05.20 - Lievell

Saturday, May 30, 2020

12:00 PM

Ketika Corona Menyapa

Ketika Corona Menyapa


Belakangan ini satu dunia dihadapkan dengan satu pandemi penyakit yang bernama Corona. Penyebarannya cukup cepat, menyerupai flu sepertinya, tapi mematikan banyak manusia. Awalnya penyakit ini dikabarkan datang dari China, lalu menyebar seiring manusia berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lain, dari satu kota ke kota lain dan bahkan berpindah dari satu negara ke negara lain.


Awalnya di Indonesia sendiri tidak terdeteksi. Ya kalau ini sih sempat ada meme-meme lucu kenapa penyakit tersebut tidak sampai ke Indonesia. Pada saat itu pas sekali dengan sering-seringnya Jakarta kebanjiran, dimana anak-anak kecil membuat daerah banjir jadi ajang permainan mereka. Belum lagi dengan jajanan pinggir jalan ala Indonesia yang bercampur dengan debu kendaraan bermotor yang lalu lalang. Tentunya saja ini menguatkan asumsi kalau Corona merasa takut datang ke Indonesia.


Lalu sekitar pertengahan bulan Maret mendadak ditemukan 2 orang yang terjangkit penyakit Corona. Selesai Presiden Jokowi mengumumkan berita ini, seketika itu juga masyarakat di Indonesia kalap. Mereka semua mengantri di supermarket, membeli apa yang sebetulnya tidak perlu. Mereka berduyun-duyun memborong semua yang bisa mereka beli untuk persediaan. Dalam sekejab, semua supermarket kehabisan stok mereka.


Bahkan ada juga yang viral ketika salah satu bapak-bapak Tionghoa dengan seragam kebesarannya, celana pendek, kaos polo licin dengan tas di pinggangnya, mengantri di salah satu supermarket dengan tumpukan kardus Indomie melebihi tinggi badannya. Sontak kejadian ini menjadi perbincangan warga +62 lah ya, dari yang nyumpahin si Ngkoh kanker usus karena menyetok Indomie segitu banyaknya,sampai isu menyulut penjarahan pun melonjak. Usut punya usut, ternyata si Ngkoh ini emang setiap hari membeli Indomie dari supermarket tersebut dan setiap belanja ya dengan porsi seperti itu. Ya begitulah berita itu menyebar lewat sosmed, dan secepat itulah jari dan lidah mengeluarkan komen-komen.


Setelah pengumuman berita tersebut, selain masyarakat berbondong-bondong mengantri di supermarket, mendadak sekolah di Jakarta diminta untuk meliburkan murid-murid mereka guna memutus rantai penyebaran Corona atau yang sering disebut dengan Covid-19. Lagi-lagi hal ini jadi perbincangan. Mulai dari akan bagaimanakah sistem pendidikan selanjutnya ketika di rumah, lalu penilaian akan dibuat seperti apa, belum lagi yang menjelang UN sampai akhirnya di ujung pertanyaan, apakah uang sekolah bisa didiskon?


Seperti ramalan jadi kenyataan ketika Presiden Jokowi melantik Nadiem menjadi Menteri Pendidikan, dimana sekolah akan online, begitupun dengan pembayarannya yang sesuai applikasi Gojek. Sekolah pun akan berlangsung seperti lelucon yang menjadi kenyataan. Lucu namun miris.


Sekolah saat ini betul menjalani pendidikan secara online. Anak-anak diberi materi oleh guru kelasnya untuk dikerjakan di rumah dengan orang tuanya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi? Ya, tentu saja setelah pendidikan dipindahkan tugasnya menjadi orang tua yang bertanggung jawab penuh, orang tua berteriak semua. Mereka tidak siap menanggung semua ‘beban’ ini tiba-tiba, dibalik alasan mereka harus bekerja, menyelesaikan urusan rumah tangga (memasak, nyuci baju, setrika dsb), tidak ada waktu me time lagi sampai dengan alasan merasa rugi karena sudah membayar uang sekolah full di awal, bahkan merasa tidak terima ketika ditagih dengan uang sekolah bulanan atau bahkan tahunan karena harus mengajar sendiri anak-anaknya tanpa bantuan guru.


