2021 - Lievell

Monday, December 27, 2021

11:01 AM

Perjalanan 2021

Perjalanan 2021

 

Sampai juga nih di penghujung tahun 2021. Tahun yang masih juga didominasi dengan urusan Covid, dimana berita yang terdengar setiap hari pasti gak jauh-jauh dari situ. Semacam rumah makan siap saji kalau sedang menurun omsetnya lalu cepat-cepat bikin promo terbaru demi mengangkat lagi namanya, begitu juga nasibnya dengan virus ini. Beritanya mulai surut, masyarakat mulai ditakut-takuti lagi dengan kabar terpanas muncul varian terbaru yang lebih mematikan. Sontak orang-orang jadi parno lagi. Sukses jadi trending topik dunia lagi deh. Eaaa. 

 

Tapi lucunya dari manusia-manusia yang ketakutan dengan virus ini adalah begitu waktunya liburan hari raya tiba. Dengan dalih “stress bikin imun menurun” ataupun “capek sama berita Covid”, mendadak tempat wisata menjadi ramai. Orang berbondong-bondong pergi liburan dan rela membayar jutaan rupiah untuk mendapat kenyamanan sesaat. Tentu ini karena peran vaksin juga sih yang ditemukan dan disuntikkan massal di pertengahan tahun ini. Vaksin rasa obat mujarab yang dianggap mampu menameng diri. Gak heran orang merasa jemawa setelah divaksin, berasa kebal seperti Captain America yang kalau ditembak musuh gak mati-mati. Ya padahal kan gak harus begitu juga yaaa… Cukup hidup seperti biasa apa adanya. Hidup dalam ketenangan jiwa dan batin, itu sudah cukup sebetulnya.

 

Berita keluarga dan sahabat yang mendadak berpulang pun juga tidak sedikit di sepanjang tahun ini. Selalu ada saja berita yang bikin kaget dan sedih ketika mendengarnya. Paling sedih adalah ketika salah satu pasangan hidup ditinggal sendiri bersama dengan anak-anaknya ataupun kedua orang tua berpulang dan meninggalkan anaknya sendiri. Sungguh susah dibayangkan, tapi semoga saja mereka sanggup menjalaninya ya. Turut mendoakan kehidupan yang terbaik buat mereka. 🙏

 

Covid dan antek-anteknya ini beneran bikin hidup lebih hidup sih. Bikin hidup sedunia ini berubah drastis banget. Gak sedikit juga yang gulung tikar bisnisnya, usahanya bangkrut. Namun ternyata ya, banyak juga bermunculan ide bisnis baru di tengah pandemi ini. Memang manusia itu adaptif dan kreatif ya. Ketemu aja jalan keluarnya dari setiap masalah.

 

Begitu juga dengan cerita gue di tahun 2021 ini. Banyak juga yang terjadi dan membuat gue semakin bersyukur dengan pandemi ini. Hampir di sepanjang tahun ini, sebetulnya sudah dari tahun kemarin juga, gue berkutat di urusan jualan frozen food. Di bawah bendera Allella Kitchen, hampir dua mingguan sekali gue dan bapak Ali ini buka pesanan alias PO makanan. Berduaan, kadang-kadang si Boy juga diajak (baca: dipekerjakan 😜) juga untuk membantu, berkutat di dapur mini apartemen.

 

Di saat yang bersamaan, gue juga meneruskan pekerjaan dadakan yang muncul di era pandemi ini. Les online. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya les online lagi tapi tawaran mengajar tatap muka pun mulai berdatangan. Karena sudah tidak memungkinkan lagi membelah diri antara berjualan makanan beku dan mengajar privat, pelan tapi pasti gue harus memilih salah satunya. Apalagi, sekitar bulan Oktober akhir kemarin sempat ada kabar kurang oke bagi pedagang dadakan seperti kami ini. Banyak pedagang frozen food pandemi ini mulai bermunculan yang tidak mempunyai ijin usaha menjual produk beku. Tidak sedikit juga yang terkena kasus hukum. Dengan alasan ini juga, sementara waktu, meskipun entah sampai kapan waktunya, Allella Kitchen memutuskan untuk vakum.

 

Sekitar 20 tahunan terakhir ini, hidup gue selalu berkutat dengan anak-anak. Gue lebih bisa mengobrol dengan luwes ketika bersama anak ketimbang dengan orang dewasa. Bagi gue anak-anak itu jauh lebih tulus dalam bercerita, tidak ada yang dibuat-buat dan juga tidak ada kebohongan di sana. Apalagi kalau melihat mereka bercerita dengan matanya yang berbinar-binar. Euuh, meleleh hati gue. Karena inilah gue jatuh cinta sekali dengan dunia mereka dan mengajar menjadi media gue untuk dekat dengan mereka. 

Tidak sedikit akhirnya gue terlampau sayang dengan anak-anak didik gue, seakan anak sendiri. Mengajak mereka kegiatan ini itu pun seakan mengingatkan gue ketika berkativitas dengan Fritz kecil dulu. Hihihi. Mungkin karena minat dan energi gue besar di dunia anak-anak ini ya, akhirnya gue didatangkan dengan kesempatan-kesempatan untuk mengajar beberapa anak sekaligus di sepanjang tahun ini. Berkat yang tidak terduga sebetulnya, dan tentu patut gue syukuri sih.

 

Di saat pandemi mungkin membuat sebagian orang merasa terkukung dari kebebasan berkegiatan, justru gue merasa semakin berdaya dengan di rumah saja ini. Kegiatan yang paling terasa adalah diskusi bersama teman-teman dari komunitas CM Jakarta. Diskusi yang tadinya berjalan dari taman kota ke taman kota lainnya, sejak pandemi semakin jaya di online. Diskusi yang tadinya harus bawa gembolan tas dan menggeret anak naik kendaraan umum, sekarang hanya dengan duduk santai di kasur dengan kaos kutang tanpa BH, celana pendek dan muka kusut belum mandi pun bisa ikut diskusi.

 

Mungkin bagi sebagian orang diskusi setiap Selasa jam 1 sehabis makan siang itu gak banget ya, ganggu tidur siang banget emang sih itu, tapi buat gue justru jadi semangat gue loh. Gue banyak terinspirasi dari obrolan random teman-teman ini. Sedikit banyak membuka pikiran gue, “manusia-manusia ini makan siangnya apaan ya, cespleng banget otaknya!” begitu gue bergumam dalam hati. Gimana ya, mereka ini kalau sudah berdiskusi seperti kelar makan petasan banting, obrolannya bisa saling sahut-sahutan dengan isi yang berbobot. Mana rela gue tidur siang kalau begini sih.

 

Seperti yang tadi gue bilang, pandemi bikin berdaya itu. Tahun ini juga gue punya tujuan untuk hidup gue. Bermula dari menjadi fasilitator diskusi bersama dengan dua teman lainnya, Mba Ata dan Mba Zia, gue menemani teman-teman baru yang kepengen belajar tentang CM lewat buku Cinta yang Berpikir dan Volume VI. Awalnya jiper juga sih, gue yang notabene kurang pintar berfilosofi dan kurang pintar menuangkan pikiran lewat obrolan bersama orang dewasa, merasa canggung memulainya. Tapi lambat laun gue bisa mengalahkan rasa canggung itu dan sedikit luwes. Tentu ini juga karena gue punya dua kawan yang super hebat dan teman-teman diskusi yang membuat gue belajar banyak dari mereka. Keren lah!


 

Tidak berhenti sampai situ. Tantangan baru diberikan ketika CM Jakarta mencari koordinator komunitas. Ternominasikan lah nama gue bersama dengan Ratna dan Mba Ficky yang keduanya menurut gue kandidat hebat untuk menjadi koordinator dibanding gue. Kapasitas mereka dalam memahami filosofi CM begitu kuat. Hidup mereka sepertinya udah CM based banget dah dibanding gue yang masih utilitarian ini, masih sibuk nyari duit. Wkwkwkwk. Dan entah kesambet jin dari mana, tahu-tahu gue malah menyodorkan diri sebagai KorKom alias Koordinator Komunitas. Paling gengges lagi, setelah gue menyerahkan diri ini, jabatan Korkom itu harus diemban selama 3 tahun. Ya gubraaaak……*pingsan 😖

 

Buat gue yang belum pernah memegang jabatan kepemimpinan, ini PR besar sih. Gue perlu banyak belajar dalam menjalani peran ini. Berbagi tugas, menyerahkan tugas serta melatih diri untuk tidak gampang terbawa emosi – ya entah marah, ngambek, baper ataupun sensitif, perlu banget dikelola dengan benar kan. Aku kan manusia biasa juga, Bu Ibuuuu. Semoga aja ya gue bisa berproses di sini. Doakan saya selama 3 tahun!! *sungguh kuterjebak…

 

Berdaya lainnya lagi, yang selama ini gue pengen banget pelajari, yaitu belajar menerjemah. Dan tahun ini gue didatangkan kesempatan itu. Meskipun di awal-awal itu sempat frustrasi, merasa terjemahan gue sering banyak salahnya ketimbang benernya, tapi semakin ke sini mulai agak pede sedikit. Sedikit loh ya. Karena menurut gurunya, tidak boleh jemawa sebagai penerjemah itu. Perasaan sombong itu kudu dibuang jauh-jauh. Jadi, bangga sedikit aja, jangan kebanyakan. Takut nanti terbang gak turun-turun lagi. 😁

 

Lainnya lagi masih terkait dengan komunitas satu ini adalah selalu mengajak belajar sesuatu yang baru. Tentu gak jauh-jauh dari buku, diskusi dan narasi. Ketiganya itu harus berjalan beriringan memang. Selama hampir setahun ini bacaan buku gue juga sedikit lebih banyak ketimbang tahun lalu. Cieeee. 😂😂 Meski bukan tukang baca buku, bisa menyelesaikan satu demi satu buku yang dibaca, rasanya udah seneng banget. Apalagi setelah selesai baca buku bisa menarasikannya dalam bentuk tulisan, semakin cakep lagi sih itu.

