang banget. Merinding ya ampun!!!


Entah apa yang menjadi perjalanan kita ini di bulan April ini, tapi yang pasti luar biasa. Seperti luar biasanya teman-teman sayang sama gue. Yang cukup terharu adalah gue dikirimin makanan selama di rumah sakit, sepulangnya pun, sampai gue ulang tahun. Mas Boy pun tidak ketinggalan dapat berkat dari sayangnya teman-teman ini. Puji Tuhan kami tidak kekurangan. Bahkan berlebih.


Gue juga bersyukur sekali selama gue harus nemenin Ali di rumah sakit, Mas Boy tidak sekalipun mengeluh minta ditemenin di rumah. Dia mampu menempatkan dirinya untuk bisa mandiri sesuai dengan kemampuannya. Mungkin ini ya dinamakan ujian praktek kehidupan. Selama ini kan hanya latihan terus menerus dimana gue masih nemenin. Tapi kemarin selama 4 hari 3 malam dia harus menghadapi hari-harinya sendiri tanpa gue ataupun bapaknya. Salut, Boy!


Senin, 25 April 

Puncaknya di bulan April ini adalah…Ulang Tahun gue.


Di angka 3 terakhir tahun ini, gue bertekad untuk bikin SIM A yang dah 7 tahun mati. Kenapa selama itu? Jujurly gue males loh dengan ujian praktek yang berbelit-belit. Gue sih percaya gue pasti lulus. Tsaaah, sombong! Soalnya ujian hidupnya lebih susah, man. Coba aja kalau berani parkir di apartemen gue sini, kalau gak pake sutrisno dengan keringet segede biji jagung karena diklaksonin mobil padahal lo lagi berjuang parkir mobil dengan space sempit. Horor lah parkiran di sini. πŸ˜‚πŸ˜‚


Dari semua yang gue alami selama ini, gue hanya bisa bersyukur dan bersyukur dengan segala berkat yang gue terima. Betapa Tuhan dan Alam Semesta ini baik sekali terhadap gue. Gue bisa merasakan kasih sayangNya lewat orang-orang terdekat yang datang dan memberi perhatian serta kasih sayang yang berlimpah untuk gue dan keluarga kecil gue. Terima kasih. Hanya itu yang bisa gue ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam. πŸ’“πŸ’“


Monday, April 4, 2022

2:44 PM

Ambisi

Ambisi

Sesaat rasa itu datang lagi ketika melihat anak-anak ini berlarian di lapangan. Bermacam-macam pertanyaan yang membandingkan antara klub ini dengan klub yang dulu berputar dalam pikiran. Tapi pada akhirnya menyerah juga dan menyadari tujuan kembali ke dunia olahraga yang satu ini.


Hampir 3 tahun lalu kami bergabung dalam satu klub basket yang bisa dibilang cukup ternama di daerah Jakarta Barat. Klub basket yang sempat menjadi wadah Fritz dalam menyalurkan energinya. Seminggu tiga kali dia latihan di klub ini, lalu kadang ditambah dengan pertandingan antar klub ataupun mengikuti kejuaraan wilayah. Saat itu hari-hari kami cukup sibuk dengan segala urusan perbasketan.


Sampai satu titik gue merasakan ada perasaan yang tidak wajar yang menyelimuti diri gue. AMBISI.

Ya, rasa ini kerap mendominasi pikiran gue. Ada rasa pingin Fritz jago dalam olahraga ini, menguasai teknik-teknik dalam basket seperti teman-temannya di klub itu. Ada juga rasa menyesal ketika melihat dalam pertandingan dia tidak melakukan yang terbaik, alias kalah dalam bertanding. Tidak jarang kecewa melihatnya tidak bisa selentur, sejago, sehebat dan sekeren teman-temannya di klub itu. 

Padahal sebetulnya anak ini salah satu termasuk yang sering dijadikan starter dalam setiap pertandingan, secara ukuran tubuhnya lebih tinggi daripada teman-temannya. Salah satu juga yang dianggap terbaik di usianya, sering menjadi andalan dalam pertandingan. Tapi tetap saja, rasa membandingkan anak sendiri dengan anak lain itu kerap bertengger di pikiran.

Kami pun harus pindah agak jauh dari tempat latihan basketnya. Rasanya keputusan keluar dengan alasan domisili pun menjadi tepat untuk menjernihkan pikiran gue. Fritz pun merasa tekanan yang gue berikan dan memilih untuk tidak berada dalam lingkaran basket lagi.

Tiba-tiba di bulan Februari anak ini nyeletuk untuk berkegiatan olahraga lagi. Pandemi membuatnya berhenti kegiatan renang, sehingga tidak ada kegiatan olahraga rutin yang dijalaninya. Lalu terbersit di benaknya untuk kembali lagi ke dunia basket. Setelah mencari, bergabunglah dia dalam satu klub basket di daerah Pulo Mas.

Klub basket dimana tidak ada latihan keras dengan teknik-teknik yang harus dikuasai seperti layaknya pemain basket sungguhan. Tidak ada pelatih galak yang memecut anak-anak untuk menggeber tenaganya sampai habis. Tidak ada pula pertandingan yang perlu dikejar-kejar setiap minggunya dengan dalih untuk memberi banyak pengalaman untuk anak-anak.

Klub basket ini hanya latihan dengan segelintir orang, bukan klub favorit tentunya. Anak-anak datang hanya untuk demi berkeringat. Santai, tidak ada teknik yang dikejar untuk dikuasai. Sehingga kadang rasa itu muncul kembali. :D

Mungkin disinilah ujiannya. Sanggupkah gue mengatasi si ambisi yang kemarin sudah berhasil ditaklukkan itu,eh sekarang dihadirkan kembali dalam lingkungan yang sama?