Barang tentu ini jadi dilema tersendiri bagi pihak sekolah, guru, orang tua bahkan anak-anak sekalipun. Selain orang tua yang merasa stress karena ter”beban”i dengan satu tanggung jawab baru (which is sebetulnya ini sudah jadi tanggung jawab di awal ketika memiliki anak. Ketika pihak sekolah sebagai wakil orang tua tidak bisa lagi membantu anak dalam pendidikan, sudah wajib takdirnya orang tua mau menerima tanggung jawab mendidik anaknya sendiri), anak pun kena getahnya. Setiap hari yang dihadapi mereka hanya tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan hanya demi nilai semata, sampai-sampai orang tua lupa apa sebetulnya hal dasar dari pendidikan selain nilai semu yang dikejar. Tujuan pemerintah merumahkan anak-anak dari sekolah, seharusnya bisa jadi ajang bagi keluarga untuk kembali melihat ke dalam. Ini justru bisa jadi momen tersendiri bagi orang tua untuk lebih berperan bagi anaknya. Bukan lagi nilai-nilai sekolah yang perlu dijunjung tinggi sehingga lupa apa artinya kebersamaan saat ini.


Selain orang tua dan anak, pihak sekolah sebagai wakil orang tua dan juga sebagai pihak pebisnis disini, merasa ketar ketir dengan keputusan pemerintah ini. Mereka tetap harus menjalankan ‘bisnis’ mereka, tapi tidak tahu sistem apa yang harus digunakan ketika situasi di luar kendali mereka. Jadilah pihak guru yang terkena dampaknya.


Sebagai orang yang pernah bekerja di sekolah, aku dapat merasakan bagaimana situasi guru saat ini. Pernah lihat di salah satu postingan teman yang bekerja sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah ternama bagaimana guru dalam menyiapkan pendidikan online harus bekerja semaksimal mungkin agar materi-materi tersebut sampai ke tangan orang tua dan bisa diajarkan ke anak-anak. Peran guru disini betul-betul menjadi tonggak keberhasilan bagi pihak sekolah, orang tua bahkan anak muridnya. Belum lagi sambil dipikirkan apakah tahun ajaran baru para guru ini masih akan mendapat pendapatan penuh atau tidak, bahkan memikirkan apakah jasa mereka masih akan tetap dipakai oleh sekolah tersebut atau tidak. Salut padamu, Para Guru, teman sejawatku!


Kalau bicara tentang pandemic yang terjadi ini sudah barang tentu banyak yang mengkritisi, dari mulai pendidikan anak, kerja pemerintah yang dinilai setengah-setengah menanggulanginya sampai ke bisnis yang mulai lesu. Bayangkan saja para masyarakat kelas bawah yang pendapatannya harian, sudah barang tentu hal ini paling berdampak ke mereka. Mereka lebih memilih tetap berjualan, sambil berharap ada pembeli, ketimbang harus berdiam diri di rumah menunggu pandemic selesai. Urusan perut jelas lebih utama bagi mereka saat ini. Lebih baik mati karena Covid-19 ketimbang mati karena kelaparan, begitu ujar mereka ketika diwawancara di daerah Kota. Hidup ini berat, Jenderal!


Tentu sudut pandang ini sedikit berbeda ketika yang menyikapinya dari pihak para Homeschooler. Kami yang sudah sejak awal tahu langkah kami dalam membersamai anak, ketika mendapati berita harus lebih banyak berdiam diri di rumah, tentu saja ini bukan menjadi masalah besar. Kami terbiasa 24 jam /7 hari dengan anak-anak dan tidak pernah merasa menjadi halangan untuk kami berdiam diri di rumah selama itu. Setidaknya ini yang terjadi di aku dan Fritz, tentu beda dengan bapaknya yang terbiasa dengan kerja lapangan.


Satu lagi yang dapat diamati dari pandemic ini, semesta seolah memaksa manusia untuk refleksi. Manusia diminta untuk rehat sejenak dari kesibukan duniawinya. Sibuk bekerja sampai lupa waktu dengan kesehatannya, kebersamaan dengan keluarganya, bahkan sampai lupa dengan dirinya sendiri dan alam sekitar. Manusia diminta untuk bersantai sejenak dan lebih menyadari serta menikmati hari demi hari dengan penuh kesadaran, bukan lagi sibuk dengan urusannya masing-masing.


Sadari alam sekitar. Langit jauh lebih cerah dari hari-hari biasanya. Burung-burung bercuit lebih sering. Bunga jauh lebih kelihatan indah dari biasanya. Bahkan udara pun jauh lebih enak dihirup ketimbang sebelumnya. Ya, biarkan bumi rehat. Bumi sudah tua dan butuh istirahat sejenak dari rutinitas manusia setelah dipakai secara berlebihan.


Oleh karena itu, masih banyak yang bisa disyukuri dari keadaan saat ini ketimbang menggerutu dengan hal-hal yang tiada guna. Sadari setiap nafas kehidupan kita adalah anugerah tersendiri yang Tuhan kasih secara gratis, begitu juga dengan detak jantung yang masih bekerja sampai saat ini. Biarlah hal kecil namun berarti bisa menjadi rasa syukur kita di tengah situasi saat ini.