 

Nah, menuju beberapa bulan sebelum akhir tahun, gue bersama dengan teman-teman CM Jakarta memilih satu buku berjudul Biology of Belief. Ini menjadi buku yang mencerahkan jiwa banget sih. Bacanya aja buat gue butuh 4 bulan sendiri untuk sampai selesai. Tapi efeknya luar biasa sekali. Bagaimana ilmu itu saling terkait menurut CM, terjawab juga dalam buku ini. Keren banget lah. Tentunya grup kecil bahas buku ini masih akan menjalankan misinya di tahun depan. Uhuuuyyy. Can’t wait to explore together with them!!

 

Setelah lama gue vakum di Komunitas Sahabat – 4 tahun aja vakumnya, cuiy. Tahun ini gue memutuskan untuk kembali berkegiatan di sana. Ternyata selama 4 tahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi. Yang paling kentara itu adalah betapa jauh ya jarak umur gue dengan kakak-kakak pendamping ini. Rata-rata mereka adalah generasi 90an, alias yang lahir di tahun 90an. Jadi semakin kelihatan banget ya tuwirnya gue diantara mereka. Tentu juga ini jadi kesenangan tersendiri sih. Gaul sama anak muda itu jadi bikin gue awet muda juga. Mahapenting ini! 😂

 

Ada misi yang gue tuju sebetulnya ketika memilih untuk kembali beraktivitas di sana. Gue mencoba mengajak teman-teman ini berkenalan dengan dunia metode Charlotte Mason dalam memberi pengajaran ke anak-anak. Memasukkan pemikiran baru ini tentu bukan hal mudah. Sudah 3 bulan terakhir ini gue membawa misi itu ke anak-anak. Sedikit demi sedikit sudah terjadi. Awalnya anak-anak agak tidak nyaman ketika diminta untuk bernarasi, tapi berjalannya waktu mereka sudah terbiasa dengan metode ini. Metode sederhana tapi penuh dengan taktik dalam menjalankannya. Apalagi bagi kakak-kakak pendamping yang selalu berganti setiap bulannya. Bukan perkara mudah untuk membimbing mereka. Dan gue tetap mau bertahan dan tidak akan menyerah untuk menjalankan misi ini. Wish me luck, gaessss….

 

Kegiatan yang dikerjakan dari tahun lalu pun masih ada beberapa juga yang masih rutin dijalankan. Salah satunya kegiatan online Fritz di rumah. Semakin banyak aja kegiatan yang dikerjakannya bersama dengan teman-teman komunitas CM. Hari-harinya pun sibuk dalam seminggu dari balik layar, yang tentunya berefek banyak dalam kemalasannya untuk bergerak. Sepertinya ini akan menjadi target tahun depan nih. Perlu banyak beraktivitas di luar ruangan.

 

Begitu juga dengan gue. Meskipun saat ini kegiatan dari balik layar dan luar ruangan mulai berimbang kapasitasnya, tapi gue masih merasa menjaga diri ini masih kurang dilakukan dengan rutin. Masih aja beberapa kali bolong melakukan olahraga pagi. Malas bangun pagi menjadi alasan utama yang susah sekali dilawan oleh diri. Asupan bagi tubuh pun kadang masih jadi PR tersendiri. Seringnya jatuh kedalam lubang promo gofood lagi-lagi jadi alasan pembenaran buat makan enak. Padahal tahu sendiri efeknya seperti apa ketika yang dimakan buat sesuatu yang baik bagi tubuh. Masih juga dagingnya diutamakan sih ya, mulut tetap jadi nomor satu ketimbang mikirin pencernaan. Pengen nabok diri sendiri gak sih kalau sudah begini. 😋😋

 

Sampai juga ya di akhir tahun 2021. Waktunya juga bagi kita untuk berefleksi selama setahun ini. Terima kasih semesta untuk segala hal baik dan tidak baik yang datang ke dalam hidup. Perjalanan apa yang akan datang di tahun depan, entahlah. Hanya bisa percaya, jika energi positif yang kita pikirkan dilemparkan, semesta dan beserta isinya pun akan menangkap sinyal-sinyal itu dan mengembalikannya ke hadapan kita.

 

Welcome 2022…..💃💃

Sunday, December 26, 2021

9:49 AM

Ourselves - Kesucian

Ourselves - Kesucian

 

Ada yang bilang, mendidik anak di zaman ini jauh lebih sulit ketimbang orang tua kita dulu. Ada pula yang berujar, zaman dulu orang tua hanya khawatir menjaga anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya. Kenapa begitu coba? Ya karena zaman disinyalir sudah berganti arahnya. Semakin banyak anak laki-laki yang tidak lagi menyukai lawan jenis, melainkan sesama jenis sekarang ini. Sehingga membuat orang tua lebih khawatir menjaga anak laki-lakinya ketimbang anak perempuan. Apakah benar bahwa tantangan di setiap zaman itu selalu berbeda?


Sepertinya apa pun zamannya, enak zamanku toh. #eh 😂😂


Jadi ingat slogan itu ya. Tapi apa pula itu eranya, setiap orang tua pasti selalu mempunyai tantangannnya tersendiri ya dalam mendidik anaknya. Andil orang tua cukup besar memang dalam mendampingi anak bertumbuh. Tentu ini sudah menjadi tugas seumur hidup ketika orang tua sudah memutuskan memiliki anak dalam kehidupan berkeluarganya. Bukan tugas mudah memang, karena memang banyak sekali orang tua yang pelan-pelan mundur dari jabatannya ini.


Entah ini karena orang tua terlampau sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga minim komunikasi yang terjadi diantara anak dan orang tua. Ataupun orang tua yang kurang hangat terhadap anak, sehingga anak hanya menerima didikan satu arah. Perintah orang tua seperti mandat yang tidak dapat diganggu gugat keputusannya. Sehingga anak hanya pasif menerima tanpa dapat mengemukakan pendapatnya. Karena hal-hal seperti ini, akhirnya anak tumbuh dengan mencari informasi sendiri yang mereka dapat dari pihak luar. Dan tidak sedikit anak yang salah tafsir atas informasi yang didapat itu.


Seiring bertambahnya umur, tentu semakin banyak hal yang mulai menjadi pertanyaan di dirinya. Menemaninya bertumbuh menjadi kunci jawabannya. Bukan lagi perintah satu arah yang dibutuhnya, melainkan orang tua yang siap menjadi tempat diskusinya. Orang tua yang luwes dalam bertukar pikiran. Serta orang tua yang siap meluangkan waktu untuk sekedar mendengar curhatannya.


Pernah satu waktu si Boy terlihat galau. Begitu kutanya ada apa, dia pun bercerita tentang apa yang dirasa. Ternyata eh ternyata, anak ini sedang mengalami perasaan suka terhadap lawan jenisnya. Menurut pengakuannya, dia sempat resah maju mundur untuk cerita, karena ada rasa takut dimarahi. Lucunya, rasa galau ini terjadi menjelang tidur malam setelah dia menyatakan perasaannya itu. Pantes aja dia bangun pagi-pagi dan terlihat gelagatnya aneh, duduk kok nempelin emaknya terus kaya perangko. Ternyata ada yang galau semalaman, dan galau gak bisa tidur malam itu gak enak ye, Boy. 😁😁


Begitu ekspresi yang kuberikan kepadanya biasa saja, bahwa aku terima apa perasaannya, apa yang dia ungkapkan terhadap temannya, anak ini pun langsung dengan gamblang bercerita. Ceritanya pun mendetil sekali. Ada perasaan senang ketika dia mampu mempercayakan cerita tentang perasaannya kepada orang tuanya. Iya, bapaknya juga duduk mendengar saat itu, dan kami tidak memberikan ekspresi apa pun selain mendengar ceritanya. Tentu emaknya sambil senyum-senyum dong. Hihihi…


Beda dengan reaksi yang aku dapat waktu bercerita dengan orang tuaku dulu ketika aku mempunyai perasaan terhadap seorang laki-laki. Penghakiman dalam rupa omelan, dampratan, cemooh sampai tidak luput dari hukuman pukul, sabetan kemoceng sampai tamparan pernah kuterima karena ini. Sungguh bukan hal yang enak yang aku rasakan di saat itu, tapi tidak ada jalan lain menurutku. Sehingga membuatku merasa harus menutup rapat-rapat rahasia perasaanku dan apa saja yang aku lakukan dengannya.


Pernah satu saat di waktu usia SMP, aku mau pergi ke mall bersama pacar monyetku itu, aku harus diam-diam bilang mau belajar bersama, dengan tas berisi pakaian bagus. Yang entah bagaiamana nenekku yang menjagaku saat itu tahu rencanaku. Sontak tasku diambil dan dikeluarkan isinya, mana sebelumnya aku sempat dilempari mainan pistol-pistolan besi milik adikku. Wah, kalau saja saat dilempari itu aku tidak jago berkelit, kelar dah kaki gue. Bonyok! Jangan sedih, ceritanya tidak berhenti di situ. Sepulang Mami dari kantor, nenekku itu cerita ulah bandelku. Bukan lagi omelan yang didapat, melainkan tamparan tanpa ampun dari Mamiku. Sejak itu, tidak ada lagi cerita yang aku bisa ceritakan ke orang tuaku.


Bisa dibayangkan dampak dari anak yang tumbuh dengan ketakutan untuk bercerita terhadap orang tuanya. Tidak merasa dipercaya oleh orang tua itu sungguh tidak enak. Harus kucing-kucingan, terus berbohong dari satu hal ke hal lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya, benar-benar tidak enak. Apalagi kalau akhirnya ketahuan dan sudah dapat ditebak apa yang diterima anak di hari penghakiman itu. Kalau sudah begini, jelas kemana arah tujuan anak ini bertumbuh kan ya. Sehingga pemahaman menjaga kesucian bukan lagi karena anak paham, melainkan sebagai bentuk pemberontakan anak terhadap orang tua.


Friday, December 24, 2021

4:05 PM

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

Philosophy Education - Pendidikan Mandiri

 

Children are born person.

 

Menjadi butir pertama yang diusung oleh ibu Charlotte Mason di dalam pemikirannya. Dijelaskan olehnya bahwa sesungguhnya anak terlahir sebagai pribadi yang utuh. Artinya, mereka bukanlah lembaran kertas putih kosong yang butuh ditulisi dengan tinta hitam ataupun dihias dengan crayon warna warni oleh orang tuanya. Tapi mereka sudah terlahir dengan budi yang terinstall sempurna di dalam dirinya.