Wednesday, May 27, 2020

1:28 PM

Kodrat Manusia

Kodrat Manusia

Diskusi buku vol 6 bersama dengan CM Jakarta dimulai pukul 1 siang. Lagi-lagi, kami hanya bisa bertemu secara online karena masih di masa pandemik yang mengharuskan kami masih banyak berdiam diri di rumah saat ini. Kalau saja obrolannya hanya sekadar remahan rengginang dengan dipenuhi ketawa haha hihi, mungkin akan beda ceritanya. Sayangnya yang dibahas ini adalah bahan yang sangat perlu konsentrasi tinggi di tengah siang bolong sehabis makan siang. Selain dibutuhkan konsentrasi tinggi, kali ini kami juga perlu untuk mendengarkan dengan seksama sebelum akhirnya kami diminta narasi satu persatu oleh Jeng Ayu. Oh Tuhan… Sudahlah jangan dibayangkan bagaimana kami, maaf, tepatnya aku berusaha semaksimal mungkin mendengar, mencerna bahkan mencoba fokus kata demi kata, kalimat demi kalimat ke dalam otakku yang belakangan ini terlalu banyak dipenuhi dengan adegan drama Korea termehek-mehek itu.


Sebetulnya topik bahasan ini sudah pernah dibahas bersama sewaktu dengan teman-teman CM Jakarta dulu. Sedikit banyak masih ingat apa yang pernah kami bahas waktu itu, tapi tidak sedalam bahasan dengan teman-teman CM Jakarta kemarin. Dari dua paragraph yang dibacakan, kami bisa berdiskusi dan tukar pikiran hampir selama 3 jam. Dari bahasan kami kemarin, kurang lebih seperti inilah yang aku pahami.


Pendidikan yang dikenal saat ini semua mengarah untuk melahirkan anak yang siap kerja di masa depannya. Seolah-olah anak diarahkan untuk menguasai satu bidang keahlian tertentu saja. Sehingga ketika lulus dari pendidikannya, mereka siap terjun ke dunia lapangan kerja tanpa lagi ragu dengan apa yang akan mereka kerjakan. Apa hanya sekadar itu tujuan pendidikan untuk anak? Apa sebetulnya yang diharapkan oleh orang tua untuk anaknya di masa depan nanti? Lalu, setelah anak-anak ini tumbuh dewasa dan siap memasuki dunia kerja dengan satu keahlian yang mereka punya, seberapa yakinkah mereka akan menyukai bidang tersebut? Bagaimana jika suatu saat nanti mereka tidak lagi menyukai apa yang mereka kerjakan namun mereka merasa tidak mempunyai keahilan lainnya lagi untuk keluar dari rutinitas mereka?


Tentu saja situasi merasa tidak berdaya terhadap keadaan dan situasi ini sering sekali ditemukan. Sayangnya, alasan merasa tidak mempunyai kekuatan dari dalam diri sendiri untuk keluar dari situasi tersebut lebih mendominasi ketimbang menggali lebih dalam siapa dirinya. Alih-alih melakukan refleksi, rekreasi justru menjadi pilihan untuk mengalihkannya. Tanpa disadari, pelan namun pasti, destruktif terhadap diri sendirinya lah yang terjadi. Akan sampai kapan hal ini akan berlangsung?


Kembali ke atas tadi, bukankah saat ini kita perlu pendidikan yang lebih dari sekadar melahirkan anak yang siap kerja? Kita membutuhkan satu kurikulum yang hidup dan kaya untuk anak-anak kita. Kurikulum yang menitik beratkan kepada siapa kodrat kita sebagai manusia yang mempunyai hasrat alamiah belajar dari hal-hal di sekeliling. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa semua pengetahuan itu saling terkait erat satu dengan lainnya, dan anak penting sekali dipaparkan dengan semua itu. Tujuannya tentu saja untuk menjadi manusia yang kodratnya lebih besar dari dirinya sendiri yaitu menjadi pelayan semesta. Dimana anak tidak melulu berpusat pada dirinya sendiri sehingga lupa akan kodratnya sebagai manusia yang siap melayani sesama dan Tuhan.


Mengutip kata ibu Charlotte Mason “;menghadapi anak sebagai anak Allah, yang hasrat tertinggi dan kemuliaan sejatinya adalah punya pengetahuan dan mengenal Bapanya yang Mahakuasa: bahwa dia adalah pribadi dengan banyak bagian dan hasrat hati yang harus tahu cara memakai, merawat, dan mendisiplin diri sendiri, dalam tubuh, akalbudi, maupun jiwa; anak sebagai pribadi yang punya banyak relasi––relasi dengan keluarga, kota, agama, negara, negara tetangga, dan dunia seluruhnya; anak sebagai penghuni bumi yang penuh dengan keindahan dan hal menarik”. Demikianlah anak perlu belajar untuk mengenal Tuhan sebaik mengenal dirinya sendiri.