 

Lihat saja seorang anak kecil ketika melihat kebiasan orang tuanya. Tanpa diajari anak kecil itu mempelajari apa yang sering dilakukan oleh orang tuanya ini, yang lambat laun akan ditiru olehnya. Contohnya ketika anak sering melihat orang tuanya tenggelam dalam pemakaian gadget. Tanpa perlu dibekali pengajaran bagaimana menjalankan perangkat canggih itu, dengan sering melihatnya saja dia mampu mengoperasikannya dan ujung-ujungnya ikut kecanduan seperti orang tuanya. Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan lain, seperti mengupil di tempat umum, coba? Apa gak kurang gampang untuk dicontoh oleh anak-anak? 😅

 

Dengan pemikiran bahwa anak adalah lembaran kosong ini, orang tua melihat kecenderungan anak perlu dibekali dengan banyak stimuli sebagai amunisi untuk masa depannya. Merasa kurang sibuk, terlalu santai hidup sang anak, mulailah mereka diikutkan dengan banyak kegiatan ini itu. Dengan asumsi, semakin banyak kegiatan yang diberikan anak usia dini, anak akan menjadi cepat pintar. Apalagi belakangan ini semakin banyak aktivitas yang dikemas secara menarik. Dibuat seasyik mungkin supaya anak tertarik mengikutnya. Digeretlah anak kesana kemari untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tanpa menilik lagi, apakah anaknya suka atau tidak. Jadilah banyak orang tua yang judulnya merasa sayang. Mumpung masih kecil dan anaknya mau dijejali dengan banyak hal, kenapa tidak? Kalau sudah besar mungkin beda lagi ceritanya, ya kan. -- Eh, eh, jangan sedih, gue sendiri juga pernah di masa-masa tidak pernah mau ketinggalan kegiatan ini itu kok, Jengsis… 😋😋

 

Satu waktu, pasti ada kalanya anak akan sampai di satu titik kejenuhan dengan semua agenda yang dibuat oleh orang tua. Mereka mulai mogok belajar, malas-malasan, yang sebetulnya ini sudah menjadi pertanda bentuk kelelahnnya jiwa anak. Alih-alih menyadari tanda ini, orang tua justru merasa anak butuh keseimbangan aktivitas lainnya. Ditambahkannya lagi kegiatan yang mungkin lebih menyenangkan dari sebelumnya. Nah, kalau sudah begini jatuhnya jadi ambisi orang tua bukan sih?

 

Seperti yang dibilang oleh Plato, “Dusta dalam Jiwa”. Jangan-jangan beginilah pendidikan terbaik yang diyakini oleh orang tua selama ini, sudah keliru dari awalnya. Orang tua tidak menyadari dampak dari terlalu banyak paparan yang diberikan untuk diri anak akan berpengaruh dalam karakter dan perilaku mereka. Padahal seharusnya, kedua hal ini terbangun dari dalam diri anak, bukan di luar dari dirinya.

 

Anak itu sebetulnya pembelajar mandiri. Dengan sendirinya anak mempunyai kemampuan mencerna makanannya sendiri kok, tanpa perlu bantuan pihak luar untuk mengunyahkan untuk mereka. Sama seperti tubuh yang butuh asupan terbaik, begitu juga budi yang butuh diberikan nutrisi. Jadi bukan kegiatan se-hompimpa alaeyum gambreng yang dibutuhkan oleh anak, melainkan jamuan nutrisi ide yang sebetulnya diperlukan anak dalam pendidikannya, yang dapat menyentuh jiwanya jika anak sudah meminatinya. Karena anak terlahir sebagai pribadi utuh itulah, maka sejak lahir ke dunia anak sebetulnya sudah memulai pendidikannya. Urusan orang tua ya tinggal menyediakan anak-anak sajian budi yang tercukupi kualitas dan kuantitasnya. Keduanya sama-sama penting, karena budi yang sudah tertanam di dalam diri anak itu harus selalu dibuat bekerja untuk mencerna makanannya sendiri agar fungsinya tidak menjadi gagal.

 

Pasti ujung-ujungnya selalu kembalinya ke laptop, eh ke buku. Kenapa sih harus buku? Ya menurut ngana, apakah materi belajar yang sudah dikunyahkan oleh orang lain mampu melekat lama dalam benak anak? Bukankah anak itu sudah terlahir sebagai pribadi utuh yang sanggup mencerna asupan dengan nutrisi baik? Jadi apalagi kalau bukan buku, yang ditulis dari pemikiran seseorang, yang menjadi jawabannya. Pikiran bertemu pikiran ini yang mampu memantik jiwa dan hasrat anak dalam belajar. Sehingga rasa kenyangnya pun jadi lebih paripurna. 

Wednesday, December 15, 2021

9:49 PM

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat

Ourselves - Kegelisahan dan Istirahat


Bergerak itu naluri alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Lihat saja anak kecil yang suka bergerak ke sana kemari, yang kadang membuat orang tuanya menggelengkan kepala dan berujar, “Tidak ada habis-habisnya tenaga anak ini.” Justru begitulah yang sebaiknya terjadi pada anak-anak. Mereka harus dan perlu untuk bergerak. Energi yang terus ada stoknya setiap harinya perlu untuk dikeluarkan. Dan akan lebih banyak hal yang bermanfaat lagi jika anak-anak ini mengeluarkan energinya dengan diajak bergerak ke alam bebas.

 

Namun sayangnya, semakin bertambahnya umur dan menjadi manusia dewasa, bergerak ini tidak lagi menjadi kewajiban yang perlu dilakukan. Slogan “mager” ataupun “kaum rebahan” menjadi sering digaungkan seakan itu sesuatu yang memang benar untuk dijalankan. Padahal sebetulnya, ada kegelisahan dalam diri jika tubuh tidak digerakkan. Tubuh akan merasa tidak nyaman karena ada energi yang tidak keluar dari dalam tubuh. Aliran darah pun tidak mengalirkan oksigen dengan baik. Dan kebiasaan ini jika terus dijalankan, tentu saja akan mendatangkan malapetaka di kemudian hari.

 

Selain tubuh yang tidak nyaman, pikiran pun terganggu. Apalagi jika bukan karena ada oksigen yang mampet mengalir ke otak. Sehingga membuat pikiran ikutan mogok untuk diajak berpikir. Jika sudah begini, jangankan diajak untuk bergerak, diajak mikir berat pun ogah. Kegelisahan dalam diri pun akan menjadi-jadi, ya itu, karena ada kebutuhan bergerak yang kurang dilakukan.

 

Ada yang kurang aktif bergerak, namun ada juga yang senang sekali menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan dalam kesehariannya. Bahkan terlalu aktif, sampai-sampai tidak ada waktu untuk menghela nafas saking sibuknya. Seperti yang terjadi dengan anak-anak yang sering kebablasan dalam bermain, sehingga ingin bermain terus-terusan. Lupa waktu. Selain itu banyak juga orang tua yang gatal melihat anaknya seakan tidak ada kegiatan yang dikerjakan. Anaknya diikutkan berbagai aktivitas ini dan itu, yang lantas lupa menilik kembali sebenarnya apa tujuan utama dalam beraktivitas itu? Jangan heran saat ini banyak sekali anak-anak yang tumbuh tanpa inisiatif mencari kegiatan untuk menyibukkan dirinya sendiri. Dan semakin banyak juga anak-anak, maupun orang dewasa, yang tidak tahan dengan satu kegiatan untuk jangka waktu yang lama.

 

Apakah ini juga menjadi masalah? Tentu ini bisa mendatangkan masalah tersendiri jika menjadi aktif sudah merugikan diri sendiri. Apalagi ketika menjalankan banyak kegiatan ini itu kebablasan hanya untuk memuaskan ambisi semata. Belum lagi jika ada terselip niat untuk menyombongkan diri karena ingin dianggap hebat dan merasa butuh dipuji. Ini sudah menjadi tanda-tanda kegelisahan aktif bergerak yang sudah mendadak ngelunjak menjadi tuan bagi diri kita.

 

Setelah hari-hari yang melelahkan, tubuh pasti memberikan sinyal agar ia diberikan waktu untuk istirahat. Diam dan rehat menjadi pilihan yang bijaksana dalam menanggapinya. Jangan juga menjadi merasa bersalah karena membiarkan tubuh beristirahat. Berikan waktu lah meski sejenak. Namun di samping itu, jangan juga menjadikan istirahat ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Lalu membiarkan nalar untuk merasionalisasikan segala macam alasan. Nalar kan suka begitu, seringnya mengajak pikiran untuk tawar menawar agar dibenarkan.

 

Ah, susahnya hidup ya. Terlalu aktif, terasa salah. Menjadi malas pun juga salah. Lantas, apa sih sebetulnya yang perlu dilakukan?

 

Kenali diri sendiri menjadi kunci jawabannya. Peka akan kebutuhan tubuh. Jika memang dirasa tubuh sudah terlalu aktif, boleh lah untuk membiarkannya beristirahat. Tentu ketika rehat pun tidak ada rasa menyesal karena memberikan tubuh kesenangan sementara. Tetapi perlu diingat juga, energi di dalam tubuh itu stoknya selalu baru setiap hari dan butuh untuk dibakar, dengan cara digerakkan. Bukan terbuai dengan kemalasan sebagai kaum rebahan tadi.

 

Selain itu, diperlukan juga refleksi diri. Terus menerus bertanya kepada diri sendiri, apakah ini yang kubutuhkan? Apakah hari ini aku sudah cukup bergerak? Apakah hari ini terlalu aktif? Apakah kegiatan ini untuk diriku? Apa yang dicari dari ini? Untuk kepuasaan diriku? Untuk dianggap hebat? Ingin dipuji? Dan berbagai pertanyaan yang hanya mampu dijawab jujur oleh diri sendiri. 


6:13 AM

Menulis Kenangan di Buku Harian

Menulis Kenangan di Buku Harian

 Tahun 2021 diawali dengan memulai kembali rajin menulis di buku harian. Satu kegiatan yang sudah lama banget sebetulnya ditinggalkan. Kira-kira jaman SMA lah masih rajin, tapi sejak masuk kuliah mulai bolong-bolong dan akhirnya bablas sampai sekarang. Sempat sih beberapa kali nulis di laptop atau di binder gitu, eh bertahan hanya sehari dua hari habis itu niatnya hilang ditelan bumi. 😁 Nah sejak meniatkan diri menulis lagi di buku harian, sampai dibela-belain beli buku khusus, mulai deh rajin setiap hari ditulis. Segala apa juga diceritakan di situ. Dari yang seru banget harinya sampai yang receh macam semalam habis mimpi pacaran sama Johnny Depp, yang mukanya masih muda yee bukan yang dah peot seperti sekarang, juga ditulis. Dan kebayang dong waktu nulisnya gue bisa sampe mesem-mesem sendiri gitu. 😂😂


Tujuan memulai kebiasaan menulis di buku harian ini sebetulnya sederhana sih. Pastinya setiap hari itu ada sesuatu yang bisa diceritakan, meski hanya hari biasa aja. Tapi menurut gue, si tipe ekstrovert yang gemar bercerita apa aja dan gak bakal berhenti kalau gak disumpel mulutnya pakai makanan, setiap hari itu punya kenangan tersendiri dan sayang banget untuk dilewatkan momennya, gitu. Mau dibagi ke media sosial, takut yang baca eneg. “Lo rajin banget sih nyetatus, Tep!” Bisa-bisa gue di unfollow berjamaah karena terlalu rajin posting. Selain itu juga, gue mau membebaskan jiwa teman-teman yang saban hari was-was karena takut diteror sama curhatan panjang dari gue. Ditambah lagi, gue juga harus menyayangi nyawa pasangan hidup gue. Kasian kan kalau dia terlalu sering mendengarkan curhatan gue. 😋😋


Dengan rajin menulis di buku harian, sebenarnya gue jadi terlatih untuk menguntai kata menjadi kalimat yang baik sih. Apalagi gue sering banget gagal mensinkronisasikan otak dengan mulut. Kayanya di otak itu sudah pengen ngomong gini, eh begitu diucapkan susunan kalimatnya jadi amburadul. Nah, seiring dengan sering menulis di buku harian, pelan-pelan gue jadi bisa mengatur tutur bahasa gue sehingga terdengar lebih cakep susunannya. Tsaaah. 😜


Disamping itu, gue pernah dengar atau baca di mana gitu, kalau menulis mampu membantu untuk mengurai emosi. Apalagi kalau ditambah menulisnya dengan tangan, bukan dengan laptop. Jadi semacam terapi juga ya menulis buku harian ini. Dan benar loh. Sedikit banyak gue jadi mampu melepaskan emosi tanpa harus membebankan ke orang di luar diri gue. Meski pegal juga sih kadang-kadang kalau lagi curhat itu, secara nulisnya pakai otot yang dah puluhan tahun gak diajak menulis. Wkwkwkwk.😂😂


Sayangnya, melatih konsistensi itu tidak mudah, Sis… 


Menulis buku harian ini pun terpaksa berhenti di bulan Juli, tepat gue terkena Covid dan mulai merasa tidak mampu lagi menjalankan rutinitas menulis buku harian. Tapi sepertinya gue akan kembali lagi menulis, karena gue bisa merasakan begitu banyak hal positif terjadi yang gue dapat dari menulis kenangan di buku harian....


** Ini terakhir kali gue membuat doodling di awal bulan Agustus, tapi tentu aja tidak ada curhatan-curhatan gue yang ditulis setelahnya.

Sunday, November 14, 2021

7:44 PM

Sepenggal Kilas Balik Perjalanan

Sepenggal Kilas Balik Perjalanan

Pertama kali ketemu dengan yayang kesayangan ini di pergantian tahun 2005, di salah satu restoran cepat saji di daerah Thamrin. Pagi-pagi buta pula sekitar pukul 4 pagi. Kami berdua bertemu setelah menghabiskan waktu hura-hura di malam tahun baru. Dia dengan teman-temannya. Gue dengan teman-teman gue di kampus. Kebetulan juga itu tahun terakhir gue jadi mahasiswi. Jadi rasanya seperti perlu gila-gilaan di kampus buat terakhir kalinya. Menikmati hidup bebas sebagai anak muda gitu deh. Cieeee...😁

 

Dia sih yang ngajakin ketemuan di restoran itu. Entah apa maksudnya. Tapi gue yakin alasan dia pasti begini, “Gak ada maksud apa-apa, cari resto yang buka aja jam segitu.” Bah. Lucunya begitu lihat dia masuk ke resto dan berjalan ke arah gue, mendadak seperti ada suara di batin gue yang bilang gini, “He is the one!” Agak kaget sih waktu itu, tapi suara batin gue memang suka muncul tiba-tiba membisikkan sesuatu gitu. Suka ada yang begini gak sih kaya gue? Karena sampai hari ini gue masih suka merasakan seperti itu tiba-tiba loh. Tapi untung aja waktu doski berjalan ke arah gue nggak muncul sinar-sinar cahaya dari belakangnya sambil adegannya dibikin slow motion ala-ala sinetron gitu. Secara itu jam 4 pagi, dimana semua orang lagi enak-enaknya ngiler di kasur tapi gue duduk manis menahan ngantuk nungguin si calon yayang gue ini datang. Jadi mikir, apa jangan-jangan itu gue lagi mimpi ya? 😴😴

 

Selang beberapa bulan dari pertemuan itu, kami pacaran. Perjalanan pun dimulai. Pacaran sama cowok yang satu ini emang unik. Jarang banget ngajakin berantem, justru gue yang sering tantrum kaya anak kecil. Hatinya memang panjang sabar ngadepin gue, kaya coki-coki. Eh tapi jangan salah, gini-gini gue juga kurang baik apa buat doski - gue ogah dong dibilang pacar tiri! 😛😛 Tiap kali mau pacaran pasti gue gak pernah dijemput, malah dijemputnya di halte busway. Karena dia harus kerja setengah hari sampai hari Sabtu dan selama seminggu hanya bisa ketemu di akhir pekan, jadilah gue yang baik hati dan tidak sombong ini setuju untuk bertemu di tengah-tengah. Apalagi rumah kami itu ujung ke ujung, antara Barat dan Timur Jakarta. Dan sudah dari dulu yang namanya Jakarta itu macetnya emang laknat banget tiap akhir pekan. Bisa-bisa dia jemput gue sudah kesorean trus ngedatenya gak bisa lama. Yang ada muka gue ditekuk kaya origami sepanjang ngedate gara-gara bete. Males kan! Jadi dengan alasan ini gue setuju untuk ketemu di tengah Jakarta aja, dan pilihannya jatuh di Halte Busway Pasar Baru – halte ini jadi kenangan banget sekarang. Niat banget kalau dipikir-pikir ya. Kalau bukan cinta mah... Eaaaaaa 😜😜

 

Coba tolong dibayangin deh. Setiap mau pacaran, gue selalu sudah dandan cantik dari rumah. Sebelum ke halte, gue harus naik ojek dulu dari depan rumah dan ini sekitar jam 12 siang. Ya, gue naik ojek di tengah siang bolong, teriknya ampun ya lord! Kalau gue itu jemuran, dijamin kering begitu sampai halte. Sampai di bawah halte gue turun dari ojek siap-siap jalan ke halte. Semua tahu kan halte busway seperti apa panjangnya, rasanya sudah jalan naik turun tapi gak sampai-sampai juga ke haltenya. Mana begitu sampai di halte manusia bukan lagi satu dua tiga yang bisa dihitung pakai jari pas nunggu bis. Berjibun! Ketika bisnya belum datang sih semua tampak baik-baik saja ya. Tapi begitu bisnya nongol, semua orang mendadak jadi akrab satu sama lain. Alias saling menempel, kaya ada medan magnetnya gitu. Masing-masing berusaha sekuat tenaga memasukkan tubuhnya ke dalam kotak kecil berjalan itu. Apalagi kalau bukan karena malas menunggu bis berikutnya yang tidak tahu kapan datangnya. Terpaksa gue juga ikutan dalam arus dorong-dorongan ini bersama dengan keringet mas-mas di samping, ibu-ibu gemuk yang nafsu ikutan menyesakkan badannya di depan gue sambil menggandeng anaknya yang masih kecil yang terhimpit badan orang dewasa, serta orang di belakang gue dengan tas punggung yang berubah jadi tas dada yang dipakai untuk mendukung aksi dorong mendorong ini. Lengkap! Dan rasa kemenangan itu muncul ketika gue sudah berada di dalam bis meninggalkan orang-orang yang ditolak oleh petugas. Pengen rasanya dadah-dadah kaya miss Indonesia gitu. Beneran! 😂😁

 

Eh, jangan bahagia dulu, Esmeralda! 💃 Tantangan berikutnya adalah siap-siap berdiri di sepanjang jalan. Masuknya aja sudah susah, jelas di dalam bis jangan berharap ada bangku kosong atau ada orang berbaik hati yang mau menukarkan bangkunya karena disenyumin sama gue. Mimpi! Jalanan Jakarta seperti yang gue bilang sebelumnya, laknat abis di Sabtu siang tuh. Jadi, berdiri selama 45 menit sampai 1 jam sudah pasti siap dilakoni sama gue sampai akhirnya tiba di Halte Pasar Baru. Begitu dijemput oleh yayang gue dapat dipastikan muka gue seperti habis nenggak air kobokan yang dikasih jeruk nipis. Kecut banget dengan badan bau matahari, bonus muka minyakan, ketek basah dan ramput lepek. Kacrut emang! Beneran, kalau bukan karena dipelet sih gue…..😤😤

 

Tanggal 17 November 2007 kami pilih menjadi tanggal pernikahan kami. 💗💗 Perjalanan rumah tangga pun dimulai. Ya, seperti layaknya pernikahan artis-artis yang sering digosipin bermasalah, kami yang mimpi jadi artis juga mengalaminya. Ngarep jadi artis banget sih, Mba! 😂😂 5 tahun pertama penuh dengan jatuh bangun macam lagunya bang Meggy Z gitu deh. Menyatukan dua pikiran jadi satu memang tidak mudah, pasti ujung-ujungnya ngambek karena gak diturutin – gue sih ini. 😝😝 Masalah datang silih berganti. Sinetron Tersanjung aja kalah episodenya nih sama sinetron rumah tangganya Babang Dilan dan Neng Milea. Belum jabatan tangan alias kenalan sama yang namanya apa sih tujuan hidup dan visi misi dalam berumah tangga. Siapa mereka?!

 

Masuk 5 tahun berikutnya juga tidak kalah seru. Kali ini bukan Tersanjung lagi patokannya, sudah masuk film box office ini. Judulnya ganti Fast n Furious. Seru lah pokoknya perjalanan rumah tangga di 5 tahun kedua ini. Masalah makin dalam. Mending dapat emas gitu ya pas galinya kedalaman, ini malah dapat masalah yang susah banget keluarnya. Seperti terjebak dalam pusaran labirin, muter-muter aja di situ. Nangis sudah sampai gak keluar air mata rasanya. Saat itu berasanya semuanya serba berat. Seperti berat badan akyu….*sedih 😭😝

 

Sampai di satu titik, gue merasa sudah tidak mampu lagi berpikir menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang kami hadapi. Kenapa gue bilang ‘gue’? Karena gue selalu merasa berjalan sendiri dalam menghadapi setiap masalah. Lupa kalau dalam rumah tangga itu diperlukan dua orang dalam menjalaninya. Lupa kalau gue punya dia yang bisa saling mendukung dan saling bergandengan tangan menyelesaikan masalah satu persatu. Ke’aku’an ini yang mendatangkan banyak masalah ternyata. Gue pun mulai menyadari bahwa masalah tidak dapat ditanggung sendiri ketika sudah berada dalam satu ikatan rumah tangga.

 

Di titik itulah gue mulai merasa harus menghadapinya dengan kepasrahan. Menyerah tanpa ada lagi ekspektasi atau rencana apapun. Tuhan pun bekerja dengan caraNya. Ia mengirimkan bantuan lewat orang-orang yang entah bagaimana datang menolong. SkenarioNya sungguh ajaib. Didatangkan lah orang yang tiba-tiba memesan orderan di saat uang hanya ada 100 ribu. Hadirlah makanan di depan kami di saat kami sudah tidak ada uang dan tidak tahu mau makan apa saat itu. Terjadi berkali-kali dan ini mujizat sekali. Semua dicukupkan. Seperti ada tertulis dan itu benar terjadi.

“Mintalah, maka akan diberikan padamu. Carilah, maka kamu akan mendapatkan. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7:7

 

Hubungan kami berdua yang juga mengalami badai pun dieratkan kembali lewat tanganNya. Kami dipertemukan dengan komunitas-komunitas yang membuat kami berdua kembali belajar untuk mengeratkan tangan bersama dalam menghadapi masalah. Lewat komunitas rohani, kami belajar tentang arti berpasangan. Lewat teman-teman komunitas homeschool, kami belajar tentang tujuan hidup manusia. Lewat komunitas spiritual, kami belajar berdamai dengan keadaan dan pastinya melihat ke dalam diri. Pelan-pelan kami dipulihkan.

 

Saat ini kami masuk di perjalanan rumah tangga 5 tahun ketiga. Masalah tentu pasti akan selalu datang. Ibarat bermain game, setiap level mempunyai kesusahannya sendiri. Semakin tinggi tentu semakin susah. Musuh level satu lewat, datang lagi musuh level dua yang lebih susah dari sebelumnya. Bukan lagi siapa yang mengendalikan konsolnya untuk melewati level ini, tapi lebih melihat bagaimana menghadapi masalah ini bersama-sama. Dan karena sudah pernah di tahap itu, kami jadi paham mengatasinya. Melihat masalah sudah dengan perspektif yang berbeda. Mencari solusi, bukan memperkarakan lagi siapa yang menyebabkan masalah – bohong deh, kadang masih juga ribut, “Salah lo nih!” ditambah pake urat ngomongnya. Wkwkwkwkwkw. 😂😂😂😂 Ya, namanya juga masih berdaging ya, sodara-sodara. Paham teori belum tentu ketika ada masalah bisa langsung mengaplikasikannya. Kami masih terus berproses, dan ini pasti tidak akan berhenti sampai maut menjemput.

 

Mungkin itu juga kenapa kami berpasangan ya. Semuanya berseberangan. Gue kan anaknya gak asik ya, gak bisa cuek. Eh dikasihnya pasangan yang cuek banget. Dia yang santai banget menjalani hidup, ketemunya gue yang ngotot, pakai rencana segambreng ini itu. Tapi akhirnya ketularan juga, dia kadang jadi ngotot dan gue yang jadi santai banget. Semacam dia yang suka mendadak ngotot banget kalau lagi di jalan, disalip dikit tensinya naik. Kalau bisa dikunyah itu orang, udah dikunyah 32x kali tuh. Sedangkan gue yang males banget ngadepin orang-orang yang kelakuannya ajaib di jalan lebih milih untuk santai sambil dengerin radio aja. Padahal dulunya kami terbalik loh. Dia yang santai di jalan, gue yang ngotot abis. Bisa buka kaca trus maki-maki orang. 😝😝 Ya begitulah pernikahan. Saling menginspirasi. Gak hanya yang bagus, yang jeleknya juga. Dulu gue rajin mandi loh, eh sejak nikah semakin jadi males mandi kaya si bapak bos. Ketularan banget ini! Habis ini bakalan habis kena jitak gue sama doski semua dapur rumah tangga diumbar kemana-mana. 😜😜

 

Selain itu ya, menikah itu jadi punya teman terbaik yang teken kontrak seumur hidup. Jadi bisa cerita apa aja sama dia yang gue tahu dia gak bakal menyakiti gue ataupun nusuk gue dari belakang. Sahabat terbaik yang gue punya. Tempat gue bersandar kalau gue capek. Tempat gue curhat sampai pagi keluarin uneg-uneg gue. Mau ngomel kaya apapun pasti didengerin, meskipun abis itu ditinggal ngorok. Eh, tapi karena gue sering ngomel kalau gue cerita ditinggal ngorok, sekarang dia berusaha tetep melek meskipun nguap terus-terusan. Hihihi. Sekaligus tempat gue minta tolong, “Say tolong ambilin remote dong, aku malas berdiri.” “Say, tolong buangin sampah dong, itu sampah udah banyak.” “Say, tolong masakin makan siang ya, aku gak keburu.” Lama-lama jadi ngelunjak yee. 😋

 

Ya begitulah pernikahan. Ada masanya senang, seru, bahagia, tapi ada kalanya jatuh terseok-seok dan berusaha bangkit lagi. Apapun itu, gue bersyukur karena pasangan gue adalah dia. Bersamanya akan selalu banyak hal yang dijalani, tapi gue yakin gue akan bisa melewatinya. Selamat hari pernikahan, Babang Kris Biantoroku yang sekarang sedang menyamar menjadi Babang Ariel Peter Pan, dan sesekali jadi Babang Dilan. Tapi tidak akan pernah menjadi Mas Boy, karena sudah diambil gelarnya oleh anak satu-satunya kami. Ini sih emang emaknya aja ngefans trus kepengen anaknya seperti Mas Boy; punya teman segudang, baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi juga pintar. Tsaaaah…..😍


Semoga dengan bertambahnya uban di rambutmu, urat-urat garis di muka serta perut yang mulai sedikit mengecil, kamu jadi semakin bijaksana menghadapi istrinya yang semakin bertambah tahun semakin bawel dengan banyak tuntutan. Bijaksana di sini artinya semakin diberikan panjaaaaaaang sabar ya. Belum ganti nama jadi Ali Sabar kan, Bang?! Hehehehee. 

Kiss and hug you tight, love you!! 😘😘



Friday, November 5, 2021

8:41 PM

Ourselves - Rasa Lapar dan Haus

Ourselves - Rasa Lapar dan Haus


Selayaknya pemerintahan dalam suatu negara, Pemerintah di dalam Kerajaan Jiwa Manusia juga mempunyai tugas yang diemban oleh masing-masing pejabatnya. Pejabat pertama yang akan dibahas adalah pejabat yang tidak mempunyai jabatan tinggi namun mempunyai peran yang sangat besar dalam pemerintahan. Mereka ini yang membuat roda pemerintahan dapat berjalan baik, ataupun menjadi buruk. Mereka adalah Ajun Komisaris Tubuh.

 

Sebetulnya tugas mereka adalah membuat Negeri menjadi sejahtera. Andai saja mereka bisa mengurus pekerjaannya masing-masing tanpa harus kepo dengan pejabat lainnya, tentu Negeri Jiwa Manusia akan selalu damai dan tentram. Sayangnya, mereka ini berlomba-lomba ingin meyakinkan Perdana Menteri bahwa mereka lah yang membawa kebahagiaan dalam Jiwa Manusia. Masalah akan semakin pelik jika salah satu pejabat mendapatkan apa yang diinginkan. Maka Negeri Jiwa Manusia pun menjadi kacau.

 

Ajun Komisaris Tubuh: Rasa Lapar


 

Rasa lapar itu netral karena setiap manusia pasti mengalaminya. Ketika perut terasa lapar, ia pasti menagih untuk minta diisi dengan sesuatu yang mengenyangkan. Jika sesuatu yang mengenyangkan itu adalah makanan yang memang memiliki gizi yang baik, maka rasa lapar bisa dibilang sudah tertangani. Masalah akan muncul jika rasa lapar ini diberi sesuatu yang manis-manis – seperti gue (uueeekkk 😜), misalnya, seperti kue, cokelat, permen ataupun minuman kekinian yang manis itu. Rasa lapar tidak akan pernah menjadi kenyang karena yang terjadi adalah tubuh merasa ketagihan dengan segala yang manis. Jika ini terus dilakukan, tidak segera dihentikan, maka perut tidak akan pernah mendeteksi rasa lapar lagi. Justru yang datang adalah bahaya Kerakusan.

 

Setelah rasa lapar ‘ngelunjak’ menjadi Kerakusan, ia pun mulai minta yang macam-macam. Mencari segala cara untuk mengempani rasa lapar yang tidak kunjung usai. Tubuh menjadi ketagihan dengan sesuatu yang manis. Kerakusan pun mulai mencoba untuk meyakinkan Perdana Menteri (Kehendak), kalau yang dibutuhkan oleh tubuh adalah sesuatu yang manis-manis ini. Pada akhirnya Kerakusan pun sukses menguasai Perdana Menteri. Segala pikiran hanya berpaku pada “aku harus makan apa lagi nih?”

 

Tanpa disadari juga, ketika Kerakusan sudah menjadi tuan atas diri kita, penyakit sudah menunggu di depan mata. Penyakit yang sudah ditumpuk akibat mengasupi diri dengan sesuatu yang minim nutrisi. Tetapi akan berbeda jika rasa lapar ini bisa menjadi tuan untuk dirinya sendiri. Dengan kesadaran penuh, ia tahu apa yang harus diasup ke dalam tubuh. Maka Jiwa Manusia pun akan menjadi baik-baik saja. Karena sebenarnya tubuh manusia itu tidak membutuhkan lemak, melainkan otot.

 

Bicara soal Kerakusan, gue sendiri pun sering sekali terjatuh dalam lubang nista ini. Berkali-kali bahkan. Memang benar, ketika mulut sudah kenal dengan yang manis-manis – duh, padahal gue kurang manis apa coba ya, masih juga mau makan manis, heran! 😂, rasanya memang gak ada yang namanya kenyang. Perut seakan terus bersuara, nagih minta diisi lagi dan lagi. Entah sampai kapan kenyangnya.

 

Tetapi ketika gue dengan kesadaran penuh memilih untuk berhenti mengkonsumsi makanan yang manis, perut pun tidak lagi bergejolak macam-macam, menagih seperti tukang kredit untuk diisi. Dengan kata lain, masalah Kerakusan ini sebetulnya dapat dihentikan, jika kita, sang pemilik Jiwa Manusia, mampu mengendalikan nafsu. Tentu ini masih jadi latihan yang tidak pernah usai ya. Karena gue sendiri aja masih terus berkutat bolak balik di urusan mulut ini. Iya, gue ngakuuuuu!! 😋😝

 

Rasa lapar ini juga bisa diibaratkan seperti informasi yang ada di sekitar kita. Saat ini informasi mudah sekali didapatkan. Segala gosip artis, selebgram ini itu, info tentang restoran atau tempat jalan-jalan yang lagi hype atau kekinian, semua berseliweran dimana-mana. Apalagi akses untuk mendapatkan informasi itu begitu sangat mudah. Dalam hitungan detik, jari menggeser atas bawah, semua informasi langsung terpampang di layar dengan sempurna. Tapi, apakah benar kita memerlukan semua informasi seperti itu? Sebutuh itukah kita untuk mengikuti semua yang sedang kekinian? Bukankah hal semacam ini juga bentuk lain dari Kerakusan akibat terlalu banyak informasi yang ‘manis’ bagi Jiwa Manusia?

 

Ajun Komisaris Tubuh: Rasa Haus

 

Sebagian besar tubuh kita terdiri dari air. Mau tidak mau, kita wajib memberikan asupan air bagi tubuh supaya tidak kekurangan. Namun sayangnya seringkali kita lupa dan tanpa disadari tubuh menjadi dehidrasi.

 

Belakangan ini air sudah bertransformasi menjadi minuman yang bermacam-macam. Minuman manis, bersoda, berwarna, bahkan yang lagi kekinian saat ini adalah minuman yang dicampur dengan bahan beraneka ragam. Minuman-minuman ini seakan menjadi pelipur dahaga di saat panas ataupun sekadar teman untuk bercerita atau menunggu.

 

Ada yang lebih menggoda iman ketimbang minuman ‘fancy’ di atas. Minuman berakohol. Banyak orang mencobanya dan tidak bisa keluar dari pusaran minuman memabukkan ini. Seringkali minuman ini dijadikan tameng yang kuat sebagai pelindung diri dari masalah. Sehingga orang memilih jalan terus kembali mengkonsumsinya ketimbang mencari jalan keluar dari masalahnya. Miris memang ketika orang sudah menjadikan minuman alkohol ini sebagai penolongnya.

 

Memang tidak diragukan lagi betapa minuman dengan perasa yang unik-unik ini mampu menggoda kita. Dan tanpa disadari minuman ini sudah menjadi pengganti air yang sesungguhnya kita perlukan, yaitu air mineral. Padahal semua tahu, air mineral merupakan satu-satunya pelipur dahaga yang paling diperlukan oleh tubuh. Tapi kenapa sedikit yang menyadari ini?

 

Entah karena air mineral ini dianggap kurang enak rasanya dibanding minuman perasa lainnya sehingga tidak menjadi pilihan utama orang-orang untuk meminumnya. Ataupun air mineral ini dianggap sudah terlalu umum dan mudah untuk didapat sehingga jadi menyepelekannya. Apapun itu alasannya, memang sebaiknya tubuh hanya diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Dan juga sesuatu yang memang diperlukan bagi tubuh. Bukan sekadar jadi ajang pemuasaan nafsu semata saja.

 

*ngomong sama diri sendiri! 😋😋

Wednesday, October 20, 2021

2:50 PM

Ourselves - Pemerintah Jiwa Manusia

Ourselves - Pemerintah Jiwa Manusia

 



Setiap dari kita merupakan Kerajaan Jiwa Manusia yang terlahir dengan kekayaan warisan yang besar. Banyak hal yang mampu kita gapai, sebut saja seperti kebaikan, kebesaran, kebijaksanaan, kepahlawanan dan pengetahuan. Namun sayangnya, banyak orang hidup tanpa menggalinya. Seolah tidak ada bayangan, betapa dalam dan besarnya kekayaan jiwa manusia itu. Lalu akhirnya hidup dengan merasa selalu kurang, tidak pernah cukup, kecewa terhadap banyak hal dan mempunyai pola pikir yang picik dan sempit. Sayang ya sebetulnya kalau akhirnya kita harus hidup seperti itu tanpa mengenali lebih jauh lagi siapa diri kita ini.

 

Lewat buku Ourselves ini, kita diajak mengetahui lebih jauh lagi tentang diri kita. Setelah kemarin sempat dibahas tentang bahaya-bahaya yang terjadi didalam Kerajaan Jiwa Manusia, sekarang dibaginya lah tubuh manusia seperti selayaknya suatu pemerintahan. Ibu Charlotte Mason ini beneran seru banget ya bisa-bisanya mengibaratkan tubuh menjadi seperti itu. Begini kira-kira:

 

  • Ajun Komisaris Tubuh = Hasrat atau Nafsu
  • Pejabat Urusan Pendapatan dan Penerimaan Negara = Keinginan
  • Pejabat Perbendaharaan Negara = Kasih Sayang
  • Sekretaris Luar Negeri = Intelektual; dengan rekannya Kepala Bidang Eksplorasi (Imajinasi) dan Kepala Bidang Seni (Rasa Estetika)
  • Jaksa Agung = Nalar
  • Ketua Mahkamah Agung = Nurani
  • Perdana Menteri = Kehendak

Tentunya diatas ini semua ada Raja

 

Nah, para pejabat ini dianggap duduk di setingkat Majelis gitu. Tugasnya ya mengatur urusan-urusan sesuai dengan tanggung jawabnya. Majelis ini pun terbagi lagi menjadi 4; Majelis Tubuh, Hati, Akal Budi dan Jiwa. Dan tentunya itu semua akan dijelaskan satu persatu nanti. Bakalan seru deh ini. Tungguin kelanjutannya yaaaa

Friday, October 8, 2021

8:05 PM

Philosophy Education - Akal Budi dan Filsafat Pendidikan

Philosophy Education - Akal Budi dan Filsafat Pendidikan


Manusia adalah makhluk spiritual. Bukan saja tubuhnya yang perlu diberikan nutrisi yang terbaik, akal budinya pun juga. Namun sayangnya, pendidikan yang dianut saat ini adalah pendidikan yang berpusat hanya pada kebugaran fisik. Ataupun pendidikan yang sekadar melatih manusia untuk mampu memiliki satu atau dua kemampuan untuk bertahan hidup. Kurikulum utilitarian ini seakan menjadi tolak awal kejatuhan moral bagi anak-anak didiknya.


Kita membutuhkan pendidikan yang mampu memelihara akal budi kita, tentunya selain dua hal di atas tadi – kebugaran fisik dan pelatihan kejuruan. Ya, kita memerlukan filsafat pendidikan. Suatu pendidikan yang mampu menyuburkan pikiran kita, mengembangkan kepribadian dan juga  pribadi yang berkualitas.

 

Beberapa hal yang menjadi tolak ukur supaya pendidikan filsafat itu menjadi efektif untuk diterapkan:

  •  Bukan tugas guru sebagai  pemikul tanggung jawab dalam pendidikan. Justru anak yang menggarap sendiri tugas bacaannya.
  • Guru hanya sedikit menjelaskan, tidak merangkumkan dan juga tidak memperluas apapun dalam pendidikan.
  • Anak diperkenalkan dengan prinsip sekali baca. Lalu, bacaan itu harus diuji dengan cara narasi ataupun menulis esai. Tentu tidak ada remidi dalam ujian.
  • Buku yang diberikan adalah buku yang terbaik. Buku yang tidak dipenggal atau dipersingkat, begitu juga bukan buku yang dibaca berdasarkan suka atau tidak suka. Biasanya buku bacaan ini akan dipakai selama 2-3 tahun dalam pendidikannya. Buku tebal yang berisi ratusan atau bahkan ribuan halaman.
  • Anak akan membaca banyak buku dalam mata pelajaran yang berbeda-beda, tapi anak tidak akan kebingungan kok.
  • Belajar demi kesenangan. Kesenangan yang datang bukan karena hasil dari guru yang mengunyahkan dengan cara yang dibuat semenarik mungkin ataupun dirangkumkan sampai anak tidak perlu usaha selain menelannya bulat-bulat. Tetapi murni dari buku yang menyenangkan dan menawan yang dbaca oleh anak.
  • Buku yang diberikan harus berkualitas sastrawi.
  • Secara mengejutkan, anak akan fokus dengan sukarela dan efektif ketika menggunakan sistem ini. Tidak perlu lagi nilai, hadiah, rangking, hukuman, pujian ataupun bujukan untuk menarik perhatian mereka dalam belajar.
  • Pelajaran seperti Matematika dan Tata Bahasa dibutuhkan disiplin yang tinggi. Nah, disinilah kemampuan guru diperlukan untuk membantu anak. Tentu kebiasaan memperhatikan dari anak juga masih tetap diperlukan ya.
  • Pelajaran tidak perlu diselingi dengan sesuatu yang remeh temeh untuk menarik perhatian anak.

 

Dengan gaya pendidikan seperti ini dapat dipastikan anak-anak dari kalangan kelas manapun mampu mendapat pendidikan yang terbaik. Namun tetap saja akan banyak yang yang tidak percaya dan berkata, “Masa sih belajar hanya dari baca buku saja?” Apalagi dunia saat ini sudah semakin maju dan berkembang. Teknologi sudah jauh kemana-mana. Rasanya sangat tidak relevan ya dengan situasi saat ini. Bisa jadi anak kita yang terdidik paling belakang. Hmm….mungkin kita bisa buktikan nanti di diskusi berikut, berikut dan berikutnya....ditungguin aja yaaaaa. :)

 

Wednesday, October 6, 2021

8:48 AM

Ourselves - Bahaya Bahaya Jiwa Manusia

Ourselves - Bahaya Bahaya Jiwa Manusia

 

Negeri jiwa manusia memang indah, dan akan selalu indah. Tetapi, ada kalanya negeri ini sesekali dirudung mara bahaya. Namun, negeri ini mempunyai kemampuan untuk lolos dari bahaya yang mengancamnya. Apakah bahaya-bahaya yang selalu mengancam ketenteraman negeri jiwa manusia?

 

Bahaya Kemalasan

 

Hal yang paling umum terjadi adalah epidemi kemalasan. Layaknya suatu virus, kemalasan ini cepat sekali menyebar sampai ke seluruh negeri jiwa manusia. Seperti petani yang urung membajak dan menaruh benih, atau seperti buah-buahan yang jatuh dari pohonnya karena lupa dipetik, bahkan sampai membusuk. Seolah-olah kita ini malas untuk mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Melupakan potensi atau talenta yang sudah Tuhan berikan untuk digali lebih dalam lagi, hanya karena kita diliputi rasa malas yang besar.

 

Selain itu, kemalasan ini juga diibaratkan seperti kapal-kapal yang menganggur di pelabuhan karena tidak ada orang yang menginginkan sesuatu pun dari luar negeri. Seolah ini menjelaskan kita ini terlalu malas untuk bergerak, terlalu malas melihat kemampuan kita dan menjadi berguna bagi orang lain. Sehingga orang lain pun enggan untuk melihat kemampuan kita karena dianggap tidak mampu.

 

Membiarkan diri terlalu lama terlena dengan bermalas-malasan dan berleha-leha, maka tidak heran ini akan membentuk satu kebiasaan dalam hidup. Anggap saja seperti asupan bagi tubuh. Seringkali kita mengabaikan tubuh yang perlu diberikan nutrisi, hanya diberikan makanan seadaanya. Berlindung di balik kesibukan ataupun nanti-nanti lagi. Lupa kalau umur semakin bertambah, lupa kalau sesuatu yang ditumpuk akan menjadi timbunan yang tinggi dan sewaktu-waktu dapat meledak. Ya, semuanya dimulai dari rasa malas yang menaungi kehidupan kita.

 

Bahaya Api

 

Api ini mempunyai potensi untuk bisa menjadi penerang dalam kegelapan, tetapi di sisi lain api bisa juga menyebabkan satu kebakaran besar yang meluas. Api ini diibaratkan seperti hasrat dalam diri manusia yang mampu menguasai jiwa. Namun seringkali kita mencobai hasrat diri ini. Seperti hasrat untuk mencari promo diskonan makanan dengan harga miring. Promo akan selalu ada jika mencarinya. Tapi bagaimana kita mampu mengendalikan diri untuk tidak terjebak berulang kali dalam lubang promo diskonan itu. Nah, di situlah PRnya! – ini gue, iyaa, ini gue!! :D

 

Maka pepatah, “Janganlah bermain-main dengan api” itu menjadi benar untuk diingat ya. Perlu hati-hati dalam menggunakan hasrat ini. Apakah kita yang mengendalikan atau kita yang dikendalikan oleh hasrat?


Bahaya Wabah, Banjir dan Kelaparan

 

Dalam hidup, seringkali kita bertemu dengan masalah yang tidak disangka-sangka. Seperti suatu negeri yang mendadak dilanda musibah. Tentu saja datangnya tiba-tiba dan dalam sekejab membuat satu negeri menjadi pontang-panting menghadapinya. Tidak jarang musibah ini memporak-porandakan negeri itu dan membuat pemerintahnya pusing tujuh keliling. Ya, seperti kita yang bertemu dengan suatu musibah tanpa diduga. Sudah sebisa mungkin kita berhati-hati dalam mengendarai mobil, tapi bisa saja kecelakaan itu terjadi. Memang bukan sesuatu yang kita mau, tapi itu sudah terjadi. Lantas, apa yang mampu kita lakukan?

 

Ujian dalam hidup itu kerap sekali menjadi satu pemikiran tersendiri. Memang ada hal-hal di luar kuasa kita sebagai umat manusia yang tidak mampu kita kelola dengan akal pikiran kita. Ini menjadi satu pengingat bagi kita untuk tidak menjadi sombong dan lebih rendah hati, pengingat untuk terus memperbaiki dan meng-upgrade diri. Bisa juga menjadi inspirasi untuk hidup. Dan bisa juga menjadi alat untuk kita bertransformasi menuju manusia yang lebih baik lagi.

 

“Kenapa harus aku yang mengalaminya, bukan orang lain?” – karena orang lain bukan lo, Tong. Tuhan mau kasih pelajaran hidup aja buat lo, biar lo gak jadi manusia super sendirian. Paham ora, son!

 

Bahaya Perselisihan

 

Perselisihan dalam hidup bukan hanya terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Namun seringkali terjadi perdebatan sengit dalam diri manusia itu sendiri. Tiga piranti yang bernama Nalar, Kehendak dan Pikiran inilah yang seringkali membuat persaingan menjadi tidak sehat di dalam diri. Masing-masing mempunyai kadar keras kepala yang tidak sedikit. Mau menang akan pendapatnya.

 

Sebut saja ketika Kehendak (si hasrat tinggi) ingin sekali dipuaskan dengan makan bakmi. Wah, siapa sih yang mampu menolak rasa enak dan lezatnya semangkuk bakmi ayam dengan isian yang melimpah ditemani pangsit rebus, bakso dan juga sayur-sayuran yang menggoda iman. Belum lagi makannya pakai sambal dan kulit pangsit goreng yang kriuk-kriuk itu. Nalar, si piranti netral, turut mendukung maksud si Kehendak. Mencoba membenarkan maksud Kehendak untuk membiarkan tubuh dimasuki oleh bakmi ayam. Pikiran juga tidak mau kalah berdebat, ia terus melancarkan logika. Lagi-lagi Nalar juga turut membenarkan, Nalar ini pribadi ganda kayanya. Gak punya pendirian dia. Pikiran pun bilang, makan bakmi itu hanya enak di mulut. Tapi ketika sudah masuk ke dalam pencernaan, perutmu akan bergejolak. Meronta-ronta akibat kandungan tepung dalam mie, perih karena cabai yang tidak diterima oleh pencernaan. Lantas, siapakah yang menang? – please jangan ditanyakan ke aku, kalian sudah bisa menebaknya…. :P

 

Bahaya Kegelapan

 

Kadang merasa hidup kita tertutup oleh kabut yang tebal dan tidak menemukan sinar untuk memandu kita keluar dari kegelapan. Depresi. Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan ketika kita merasa tidak mampu keluar dari permasalahan hidup yang sedang melanda kita. Seolah seperti tidak ada lagi harapan untuk kita hidup lebih lama lagi di dunia. Cahaya pun sirna.

 

Sejatinya dalam setiap cobaan hidup yang datang menghampiri, selalu ada hal yang mampu dilihat dari sisi baiknya. Meskipun kita harus berdarah-darah berjalan melewatinya, tapi harapan itu selalu ada. Cahaya akan muncul jika kita mencarinya. Jadi, jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuan orang lain untuk mengulurkan tangan. Bisa saja bantuan itu memang datang dariNya dalam wujud manusia lain. Kita perlu percaya ini, karena hidup tidak selamanya gelap.

 

Ada tertulis, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” – Matius 7:7

 

Tidak ada hidup yang tidak bahagia di Negeri Jiwa Manusia. Kuncinya adalah keseimbangan. Bagaimana pun juga, hidup harus-wajib-mesti-kudu seimbang dalam segala aspek kehidupan.

Wednesday, September 29, 2021

2:44 PM

Ourselves - Negeri Jiwa Manusia

Ourselves - Negeri Jiwa Manusia


Ketika tubuh manusia diibaratkan seperti suatu negeri di dalamnya. Negeri yang mempunyai tanah yang sangat subur. Ada yang sudah tergarap dengan baik sehingga kita dapat menikmati ladang dan perkebunan dengan hasil panennya yang bagus. Tetapi ada juga tanah yang masih ditumbuhi tanaman liar yang sama sekali belum tersentuh oleh siapa pun, sehingga membutuhkan orang lain untuk mengelolanya. Di dasar tanahnya pun juga masih banyak harta karun yang melimpah ruah, siap untuk ditambang dan dikelola dengan baik oleh sang pemilik tubuh.

 

Negeri ini sangat sibuk. Kotanya pun juga sangat ramai. Banyak pabrik-pabrik yang menghasilkan banyak barang untuk kebutuhan sehari-hari warganya. Maka tak heran jika aliran-aliran sungainya selalu dilewati oleh kapal-kapal yang hilir mudik dari satu kota ke kota lainnya untuk berdagang.

 

Negeri ini juga sangat menyenangkan. Memiliki gedung-gedung bagus dan indah. Seringkali lukisan-lukisan dari para pelukis terkenal dipamerkan di galeri gedung ini. Kadang juga para musisi-musisi besar dan hebat juga menggelar sajian musik indah di sana. Tentunya ini dapat dinikmati oleh warga di seluruh negeri.

 

Meskipun negeri ini cukup sibuk dan ramai, tapi tidak terlalu padat. Masih ada ruang untuk warganya menikmati taman untuk bertemu, bersukaria, menari maupun menyanyi. Anak-anak pun mempunyai taman untuk bermain, sehingga gelak tawa mereka dapat terdengar dimana-mana.

 

Negeri ini juga mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku yang ditulis oleh para penulis hebat. Semua orang mempunyai akses penuh untuk menikmati buku-buku tersebut. Seakan-akan para penulis itu datang menghampiri dan duduk di sebelahnya  saat orang-orang itu membaca bukunya.

 

Di negeri ini terdapat juga gereja-gereja yang selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin datang sesukanya untuk berbicara kepada Tuhan. Meskipun sebetulnya Dia sering berjalan dan memberi nasihat pada orang-orang di seluruh negeri .

 

Satu hal yang utama, negeri ini mempunyai gunung-gunung yang menawan untuk didaki. Orang-orang dapat menghirup udara di pegunungan itu. Sambil mendaki, orang-orang juga dapat melihat serta mengumpulkan bunga-bunga indah. Tentu ada rasa lelah dalam pendakian ini, tapi semuanya terbayar lunas. Kita dapat melihat pemandangan indah ke seluruh negeri ketika kita sudah sampai di puncaknya.

 


Ketika membaca perumpamaan seperti ini tentu dapat dirasakan bahwa memang jiwa manusia itu sungguh indah ya. Seolah ibu CM ini ingin bicara bahwa setiap manusia itu terlahir dengan potensi besar di dalam dirinya, selayaknya suatu negeri dengan segala potensi di dalamnya. Tentu saja potensi itu ada yang sudah dapat ditemukan dan dikelola sendiri oleh sang pemilik jiwa. Tapi ada juga yang masih belum,  mungkin, karena menunggu kesempatan atau menunggu orang lain untuk membantu menemukannya. Namun, apapun itu, memang kita perlu meyakini setiap potensi itu perlu sekali untuk dicari dan dikelola sebaik-baiknya.

 

Begitu membicarakan tentang sungai dan kota yang sibuk dan ramai, seolah CM ingin menjelaskan pikiran kita juga tidak kalah sibuknya seperti itu. Seringkali pikiran ini melompat dengan cepat dari satu hal ke hal lain. Belum selesai dengan satu pikiran, pikiran lain sudah menyusul.

 

Pikiran menjadi bertambah sibuk ketika perasaan (emosi) ikut nimbrung di dalamnya. Misalkan saja ketika harus mengambil satu keputusan. Betapa sibuknya logika dan perasaan berbicara di dalam pikiran. Ada saja dua hal yang bertentangan untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih di setiap keputusan. Kebayang lah ya betapa logika dan emosi seolah sedang berdebat, berdiskusi, teriak-teriakkan di dalam pikiran. Sehingga, kedua hal ini seperti diibaratkan menjadi sungai dan kota-kota yang sering hilir mudik di negeri jiwa manusia itu.

 

Hal kedua adalah tentang perpustakaan dan taman bermain. Kedua hal yang sangat perlu untuk perkembangan akal budi seseorang. Ada kalanya akal budi ini harus diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Asupan ide dari buku-buku bermutu yang ditulis oleh para penulis hebat. Seolah penulis-penulis itu datang dan berbicara langsung kepada kita, dalam rupa buku tentunya. Sehingga membuat akal budi terpantik dan terpatri, seperti halnya suatu perpustakaan di jiwa manusia.

 

Namun hidup itu harus seimbang. Akal budi memang perlu diasup dengan sesuatu yang baik, tapi ada kalanya hidup perlu dijalani sedikit santai. Menikmati kesenangan-kesenangan semisal pergi ke bioskop untuk menikmati film, mendengarkan musi dan juga jalan-jalan ke taman bertemu dengan orang lain untuk berbagi cerita tidaklah salah juga kok.

 

Terakhir, ketika Ibu CM membicarakan tentang gereja dan gunung. Ini seperti yang terjadi di kehidupan kita. Tidak ada kehidupan yang lurus tanpa jalan berbatu dan kerikil tajam kan. Ada kalanya hidup kita terasa berat dengan segala ujian kehidupan, selayaknya kita sedang mendaki ke puncak gunung. Dalam perjalanan mendaki ini, sering kali kita merasa lelah, capek dan menyerah. Tapi Dia tidak pernah lelah untuk mendukung kita. Ia ada dimana-mana. Ia selalu siap sedia untuk diajak bicara, diskusi dan juga menjadi tempat bersandar ketika jiwa terasa lelah. Dan, begitu kita sampai di puncak, terbayar sudah segala jatuh bangunnya kita menghadapi segala ujian kehidupan tadi.


Seperti itulah jiwa manusia yang diibaratkan selayaknya suatu negeri yang indah.

Wednesday, September 22, 2021

8:18 AM

Ourselves - Pribadi yang Hebat

Ourselves - Pribadi yang Hebat

 


Apakah kita terlahir dengan potensi yang hebat?

 

Masih dari isi pembukaan buku Ourselves, CM mencoba untuk menjelaskan tentang diri manusia.

 

Pribadi Dualitas

 

Sejatinya setiap manusia yang terlahir di dunia ini mempunyai tendesi untuk menjadi baik dan juga menjadi jahat. Pikirannya mampu berpikir untuk dua hal yang sangat berseberangan. Memunculkan banyak skenario-skenario pikiran seperti layaknya malaikat dan setan yang sedang berperang. Kadang kala pikiran diajak untuk ragu, apakah kita sanggup menjadi pribadi yang baik. Kadang kala juga, kita dibawa ke dalam perasaan yang terombang ambing. Sensitif terhadap keadaan di sekitar ataupun mempunyai rasa malu sekaligus bangga akan diri sendiri. Tugas kita sebagai pemilik dari diri ini adalah melatih pikiran untuk tidak melulu melihat diri secara subyektif tapi mampu berpikir dan berperilaku secara obyektif.

 

Pribadi yang Tidak Dicintai

 

Dalam memasuki usia remaja, kerap kali diri merasa tidak dihargai dan dicintai. Pandangan orang terhadap kita seakan menjadi sangat penting sekali. Segala perilaku dan pikiran kita banyak bergantung pada kacamata pendapat orang lain. Ketika hal-hal seperti ini tidak segera dibereskan, mungkin sekali remaja akan tumbuh  hilang arah seperti layaknya kapal yang berada di tengah lautan. Tidak jelas mau kemana arah tujuan hidupnya. Sungguh tidak heran, ketika dewasa kerap kali pribadinya terlihat menjadi sangat obesesi terhadap diri sendiri. Melihat segala sesuatunya hanya semata untuk menjadikan dirinya hebat.

 

Pribadi Yang Hebat

 

CM ingin menekankan di sini, betapa jiwa manusia itu sangat berharga. Kita perlu belajar untuk mengenal diri kita sendiri lebih dalam lagi. Betul, manusia punya pribadi dualitas yang menuntun kita untuk menjadi pribadi yang tidak baik. Tapi perlu disadari, kita punya kuasa untuk tidak mengikuti keinginan diri menjadi jahat. Belum lagi pikiran kadang membajak kita untuk berpikir kita ini tidak berharga, sehingga memandang diri rendah dan tidak berdaya. Membuat pribadi kita lebih banyak mengikuti pandangan orang lain ketimbang melihat ke dalam diri sendiri.

 

Seperti penulis M. Maeterlinck dari Belgium. Ia melihat sosok Emily Bronte yang hidupnya sangat biasa sekali namun bisa mempunyai jiwa yang hebat. Juga seperti Nelson Mandela, yang hidup dalam pengasingan puluhan tahun dalam sel yang sempit. Bagaimana ia mampu bertahan dan menjadi tidak gila selepas dari kondisi seperti itu? Apa sebetulnya yang membuat pribadi-pribadi itu sanggup mempunyai jiwa yang hebat meski hidupnya tidak dikelilingi oleh sesuatu yang hebat?

 

Seringkali kita memakai segala alasan untuk tidak mau keluar dari pikiran subyektif kita. Merasa lingkungan tidak mendukung kita, merasa tidak adanya kesempatan untuk berubah, merasa hidup ini sudah terlalu kejam terhadap kita, dan segudang alasan lainnya yang membuat kita tidak mau bangkit dan membenahi diri.

 

Kembali ke pertanyaan di atas tadi, apakah benar kita terlahir dengan memiliki potensi yang hebat di dalam diri kita seperti Emily Bronte ataupun seperti Nelson Mandela?

 

Sepertinya, hampir semua orang mempunyai bekal tersebut di dalam dirinya, yang tentunya siap untuk digali kapan saja. Meskipun kita tidak pernah tahu seberapa luas tangki potensi kita ini. Tentu ini karena setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang berbeda. Lantas, pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita tahu sudah menggali segala potensi di dalam diri kita?

 

Tentu kita butuh suatu pemantik untuk menggali lebih dalam potensi diri. Kadang pemantik itu disebut dengan pengalaman yang didapat dari tahun-tahun kehidupannya. Bagaimana pengalaman hidup mampu membentuk diri menjadi pribadi yang hebat. Kadang juga pemantik tersebut datang karena atmosfer yang didapat, yang sedikit banyak berperan juga dalam pembentukan diri. Mungkin juga pemantik tersebut datang dalam rupa bacaan yang kita baca. Bacaan yang muncul dari ide-ide hidup yang ditulis oleh penulisnya. Dan bisa jadi juga, pemantik itu sudah terpapar dan telah terserap baik pada saat kita bertumbuh, yang datangnya lewat hukum alam ataupun hukum Tuhan. Apapun itu kita memang tidak pernah tahu bagian mana yang sudah memantik kita untuk bertumbuh.

 

Dalam menumbuhkan potensi diri ini, tentu banyak proses yang dijalani. Memaknai setiap masalah yang datang dan menjadikannya refleksi kehidupan menjadi salah satu proses dalam bertumbuh itu. Namun, bisa saja persepsi kita terhadap masalah yang datang itu berbeda. Cara pandang inilah yang akhirnya membentuk diri kita. Entah itu kita akan tersesat dan terjerumus menjadi manusia yang gagal ataupun gitu-gitu aja. Atau kita mampu melihat masalah itu sebagai proses pembentukan diri. Memang dibutuhkan kemauan yang kuat untuk terus belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang hebat.

 

Lantas, apa jadinya maksud dari pribadi yang hebat ini? Apakah seseorang yang hebat adalah orang yang terkenal dalam hidupnya, atau orang yang sukses menjadi berlimpah dalam harta?

 

Pribadi yang hebat adalah pribadi yang mampu mengenali dan mengendalikan dirinya sendiri lewat potensi yang Tuhan sudah berikan. Memahami bagaimana menggalinya dan menjadi berguna bagi sekitar. Namun tidak mengukur keberhasilan diri hanya sebatas pemenuhan validasi atas kacamata opini orang lain. Dan tentunya untuk menjadi pribadi yang hebat (the Great Self) adalah perjalanan spiritual kehidupan manusia itu sendiri.